Jumat, 29 Oktober 2010

PUISI: SAKSI YANG SEKSI


Oleh : Dimas Arika Mihardja

PUISI: SAKSI YANG SEKSI
ESAI RINGAN ini bukanlah merupakan kredo penyair, melainkan saya pandang sebagai refleksi perjalanan 25-an tahun karir saya menceburkan diri dalam penulisan kreatif puisi. Esai ini saya maksudkan sebagai pengantar sebuah buku yang insya-Allah diterbitkan untuk menandai ulang tahun saya yang ke-52. Seperti ulang tahun sebelumnya, selalu saya siapkan bingkisan kecil untuk diri pribadi. Kali ini saya menyiapkan paket khusus yang saya beri tajuk “SAJAK EMAS: 200 puisi seksi Dimas Arika Mihardja” Saya juga sedang menyiapkan terbitnya buku khusus “SENJA DI BATAS KATA” (Antologi sajak dari sahabat penyair Indonesia yang telah dikirimkan kepada saya sebagai penanda ultah ke-51 tahun).
Buku “SAJAK EMAS: 200 puisi seksi Dimas Arika Mihardja” ini saya maksudkan sebagai penanda bahwa saya masih terus bersetia di dunia penulisan kreatif puisi. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Buku ini, tidak pula dimaksudkan untuk memproklamirkan diri sebagai buku puisi yang fenomenal, spektakuler, atau best seller. Saya amat tahu diri bahwa dunia perbukuan di bidang puisi lebih bersifat “proyek rugi” secara finansial, tetapi “proyek besar” bagi kemanusiaan. Kenapa?
Selama kurang lebih 25 tahun karir di bidang pnulisan kreatif puisi, saya menemu sebuah konsepsi estetis bahwa puisi itu merupakan saksi yang seksi.Bagi saya, puisi semata-mata berfungsi sebagai saksi. Saksi yang seksi. Seksi? Ya, keseksian menurut pertimbangan nalar saya bukan semata-mata tampil dalam bentuk atau sosok fisikal semata, dan yang terutama ialah keseksian secara batiniah. Nah, “apa pula keseksian yang bersifat batiniah ini?”, mungkin Anda bertanya dan tidak menaruh rasa percaya. Baiklah, saya akan berusaha memperkenalkan konsep ini: puisi sebagai saksi yang seksi.
Menurut pertimbangan saya, berdasarkan sedikit pengalaman selama ini, puisi hadir sebagai saksi. Melalui puisi yang diciptakan oleh penyair, siapa pun penyair itu, puisi yang dihadirkannya pertama-tama merupakan pengalaman pribadi, sosial, atau relegius terhadap apa yang terjadi di sekeliling yang bersifat kontekstual. Puisi yang hakikatnya merupakan pengalaman yang paling berkesan bagi penyairnya itu, langsung atau tidak langsung memberikan kesaksian atas berbagai fenomena yang secara kontekstual terjadi pada masanya.
Sebagai kesaksian, puisi mengabadikan peristiwa (suasana, fenomena, berita batin, sikap, visi dan misi) yang paling berkesan, yang realisasinya dapat berupa potret hitam putih, gambar beraneka warna, atau lukisan yang terpapar menurut berbagai aliran melalui pilihan kata yang mewakili aneka pencerapan dan perenungan penyairnya. Puisi dengan demikian berfungsi sebagai saksi mata batin penyairnya. Dalam konteks ini, puisi yang seksi ialah puisi yang mampu mengusung spiritualitas, rohaniah, dan batiniah.
Selain sebagai saksi puisi ternyata dalam menjalankan fungsinya berpenampilan seksi. Seksi di sini hendaklah diperluas perspektifnya. Keseksian puisi tidak semata-mata tampil melalui tipografi (tata wajah), diksi (pilihan kata) yang diperindah, melangit, di awang-awang, abstrak, dan seterusnya. Puisi tampil seksi bukan semata-mata pada keindahan bahasanya, meskipun keindahan bahasa menjadi ciri pribadi puisi yang seksi, keseksian puisi juga tampil melalui keindahan makna (perenungan, refleksi, nilai, guna, dan manfaatnya). Pemakaian bentuk bahasa yang indah memang sebagai wadah penyampaian makna yang juga indah. Keseksian puisi hadir melalui keindahan bahasa dan keelokan makna bagi kehidupan manusia. Puisi yang seksi, dengan demikian, puisi yang memiliki harmonisasi, intensifikasi, dan korespondensi antara bahasa dan pendaran maknanya.
Puisi yang seksi mempersyaratkan adanya media ekspresi (bahasa) yang indah dan substansi isi (makna) yang juga indah. Keelokan bahasa yang membungkus makna yang bernilai tentu akan mempercantik sosok puisi. Namun, demikian harus buru-buru ditambahkan bahwa fenomena keindahan bahasa dan makna sebagai penanda keseksian puisi ini realisasinya dapat beraneka ragam. Keseksian puisi, sesuai dengan evolusi selera pembaca, terentang antara sosok puisi yang diafan (mudah dipahami) hingga sosok puisi yang prismatis (banyak memendarkan makna seperti prisma). Memang ada sosok puisi yang tergolong hermetis (gelap) yang susah dipahami oleh pembaca. Puisi yang gelap, yang susah dipahami oleh pembaca menurut saya tidaklah termasuk pada puisi yang seksi sebab di sana terdapaat kebuntuan komunikasi. Puisi yang seksi adalah puisi yang “komunikatif” (komunikatif dalam tanda petik).
Puisi hakikatnya merupakan kesaksian penyairnya. Puisi protes, puisi kamar, atau puisi auditorium semuanya merupakan kesaksian penyairnya. Puisi demo, yakni puisi yang memuat protes berupa unjuk rasa secara jelas memberikan kesaksian terhadapfenomena zaman. Puisi kamar, yakni puisi yang cocok dibaca seorang diri di dalam kamar, yang biasanya berisi perenungan penyairnya, hakikatnya juga memberikan kesaksian atas berbagai hal baik secara personal, sosial, atau dalam konteks religiusitas penyairnya. Demikian pula puisi yang bersorak auditorium, yakni puisi yang cocok dibacakan di hadapan audiens di auditorium (panggung) juga berisi kesaksian penyairnya terhadap gejolak zaman.
Pembaca, saya telah memilah dan memilih puisi-puisi yang semoga selain memberi saksi juga tampil seksi. Dalam buku ini hanya tersaji 200 puisi. Harapan saya, melalui 200 puisi ini akan terjadi komunikasi batiniah yang mengungkap spiritualitas dan lanskap kerohanian. Tentu saja 200 puisi dalam buku ini siap dicumbu dan digauli secara hangat. Semoga ada sedikit manfaat. Demikian, salam budaya.
Bagaimana menurut sampeyan?

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri Jambi
Direktur Eksekutif,
Dimas Arika Mihardja

Tidak ada komentar: