<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051</id><updated>2012-02-16T02:21:06.189-08:00</updated><category term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>Esai-Artikel</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>66</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-5319074731857029625</id><published>2012-02-10T06:59:00.001-08:00</published><updated>2012-02-10T07:01:38.439-08:00</updated><title type='text'>'INTROSPEKSI' BUAT ENGKAU, PENYAIR...... : Puisi Anda Berjenis Kelamin Apa?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cqfauoW_peY/TzUxP7ON37I/AAAAAAAADhE/CNwLFN1dgJw/s1600/Puja%2BSutrisno.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 59px; height: 59px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-cqfauoW_peY/TzUxP7ON37I/AAAAAAAADhE/CNwLFN1dgJw/s200/Puja%2BSutrisno.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707522252427091890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Puja Sutrisna&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sengaja saya ajukan pertanyaan yang tak rasional di hadapan kawan-kawan untuk mendapatkan sebuah jawaban yang rasional. Lho? Benar, ada persoalan yang sebenarnya -- menurut saya -- sangat tidak rasional, tetapi begitu 'rasional' ditemukan di BPSM. Tema yang akan saya usung pada 'diskusi' saat ini adalah tentang "produktiitas puisi: antara kualitas permenungan dan dongeng pengantar tidur.......".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA sebuah puisi disodorkan ke hadapan anda, penyair, untuk dikomentari, komentar pertama sekali yang akan segera muncul 'biasanya' padanan kata-kata: bagus, baik, suka, cukup indah, dlsb. Hampir bisa dipastikan tidak akan ada komentar yang 'negatif' terhadap puisi yang disodorkan ke anda itu. Sebuah ungkapan tulus, bukti pertemanan, atau 'hanya' sebagai basa-basi belaka? Tak penting untuk mengungkap itu semua, akan tetapi -- kalau mau jujur -- pada setiap penciptaan, ada puisi yang dianggap bagus tentulah ada puisi yang kurang bagus, ada karya yang baik tentu ada pula karya yang tidak baik, begitu dlsb, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tanggapan dan komentar --idealnya-- harus dibarengi konsep pengiring yang bisa dipertanggungjawabkan, di mana sisi 'kebagusannya' atau di mana letak 'kekurangannya'. Karena, idealnya juga, penyair --sesiapa pun itu-- haruslah menjadi garda terdepan dalam kejujuran 'hati' dan bukan kemunafikan yang 'ahli berbasa-basi'!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebuah puisi disodorkan ke pemerhati (baca: kritikus) untuk dikomentari, maka hal pertama yang akan dilakukan adalah: apakah 'isi' yang terkandung pada puisi tsb, 'tema' apa yang mau disampaikan, apa yang melatarinya, apakah ada 'amanat' yang sampai pada tujuan, dlst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi yang bagus adalah puisi yang mengandung tema, memuat pesan, punya permenungan yang dalam, dan pesan sampai pada alamat yang hendak dituju. Dan karena puisi yang baik punya daya renung, maka dalam proses penciptaaannya pun perlu sebuah permenungan. Penuturan salah satu kawan BPSM yang menyelesaikan sebuah puisi sampai 6 bulan bukanlah 'aib' bagi sebuah penciptaan PUISI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi yang baik ibarat seorang perempuan cantik, ia cantik secara alamiah tanpa banyak bedak dan polesan. puisi yang cantik bahkan akan terasa kecantikannya sebelum benar-benar disentuhnya. Lihat sekilas hati tergetar, begitulah kira-kira. Adapun puisi yang kurang baik ibarat perempuan yang operasi plastik berkali-kali, berdandan menor, berpakaian serba kedodoran, hingga susah untuk dikenali lagi jenis kelaminnya: wanita atau jangan-jangan waria, ha ha ha.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak gampang buat puisi dalam arti PUISI yang sungguh-sungguh! Perlu sebuah permenungan yang intens, peka terhadap obyek yang mau dibahasakan, diteliti dan didalami berulang-ulang, sekali lagi: berulang-ulang, suatu ketika perlu juga 'teteki', tahajud, meditasi, dan diedit, diedit lagi: begitu berjiwa barulah jadi sebuah puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau suara penyair adalah 'dimaknai' sebagai suara tuhan, maka memang ada wilayah yang 'wingit' bagi proses penciptaan puisi, karena tuhan tidak akan melakukan kesalahan! Lalu, bagaimana dengan kawan-kawan yang bisa menghasilkan 5 puisi dalam 60 menit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He he he...bisa jadi beliau adalah sufi yang duduk di tangga ke 4 kelas makrifat, atau kalau tidak, jangan-jangan puisi yang dimaksud adalah 'catatan harian' yang dibungkus dengan 'baju' puisi, dan kalau ini yang terjadi maka yang barusan lewat di depan mata adalah waria di antara isteri-isteri politisi, hi hi hi, lari ah.....ntar kena damprat..............................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puja Sutrisna&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-5319074731857029625?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/5319074731857029625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=5319074731857029625' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/5319074731857029625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/5319074731857029625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2012/02/introspeksi-buat-engkau-penyair-puisi.html' title='&apos;INTROSPEKSI&apos; BUAT ENGKAU, PENYAIR...... : Puisi Anda Berjenis Kelamin Apa?'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cqfauoW_peY/TzUxP7ON37I/AAAAAAAADhE/CNwLFN1dgJw/s72-c/Puja%2BSutrisno.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-6474845578106433218</id><published>2012-01-09T04:28:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T04:30:02.982-08:00</updated><title type='text'>Sastra Indonesia Mutakhir : Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Jamal T. Suryanata&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;/ 1 /&lt;br /&gt;Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis). Oleh karena itu, sekadar upaya penyederhanaan konseptual, istilah “sastra Indonesia” dalam konteks ini hanya akan merujuk pada karya-karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia; sedangkan istilah “mutakhir” lebih dimaksudkan untuk menunjuk perkembangan sastra Indonesia sepanjang lebih-kurang sepuluh tahun terakhir, sejak memasuki tahun 2000 hingga sekarang (dekade pertama abad ke-21).[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dengan pembatasan semacam itu tidaklah berarti bahwa perkembangan sastra Indonesia pada masa-masa sebelumnya praktis akan kehilangan relevansinya. Bahkan, untuk memulai diskusi ini saya akan banyak menyinggung perkembangan sastra Indonesia di penghujung abad ke-20 melewat. Sebab, bagaimanapun, perjalanan sejarah adalah sebuah mata rantai yang sambung-sinambung dan senantiasa bersifat dialektis. Sastra Indonesia terkini tidak akan pernah ada tanpa melalui proses sejarah yang panjang sejak lahirnya karya-karya sastra Nusantara klasik yang hidup dan berkembang dalam tradisi lisan di abad-abad silam. Sastra Indonesia terkini adalah anak-anak yang dibesarkan oleh tradisi sastra sebelumnya. Sastra Indonesia abad ke-21 adalah warisan langsung dari tradisi sastra Indonesia abad ke-20 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, mengingat betapa luas dan beragamnya pemahaman atas konsep sastra, di sini juga perlu diberikan batasan yang lebih jelas mengenai genre sastra yang hendak dijadikan pokok masalahnya. Maka, dengan pertimbangan praktis saja, dalam pembicaraan ini saya hanya akan menyinggung perkembangan dua genre sastra kreatif, yakni puisi (sajak) dan fiksi (cerita rekaan). Sebab, pada kenyataannya, kedua ragam inilah yang selama ini paling pesat perkembangannya dalam lingkungan pembaca sastra Indonesia modern sebagaimana telah ditunjukkan oleh tingginya tingkat frekuensi pembicaraan tentangnya di banyak media dan penerbitan di negeri ini hingga sekarang. Sementara, kendati dari tahun ke tahun karya-karya drama juga tetap ditulis orang, tetapi lantaran proses kreatif penulisannya yang pada umumnya terbatas hanya untuk kepentingan pementasan (teater), hal ini sungguh menyulitkan cara kerja seorang pengamat atau kritikus sastra untuk dapat melacaknya secara relatif lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah acuan kita terbatas pada karya-karya drama yang diterbitkan dalam bentuk buku, misalnya, hingga sekarang hanya sedikit buku drama yang telah diterbitkan dan beredar di pasaran. Bahkan, jika kemudian kita ingin menjadikan faktor ketokohan para dramawan (baca: penulis naskah drama) sebagai patokan tentunya juga hanya sedikit nama yang bisa disebutkan —umumnya terbatas pada nama-nama yang sudah sangat populer dalam kancah drama dan teater di tanah air selama ini (antara lain Arifin C. Noer, N. Riantiarno, W.S. Rendra, Putu Wijaya, Emha Ainun Nadjib, atau Remy Silado). Padahal, pada kenyataannya pula, hampir di setiap daerah di Indonesia ada saja kelompok-kelompok teater yang aktif dan bahkan secara ajek melakukan pementasan drama —baik mementaskan naskah sendiri maupun bertotak dari naskah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/ 2 /&lt;br /&gt;Jika pembicaraan sastra Indonesia mutakhir ini kita mulai dari genre puisi, tak dapat disangkal bahwa sejak pertengahan tahun 1980-an hingga ke penghujung tahun 1990-an yang lalu peta estetika perpuisian Indonesia modern tampak lebih didominasi oleh sosok kepenyairan Afrizal Malna. Dalam konteks ini tentu bukan maksud saya untuk membesar-besarkan nama Afrizal, tetapi pada kenyataannya selama rentang waktu tersebut memang ada kecenderungan bahwa estetika perpuisian yang dibawanya telah menjadi semacam acuan kolektif (kalau bukan menjadi “kiblat” utama), khususnya di kalangan penyair muda (apalagi masih berkategori pemula) yang hingga beberapa waktu kemudian masih saja menjadi para epigon dan tetap berada di bawah bayang-bayang trend “Afrizalian” —demikian gejala perpuisian Indonesia kontemporer ini sering disebutkan, baik dengan konotasi pujian maupun bernada ejekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, sepanjang dekade 90-an, sosok kepenyairan Afrizal Malna yang sisa-sisa pengaruhnya bahkan masih terasa sampai sekarang memang telah menjadi sebuah fenomena baru dalam jagat sastra di tanah air. Pembaruan estetika perpuisian yang dibawanya barangkali dapat disetarakan dengan dobrakan-dobrakan estetik yang dulu pernah dilakukan Amir Hamzah (1930-an), Chairil Anwar (1940-an), atau Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damono (1970-an). Sajak-sajaknya —yang gelap maupun yang terang, yang pedih maupun yang riang— bukan saja dianggap telah memberikan kesegaran dan wawasan estetik baru (yang sekaligus telah menempatkan dirinya sebagai pemimpin literer perpuisian Indonesia pada masanya), melainkan juga telah berhasil mengangkat dan meramu dunia benda menjadi sesuatu yang berjiwa dengan penuh vitalitas.[2] Gaya pengucapannya yang khas merepresentasikan kegamangan antroposentrisme manusia urban di tengah gebalau peradaban postmodern itu secara konsisten diusungnya hingga sekarang, sebagaimana tampak dalam beberapa kumpulan sajaknya; mulai dari Abad yang Berlari (1984), Yang Berdiam dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Kalung dari Teman (1999), sampai Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2002).[3] Lantaran kebaruan bahasa dan pengucapan estetiknya itulah hingga Korrie Layun Rampan pernah menyimpulkan bahwa puncak pencapaian estetik dalam mainstream perpuisian Indonesia terkini (yang diproklamirkannya sebagai Angkatan 2000 itu) secara monolit jatuh pada sajak-sajak Afrizal Malna.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada paro kedua dekade 90-an yang lalu, seorang penyair muda yang dapat dianggap sebagai tipikal epigon gaya kepenyairan Afrizal Malna (baca: Afrizalian) adalah T. Wijaya —sebagaimana tampak dalam dua kumpulan puisinya, Krisis di Kamar Mandi (1995) dan Dari Pesan Nyonya (1996). Kecuali penyair kelahiran Palembang (25 Desember 1970) tersebut, tentu saja masih ada sederet nama lain yang secara langsung maupun tidak telah ikut terhanyut dalam kecenderungan (trend) serupa. Namun demikian, kendati gaya Afrizalian itu cukup dominan mewarnai estetika perpuisian Indonesia mutakhir, tidaklah berarti semua penyair muda telah secara latah menjadi epigon-epigon Afrizal pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah penyair lain, baik yang sudah eksis sejak dasawarsa 80-an —antara lain mereka yang telah “dilegitimasi” melalui Forum Puisi Indonesia ’87 (1987)— maupun yang baru berkiprah sejak dekade 90-an atau awal tahun 2000-an —antara lain mereka yang telah “dibaptis” melalui perhelatan akbar Mimbar Penyair Abad 21 (1996) dan Cakrawala Sastra Indonesia (2005)— sebagian besar tampaknya justru sudah mampu memperlihatkan jatidiri kepenyairannya masing-masing. Dari kalangan yang lebih senior dapat disebutkan, misalnya, nama-nama Isbedy Setiawan ZS, Ahmad Nurullah, Ahmadun Y. Herfanda, Radhar Panca Dahana, Sitok Srengenge, Remmy Novaris DM, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Mathori A. Elwa, Ahmad Subhanuddin Alwy, Gus tf, Beni Setia, Wahyu Prasetya, Agus R. Sarjono, Nirwan Dewanto, Saut Situmorang, Jamal D. Rahman, Tjahjono Widarmanto, Dorothea Rosa Herliany, Abidah el-Khalieqy, Ulfatin Ch., juga Ajamuddin Tifani dan Eza Thabry Husano (sebelum keduanya meninggal), Burhanuddin Soebely, Micky Hidayat, Maman S. Tawie, Tarman Effendi Tarsyad, dan Arsyad Indradi —untuk menyebut beberapa di antaranya. Lalu, dari generasi selanjutnya (berdasarkan awal kiprah kepenyairannya) dapat disebutkan nama-nama Cecep Syamsul Hari, Joko Pinurbo, Abdul Wachid BS, Dimas Arika Mihardja, Arif B. Prasetyo, Iyut Fitra, Ari Setya Ardhi, Adri Sandra, Aslan Abidin, Amien Wangsitalaja, Wowok Hesti Prabowo, HU Mardiluhung, Endang Supriadi, Kurnia Efendi, Putu Fajar Arcana, Warih Wisatsana, Tan Lioe Ie, Yusrizal KW, Kusprihyanto Namma, Panji Utama, ES. Wibowo, Moh. Wan Anwar (sebelum meninggal), Raudhal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, Hasan Aspahani, Ahda Imran, Ali Syamsudin Arsi, Oka Rusmini, Nenden Lilis A., Nur Wahida Idris, Arini Hidajati, Pranita Dewi, Hudan Nur, dan sederet nama lagi —juga sekadar menyebut nama beberapa saja.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Bertolak dari sederet nama di atas, tentu saja dengan memperhitungkan kecenderungan umum dan karakteristik karya mereka masing-masing, maka untuk memetakan secara hitam-putih kecenderungan estetik atau gaya perpuisian dalam ekologi kepenyairan Indonesia terkini jelas merupakan sesuatu yang sangat muskil (kalau bukan mustahil). Dalam konteks pemetaan teoretis-historis, sekali lagi dengan mempertimbangkan kian tingginya kompleksitas kecenderungan estetik tersebut, keinginan untuk bertindak objektif (apalagi bertendensi sebagai seorang perfeksionis) dalam kondisi chaos demikian pada akhirnya akan dapat menjebak kita ke dalam perangkap labirin sehingga hanya akan menghasilkan simpulan-simpulan prematur atau bahkan terasa kedodoran. Sebab, pada kenyataannya, kecenderungan estetik dalam karya-karya mereka sudah demikian variatifnya, lengkap dengan segala corak dan warnanya. Di situ ada sajak-sajak bergaya liris, prosais, imagis, religius, sufistik, balada, kocak, penuh kritik sosial, dan entah apalagi namanya setelah kita temukan karya-karya yang mungkin bersifat eksperimental.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pemetaan estetika perpuisian Indonesia mutakhir ini lebih-lebih akan menjadi semakin rumit jika memperhitungkan pula —memang begitulah seharusnya— karya-karya para penyair yang lebih senior lagi (sebut saja para penyair gaek) yang ternyata masih tetap eksis berkarya dalam sepuluh tahun terakhir; semisal Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, D. Zawawi Imron, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar (sebelum meninggal), A. Mustofa Bisri, Abdul Hadi WM, Mochtar Pabottingi, dan sejumlah nama lagi. Dengan mempertimbangkan banyak sisi, betapa tingkat hiterogenitas kecenderungan estetik perpuisian Indonesia terkini tampak menjadi semakin kompleks saja dan pada akhirnya memang mustahil untuk dapat dipetakan secara objektif dan komprehensif. Oleh karena itu, persoalannya sekarang bukan lagi pada keharusan upaya pemetaan teoretis-determinatifnya, melainkan lebih pada usaha-usaha ekstensifikatif maupun intensifikatif dalam rangka peningkatan apresiasi sastra di tengah masyarakat Indonesia yang tidak melek sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/ 3 /&lt;br /&gt;Ketika perbincangan selanjutnya kita fokuskan pada ragam fiksinya, pada kenyataannya kita pun akan menemui fenomena yang tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang telah dicapai dalam dunia perpuisiannya. Dalam satu dasawarsa terakhir ini, betapa kita sudah dihadapkan pada suasana yang sangat riuh oleh munculnya begitu banyak karya fiksi (khususnya dalam bentuk novel dan cerpen) yang ditandai dengan semakin tingginya tingkat kebebasan berekspresi, dengan segala kekhasan dan keragamannya, juga dengan segala risiko sosiokultural maupun sosiopsikologisnya yang mungkin ada —tentu saja kalau kita memang meyakini bahwa kehadiran sebuah karya sastra akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap dinamika sosial dalam suatu lingkungan masyarakat pada zamannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Fiksi Indonesia mutakhir juga menyiratkan sebuah dunia yang kompleks, sebagaimana sebuah taman dengan areal yang luas serta ditumbuhi beragam jenis dan warna bunga dari spesis yang berbeda. Kompleksitas itu bukan saja tampak pada keragaman tema-tema yang ditawarkan, melainkan juga dalam gaya bahasa, teknik bercerita, dan corak pengungkapannya. Kemudian, sebagaimana juga terjadi dalam dunia perpuisian, karya-karya fiksi Indonesia mutakhir pun ternyata tidak melulu dihasilkan oleh para penulis muda atawa pendatang baru (new comers). Sebab, pada kenyataannya, cukup banyak novel dan kumpulan cerpen yang diterbitkan dalam beberapa tahun belakangan (apalagi jika rentang waktunya diperluas hingga ke tahun-tahun 1990-an) justru terlahir dari tangan pengarang-pengarang senior semisal Y.B. Mangunwijaya, Remy Sylado, Abrar Yusra, Suparto Brata, Putu Oka Sukanta, Hamsad Rangkuti, Umar Kayam, Budi Darma, Danarto, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Sapardi Djoko damono, Ahmad Tohari, Korrie Layun Rampan, Ediruslan Pe Amanreza, Harris Effendi Tahar, N.H. Dini, atau Titis Basino P.I. Selain mereka, kita juga masih bisa melihat produktivitas Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram Jamil, Jujur Prananto, Yanusa Nugroho, Bre Redana, Gus tf Sakai, Agus Noor, Triyanto Triwikromo, Afrizal Malna, Esbedy Setyawan ZS, Martin Aleida, Herleno Soleman, Ratna Indraswari Ibrahim, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, setidaknya sejak akhir dekade 90-an atau awal tahun 2000-an, muncul pula wajah-wajah baru yang lebih didominasi oleh para pengarang perempuan muda semisal Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dinar Rahayu, Fira Basuki, Dee, Ani Sekarningsih, Clara Ng., Linda Christanty, Dewi Sartika, Lan Fang, Yetti A. KA., Ratih Kumala, di samping Naning Pranoto, Abidah el-Khalieqy, Oka Rusmini, Nenden Lilis Aisyah, Helvy Tiana Rosa, dan Asma Nadia. Kecuali mereka, tentu saja kita tidak boleh melupakan pengarang-pengarang berbakat lainnya seperti Joni Ariadinata, Andrea Hirata, Indra Tranggono, Agus Vrisaba, Puthut E.A., Yusrizal K.W., Marhalim Zaini, Eka Kurniawan, Zen Hae, Raudal Tanjung Banua, Sunlie Thomas Alexander, Wayan Sunarta, Sandi Fily, Hajriansyah, dan Harie Insani Putra yang rata-rata kelahiran antara tahun 1960-an hingga 1980-an. Namun begitu, pada kenyataannya tidak semua penulis fiksi Indonesia mutakhir berhasil menerbitkan karya-karya mereka dalam bentuk buku (karya tunggal), khususnya untuk genre cerpen. Hanya segelintir pengarang yang beruntung dapat menerbitkan buku mereka, baik dengan prosedur penerbitan formal-konvensional maupun secara swakelola (self-publishing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Sepanjang dekade pertama tahun 2000-an ini, beberapa fenomena menarik yang dapat saya catatkan dari perkembangan fiksi Indonesia mutakhir, antara lain munculnya suatu fenomena yang dengan konotasi tertentu sering disebut “sastrawangi”. Kemunculan gejala baru yang kontroversial ini agaknya dipicu oleh terbitnya karya-karya fiksi beraroma seksual dari tangan segelintir pengarang perempuan muda (dengan konotasi cantik, seksi, berpendidikan tinggi, dan bergaya hidup metropolis). Kemunculan gejala ini terutama ditandai dengan terbitnya novel Saman (Ayu Utami, 1998), kemudian disusul Larung (Ayu Utami, 2001), Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (Dinar Rahayu, 2002), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng.), Dadaisme (Dewi Sartika, 2004), Nayla (Djenar Maesa Ayu, 2005), juga kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! (Djenar Maesa Ayu, 2002), Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) (Djenar Maesa Ayu, 2004), dan Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek (Djenar Maesa Ayu, 2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya tersebut sempat menimbulkan pro-kontra di kalangan pembaca maupun para pengamat dan kritikus sastra kontemporer di tanah air, setidaknya sepanjang tahun 2002—2005. Sebab, kecuali dari satu sisi dipandang telah memberikan kesegaran baru dalam estetika sastra (fiksi) Indonesia (baik dari segi teknik bercerita maupun sentuhan stilistiknya), di sisi lain kontroversi itu terutama disulut oleh keberanian para pengarangnya dalam “dobrakan radikal” mereka mengungkapkan ketabuan dan keliaran seksual secara gamblang, tanpa tedeng aling-aling, dan terasa sangat vulgar sehingga cenderung menjurus pada pornografi.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati persoalan seks dalam sastra Indonesia bukanlah sesuatu yang baru, tetapi dibandingkan dengan para pengarang pendahulunya (khususnya N.H. Dini dengan dua novelnya, Namaku Hiroko dan Pada Sebuah Kapal), kelompok penulis sastrawangi ini tampak lebih berani dalam hal “menelanjangi” tubuh mereka sendiri, tak terkecuali “melumat-lumat” kebugilan tubuh lawan jenisnya. Mereka, agaknya sekadar ingin berbeda dan mencari sensasi, dengan sengaja mengeksploitasi kata-kata yang menurut ukuran moral seharusnya tidak diungkapkan secara vulgar —antara lain (maaf): penis, zakar, kontol, klentit, atau vagina. Di satu pihak, oleh beberapa pengamat yang mendewa-dewakan nilai seninya —l’art pour l’art (baca: sastra untuk sastra)— karya-karya tersebut dipandang sebagai suatu kemajuan dalam perkembangan estetika sastra Indonesia atau seni-budaya pada umumnya. Namun, di lain pihak, bagi kaum moralis (agamis) karya-karya demikian dinilai sebagai karya antimoral dan bahkan kurang-ajar karena telah melanggar wilayah sakral manusia yang seyogianya ditabukan. Sebab, dengan segala ketelanjangannya itu, karya-karya jenis ini dinilai dapat meruntuhkan tatanan moral bangsa, terutama di kalangan generasi muda.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Kecuali trend sastrawangi yang lumayan menghebohkan itu, fenomena lainnya yang tampak mulai merasuki dunia fiksi Indonesia terkini adalah masuknya ikon-ikon teknologi informasi mutakhir semacam internet dan telepon genggam yang menjadi bagian integral dalam membangun makna sebuah karya sastra. Terlepas dari soal pro-kontra ihwal muatan seksualitasnya yang cenderung antimoral itu, pada beberapa halaman penutup novel Saman, misalnya, Ayu Utami dengan lincahnya mengeksplorasi dialog antartokoh (antara Saman dan Yasmin) dengan memanfaatkan surat elektronik (e-mail, salah satu fasilitas internet) sebagai media komunikasi. Sementara, pemanfaatan handphone dengan fasilitas short message system (sms)-nya antara lain telah dieksplorasi Djenar Maesa Ayu dalam cerpen bertajuk “SMS”.&lt;br /&gt;Dalam kajian sosiologi sastra, munculnya gejala semacam ini dipandang sebagai salah satu penanda atau merupakan representasi kemajuan peradaban yang telah dicapai manusia pada masa penciptaannya; bahwa karya-karya sastra pada dasarnya dapat diposisikan sebagai artifak kebudayaan yang relatif mampu mencatat atau merefleksikan kondisi zamannya sehingga pada akhirnya ia dapat berfungsi sebagai sejarah alternatif, di samping fungsi karya sejarah dalam arti sebenarnya. Dengan begitu, dalam konteks ini, teori sosiologi sastra yang memandang sastra sebagai cermin masyarakat (sebagaimana yang dikemukakan Ian Watt, misalnya) tampak menjadi kian jelas relevansinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Kemudian, hampir bersamaan dengan munculnya fenomena sastrawangi, satu gejala lagi yang dipandang telah memberi warna tersendiri dalam perjalanan sastra Indonesia mutakhir adalah munculnya karya-karya ”fiksi religius” (baca juga: fiksi Islami). Kecenderungan baru genre fiksi yang dikononkan sebagai karya-karya sastra ”pembangun jiwa” ini pada awalnya digagas dan dimotori oleh Helvy Tiana Rosa (kemudian bersama Asma Nadia dan kawan-kawan) melalui Forum Lingkar Pena (FLP) yang pernah dirintis dan diasuhnya. Munculnya gejala ini, pada tataran tertentu, boleh jadi merupakan upaya penyeimbang (balancer) atau sebagai budaya tanding atas dominasi karya-karya bercorak seksual ala sastrawangi yang cukup menghebohkan lantaran “kegenitan estetik”-nya itu. Melalui lembaga yang merupakan sebuah jaringan (network) besar itulah —karena kini telah memiliki banyak cabang di berbagai daerah di Indonesia— para pengarang muda banyak bermunculan dari komunitas ini, bahkan sudah melahirkan puluhan novel maupun kumpulan cerpen (remaja) Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya-karya mereka, unsur dakwah agama (baca: Islam) dan upaya penyadaran moral memang sangat menonjol (kalau bukan sebagai tujuan utama), tanpa harus terjerumus ke dalam propaganda yang terlampau tendensius. Kelompok pengarang fiksi religius ini pada umumnya lebih banyak mengeksplorasi persoalan kehidupan remaja yang secara psikologis masih dalam kondisi labil, tetapi nyaris selalu digambarkan sukses dalam menghadapi problem yang mereka alami. Dalam kaitan ini, agama dihadirkan sebagai pembuka jalan dan sekaligus sebagai pemecahan masalah. Sementara itu, dalam hal usaha penerbitan karya, mereka telah melakukan kerja sama (secara simbiosis-mutualis) dengan beberapa penerbit yang secara ideologis tentunya juga memiliki visi yang sama dengan kelompok penulis sastra Islami ini (semisal DAR Mizan, Syaamil, Naviri, dan Inisiasi Press).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Sejak genre sastra Islami digagas dan dipopulerkan oleh FLP, pada tahun-tahun berikutnya tampak semakin marak bermunculan karya-karya sastra serupa (novel dan cerpen Islami) dari tangan para pengarang di luar lingkaran FLP sendiri. Bahkan, di penghujung dasawarsa pertama tahun 2000-an yang baru saja berlalu, sastra Islami boleh dikata merupakan sebuah trend baru dalam estetika sastra (fiksi) Indonesia mutakhir. Fenomena ini terutama ditandai dengan terbitnya novel Ayat-ayat Cinta (2006) karya Habiburrahman El-Shirazy yang mengalami booming dan sukses luar biasa, lebih-lebih setelah novel ini diangkat ke dalam bentuk film layar lebar. Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa kesuksesan keduanya (novel maupun film tersebut) tentu saja bersifat kausal, timbal-balik, dan saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan Habiburrahman melalui novel Ayat-ayat Cinta-nya ini kemudian segera diikuti oleh sejumlah penulis muda lainnya, baik dari kelompok FLP maupun dari kalangan penulis di luarnya. Sederet nama baru bermunculan, sebagian di antaranya telah tercatat dalam sejarah sastra Indonesia terkini. Namun, kendati berbeda dengan kasus epigonisme gaya Afrizalian (khas estetika kepenyairan Afrizal Malna) dalam jagat puisi Indonesia mutakhir, di sini juga tampak adanya tendensi pengekoran terhadap kesuksesan dan popularitas Habiburrahman dengan Ayat-ayat Cinta-nya. Gejala ini terutama sangat kentara jika kita lihat dari aspek temanya yang cenderung seragam, teknik berceritanya yang hampir selalu mengeksplorasi emosi kesedihan, juga keterikatan kosa kata tertentu pada judul-judul buku yang mereka terbitkan —lihat saja judul-judul buku yang mereka gunakan, pada umumnya selalu memakai kata “cinta” sebagai ikonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet karya (baca: novel) yang —dengan pengamatan sepintas lalu saja sudah dapat diduga— mengikuti trend tersebut (baca: dengan kecenderungan sastra Islami, terutama berkaitan dengan popularitas dan kesuksesan Ayat-ayat Cinta), antara lain Persembahan Cinta Sari Surga (Nurrahman Effendi), Menggapai Sang Cinta (In’am Ibnu Shalih), Jejak Cinta Sang Kiai (Imam Sibawaih El-Hasani), Kisah Cinta Insan dan Kamil (Kinoysan), Kafilah Cinta (Syakaro Ahmad el-Alyyi), Sujudilah Cintamu! (Zhaenal Fanani), Sujud Cinta di Masjid Nabawi (Putri Indah Wulandari), Para Mujahid Cinta (Najieb Kailani), Kelan Cinta Shafiyya (Fitria Pratiwi)), Habib Palsu Tersandung Cinta (Ubay Baequni), Kerudung Cinta dari Langit ke Tujuh (Wahyu Sujana), Ketika Tuhan Jatuh Cinta (Wahyu Sujana), Napas Cinta Para Ahli Doa (Wahyu Sujada), dan  Jazirah Cinta (Randu Alamsyah). —bahkan, tampak ada kecenderungan bahwa Habiburrahman sendiri kemudian ingin mengulang kesuksesan yang pernah diraihnya melalui novel Ayat-ayat Cinta-nya dengan menerbitkan beberapa karyanya yang lain: Di Atas Sajadah Cinta (2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 (2007), Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta (2010), dan Cinta Suci Zahrana (2010). Kalaupun mereka tidak menggunakan kata “cinta” sebagai bagian judul buku, minimal mereka mengeksplorasi cinta dalam kemasan religius. Dengan demikian, bertolak dari ciri-ciri umum kecenderungan estetiknya, gejala ini boleh dikata sebagai penanda munculnya genre ”fiksi cinta Islami” (kalau bukan trend ”sastra poligami”).[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Kecuali ketiga fenomena di atas, perlu saya catatkan pula bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini agaknya telah muncul suatu kesadaran primordial di kalangan pengarang dan pengamat sastra Indonesia melalui gerakan “kembali ke akar tradisi” dengan mengangkat lokalitas sebagai spirit cipta sastra. Kendati harus kita akui bahwa lokalitas (baca: warna lokal) bukanlah suatu persoalan baru dalam sastra Indonesia, semangat ini setidaknya kembali bergema dan kian bergaung luas sejak berlangsungnya perhelatan sastra nasional bernama Kongres Cerpen Indonesia IV di Pekanbaru, Riau (26—30 November 2005) yang memang secara khusus mengusung tema “Ayo, Estetika Lokal!”. Semangat inilah yang hingga terakhir ini terus diusung dan diupayakan aktualisasinya dalam proses kreatif penulisan karya sastra di tanah air.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode ini, lahirnya novel Laskar Pelangi (2006) dari tangan Andrea Hirata seakan mengukuhkan pernyataan tentang munculnya sebuah kesadaran kolektif pada para penulis fiksi di tanah air akan pentingnya lokalitas untuk menuju sastra Indonesia yang benar-benar berkarakter Indonesia, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sederet pengarang fiksi Indonesia sebelumnya dengan lokalitasnya masing-masing —antara lain: Pramoedya Ananta Toer, Y.B. Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Saparto Brata (Jawa), Korrie Layun Rampan (Dayak, Kalimantan), Wisran Hadi, Chairul Harun, Darman Moenir, Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Ikram Jamil, Gus tf Sakai, Marhalim Zaini (Melayu, Minangkabau), Gerson Poyk, Putu Wijaya, Putu Arya Tirtawirya, Putu Oka Sukanta, dan Oka Rusmini (Lombok, Bali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/ 5 /&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lebih umum, perkembangan sastra Indonesia mutakhir juga ditandai dengan maraknya komunitas-komunitas sastra yang bermunculan di berbagai kota (daerah) di tanah air sejak paro kedua dekade 90-an melewat. Kecuali eksistensi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang sudah dikenal luas sejak puluhan tahun silam, beberapa kelompok yang selama ini pernah giat melakukan berbagai perhelatan sastra —termasuk mengupayakan penerbitan buku-buku sastra secara swakelola— antara lain Komunitas Sastra Indonesia (Jakarta), Forum Sastra Bandung (Bandung), Forum Lingkar Pena (Bandung), Yayasan Indonesia (Jakarta), Yayasan Taraju (Padang), Yayasan CAK (reinkarnasi dari Sanggar Minum Kopi, Bali), Komunitas Rumahlebah (Yogyakarta), Akademi Kebudayaan Yogyakarta (Yogyakarta), dan Paradox Literary Centre (Magelang). Selain itu, khusus dalam bidang cerpen, pada Kongres Cerpen Indonesia V di Banjarmasin (2007) telah dibentuk Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) sebagai wahana pertemuan dan dialog antarpengarang (cerpenis) maupun dengan para pemerhati (kritikus) cerpen dari seluruh pelosok tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali kian merebaknya komunitas sastra-budaya, dalam sepuluh tahun terakhir ini media massa dan penerbitan sastra pun tampak semakin marak berkembang. Beberapa media penerbitan berkala dan berskala nasional yang cukup respek memberi ruang publikasi untuk karya-karya sastra kreatif di antaranya (koran) Kompas, Media Indonesia, Republika, Jawa Pos, Koran Tempo, Koran Sindo, (majalah bergensi) Horison, Basis, Matra, (majalah alternatif) Kolong, Panggung, Cak, Menyimak, Titik Tolak, Gong, On/Off, Paradox, dan Kindai —di samping beberapa jurnal yang distribusinya lebih terbatas seperti Jurnal Kalam, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Rumahlebah: Ruangpuisi, Jurnal Srinthil, Jurnal Perempuan, dan Jurnal Kandil (sangat disayangkan, beberapa di antaranya kini sudah tinggal nama).[11] Belum lagi jika pembicaraan kita melibatkan majalah dan jurnal terkait di berbagai perguruan tinggi di tanah air yang terutama memuat ragam karya ilmiah berupa kritik sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping pesatnya perkembangan media penerbitan berkala (media massa cetak pada khususnya), penerbit-penerbit buku (kecil maupun besar, profesional maupun amatir, komersial maupun nirlaba) yang punya kepedulian tinggi terhadap dunia sastra juga mulai menjamur bak cendawan di musim hujan. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, sejumlah lembaga penerbitan buku sastra yang cukup prestesius dapat disebut antara lain Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Grassindo, Bentang Budaya, IndonesiaTera, Buku Kompas, Gama Media, Hasta Mitra, Balai Pustaka, Pustaka Jaya, Pustaka Pelajar, Pustaka Firdaus, Pustaka Sufi, Pustaka Sastra LKiS, Mahatari, Jendela, Jalasutra, Naviri, Akar Indonesia, Frama Publishing, dan beberapa lagi yang kurang populer (beberapa di antaranya juga sudah tinggal nama, termasuk Balai Pustaka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan di atas jelas menunjukkan suatu kemajuan yang sangat berarti dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Kemajuan (dalam bidang penerbitan) itu, paling tidak, dapat kita amati dari jumlah buku-buku sastra yang sudah diterbitkan sepanjang dasawarsa pertama abad ini. Kalau kita cermati (terutama dengan melacak buku-buku yang telah beredar di pasaran), sejak awal tahun 2000 hingga sekarang saja agaknya sudah beratus-ratus (kalau bukan ribuan) judul buku sastra yang telah diterbitkan —apalagi jika yang dimaksudkan dengan istilah ”buku sastra” itu bukan hanya mengacu pada genre sastra kreatifnya saja (puisi, cerpen, novel), melainkan juga mencakup bentuk esai dan kritik sastra. Perhitungan ini tentu hanya berpatokan pada jumlah judul buku yang ada, bukan merujuk pada jumlah cetak eksemplar buku-buku berkategori national best-seller (seperti karya-karya Habiburrahman El-Shirazy atau Andrea Hirata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan sastra Indonesia mutakhir yang semakin kondusif seperti sekarang tentu saja juga didukung oleh semakin maraknya berbagai even sayembara penulisan (oleh beberapa media massa maupun lembaga tertentu) dan pemberian penghargaan (juga oleh beberapa media maupun lembaga, baik dari dalam maupun luar negeri) pada karya-karya yang dinilai lebih unggul bobot literer sastranya. Sekecil apa pun peran dan daya jangkau sebuah sayembara penulisan, harus kita akui bahwa kehadirannya tetap memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas dan kreativitas para penulis di negeri ini untuk berkarya. Demikian halnya kehadiran bentuk-bentuk penghargaan yang diberikan kepada para penulis terpilih juga telah memberikan spirit dan warna tersendiri dalam jagat kepengarangan di tanah air. Beberapa bentuk penghargaan yang pernah ada, di antaranya: SEA-Write Award, Khatulistiwa Literary Award, Sih Award, Hadiah Sastra Lontar, Anugerah Sastra Horison, Penghargaan Mastera, Hadiah Sastra Pusat Bahasa, dan beberapa bentuk penghargaan lain yang ada di berbagai daerah. Dalam kaitan ini, sayembara penulisan maupun penghargaan sastra, keduanya merupakan pompa pendorong motivasi kepengarangan yang sangat efektif dalam rangka menjaga kesinambungan tradisi penulisan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/ 6 /&lt;br /&gt;Selain beberapa fenomena di atas, setidaknya sejak paro kedua dekade 90-an yang lalu, sastra Indonesia modern sesungguhnya telah memasuki sebuah babak baru yang disebut “era sastra digital” (sistem publikasi karya sastra secara online melalui berbagai situs internet). Di samping dalam bentuk website pribadi, mulai populernya era baru ini terutama setelah diluncurkannya Cybersastra.com atau Cybersastra.net yang setidaknya sudah mulai beroperasi sejak 28 April 1999 —konon di bawah pengelolaan Masyarakat Sastra Internet (MSI) yang dikomandoi Nanang Suryadi dan berpusat di kota Malang, Jawa Timur. Sebagai media alternatif baru, ruang publikasi sastra online ini bersifat sangat akomodatif, egaliter, bebas, dan juga kurang selektif —bahkan, konon tanpa melalui proses seleksi sebagaimana yang dilakukan oleh redaktur sebuah media massa cetak konvensional— karena urusan pemilihan dan penentuan karya yang akan dipublikasikan memang sepenuhnya merupakan hak prerogatif para penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan karakteristiknya yang demikian, berbagai ragam karya sastra (puisi, fiksi, drama, serta esai dan kritik sastra, bahkan juga genre sastra lama) dapat ditampung di sini, termasuk yang secara kualitatif sering dituding pihak tertentu sebagai karya-karya “sampah”. Hal ini karena para penulis pemula yang baru belajar menulis satu-dua puisi pun “tidak dilarang” untuk memasuki dan memublikasikan karya-karya percobaan mereka di media sastra online bernama Cybersastra.net ini. Namun demikian, seberapapun kelemahan yang ada padanya, kehadiran media alternatif “sastra internet” atau “sastra digital” ini dalam jagat sastra di tanah air sungguh patut dihargai dan layak dicatat dalam bentangan sejarah sastra Indonesia.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai tudingan negatif terhadap fenomena sastra internet ini, Medy Loekito (salah seorang pegiat sastra internet lainnya) pernah mengemukakan suatu bantahan bernada apologis. Pertama, menurut penyair asal Jakarta ini, internet merupakan saluran yang efektif bagi ”penyemaian” atau ”terapi” terhadap frustasi penyair (baca: para penulis pada umumnya —JTS) yang sudah tidak sabar menunggu dalam ketidakpastian penerbitan karyanya di media cetak. Kedua, internet merupakan saluran alternatif bagi para penyair dalam menghadapi sikap tidak adil media massa yang mengutamakan nama-nama ”besar” dan bahkan melenyapkan ”lahan” bagi penyair yang belum terkenal. Ketiga, internet juga merupakan ”jembatan bagi peradaban multiculture”. Artinya, di dalam situs sastra Malaysia bisa kita temukan nama Nanang Suryadi (dari Indonesia), sedangkan di situs sastra Indonesia (semisal Cybersastra.net) dapat kita temukan nama Ramli A. Rahim (dari Malaysia) atau Djauhar (dari Singapura).[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun hingga sekarang keberadaan sastra internet ini masih menyimpan kontroversi tertentu, terutama menyangkut bobot literer karya-karya yang dipublikasikan, tetapi secara de facto dalam perkembangannya hingga dewasa ini justru memperlihatkan kemajuan yang cukup signifikan. Dalam lima tahun terakhir, kehadiran sastra internet ini tampaknya semakin mendapat tempat dan sambutan positif dari kalangan praktisi maupun pemerhati sastra di tanah air. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi mutakhir yang terus berkembang pesat, sastra internet kini sudah semakin meluas dan kian memasyarakat. Sekarang, kecuali keberadaan Cybersastra.net (yang belakangan sudah mulai menurun popularitasnya), sastra internet juga merebak dalam bentuk blog, facebook, dan twitter (milik pribadi maupun atas nama komunitas tertentu). Hampir semua penulis yang sudah melek-teknologi-internet, secara dan sebagai pribadi, kini sudah memiliki media-media alternatif paling mutakhir ini (minimal dengan memanfaatkan fasilitas facebook) sebagai wadah untuk menampung dan memublikasikan karya-karya mereka (terkadang juga karya teman sejawat dan/atau anggota komunitasnya).[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini (terhitung sejak 2 April 2011), Cecep Syamsul Hari (CSH —penyair asal Bandung, tepatnya Cimahi) telah meluncurkan sebuah majalah ruang-maya bertajuk Sastra Digital (Publikasi Online Sastra Indonesia) yang juga memuat beragam karya sastra kreatif (khususnya puisi dan cerpen) maupun esai dan kritik sastra. Akan tetapi, berbeda dengan media sastra internet lainnya yang pernah ada di Indonesia, karya-karya yang dimuat dalam Sastra Digital merupakan karya pilihan (berdasarkan proses seleksi) redakturnya (yang sejauh ini masih dibidani sendiri oleh CSH). Bahkan, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya yang dimuat, secara swadana sang pengelola tak segan-segan merogoh kantong pribadinya untuk menyediakan honorarium sekadarnya bagi para penulis yang karyanya terpilih dan dipublikasikan di media asuhannya tersebut.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, secara catatan tambahan, oleh karena sistem seleksi yang dilakukan redaksi tak mungkin dapat mengelak dari kemungkinan masuknya unsur subjektivitas pribadi (apalagi proses seleksi itu masih dilakukan sendiri oleh seorang redaktur yang sekaligus bertindak sebagai pemilik dan pengelolanya), media alternatif baru ini pun tentunya kelak akan dapat terjebak pada pengulangan model ”perilaku lama” versi media-media konvensional (khususnya media massa cetak) yang sistem seleksinya selama ini dinilai tidak adil dan cenderung lebih berpihak pada nama-nama besar saja. Namun, sekali lagi, bagaimanapun upaya semacam ini merupakan sebuah terobosan yang pantas dihargai dan disambut dengan sikap positif —tentu saja, dengan catatan, sambil terus menunggu format manajemen yang lebih ideal sehingga dapat memenuhi harapan lebih banyak pihak dan kepentingan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/ 7 /&lt;br /&gt;Terbukanya gerbang kebebasan ekspresi dan resepsi sastra dalam sepuluh tahun terakhir ini dapat dipandang sebagai era kebangkitan kembali (semacam renaissance) sastra Indonesia modern setelah selama lebih dari tiga dasawarsa seakan terus terkungkung di bawah kendali politik kenegaraan model rezim Orde Baru —melalui otoritas para penguasanya yang militeristik, sering bertindak represif, dan cenderung memperlakukan sastra sebagai suatu gejala budaya yang destruktif. Selama masa Orde Baru, sastra secara apriori diasumsikan sebagai sebuah energi besar yang menyimpan “lahar panas” sehingga suatu ketika pada saatnya dapat meletus dan membawa perubahan besar pula dalam dinamika sosial-politik (khususnya dalam konteks stabilitas nasional). Atas dasar tersebut, pada akhirnya keberadaan sastra (berikut sepak-terjang para sastrawannya) harus dikontrol secara superketat (kalau perlu dengan memanfaatkan jasa intelegen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tumbangnya rezim Orde Baru di penghujung abad yang lalu (1998), masa-masa stigmatis berwajah “fobisastra” semacam itu kini telah mencair secara drastis seiring dengan embusan angin segar yang dibawa oleh rezim Orde Reformasi. Sekarang, kita sudah berada di sebuah dunia baru, di alaf baru, dengan semangat dan paradigma baru pula. Kehidupan sastra, juga kebudayaan Indonesia pada umumnya, kini sudah dapat bernapas bebas dan bergerak secara sangat leluasa. Tak ada kekang, tak ada tali kendali lagi. Akan tetapi, ditinjau dari kacamata moralitas, tampaknya juga perlu kita sadari bahwa ternyata kebebasan ekspresi dan resepsi sastra itu memang tidak selalu menguntungkan. Ternyata pula, kebebasan itu tidaklah identik dengan kemajuan dan tidak pula selalu bermakna positif bagi peradaban suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin menguatnya arus keterbukaan berpikir dan berekspresi yang telah terbangun dalam sepuluh tahun terakhir (sejak lahirnya Orde Reformasi) pada kenyataannya memang membawa dampak yang sangat signifikan bagi perkembangan dunia sastra dan kebudayaan umumnya di tanah air. Munculnya trend karya-karya sastrawangi yang beredar bebas di pasaran, misalnya, diasumsikan telah turut memberi andil pada kian merosotnya moral bangsa dewasa ini —terutama dalam konteks perilaku seks bebas (free sex) dan pelecehan seksual (sexual harassment). Kendati, tentu saja, hal itu bukan satu-satunya faktor penyebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan sastra Indonesia yang demikian pesat dalam beberapa tahun terakhir pada akhirnya juga menimbulkan risiko sampingan di bidang teori, sejarah, kritik, dan pendidikan sastra. Sebab, para pengamat (termasuk teoretisi, sejarawan, kritikus, dan guru sastra), siapa pun dia dan dari mana pun asalnya, pastilah akan merasa sangat kesulitan untuk dapat memantau perkembangan sastra kita dewasa ini secara objektif dan komprehensif. Barangkali, untuk lebih praktisnya, guna mengatasi kesulitan tersebut mau tidak mau perhatian mereka terpaksa hanya akan terfokus pada bentuk buku dan sejumlah media massa tertentu yang beredar secara nasional serta dipandang representatif sebagai barometer perkembangan sastra Indonesia mutakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Sekarang, gejala apa lagi yang bakal muncul dalam peta sejarah sastra Indonesia mutakhir? Apakah dalam sepuluh tahun ke depan ia akan melahirkan suatu kecenderungan estetik yang baru lagi? Entahlah. Agak muskil, juga terlalu dini, untuk dapat memprediksikannya dengan pasti. Namun, oleh karena sastra merupakan dunia yang mungkin (oleh Budi Darma pernah disebutnya sebagai dunia jungkir-balik), gejala apa pun yang muncul kemudian selalu akan bersifat dialektis dan menjadi sesuatu yang niscaya. Panta Rei! Segalanya akan terus mengalir, mengalir, dan terus mengalir, sebagaimana mengalirnya air sungai yang pernah dianalogikan Heraklietos berabad-abad silam dalam salah satu diktum filsafatnya. Jadi, bagaimana masa depan sastra Indonesia nanti? Quo Vadis? Kita tunggu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaihari, 16 Oktober 2011&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Diskusi singkat tentang pengertian “sastra Indonesia” dapat dibaca, misalnya, dalam buku Sapardi Djoko Damono, Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. 131—133. Namun, untuk kepentingan pembahasan ini saya lebih cenderung mengikuti rumusan Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Bandung: Binacipta, 1991), hlm. 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Pembicaraan mengenai estetika kepenyairan Afrizal Malna yang dipandang sebagai ikon pembaruan dalam perpuisian Indonesia di tahun 1980—1990-an telah banyak dilakukan orang, baik dalam bentuk esai-esai singkat di media massa maupun ulasan yang agak panjang berupa kertas kerja untuk forum-forum diskusi sastra. Ulasan yang cukup representatif dapat dibaca, misalnya, dalam tulisan Agus R. Sarjono, “Afrizal Malna: Puisi Dada dan Kecemasan” (Horison, Desember 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Kumpulan sajak awalnya yang sampai sekarang tidak diterbitkan berjudul Catatan yang Bertindak dan Mitos-mitos Kecemasan (naskah ini hanya dibukukan secara sederhana dalam bentuk fotokopi), kendati beberapa sajak di antaranya telah ikut dimuat dalam penerbitan buku pertama (1984) dan buku keduanya (1990) sebagaimana tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat esai pengantar Korrie Layun Rampan (Ed.) untuk bukunya, Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Jakarta: PT Grasindo, 2000), hlm. xxxviii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Harap mafhum, tentu tidak semua nama penyair dapat saya sebutkan di sini. Urutan penyebutan nama-nama di atas juga tidak merepresentasikan tingkatan kualitas karya maupun para penyairnya, tetapi sekadar menderetkan nama-nama yang cukup dikenal dalam kancah perpuisian Indonesia mutakhir. Hal yang sama juga berlaku untuk penyebutan nama-nama penulis fiksi pada uraian selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Upaya-upaya pemetaan dan ulasan tentang berbagai kecenderungan estetik dalam perpuisian Indonesia terkini sesungguhnya juga telah banyak dilakukan oleh para kritikus dan pengamat sastra. Baca, misalnya,  beberapa esai Afrizal Malna yang terhimpun dalam buku Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca-yang-Tak-Bersih (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000); Agus R. Sarjono, Sastra dalam Empat Orba (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2001); dan Korrie Layun Rampan, op. cit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Untuk novel Saman, misalnya, di cover belakang buku Ayu Utami tersebut Sapardi Djoko Damono memberi komentar yang sangat apresiatif, bahkan cenderung berlebihan: “Dahsyat… memamerkan teknik komposisi yang —sepanjang pengetahuan saya— belum pernah dicoba pengarang lain di Indonesia, bahkan mungkin di luar negeri.” Adapun penemuan teknik penceritaan baru —yang dikatakan sangat eksperimental dan khas inovasi Djenar— untuk beberapa cerpen Djenar Maesa Ayu telah dicobatunjukkan oleh Richard Oh dalam esai pengantarnya untuk kumpulan cerpen Djenar yang kedua. Lihat Richard Oh.,  “Jangan Main-main dengan Djenar,” dalam Djenar Maesa Ayu, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. Xiii—xxvii. Namun, Katrin Bandel kemudian telah menunjukkan kelemahan karya-karya Djenar —khususnya novel Nayla— melalui sebuah esainya, “Nayla: Potret Sang Pengarang sebagai Selebritis,” Horison (Tahun XXXX, No.1/2006), hlm. 6—15 yang kemudian dimuat dalam bukunya, Sastra, Perempuan, Seks (Yogyakarta &amp;amp; Bandung: Jalasutra, 2006), hlm. 143—163.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Sekaitan dengan masalah trend sastrawangi dan dampak moralitasnya, menarik sekali untuk disimak ulasan kritis Medy Loekito, ”Perempuan dan Sastra Seksual” dalam Ahmadun Yosi Herfanda dkk. (Ed.), Sastra Kota: Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta 2003 (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003), hlm. 130—156.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Seorang ustadz saat berceramah di kampung saya pernah mensinyalir karya-karya Habiburrahman El-Shirazy (terutama menunjuk novel Ayat-ayat Cinta) —yang mungkin hanya dipantaunya melalui film— sebagai propaganda poligami. Sehingga, menurut simpulannya, dengan mengangkat poligami sebagai pesan utama seolah-olah Islam itu identik dengan praktek poligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Lokalitas sebagai suatu kecenderungan estetik dalam tradisi sastra Indonesia mutakhir pernah saya bahas secara khusus dalam sebuah esai bertajuk “Kebanggaan Sastra sebagai Kebanggaan Daerah: Sumber Kreativitas dan Inovasi Penciptaan” (makalah Seminar Internasional: Dialog Borneo-Kalimantan XI pada 13—15 Juli 2011 di Samarinda, Kalimantan Timur); dimuat dalam Korrie Layun Rampan (Ed.), Sumbangan Borneo-Kalimantan Terhadap Sastra Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia (Yogyakarta: DBK—Araska, 2011), hlm. 83—104.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Banyak sekali media alternatif lainnya yang tidak bisa disebutkan di sini, baik berupa majalah maupun sekadar buletin yang diterbitkan secara swakelola dan bersifat nirlaba oleh komunitas tertentu. Akan tetapi, perkembangan nasib mereka hampir sama, nyaris selalu terbentur masalah klise: pendanaan dan pemasaran. Media alternatif ini pada umumnya hanya sempat terbit satu kali atau beberapa nomor penerbitan saja, setelah itu mati (seperti kata Chairil Anwar: sekali berarti, sudah itu mati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Pelacakan dan kajian awal (tetapi cukup memadai) tentang fenomena sastra-internet ini dapat dibaca dalam salah satu tulisan Faruk H.T. melalui bukunya, Beyond Imagination: Sastra Mutakhir dan Ideologi (Yogyakarta: Gama Media, 2001), hlm. 215—263; pernah disinggung sekilas oleh Ahmadun Yosi Herfanda melalui esai bertajuk “Kapitalisasi Sistem Produksi” dalam Ahmadun Y. Herfanda dkk. (Ed.), op. cit., hlm. 21—37; dan untuk pelacakan lebih lanjut silakan klik di http://www.Cybersastra.net dan beberapa situs atau laman terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Bandingkan dengan Faruk H.T., ibid., hlm. 220.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Terkait dengan masalah seleksi karya yang akan dimuat, keadilan para redaktur media massa cetak konvensional (koran, tabloid, majalah, jurnal) yang seringkali dipertanyakan pada kenyataannya juga berlaku pada para redaktur media sastra internet ini. Jadi, subjektivitas pribadi sang pengelola blog (blogger) tetap memegang peranan penting. Untuk pembuktian empiris, silakan lacak beberapa blog sastra yang terutama berbasis komunitas (meski dikelola oleh perseorangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Pada awalnya, publikasi karya diterbitkan mingguan dengan karya menampilkan karya terpilih (puisi, cerpen, dan esai/kritik sastra). Belakangan, dengan format baru dan penambahan rubrik ”kuntum” (untuk karya-karya pelajar), durasi penerbitan telah diubah menjadi berkala bulanan. Untuk lebih jelasnya, silakan kunjungi di http://www.sastradigital.gmail.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Catatan untuk Kolega :&lt;br /&gt;Makalah ini akan dipresentasikan dalam Seminar Nasional bertema "Sastra Mutakhir di Indonesia" yang akan digelar pada hari Sabtu (29 Oktober 2011) di Aula Rektorat Unlam (Lt. 3) pukul 08.00 s.d. selesai. Bagi yang berminat ikutan, silakan hubungi Dr. M. Rafiek, M.Pd. / Rusma Nortyani, M.Pd. di Prodi PBSID FKIP Unlam Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Biografi Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamal T. Suryanata dilahirkan pada 1 September 1966 di Kandangan (HSS), Kalimantan Selatan. Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Program Pascasarjana FKIP Unlam Banjarmasin dengan tesis berjudul “Cerpen Banjar 1980—2000: Tinjauan Struktur, Isi, dan Konteks Sosialnya” (2004). Mulai aktif menulis sejak awal 1990, berupa puisi, cerpen, novel anak, serta kritik dan esai sastra-budaya dan pendidikan. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Banjarmasin Post, Media Masyarakat, Radar Banjarmasin, Media Kalimantan, Bali Post, Koran Tempo, Kompas, Swadesi, Wanyi, Suara Guru, Ceria Remaja, Al-Zaytun, Matabaca, On-Pff, Gong, Matra, Basis, Horison, Dewan Sastera, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Rumahlebah: Ruangpuisi, Jurnal Widyaparwa, Jurnal Kebudayaan Kandil, Jurnal Sastra Kindai, dan Sastra Digital. Karya-karyanya juga dipublikasikan melalui blog pribadinya: ”palidangan” (http://jamalts.blogspot.com) an ”lasmin papadaan” (http://jamalsuryanata.blogspot.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi kepengarangan yang pernah diraihnya antara lain sebagai Juara II Sayembara Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1992), Juara III Sayembara Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1994), Juara II Lomba Cipta Puisi Batu Beramal 2 Se-Indonesia versi Studio Seni Sastra  Kota  Batu,  Malang (1995), Juara I Sayembara Mengarang Esai tentang Pengajaran Sastra Tingkat Nasional (1998), Juara I Lomba Menulis Cerpen dalam Bahasa Banjar Se-Kalsel (2007), Juara I Sayembara Penulisan Esai tentang Perkembangan Publikasi Sastra di Kalimantan Selatan 2000—2008 Se-Kalsel (2008), dan beberapa kali menenangkan Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Anak Tingkat Nasional (1993, 1996, 1997, 1998, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan sastra-budaya yang pernah diikutinya antara lain Festival Puisi Kalimantan (1992), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Program Penulisan Majelis Sastera Asia Tenggara: Esai (1999), Dialog Borneo-Kalimantan VII (2003), Ubud Writer’s and Reader’s Festival (2004), Cakrawala Sastra Indonesia (2005), Kongres Cerpen Indonesia IV (2005), Festival Kesenian Yogyakarta (2007), Kongres Cerpen Indonesia V (2007), Temu Sastrawan Indonesia III (2010), Dialog Borneo-Kalimantan XI (2011). Sejumlah puisi, cerpen, dan esainya ikut disertakan dalam beberapa buku antologi bersama seperti Festival Puisi Kalimantan (1992), Tamu Malam (1992), Bosnia dan Flores (1993), Batu Beramal 2 (1995), Kebangkitan Nusantara II (1995), Antologi Puisi Serayu (1995), Jendela Tanah Air (1995), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Wasi (2000), La Ventre de Kandangan (2004), Dian Sastro for President! (2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (2005), Perkawinan Batu (2005), Jendela Terbuka: Antologi Esai Mastera (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Sastra Banjar Kontekstual (2006), Tongue in Your Ear: Indonesian Poetry Festival (2007), Kalimantan dalam Puisi Indonesia (2011), Kalimantan dalam Prosa Indonesia (2011), dan Sumbangan Borneo-Kalimantan Terhadap Sastra Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia (2011). Sajaknya ”Datanglah Sang Cahaya” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal dan dimuat dalam buku Antologia de Poeticas: Antologi Puisi Indonesia-Portugal-Malaysia (2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menulis dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Banjar. Buku-bukunya yang sudah diterbitkan berjudul Untuk Sebuah Pengabdian (Balai Pustaka, 1995), Mengenal Teknologi Penerbangan dan Antariksa (Adicita Karya Nusa, 1998), Di Bawah Matahari Terminal (Adicita Karya Nusa, 2001), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra (Adicita Karya Nusa, 2003), Galuh: Sakindit Kisdap Banjar (Radar Banjarmasin Press, 2005), Penyesalan Sang Pemburu (Pabelan Cerdas Nusantara, 2005), Bulan di Pucuk Cemara (Gama Media dan LPKPK, 2006), Debur Ombak Guruh Gelombang (Tahura Media, 2009), Bintang Kecil di Langit yang Kelam (Tahura Media, 2009), Guruku Tidak Kencing Berlari (Tahura Media, 2010), dan Tragika Sang Pecinta: Gayutan Sufistik Sajak-sajak Ajamuddin Tifani (Akar Indonesia, 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat prestasi dan dedikasinya dalam bidang sastra, pada tahun 2006 ia dinobatkan sebagai salah seorang seniman peraih Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel (untuk bidang sastra) dan tahun 2007 terpilih sebagai penerima Penghargaan Sastra dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin (untuk bidang penulisan cerpen [].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-6474845578106433218?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/6474845578106433218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=6474845578106433218' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6474845578106433218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6474845578106433218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2012/01/sastra-indonesia-mutakhir-jejak.html' title='Sastra Indonesia Mutakhir : Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-4186214335422868836</id><published>2012-01-09T04:14:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T04:16:06.432-08:00</updated><title type='text'>Variasi Model Pembacaan Novel "Rumah Debu"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;RUMAH DEBU NOVEL BERDEBU&lt;br /&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita tentang yang semestinya dilakukan seorang anak laki-laki ketika sudah mulai beranjak dewasa untuk melakukan perjalanan-perjalanan jauh; melihat kota-kota dan negeri jauh dengan segala perbedaannya dan keunikannya. Perjalanan jauh atau pengembaraan yang terus mengusik pikiran tokoh Rozan dalam Novel Rumah Debu (2010) karya Sandi Firly, seperti menjadi pegangan bagi yang membaca novel tersebut sebagai sesuatu yang penting untuk diingat karena dari awal hingga akhir terus diulang nasehat dari “ayah”nya Rozan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel Rumah Debu, dengan pengulangan nasehat sang “ayah” tokoh tentang pengembaraan, secara sekilas mengingatkan pada buku  Sang Alkemis, Novel Spiritual tentang Realisasi Impian Anda karya Paulo Coelho  yang juga terus mengulang kalimat “Saat kau menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya”. Kedua novel tersebut juga bercerita tentang pengembaraan. Pada Sang Alkemis menceritakan pengembaraan sebagai pilihan tokoh yang selanjutnya direalisasikannya,  sedangkan pada Rumah Debu menceritakan tokoh diarahkan (bukan pilihan) untuk melakukan pengembaraan yang pada akhir cerita tergambar pengembaraan itu sedang berlangsung. Saat membaca Rumah Debu, ada bayangan bahwa Sandi Firly terinspirasi novel Sang Alkemis yang merasuk dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Rumah Debu mengalur dengan lurus, cukup ringan untuk dinikmati, dan latar cerita yang dihubungkan dengan sebagian aktivitas pertambangan berupa angkutan batu bara; untuk masyarakat Kalsel begitu mudah untuk merasakan dan membayangkannya. Permasalahan angkutan batu bara yang menggunakan jalan negara cukup jelas tergambar, setidaknya sudah ditandai dengan judul novel Rumah Debu, yang menggiring untuk membayangkan rumah-rumah di sepanjang jalan yang dilewati armada truk batu bara terlihat seperti berwarna abu-abu. Debu yang monoton seakan telah menghapus pelangi kehidupan di sepanjang jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai novel pertama Sandi Firly, ada kesan penggarapannya tergesa-gesa dan membuat ada beberapa hal yang terlihat tidak cermat. Misalnya pada bagian pertama yang bercerita tentang Rantau sebagai tujuan pengembaraan pertama, yang tentu saja keadaan kota Rantau tidak seperti yang digambarkan dalam novel, mungkin yang dimaksudkan adalah kota Binuang. Bagi pembaca yang tidak mengenal atau tahu kota Rantau,  gambaran itu  memang tidak berpengaruh, tapi akan berbeda dengan pembaca yang tahu dan/atau warga Rantau sendiri tentu terlihat ketidakcermatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan permasalahan pertambangan, kecuali tentang angkutan batu bara, novel ini tidak bercerita banyak. Malah terkesan tidak mau memanfaatkan data yang tersedia, padahal Sandi Firly adalah seorang jurnalis yang semestinya tidak mengalami kesulitan dengan berita-berita yang berkenaan dengan permasalahan pertambangan. Hal ini terlihat pada bagian yang mencoba untuk menguatkan pendapat bahwa pertambangan batu bara mengakibatkan kerusakan alam dan berdampak pada manusianya dengan menghadirkan data dan fakta dari Walhi Kalsel, namun lebih cenderung untuk mendukung dengan suasana penggambaran tentang bertebarannya debu sebagaimana judul novel ini yang berhubungan dengan truk-truk pengangkut batu bara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga saat Sarah berhadapan dengan hidup mati dalam persalinan yang dibantu bidan desa, ada hal yang sangat mengganggu tentang “ketuban pecah dan baru pembukaan empat”, yang bagi bidan desa dalam novel  seperti hal yang biasa dan bersikap santai saja. Ketuban pecah merupakan hal yang serius dalam persalinan, yang seharusnya mendapat tindakan medis secepatnya, karena taruhannya nyawa ibu atau bayi atau keduanya. Apalagi, persalinannya terjadi saat bayi baru berumur 7 bulan yang merupakan kelahiran prematur, yang mana bayinya perlu ditempatkan pada inkubator, yang dalam medis bisa dilakukan dengan cara ceacar atau vacuum  untuk mempercepat bayi keluar. Dalam proses persalinan ini sebenarnya memberikan kesempatan pada pengarang untuk lebih menampilkan dramatisasi yang menegangkan, yang di sini tidak dimanfaatkan dengan baik dan malah tidak cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan tokoh Rozan, ada yang begitu menarik untuk dilihat dari awal novel hingga akhir, yang mengenalkan sosok sebagai pengagum Jalaluddin Rumi, dengan terus membawa buku karya Jalaluddin Rumi ke mana saja.  Kekaguman atas karya seorang tokoh (Jalaluddin Rumi) dan membawanya ke mana saja dan sering membacanya secara berulang, tentu begitu berpengaruh terhadap cara pandang Rozan dalam bersikap dan bertindak. Begitu juga dengan buku-buku novel yang lebih menarik dibandingkan kitab-kitab yang ada di pesantren. Memang ada beberapa kutipan dari buku Jalaluddin Rumi, tetapi dalam penampilan Rozan tidak terlihat adanya pengaruh tersebut selain beberapa kutipan pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membaca novel Rumah Debu, dengan beberapa hal di atas yang dapat bermata ganda, secara langsung  mengatakan bahwa karya ini layak untuk dibaca dan dinikmati. Setidaknya bagian kecil dari pertambangan batu bara; angkutan batu bara memanfaatkan jalan negara, terungkap dengan berbagai permasalahan dan dampaknya. Jadi, Rumah Debu dapat dikatakan tersaji masih dalam keadaan berdebu yang mungkin tidak sempat dicermati penulisnya. “Ketika tokoh muda kita ini hendak menuju rumah….”, sapalah ia melalui pembacaan novel Rumah Debu karya Sandi Firly, meskipun kalimat yang dikutip itu bagian dari seperti sisipan liar, yang tidak akan mengurangi nilai novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru, 25 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-4186214335422868836?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/4186214335422868836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=4186214335422868836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4186214335422868836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4186214335422868836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2012/01/variasi-model-pembacaan-novel-rumah.html' title='&lt;center&gt;Variasi Model Pembacaan Novel &quot;Rumah Debu&quot;&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-8356667789547404509</id><published>2012-01-09T04:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T04:06:54.300-08:00</updated><title type='text'>Tips Menulis Puisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh : Halimi Zuhdi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puisi, sebagai wakil hati dan pikiran, atau ekspresi dari dalam diri seseorang. Tidak heran, jika puisi selalu memberikan kejutan-kejutan nada dan cinta, rindu dan kebencian, kasih dan permusuhan, juga sering menjelma kata-kata yang sangat menakjubkan, kadang sang penulisnya tidak merasa bahwa puisi terbang begitu tinggi tak kenal bumi, tapi terasa menyentuh bahkan tenggelam dalam perut bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ungkapan puisi keluar dengan rasa dan prasa, sehingga membuat hati merdecak begitu dahsyat, membiarkan angan melalang buana menemui malaikat yang selalu memberikan warna, menghentak-hentak seakan ia bergelombang bersama sunami. Puisi adalah warna perasaan kita, hentakan dan kesedihan hati terukir lewat baris-baris bermakna, membumbung memenuhi kertas putih yang kemudian menjadi begitu indah ketika terbaca, huruf demi huruf seperti gelombang bergumul bergulung menuju pantai asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi dengan berbagai ekspresi menunculkan sejuta aksi, puisi tanpa ekspresi pun akan memberikan ribuan kunci menuju pintu-pintu yang tak pernah rapat terkunci, terbuka masuk tanpa sang juru kunci yang melibatkan hati, pikiran dan aksi.Setiap insan yang masih punya kesadaran diri, ia akan mampu menyerap diri yang kemudian dimunculkan lewat hentakan hati, dan memunculkan aksi lewat hamparan tangan dan dengungan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seseorang yang suka berekspresi lewat tulisan, ia akan menulikan seluruh prasaannya lewat tulisan. Tapi bagi penikmat puisi, ia dapat merenungi dan membaca bait-bait puisi orang lain. Bagi seseorang yang ingin menulis puisi tidaklah sulit, hanya membutuhkan 5 detik atau hanya 2 detik untuk mengungkapkan prasaannya lewat carik-carik kertas. Tidak butuh berfikir, ia hanya butuh untuk berdzikir, tidak butuh berdzikir ia hanya butuh mengukir, tidak ada ukiran tak akan pernah ada tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis puisi, membutuhkan penghimpunan rasa dan prasa yang kemudian menulis titik demi titik yang membaris bak penggaris, terbentuk meliuk seperti huruf, huruf tersusun indah menjadi kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah berikut, mungkin bisa membantu untuk memulai menulis puisi sederhana :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Membayangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan sesuatu yang sudah melekat dalam pikiran penulis, atau peristiwa yang telah terjadi yang menimpa dirinya, atau peristiwa yang paling istimewa dalam perjalanan hidupnya, atau membayangkan keindahan alam sekitar, alam ghaib, atau peristiwa yang menakutkan, atau peristiwa yang membawa diri pada keterhenyakan. Bayangkan apa yang ingin dibayangkan....pasti akan tampak sesuatu itu walau samar, jika masih dalam kesamaran bisa terus dibayangkan dengan sekuat pikiran dan konsentrasi penuh, namun ingat tetap dalam kondisi enjoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengilustrasikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibayangkan kemudian mencoba untuk mengilustrasikan dalam pikiran, atau bentuk coretan-coretan kata dikertas, dileptop, atau media apapun yang mampu mengukir bayangan menjadi jalan untuk mengalirkan kata-kata menuju kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menggerakkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membayangkan, mengilustrasikan, kemudian menggerakkan hati, pikiran dan tubuh untuk memuntahkan kata-kata yang sudah terbayangkan itu. Jangan berhneti pada tataran pengilustrasiaan atau hanya sekedar membayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menuliskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya untuk menuliskan kata-kata itu dikertas yang sudah tersedia, jangan memikirkan keindahan kata-kata terlebih dahulu, biarkan ia berisi dengan penuh makna, bariskan kalimat-kalimat dalam jagat bait. Jangan memperdulikan keindahan dan ketidakindahan, yang penting menuliskan kata-kata yang sudah membeludak untuk muntah...biarkan ia mengalir deras, tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memoleskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kata-kata itu tertuliskan di kertas, baru dibaca kembali, ruh yang ada di dalamnya tidak harus dihilangkan, biarkan ruh-ruh itu semakin kukuh dnegan memoles kata-kata dalam bait-bait puisi. Memolesnya dengan majas, metafor dan heprbol dan lainnya. Jadikan kata-kata itu garang, halus, haru, sesuai dnegan keinginan penulis puisi.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saatnya memulai menulis puisi dengan mempraktikkan cara-cara di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 3 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://halimizuhdy.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-8356667789547404509?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/8356667789547404509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=8356667789547404509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8356667789547404509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8356667789547404509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2012/01/tips-menulis-puisi.html' title='&lt;center&gt;Tips Menulis Puisi&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-6238257555321993844</id><published>2012-01-09T03:45:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T03:46:19.027-08:00</updated><title type='text'>Sekitar Konsep Pengertian Puisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga kini studi puisi belum berhasil memberikan batasan teks puisi yang secara luas dapat diterima. Mengherankan, tetapi hal ini dapat dimengerti. Mengherankan karena sulit untuk mengharap suatu bidang ilmu dapat menjelaskan bidang ilmunya dengan istilah sedemikian rupa sehingga memperoleh konsensus dalam bidangnya itu. Dapat dimengerti karena tidak pernah ada garis pemisah yang jelas antara teks puisi dan nonpuisi. Garis pemisah ini telah dihapus di masa lalu dan akan terus dihapuskan di masa mendatang. Alasan penghapusan ini disebabkan oleh rumitnya struktur objek penelitian dan evaluasi yang selalu berubah terhadapnya. Juga faktor metode yang digunakan untuk mendefinisikan konsep teks puisi merupakan faktor yang menyebabkan kacaunya konsep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang mencermati kekacauan ini, agaknya Morris Weitz-(1960)-lah yang benar. Menurutnya, seseorang mencari terlampau lama dan sia-sia untuk batasan objek estetik dan subkategorinya. Menurut Weitz, konsep seni merupakan suatu konsep terbuka yang tidak memungkinkan adanya definisi operasional. Pada sisi lain, mungkin mendefinisikan apa yang oleh Weitz disebut sebagai konsep tertutup, misalnya “tragedi Yunani”. Ciri-ciri umum semua tragedi Yunani yang terkenal mungkin dikumpulkan, untuk selanjutnya sebuah definisi terhadap tragedi Yunani dapat dibuat. Selanjutnya Fokkema menyarankan bahwa “menghindari definisi konsep puisi berarti akhir dari pendekatan yang sistematik terhadap studi puisi” (Fokkema, 1974a:254). Zdenko Skreb melihat suatu definisi baru tentang suatu objek, yakni teks puisi, sebagai tugas yang paling urgen bagi penelitian teori puisi (Skreb, 1973:29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi-definisi dan hipotesis kerja tentang istilah seperti literature, literary, dan literary text yang dirumuskan beberapa tahun terakhir bercirikan dua aspek yang ada dalam kebanyakan definisi. Di satu pihak kualitas tekstual disebutkan sebagai elemen konstitutif konsep puisi; sementara di pihak lain tekanan diberikan pada nilai-nilai yang oleh pembaca diberikan pada suatu teks. Kualitas-kualitas tekstual yang sering dipertimbangkan secara khusus bersifat kessatraan adalah penyimpangan penggunaan bahasa dan fiksionalitas teks. Jadi, Austin Warren dan Rene Wellek yakin bahwa ciri pembeda puisi dapat dijumpai dalam “pemakaian khusus yang dibuat terhadap bahasa”’ mereka menekankan ciri konotatif bahasa puisi dan hakikat fiksional puisi (Wellek dan Warren, 1949:22—23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek studi puisi yang berorientasi pada semiotik tidak harus berupa teks puisi seperti yang dianggap sebagai bagian dari proses komunikasi atau dalam istilah Wienold ‘pemrosesan teks’. Pendeknya, bidang penelaah-an ilmu puisi diterima sebagai proses total tentang komunikasi kepuisian, komunikasi puisi dianggap subsistem dari sistem komprehensif komunikasi verbal dalam masyarakat (Schmidt, 1976:242). Schmidt secara meyakinkan membagi proses global komunikasi puisi menjadi empat komponen, yaitu produksi teks, teks, transmisi teks, dan resepsi teks. Perbedaan-perbedaanya dapat dijelaskan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas produser, pengarang: sebagai contoh tentang jenis ini adalah penelitian terhadap varian tekstual yang mungkin disebutkan. Ini memungkin-kan suatu insight ke dalam aktivitas pengarang yang akan mengarah pada produksi teks. Kegiatan interpretatif langsung dipusatkan pada suatu teks. Transmisi teks: di antara hal-hal lain, sosiologi puisi mempelajari cara ketika teks didistribusikan melalui perantaraan editor, penerbit, toko buku, dan sebagainya, dan akhirnya mencapai para pembacanya. Kegiatan penerima, pembaca: Rezeptionaesthetik (estetika resepsi) merupakan suatu sasaran muta-khir yang berkenaan dengan studi reaksi-reaksi pembaca terhadap teks puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lotman memberikan konsep teks puisi sebagai sebuah arti “netral” (tidak khusus linguistik). Hal itu dicirikan oleh tiga hal. Sebuah teks berciri eksplisit: sebuah teks diungkapkan dengan sarana tanda-tanda dan itu membedakannya dengan struktur ekstra tekstual yang tidak diungkapkan. Teks juga terbatas: sebuah teks mempunyai awal dan akhir karena berbeda dengan semua struktur lain yang tidak memiliki ciri “terbatas”. Terakhir, sebuah teks adalah terstruktur: sebuah teks tidak mempunyai susunan arbitrer antara dua batasnya. Sebuah teks mempunyai organisasi internal yang membuatnya menjadi sebuah keseluruhan yang terstruktur pada level sintagmatik. Yang diistilahkan Lotman sebagai “teks” seperti istilahnya tentang “bahasa”, merupakan istilah teknis, tidak bersangkutan dengan arti umum, misalnya sejumlah kata-kata tertulis dalam bahasa Inggris. Sebagai misal, lukisan, film, atau sebuah soneta juga disebut teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu masalah penting adalah dalam hal apakah teks estetis berbeda dengan teks nonestetis. Dengan referensi Formalisme Rusia dan Strukturalisme Praha, akan diusulkan hipotesis kerja: sebuah teks estetis adalah seperangkat tanda yang eksplisit, terbatas, dan terstruktur, serta fungsi estetisnya dirasakan dominan oleh pembaca. Dalam definisi ini fungsi estetik yang ditujukan pada sebuah teks oleh pembaca bersifat decisive terutama berkaitan dengan perbedaan antara teks estetis dan teks nonestetis. Dari sudut pandang semiotik, dengan demikian, harus terdapat indikasi di dalam teks atau dalam situasi komunikasi untuk memperkuat judgement penerima (pembaca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analog dengan penjelasan tentang teks estetis di atas, definisi kerja tentang teks puisi adalah: sebuah teks puisi adalah seperangkat tanda-tanda verbal yang eksplisit, terbatas, dan terstruktur, serta fungsi estetisnya dirasakan dominan oleh pembaca. Dalam definisi ini, “pembaca” disebutkan; jelas bahwa hal itu merupakan suatu generalisasi yang selanjutnya harus dibuat spesifik. Apa yang menyebabkan pembaca menyebut-nyebut fungsi estetis suatu teks? Sebuah teks puisi akan berisi sejumlah stimulus yang mempunyai efek estetis bagi penerima dan dengan demikian menyebabkan teks memiliki fungsi estetik bagi pembaca. Misalnya, mungkin rima dan penyimpangan pemakaian bahasa memiliki efek estetis terhadap pembaca sehingga dia akan menetapkan fungsi estetis ada pada teks itu. Fungsi estetis menunjukkan bahwa dalam situasi komunikasi minat si pembaca pertama-tama terarahkan pada teks sebagai sebuah keseluruhan tandaa-tanda verbal yang tersusun. Dalam kasus ini, cara ketika teks distrukturkan bersaing kuat dengan isi yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, marilah kita ingat definisi kerja tentang konsep “teks puisi” sebagai seperangkat tanda-tanda verbal yang eksplisit, terbatas, dan terstruktur; dan fungsi estetisnya dirasakan dominan oleh pembaca. Definisi bergantung pada keputusan pembaca dan dengan demikian, hal itu memerlukan suatu penilaian terhadap responsnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-6238257555321993844?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/6238257555321993844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=6238257555321993844' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6238257555321993844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6238257555321993844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2012/01/sekitar-konsep-pengertian-puisi.html' title='&lt;center&gt;Sekitar Konsep Pengertian Puisi&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-4008119624460529159</id><published>2011-12-01T04:29:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T04:31:55.113-08:00</updated><title type='text'>LOMBA MENULIS PUISI NASIONAL KOMUNITAS RUMAH SUNGAI (KMRS)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Menumbuhkembangkan Sastra Melalui Penerbitan Buku)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak berdirinya pada tanggal 23 Juli 2008, Komunitas Rumah Sungai Lombok Timur tidak henti-hentinya menggaungkan perkembangan sastra di NTB, khususnya di Lombok Timur. Berbagai acara sastra dan kesenian kerap digelar, baik berupa acara-acara workshop / pelatihan sampai pada acara-acara yang berupa pementasan panggung. Ini semua tiada lain hanya dimaksudkan untuk terus menggeliatkan perkembangan sastra yang sudah ada, terutama pada kalangan muda. Dan untuk itu sebagai komunitas yang ada di Indonesia, Komunitas Rumah Sungai pun bermaksud mengadakan lomba Menulis Puisi Nasional. Lomba ini dihajatkan untuk menumbuhkembangkan Penulis-Penulis Muda se-Indonesia, yaitu melalui Buku Antologi Puisi yang akan diterbitkan nantinya. Adapun ketentuan lomba menulis puisi nasional ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Umum&lt;br /&gt;1)      Peserta berwarga Negara Indonesia dengan melampirkan Identitas Diri (SIM, KTP, Kartu Pelajar, dan lain-lain)&lt;br /&gt;2)      Tidak ada batas usia.&lt;br /&gt;3)      Tema Puisi bebas. Naskah puisi tidak boleh bersinggungan dengan unsur SARA,Pornografi, Narkoba maupun sejenisnya.&lt;br /&gt;4)      Naskah puisi ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD), tidak menggunakan bahasa SMS.&lt;br /&gt;5)      Karya tidak pernah dipublikasikan di media cetak dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba yang sejenis.&lt;br /&gt;6)      Diharuskan bergabung di grup Komunitas Rumah Sungai. Dengan mengklik link ini http://www.facebook.com/?ref=tn_tnmn#!/groups/kmrslotim/&lt;br /&gt;7)      Mengcopy paste pengumuman ini ke dalam catatan facebook dan menandai minimal 20 orang.&lt;br /&gt;8)      Melampirkan Biografi singkat Penulis dan nomer kontak di akhir naskah puisi.&lt;br /&gt;9)      Biaya pendaftaran hanya Rp. 10.000,- untuk satu judul puisi. Semua peserta boleh mengirimkan tulisan lebih dari satu judul puisi (maksimal 5 judul puisi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Khusus&lt;br /&gt;1)      Bila Karya dikirim via email :&lt;br /&gt;• Naskah puisi ditulis dengan kerta A4 dengan Font Times New Roman spasi 1,5&lt;br /&gt;• Puisi dikirim ke email rifatkhan21@ymail.com dengan nama file Lomba Puisi_Nama Penulis, dan melampirkan scan Foto copy identitas diri dan bukti sudah membayar pendafataran.&lt;br /&gt;• Uang Pendaftaran dikirim ke rekening BRI : 4737-01-008429-53-0 atas nama Effendi Danata.&lt;br /&gt;• Pengiriman karya paling lambat tanggal 28 Januari 2012 pukul 24.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)      Bila karya dikirim lewat POS :&lt;br /&gt;• Naskah Puisi dikirim ke alamat : Rifat Khan (NW Net) Jalan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Depan SMA NW Pancor) 83611 Selong, Lombok Timur, NTB. Dengan melampirkan Identitas diri dan uang pendaftaran.&lt;br /&gt;• Naskah boleh ditulis tangan, akan tetapi alangkah baiknya diketik dengan kertas A4 spasi 1,5.&lt;br /&gt;• Pengiriman karya paling lambat tanggal 28 Januari 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah&lt;br /&gt;1)      Juara 1 : Tabungan Rp. 700.000,- Piagam dan Buletin Embun&lt;br /&gt;2)      Juara II : Tabungan Rp. 500.000,- Piagam dan Buletin Embun&lt;br /&gt;3)      Juara III : Tabungan Rp. 200.000,- Piagam dan Buletin Embun&lt;br /&gt;4)      Juara Harapan I mendapat Tabungan Rp. 100.000,- Piagam dan Buletin Embun&lt;br /&gt;5)      100 Puisi terbaik akan dipilih dewan juri dan akan dibukukan menjadi Antologi Puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengumuman pemenang akan diumumkan secara terbuka pada tanggal 28 Februari 2012 di Grup Komunitas Rumah sungai dengan link  http://www.facebook.com/?ref=tn_tnmn#!/groups/kmrslotim/ dan Blog Rifat Khan dengan link http://rifatkhanblog.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hal-Hal yang belum jelas dapat ditanyakan dengan kontak Facebook melalui :&lt;br /&gt;Effendi danata&lt;br /&gt;Rifat Khan&lt;br /&gt;Fatih Kudus Jaelani&lt;br /&gt;Amier Fawaz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Nomer kontak :&lt;br /&gt;087763151315 (Rifat Khan)&lt;br /&gt;081918215184 (Effendi Danata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disamping itu juga Komunitas Rumah Sungai Membuka Pendaftaran untuk anggota baru sampai dengan tanggal 30 Desember 2011. Info lebih lanjut hubungi Amier Fawaz ( 081997929312 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertanda,&lt;br /&gt;Panitia Lomba&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-4008119624460529159?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/4008119624460529159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=4008119624460529159' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4008119624460529159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4008119624460529159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/12/lomba-menulis-puisi-nasional-komunitas.html' title='LOMBA MENULIS PUISI NASIONAL KOMUNITAS RUMAH SUNGAI (KMRS)'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-7021898569537668159</id><published>2011-10-14T19:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T21:01:25.721-07:00</updated><title type='text'>REVIEW BUKU PUISI Nanang Suryadi “ BIAR ! “ : [MASIH DALAM CORETAN KECIL PSIKOLOGI] LUBANG HOMEOSTASIS PUISI DALAM EKSPERIMENTASI DIALOG PENYAIRNYA*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-m4-KVZLuNwg/TpkFcNDWGUI/AAAAAAAADdo/iN2IiJ4x8r0/s1600/Ganz.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 100px; height: 138px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-m4-KVZLuNwg/TpkFcNDWGUI/AAAAAAAADdo/iN2IiJ4x8r0/s320/Ganz.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663563988493277506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh A.Ganjar Sudibyo (Ganz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Melaboratoriumkan Keberadaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Keberadaanmu adalah pilihan-pilihanmu!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara tegas Sartre menyatakan betapa vokal ia dalam perutusan eksistensialis. Begitupun ia mengamini apa yang diyakini Nietzsche bahwa individualitas, keluhuran, dan martabat adalah aufgegeben (yaitu sesuatu yang diberikan kepada manusia sebagai tugas yang harus dijalankan). Dalam kehidupan proses kreatif mencipta dalam karya, secara tidak disadari terbangun sistem di dalam diri sang pencipta tersebut. Seyakin apa yang telah dipercayai olah Sartre maupun Nietzsche, Freud membungkus kebutuhan-kebutuhan manusia dalam mekanisme yang telah sedemikian rupa tertata. Selanjutnya akan bekerja sesuai fungsinya masing-masing. Hal ini berkorelasi dengan apa yang disebut dengan sistem homeostatik manusia. Sebuah sistem di mana terdapat kerangka psikologis yang meletakkan nilai-nilai kebutuhan dan dorongan dalam diri manusia. Kerangka ini adalah tuan yang baik bagi proses mempertahankan keadaan stabil atau keseimbangan hidup. Kemampuan untuk mempertahankan diri sendiri dalam ruang yang nyaman dapat menggambarkan diri seseorang dalam bermotif, dalam memetakan konsep kognitif seseorang. Kemampuan ini akan muncul bilamana seseorang mulai mampu berkaca terhadap keberadaannya (dalam konteks ini adalah sebuah karya).&lt;br /&gt;Di sini tidak akan dibahas tentang bagaimana reaksi fisiologis muncul sebagai variabel yang diregulasi. Namun, sebenarnya ada yang lebih mendasar dari sekedar pembahasan reaksi tersebut (apabila dikaitkan dengan karya sastra berupa puisi). Keberadaan puisi-puisi yang ditelurkan oleh para penyairnya menawarkan interpretasi yang lebih dari hanya sekedar inter- atau antartekstual saja. Di dalamnya terdapat apa yang disebut Freud sebagai fenomena gunung es yang begitu luas, banyak yang tak terjamah dan penuh teka-teki. Fenomena ini menuntut keberanian untuk membuka rangsangan bagaimana si penyair merepresi seluruh kebutuhannya lalu mengemasnya diam-diam dalam puisi-puisi yang perlahan membeku, lantas menemu puncaknya masing-masing.&lt;br /&gt;Ketika seorang penyair berulang kali menuliskan puisi, itu pun berarti bahwa ia mengalami puncak-puncak neurotik untuk menjadi individu yang ingin lepas dari manifestasi pengingkarannya. Namun, tidak semuanya bisa digeneralisasikan seperti ini. Meski demikian hal ini dapat menjadi tolok penilaian psikoanalisis bagaimana memandang sebuah proses psikologis melalui penciptaan sebuah karya.&lt;br /&gt;Dalam buku puisi “Biar!”, Nanang Suryadi terlihat sedang memperlakukan eksperimentasi-eksperimentasi emosionalnya melalui citraan-citraan dengan tingkat diferensiasi yang renggang antara tiap tema. Atau, jangan-jangan Nanang sedang asyik dalam laboratorium dirinya, memakai jas-jas baru untuk mengamankan diri? Nah!&lt;br /&gt;Berikut ini merupakan salah satu sajak yang telah dibekukan dalam laboratoriumnya dengan bahasa-bahasa temuannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Biar!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tak kau ingat lampu-lampu yang menyihir kita menjadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;orang yang mentertawakan dunia. tak kau ingat keringat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;meleleh di langkah kaki, di punggung, kening, menantang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;matahari! menunggingkan pantat ke muka-muka orang-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;orang yang dipuja sebagai dewa!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;o, engkau telah membunuh kenangan sedemikian cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;seperti kulindas kecoak dengan ujung sepatuku. perutnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang memburai, putih, mata yang keluar dari kepala, masih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bergerak-gerak. aku menjadi pembunuh. seperti dirimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;demikian telengas. tanpa belas. kepada kenangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;biar. jika kau tak mau temani. biar kurasakan nyeri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;di puncak sepiku sendiri!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(halaman 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Nanang menggambarkan komponen emosional yang dikerucutkannya ke dalam judul. Pada kalimat: “biar. jika kau tak mau temani. biar kurasakan nyeri sendiri.” Seolah ada mekanisme di mana si penyair ingin menyangkal perasaannya sendiri, mencoba untuk mendistorsikan apa yang disebut Rogers sebagai diri nyata. Semakin dekat diri nyata dengan diri ideal, maka pengaruh emosional yang dirasakan akan lebih bahagia. Namun, di sisi lain, si penyair ingin memfungsikan untuk menjadi sepenuhnya memberikan penghargaan positif dari keambivalensian antara kenyataan dan keidealan dalam dirinya. Dengan demikian, ia dapat mencukupi kebutuhan rasa amannya untuk menutupi tingkat keresahannya terhadap kenyataan yang dihadapi. Kalimat tersebut sekaligus menjadi klimaks dari sepanjang dialog antara dirinya dengan tubuh yang ia hadirkan melalui puisi.&lt;br /&gt;Sementara itu di puisi di bawah ini, si penyair ingin mengungkapkan semacamimagery bahasa keterasingannya terhadap pengalaman inderanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Bahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bahkan aku tak ingin menjadi huruf, karena huruf masih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengingatkanku pada puisi, bahkan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lalu ingin kututup buku catatanku, kerekat dengan isolatip,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agar tak kukenang lagi, huruf-huruf itu yang merayu dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Matanya yang meredup sayu, bahkan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan sebut aku penyair, karena aku hanya debu, yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menghampiri telapak kakimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(halaman 43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisinya, ia berusaha mengkonkretkan konflik dengan sesuatu yang tak terhindarkan. Sesuatu yang tak terhindarkan itu kemudian merasuk di dalam bawah sadar si penyair. Lantas, mencoba untuk dipertahankan dan diterima di dalam konsep dirinya. “Bahkan aku tak ingin menjadi huruf, karena huruf masih/Mengingatkanku pada puisi, bahkan...” Ada semacam rasa penolakan yang dikatarsiskan dalam kalimat tersebut, sehingga memunculkan permusuhan yang pelik di dalam penyangkalan perasaannya sendiri. “Lalu kututup buku catatanku...Agar tak kukenang lagi...” Pada bunyi puisi selanjutnya itu, ia sepertinya ingin menjauhi kegaduhannya dengan menampilkan diksi perlawanan atas kesadarannya bahwa sumber keresahannya adalah “buku catatannya”. Lalu, siapa dan apakah “buku catatannnya” itu? Citraan si penyair mengenai “buku catatan” tidak lain adalah pengalihan bahasa dari sumber kecemasan dalam pengalaman pribadinya--hubungan si penyair dengan kepenyairannya. Menurut Prof.Suminto dalam bukunya “Mengenal Puisi”, ia pernah menuliskan bahwa penggunaan kosakata aneka bahasa dalam puisi memang didasari oleh persepsi masing-masing penyair. Kata-kata tertentu dipilih dan dipakai oleh penyair karena kata-kata itu memang bersifat “siap pakai’, yang bagi penyair mungkin lebih kaya dan lebih bervariasi guna mengekspresikan berbagai jenis emosi, yang memang merupakan aspek yang sangat mengedepan pada bahasa puisi (hal.159).&lt;br /&gt;Di lain tempat, si penyair memiliki tingkat kepekaan terhadap isyarat-isyarat yang tertangkap di lubang-lubang inderanya. Namun, untuk mengetahui tingkat kepekaan seperti itu tidak dapat disamakan dengan proses kreatif penyair lain. Setiap penyair memiliki trait-trait sendiri dalam mengasah kepekaanya. Nanang Suryadi di kumpulan puisinya kali ini seolah ingin mempertontonkan bagaimana ia mengolah laboratorium kepekaan puitiknya—laboratorium yang sekaligus diletupi oleh asap keberadaan dirinya sebagai seorang manusia. Namun sejauh mana ia berhasil dalam eksperimennya? Maka bertolak dari uraian Paz tentang puisi: sejauh kemampuan si penyair mentrasendensikan dirinya antara puisi dengan apa yang ia puisikan.&lt;br /&gt;Menggali Lubang Diri demi Menutupinya, Menggali Sajak demi Memasukinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kutuk Puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dapatkah ia lepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dari kutuk puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ke mana ia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akan berlari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Puisi terus memburu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hingga ambang mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(halaman 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi tersebut seakan mengetengahkan kesadaran si penyair akan situasinya, situasi yang menjadi stimulus untuk melakukan dialog-dialog lain. Dialog kali ini, sepertinya penyair ingin menerjemahkan relasinya dengan puisi. Lalu, apakah si penyair sedemikian brutal hingga menyebut puisi itu berkutuk? “Puisi terus memburu/Hingga ambang mati”. Penggambaran si penyair mengenai konsep “kutuk” dalam puisi perlahan berhenti sampai di klimaks ini. Demikian si penyair memiliki “self concept” yang meyakini bahwa ada adegan kejar mengejar dalam kepenyairannya. Tidak ada yang salah dengan ini. Bahwasanya si penyair mengalami langkah perburuan antara diri dan realita adalah sebuah fragmen yang sah, sebab tahapan perkembangan dalam kepenyairan memiliki asosiasi dekat dengan bagaimana seorang penyair mempersepsikan objek maupun subjek dalam pola-pola kebahasaan. Dalam puisi tersebut ada kata-kata: “lepas”, “berlari”, “ke mana”, “memburu”, “hingga”, kemunculan kata-kata tersebut sebenarnya ditujukan untuk mengikuti alur tema. Terlebih dari itu, ibaratnya Nanang masih berlarian gonjang-ganjing dalam mencari jalan ke persinggahan ternyaman dengan jalan yang tak banyak kelokannya. Hala ini mendorong sisi emosionalitas kepenyairannya mudah pecah yang kemudian menyebabkan ia terus menggali kedalaman dirinya untuk menutupi lelubang proyeksi kebutuhannya sebagai langkah adjusment terhadap pencarian-pencarian self concept yang baru. Sementara itu, ia masih terperdaya bagaimana menutupi lubang-lubang lain berkaitan dengan interaksi kepribadian seorang Nanang dan lingkungannya. Terhadap lingkungan, ia tak sepenuhnya bisa menyalahkan. Lantas ia melakukan spekulasi-spekulasi intrapersonal di mana kepuisiannya itu tiba, seperti dalam potongan puisi berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di sebalik bunyi, suara bolak balik, mungkin gema yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Patah. Seperti ingin disimpan rahasia dari lengking, tak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuntas. Ucapmu dari kedalaman jiwa, tak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Adalah dirimu, Gema yang Patah; halaman 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian puisi-puisi Nanang juga ingin menunjukkan ikatan-ikatan emosionalnya dengan kehadiran orang-orang yang ia jumpai. Salah satunya demikian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tak Sampai Engkau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;--:scb&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;telah sampaikah engkau pada titik di mana rindu tak ada di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mana puncak segala puncak tergapai. siapa paling besar di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;antara paling besar. engakukah? mengekeh dalam luka tak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sampai rindumu. cuma gerutu konyol dan kelakar liar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;karena tak sampai pada rindu. tak sampai engkau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aih, kutahu, demikian pedih hatimu, dan teriak: pukimak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;demikian kau?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(halaman 49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Nanang ingin kembali meneriakkan kedekatannya dengan seseorang, mengangkatnya dalam puisi atau sekedar sebuah penggalian emosionalitas untuk memasukki ruang-ruang percakapan baru? Atkinson memaparkan beberapa komponen emosi antara lain, rangsangan otonomik, penilaian kognitif, ekspresi emosi dan reaksi emosi. Apabila dikorelasikan dengan puisi tersebut, rangsangan otonomik yang terjadi dapat diinterpretasikan seberapa kuat relasi emosional si penyair dengan seseorang berinisial sbc. Penilaian kognitif berkaitan dengan suatu analisis situasi si penyair yang menghasilakn suatu keyakinan emosional. Bahwasbc adalah kawan terdekatnya saat itu, ini adalah keyakinan emosional yang sedang ia punyai saat itu. Ekspresi emosi adalah bagaimana subjektivismenya mengkomunikasikan kedekatannya itu dalam bahasa puitik. Sedangkan reaksi emosi adalah bunyi bahasa yang ia tuliskan. “...dan teriak: pukimak!/demikian kau?” Melalui pungtuasi dan diksi, di situ ada reaksi emosi yang dipertunjukkan sebagai buah peretemuannya dengan sbc. Demikian Nanang pun mempuisikan relasinya dengan orang-orang lain yang dianggap mempunyai hubungan personal. Penggalian emosionalitas dirinya akan hubungan interpersonal ini dapat dipahami sebagai tahapan prakognitifnya menuju eksperimentasi keberadaannya untuk menyusun keseimbangan-keseimbangan baru di dalam relasi dunia personal (keaku-an) dan lingkungannya (kekau-an). Hal ini tercermin bagaimana ia memperlakukan diri dengan puisi dalam bukunya itu. Keberadaannya sebagai manusia dan penyair yang kemudian memunculkan eksperimentasi dialog-dialog yang intens dalam puisi, membutuhkan penyadaran benar akan pentingnya mekanisme sistem homeostatik yang ia ciptakan sebelum terjebak di lubangnya sendiri. Jangan-jangan ia bukan Nanang yang sejatinya? Atau kesejatiannya itu sepanjang warna-warni pelangi? Maka, Nanang sepertinya perlu mengambil dan menyulut rokoknya sejenak, mengendapkan teh kepyur yang saya sajikan sebelum diteguk pelan-pelan untuk berelasi dengan ilustrasi Pascal tentang kesadaran manusia akan keberadaannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Manusia hanyalah sepotong alang-alang, alang-alang yang paling lemah yang pernah hidup di semesta raya ini. Meski demikian, ia adalah alang-alang yang berpikir. Alam tidak perlu mempersenjatai diri untuk membinasakannya: sekepul asap, sedikit tetesan air, sudah cukup untuk membunuhnya. Akan tetapi, meski alam mampu menghancurkannya, manusia lebih agung daripada yang membunuhnya, karena ia mengetahui bahwa ia akan mati,.....padahal tentang hal itu, alam tidak pernah tahu sedikit pun.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Ditulis sebagai catatan apresiasi atas terbitnya buku kumpulan puisi Nanang Suryadi: “Biar!” (IBC;2010) Oleh A.Ganjar Sudibyo (Ganz) seorang mahasiswa psikologi yang juga bertekun meniti puisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3C3tHmPRaEk/TpjuqWGDGQI/AAAAAAAADc8/UqeEc_OVqMs/s1600/Biar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-3C3tHmPRaEk/TpjuqWGDGQI/AAAAAAAADc8/UqeEc_OVqMs/s320/Biar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663538942671264002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BUKU KUMPULAN Puisi Nanang Suryadi BIAR! sudah terbit. Bagi rekan-rekan yang berminat memilikinya silakan kirim pesan di email: nanangsuryadi@yahoo.com twitter: @penyaircyber atau di inbox facebook: http://facebook.com/nanangsuryadi dengan menulis alamat kirim dan jumlah pemesanan. Harga perbuku: 30.000 + ongkos kirim. Silakan ditransfer melalui: BRI KCP Unibraw 0579-01-015778-50-2 Atas nama: Nanang Suryadi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kumpulan puisi BIAR! masuk dalam 10 besar KLA 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-7021898569537668159?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/7021898569537668159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=7021898569537668159' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7021898569537668159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7021898569537668159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/10/review-buku-puisi-nanang-suryadi-biar.html' title='REVIEW BUKU PUISI Nanang Suryadi “ BIAR ! “ : [MASIH DALAM CORETAN KECIL PSIKOLOGI] LUBANG HOMEOSTASIS PUISI DALAM EKSPERIMENTASI DIALOG PENYAIRNYA*'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-m4-KVZLuNwg/TpkFcNDWGUI/AAAAAAAADdo/iN2IiJ4x8r0/s72-c/Ganz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-4968661297636307343</id><published>2011-09-25T05:58:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T06:06:44.609-07:00</updated><title type='text'>Pergerakan Perempuan dalam Penulisan Kreatif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Disampaikan pada acara ARUH SASTRA Kalsel di Barabai&lt;br /&gt;                                        16-19 September 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yvonne de Fretes        &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-hcjkChFDTXg/Tn8mSI5NrCI/AAAAAAAADcw/ew_WMiOQLh8/s1600/yvonny%2Bde%2Bferetes%2B2%2Bnara%2Bsumber.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-hcjkChFDTXg/Tn8mSI5NrCI/AAAAAAAADcw/ew_WMiOQLh8/s320/yvonny%2Bde%2Bferetes%2B2%2Bnara%2Bsumber.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656281750067588130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1: Perempuan dan Karya     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perempuan Indonesia sebenarnya mempunyai posisi yang sama pentingnya dengan kaum pria hampir dalam semua lapangan kehidupan tak terkecuali dalam dunia tulis-menulis. Sejak abad ke-17 bahkan sudah ada perempuan penulis (dalam hal ini penulis puisi) yaitu Sultanah Safiatuddin di Aceh, kemudian di abad ke-19 muncul Siti Aisah We Tenriolle di Sulawesi yang dikenal dengan puisi panjangnya (7000 hal) yang ditulis dalam bahasa Bugis, La Galigo. Dari Sunda pada akhir abad ke-19 muncul Raden Ayu Lesminingrat. Ada beberapa perempuan setelah itu tapi yang sangat terkenal dan perlu dicatat adalah Raden Ajeng Kartini (1879 – 1904) dengan karyanya “Habis Gelap Terbitlah Terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sedangkan dalam sejarah sastra Indonesia boleh dibilang diawali oleh Seleguri (nama asli) atau Sariamin (nama samaran) yang lalu lebih dikenal dengan nama Selasih (kelahiran Sumatra Barat 1909) yang kemudian diikuti dengan beberapa nama seperti Hamidah (1915 – 1953) dengan novel “Kehilangan Mestika”. Maria Amin asal Bengkulu(berkarya tahun1940-an), diiukuti dengan Walujati dan S.Rukiah,keduanya dari Jawa Barat.&lt;br /&gt;Sekilas tampak bahwa memang perkembangannya agak lamban disebabkan karena memang dunia kepenulisan pada saat itu masih dimonopoli laki-laki, meskipun Majalah Wanita (Jakarta) dan majalah Dunia Wanita (Medan) sudah ada sekitar 1950-1956 an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Barulah pada awal tahun 1970-an  yang boleh dibilang sebagai the first booming women writer dengan munculnya perempuan2 penulis seperti La Rose, NH Dini, Titie Said (meskipun pada 1953 sudah ada karyanya).&lt;br /&gt;Fenomena ini muncul bersamaan dengan munculnya majalah-majalah wanita a.l.seperti Femina (1972),Kartini, Pertiwi,Sarinah, Sartika, Famili,  yang merupakan wadah bagi para perempuan penulis untuk berekspresi. Mereka lantas merasa menemukan domain tempatnya menyuarakan suara hati sekaligus mengembangkan bakat dan minatnya dalam dunia tulis menulis. Belum ada organisasi secara khusus pada saat itu, para perempuan berupaya secara sendiri-sendiri melahirkan karya dan memublikasikannya kepada pembaca yang mayoritas tentu saja adalah perempuan. Karya perempuan penulis juga mulai tampak di berbagai media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Periode 1980-an mulai dirasakan perlu adanya wadah yang menghimpun para  penulis dan pengarang. Maka lahirlah organisasi Himpunan Pengarang Indonesia AKSARA pada tahun 1981 atas prakarsa beberapa penulis/pengarang pada waktu itu a.l.La Rose, Titie Said, Sari Narulita, K.Usman, Titiek WS, pokoknya hampir semua pengarang beken pada waktu itu disusul dengan terdaftarnya para pengarang seperti Hamzad Rangkuti,Gerson Poyk,Korrie Layun Rampan  Yvonne de Fretes,Saut Poltak Tambunan, Pipiet Senja,dll, sebagai anggota yang kemudian menjadi pengurus.  Bila HPI Aksara beranggotakan pengarang baik perempuan maupun pria, tidak demikian dengan organisasi yang muncul hanya beberapa waktu setelah itu tepatnya pada tahun 1985 yang khusus untuk mewadahi para perempuan penulis yaitu WANITA PENULIS INDONESIA (kami masih menggunakan kata ‘wanita’ yang lebih marak pada kurun waktu itu daripada istilah ‘perempuan’).&lt;br /&gt;             Menjelang tahun 2000 muncul lagi sebuah fenomena baru yang sangat menggembirakan yaitu dengan munculnya perempuan2 penulis yang lebih muda, dengan latar belakang budaya dan pendidikan yang variatif. Tentu saja dengan letupan-letupan karya yang begitu ekspresif, beragam, beberapa di antaranya sangat intens dan dalam, dan beberapa di antaranya juga cenderung sangat terbuka sehingga terkesan vulgar.&lt;br /&gt;Betapapun adalah merupakan hak individual untuk mengutarakan apa saja secara terbuka, tertulis, terpublikatif berdasarkan nilai budaya dan moral yang dimilikinya secara pribadi.      Fenomena ini oleh saya boleh dibilang sebagai the second booming woman writers.         Nama-nama seperti Ayu Utami, Dewi Lestari, Jenar Maesa Ayu, Rahmaniah,  terus menghiasi blantika dunia perempuan penulis dengan karya-karyanya yang kadang menimbulkan krenyit di dahi sebagian pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Seiring dengan itu semakin banyaknya stasiun teve turut menopang kehadiran perempuan penulis dan penampilan mereka yang identik dengan aura glamour turut menambah pesona dan bisa menciptakan penggemar tersendiri. Bisa dikata perempuan penulis khususnya yang muncul di era itu sejajar popularitasnya dengan artis film dan musik. Sebuah gejala yang tentu saja membanggakan setelah sekian lama ada kesan bahwa dunia kepenulisan adalah dunia sunyi. Lihat saja penampilan Ayu, Dewi,Jenar, pada jajaran selebriti. Suatu waktu malah mereka pernah dijuluki penulis berbau wangi (jelas mereka akrab dengan parfum bukan). Muda, ceria, memesona, itulah pribadi  mereka. Terbuka, ekspresif, vulgar, itulah karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kemudian dengan perkembangan dan pertumbuhan era digital yang begitu pesat, memunculkan karya-karya sastra cyber. Dipelopori oleh Medy Lukito dan kawan-kawan mereka mendirikan Multimedia Sastra Cyber yang memberi ruang bagi para peminat yang ingin memublikasikan karyanya lewat media elektronik.&lt;br /&gt;Fenomena ini terus melaju hingga kini, di zaman facebook. Penemuan canggih mahasiswa Harvard itu benar-benar telah membuat perubahan besar dalam berkomunikasi a.l.juga dalam dunia tulis-menulis. Dunia maya ini malah telah melahirkan penulis-penulis baru (kebanyakan mereka adalah perempuan) bahkan telah berhasil melahirkan komunitas-komunitas dan telah berhasil menerbitkan beberapa antologi puisi maupun cerpen. Bukan main. Sebuah fenomena yang menarik.&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;                   1st booming 1970-an&lt;br /&gt;                   2 nd booming 2000-an&lt;br /&gt;                   Terakhir booming Facebooker writers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2: Kapan dan Dimana Perempuan Berkarya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Atau adakah perbedaan antara perempuan dengan laki-laki dalam Proses Kreatif?&lt;br /&gt;Sastra memang tidak mengenal gender tapi mengapa ada kesenjangan dalam jumlah antara perempuan dengan laki-laki yang wara-wiri di dunia ini.&lt;br /&gt;Apakah memang lebih banyak tantangan yang bakal dihadapi seorang perempuan? Apalagi bila perempuan itu adalah juga seorang istri dan ibu? Kapan mau menulis di antara kesibukan mengurus suami dan anak. Bagaimana kreativitas bisa berjalan. Sebaliknya, mengapa posisi sebagai istri dan ibu dijadikan alasan untuk tidak kreatif. Saya mengenal beberapa perempuan yang justru di usia ketika putra-putrinya sudah meningkat remaja kembali menekuni kegiatan menulis yang memang sudah digemarinya sejak lama.&lt;br /&gt;Proses kreatif seorang dengan yang lain tentu saja berbeda, begitu juga dalam dunia kepenulisan. Tapi saya meyakini suatu hal, ialah bahwa kesenangan dan kegemaran menulis itu dimulai dari kesenangan dan kegemaran membaca. Dan itu dimulai sejak masa anak atau remaja. Bila kita memang senang menulis pasti ada waktunya kesenangan itu menemukan  waktu sekaligus lahan yang tepat.Lingkungan  bisa sangat berpengaruh dan tentu saja kegemaran itu tak luput dari pengalaman pasang surut. Masalah yang juga saya alami.&lt;br /&gt;Di mana setelah melewati kurun waktu yang cukup lama maka ketika bekerja sebagai wartawan pada sebuah majalah di Jakarta(1981), kegemaran menulis kembali menggeliat.  Di samping sibuk menulis artikel dan merangkum hasil wawancara, menyempatkan diri untuk menulis puisi dan cerpen yang dimuat di media massa. Baru pada 1994 terbitlah antologi puisi saya yang pertama. Disusul 1995: kumpulan cerpen tunggal (BDL)dll, begitulah sampai sekarang kurang lebih ada 30-an antologi  (berdua, bersama) dan terbit di berbagai daerah di Indonesia (Lampung,Bengkulu,Aceh,bahkan Malaysia). Pada umumnya puisi dan cerpen.&lt;br /&gt;Mengapa tidak menulis novel? Ya, mengapa? Salah seorang teman pernah berkata: “Pantas saja novelmu ga terbit2, bacaanmu novel lawas penulis dunia sih, acuannya ketinggian.”&lt;br /&gt;Mungkin ada benarnya (Milan Kundera,Paulo Chelho adalah novel-novel favorit). Di samping itu saya terus terang merasa kurang punya nafas panjang (yang dibutuhkan sebuah novel), begitu saya memulai sebuah kisah dan mengangkat sebuah konflik  saya lantas ingin cepat2 menuntaskannya…its another problem!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu dan tempat juga terkait erat dengan proses kreatif. Ini pun berbeda satu dengan lainnya. Saya mencoba ambil contoh para sastrawan dunia:&lt;br /&gt;   Nadine Gordimer,1923 Afsel, (Yahudi-Inggris), pemenang Nobel sastra 1991. Nadine gemar ke perpustakaan dan bisa menulis kapan saja dan dimana saja,meskipun lebih memilih kamar kerja.&lt;br /&gt;   Simone de Beauvoir 1908-1980 (Perancis) yang menolak pernikahan dan memilih untuk hidup bersama Jean-Paul Sartre(atheis). Sejak anak-anak senang membaca. Sebagai rutinitasnya setiap hari: pukul 10.00-13.00 menulis, setelah minum teh dan baca majalah di pagi hari. Setelah 13.00 mengunjungi teman-teman atau sekedar  shopping.&lt;br /&gt;   Maya Angelou (1928 AS), penulis puisi,novel,otobiografi,scenario,esei,kolom,dll, termasuk  sutradara perempuan pertama di Hollywood punya kebiasaan unik. Maya biasanya memulai dengan ritual kecil: ruang  yang apik, kamus, bunga yang wangi, juga dihiasi alunan music dan sebotol sherry. Maya bahkan sering menyewa kamar hotel bukan untuk ditiduri tapi untuk menulis dari pagi sampai sore tanpa terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagaimana dengan Anda dan saya? Butuh motivasi? Motivasi ada dua: internal dan eksternal. Internal termasuk mood yang berasal dari dalam diri kita sendiri, jangan menunggu tapi ciptakanlah mood itu. Dan kalau bicara tentang motivasi eksternal ya kita berbicara tentang lingkungan, juga tentang komunitas. Bila membaca coretan mas DAM dan melihat sendiri kegiatan teman-teman, sering menerbitkan buku, menghadiri even-even penting nasional maupun internasional, luar biasa Kalsel. Pertanyaannya ada berapa perempuan yang juga merambah dan berkiprah di wilayah ini. Maaf saya kurang mengetahui peta pergerakan sastra khususnya pergerakan perempuan penulis di Kalsel tapi saya yakin ada beberapa nama yang perlu barangkali kita sebutkan di sini, yang kiranya dapat menjadi cikal bakal lahirnya lebih banyak perempuan yang mencintai sastra dan dunia tulis-menulis di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3: Perlukah sebuah komunitas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Yang terbuka bagi siapa saja yang gemar menulis, karena dengan adanya komunitas, motivasi kita bisa terpacu. Lewat komunitas kita bisa saling asuh,saling asah, di samping terus meningkatkan ketrampilan kita dalam menulis. Membuat workshop menulis bagi remaja, atau langsung terjun ke sekolah2. Bakat itu ada di luar sana, temukanlah.&lt;br /&gt;Virus membaca dan menulis perlu ditularkan kepada siapa saja, di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalsel sebagai gudangnya para sastrawan tentu sadar akan hal ini, dapat kita lihat dari begitu banyaknya komunitas sastra yang bahkan sudah ada sejak 1980-an misalnya Himpunan Penyair Muda Banjarmasin(HPMB),Kelompok Studi Sastra Banjarbaru,dll (dari catatan Mas Dam). Juga iklim berkarya tumbuh pesat di wilayah ini ditandai dengan penerbitan buku-buku, di antaranya 142 Penyair Menuju Bulan,Gumam-nya Asa,dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembali sebuah pertanyaan: bagaimana dengan para perempuan penulis mau pun perempuan penyair Kalsel? Adakah mereka memerlukan sebuah komunitas tersendiri? Ataukah memang mereka tidak membutuhkannya sama sekali. Mari kita tanya mereka. Wanita Penulis Indonesia terbuka bagi siapa saja, propinsi mana saja...***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;semoga penyajian yang sederhana ini mengakrabkan silaturahim antara kita, Jakarta-Barabai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-4968661297636307343?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/4968661297636307343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=4968661297636307343' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4968661297636307343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4968661297636307343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/09/pergerakan-perempuan-dalam-penulisan.html' title='&lt;center&gt;Pergerakan Perempuan dalam Penulisan Kreatif&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-hcjkChFDTXg/Tn8mSI5NrCI/AAAAAAAADcw/ew_WMiOQLh8/s72-c/yvonny%2Bde%2Bferetes%2B2%2Bnara%2Bsumber.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-71604005559694981</id><published>2011-08-14T12:43:00.000-07:00</published><updated>2011-08-14T12:46:45.349-07:00</updated><title type='text'>"MENEBAR BENIH SASTRA PADA ZAMAN" (Aruh Sastra VIII Barabai 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-e15tb4_VAJs/TkgmCTvQvoI/AAAAAAAADcI/Ph5Z_5MqrFM/s1600/Arief%2BRahman%2BHer.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-e15tb4_VAJs/TkgmCTvQvoI/AAAAAAAADcI/Ph5Z_5MqrFM/s200/Arief%2BRahman%2BHer.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640800354381643394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Arief Rahman Heriansyah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aruh Sastra sebagai even akbar ini merupakan agenda setiap tahun. Secara bergiliran antar Kabupaten yang menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan acara ini. Dan kebetulan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Barabai) mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah pada tahun ini. Dapat dipastikan acara ini akan berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 16-19 September 2011. Dengan bertajuk “Menebar Benih Sastra di Banua Murakata”, sepertinya slogan tersebut memang benar-benar akan memberikan benih-benih ilmu sastra di ‘kota apam’ tersebut. Tak bisa dipungkirkan kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaannya, difokuskan pada apresiasi kesenian, bahasa dan sastra. Acara Aruh Sastra VIII dilaksanakan dalam berbagai bentuk kegiatan, yakni :&lt;br /&gt;- Lomba cipta puisi B.Indonesia se-Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;- Lomba mengarang Cerpen B.Indonesia se-Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;- Lomba penulisan Cerita Rakyat Kab. Hulu Sungai Tengah se-Kalsel&lt;br /&gt;- Penerbitan antologi kumpulan puisi Penyair Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;- Safari Sastrawan ke sekolah-sekolah / madrasah&lt;br /&gt;- Festival ‘pergelaran sastra’&lt;br /&gt;- Seminar / dialog sastra bersama Sastrawan &amp;amp; Budayawan Kalsel dan Nasional&lt;br /&gt;- Pelatihan penulisan karya sastra, serta tehnik pembacaan puisi pra-aruh sastra&lt;br /&gt;- Penerbitan buku pemenang lomba cipta puisi, cerpen, dan cerita rakyat HST&lt;br /&gt;- Panggung sastra &amp;amp; gelar sastra&lt;br /&gt;- Pleno Aruh Sastra&lt;br /&gt;Nah, di kegiatan yang seabrek dan sangat penting ini sungguh rugi kalau kita tidak berperan di dalamnya, paling tidak keikutsertaan anda dalam lomba sudah turut meramaikan dan membangkitkan acara ini agar lebih meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya para panitia pelaksana sudah sangat mempersiapkan acara ini pada jauh-jauh hari. Dapat kita buktikan pada ‘pelatihan penulisan karya sastra serta tehnik pembacaan puisi’ pra-aruh sastra yang dilaksanakan pada 27-28 Juli lalu pada tiap sekolah di Barabai yang sudah menuai kesuksesan. Dengan menghadirkan dua orang maestro yakni; Ayahanda Arsyad Indradi dan Ali Syamsudin Arsi pada acara tersebut, seperti mengukir sejarah baru pada pelaksanaan Aruh Sastra dari pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya, karena hanya tahun ini yang mengadakan acara pra-aruh sastra tersebut.&lt;br /&gt;Sungguh kabar mengembirakan, bahkan telah terbentuk Komunitas Teater dan Sastra yang beranggotakan para pelajar se-Kabupaten HST. Kepengurusannya dan anggotanya langsung dilantik oleh Ketua DKD HST, Bpk. H.M.Fahmi Wahid, M.Pd yang sekaligus juga mengetuai pelaksanaan Aruh sastra VIII pada tahun ini.&lt;br /&gt;Dikabarkan pula pada acara ini nantinya akan mendatangkan Sastrawan dari daerah Kalsel sebagai pembicara/narasumber yakni; Dimas Arika Mihardja (Dr. Sudarjono, M.Pd) dari Jambi dan Akhmad Subhanudin Alwi dari Cirebon yang telah menyatakan siap hadir di Barabai pada Aruh Sastra VIII tanggal 16 – 19 September 2011 nanti. Serta ada pula pemakalah dari Kalsel sendiri yaitu; Drs. Tajuddinnoor Ganie dan Dr.H.Rustam Efendi. Diperkirarakan para peserta dan tamu undangan yang akan berhadir dalam Aruh Sastra VIII ini berjumlah 400 orang lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita kembali ke masa 7 tahun silam. Pertama kalinya Aruh Sastra Kalsel ini dilaksanakan di kota Kandangan (Kab Hulu Sungai Selatan) pada tahun 2004. Kemudian pada tahun 2005 pelaksanaan Aruh Sastra II bertempat di Batu Licin (Kab Tanah Bumbu). Lalu pada Aruh Sastra yang ke III di tahun 2006, Kota Baru (Kab Pulau Laut) menyatakan siap sebagai tuan rumah selanjutnya. Pada tahun 2007, kota kelahiran saya yakni; Amuntai (Kab Hulu Sungai Utara) juga menjadi tuan rumah pada pelaksanaan acara Aruh Sastra ke-IV tersebut. Dan selanjutnya pada tahun 2008 kota Paringin (Kab Balangan) juga turut sukses menyelenggararakan Aruh Sastra ke-V. Lalu pada pelaksanaan Aruh Sastra ke-VI, yakni di tahun 2009 kota Marabahan (Kab Barito Kuala) juga turut andil untuk menyemarakkan acara ini sebagai tuan rumah. Dan selanjutnya kota Tanjung (Kab Tabalong) telah sukses pula menyelenggarakan Aruh Sastra VII pada tahun 2010 lalu. Dan saya percaya bahwa Bung Raji Abkar lah yang menjadi penggagas utama pada acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu setelah Aruh Sastra VIII Barabai (Kab Hulu Sungai Tengah) di tahun 2011 ini, siapakah yang siap menjadi tuan rumah untuk Aruh Sastra selanjutnya? Kota idaman Banjarbaru kah? Atau kota seribu sungai Banjarmasin, atau bisa juga Kab Tanah Laut? Di manapun itu pelaksanaannya, harapannya tetap berjalan acara ini pada tiap tahunnya sudah cukup menjawab setumpuk pertanyaan di benak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aruh Sastra Kalimantan Selatan adalah agenda yang sangat penting bagi para tokoh Sastrawan, Budayawan, Seniman, serta Pegiat sastra. Acara ini seperti menyatukan keberadaan mereka, yang selama ini terkadang jauh dari jamahan pemerintah untuk kelayakan mereka. Hanya dengan ‘seni’ mereka dapat berbagi kepada khalayak. Dan mungkin pula pertumbuhan dan perkembangan bahasa sastra daerah &amp;amp; sastra Indonesia di bumi lambung mangkurat ini memperlihatkan kemajuan signifikan. Maraknya penerbitan buku puisi, cerpen, maupun antologi sepertinya juga sudah turut andil dalam perkembangan sastra di banua kita tercinta ini. Namun ironisnya pula betapa banyak anak muda yang nantinya diharapkan sebagai penerus bangsa sepertinya semakin terseret oleh arus budaya luar yang lebih menjurumus ke arah moderenisasi, mereka seperti tidak akrab dengan budaya lokalitas itu. Betapa negara kita Indonesia adalah negeri yang berbudaya dan memiliki nilai seni yang eksotis pada kacamata dalam negeri maupun dari luar negeri. Tengok saja orang luar (bule) begitu tertariknya mereka dengan kebudayaan negeri kita, sampai-sampai ada yang sengaja mengambil kuliah di sini demi mendapatkan ilmu seni &amp;amp; budaya pada negeri Indonesia. Bukankah itu adalah suatu hal yang ironis? Karena sejatinya masih banyak penduduk dalam negeri yang tidak mengenal budaya mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu informasi terakhir yang saya dapat melalui koran “Media Kalimantan” (05/8) bahwa naskah lomba yang diterima para juri yakni; Cerpen (89 naskah), Puisi (205 naskah), dan Cerita rakyat (30 naskah). Hal ini sungguh memicu pada bangkitnya semangat para pegiat sastra, dan gairah berkarya itu sepertinya memang betul-betul terbakar.&lt;br /&gt;Pelaksanaan Aruh Sastra VIII ini, mengingatkan kembali saat undangannya diserahkan Bung Raji Abkar (salah seorang anggota Dewan Kesenian Daerah HSU ) kepada saya yang masih seperti anak bawang ini. Paling sudut atas kertas itu tertera tulisan ;&lt;br /&gt;“PANITIA PELAKSANA ARUH SASTRA KE-8 KALIMANTAN SELATAN”.&lt;br /&gt;Ada perasaan meletup di hati saya saat itu, entah kenapa jiwa sastra saya yang akhir-akhir ini padam gara-gara bayang PPN-V Palembang tempo lalu, hari ini seperti bangkit &amp;amp; terbakar kembali. Saya tersenyum atau lebih tepatnya sumringah saat mengetahui bahwa karya yang dilombakan tahun ini adalah cerpen dan puisi berbahasa Indonesia. Karena dua tahun berturut-turut saya mengikuti lomba puisi – yang saat itu berbahasa Banjar- saya tidak pernah menang, bahkan masuk karya pilihan pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya even seperti ini, maka sudah sepatutnya bagi kita sebagai generasi muda untuk tetap memperjuangkan agar acara Aruh Sastra ini tidak terhenti dan dapat terus terlaksana serta berjalan lancar pada setiap tahunnya. Salam Sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amuntai,&lt;br /&gt;10/08/2011&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-71604005559694981?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/71604005559694981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=71604005559694981' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/71604005559694981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/71604005559694981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/08/menebar-benih-sastra-pada-zaman-aruh.html' title='&lt;center&gt;&quot;MENEBAR BENIH SASTRA PADA ZAMAN&quot; (Aruh Sastra VIII Barabai 2011)&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-e15tb4_VAJs/TkgmCTvQvoI/AAAAAAAADcI/Ph5Z_5MqrFM/s72-c/Arief%2BRahman%2BHer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-214516553300762792</id><published>2011-07-31T10:50:00.000-07:00</published><updated>2011-07-31T10:51:53.283-07:00</updated><title type='text'>RUMUSAN DAN REKOMENDASI   PERTEMUAN PENYAIR NUSANTARA (PPN) V PALEMBANG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt; oleh Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puji syukur ke hadirat Allah SWT bahwa Pertemuan Penyair Nusntara (PPN) V telah berlangsung dengan lancar di Palembang, pada tanggal 16—19 Juli 2011. PPN V isi beberapa acara utama, yakni Seminar Internasional Perpuisian Nusantara, penerbitan buku kumpulan puisi Akulah Musi, Temu Kerja, Jerayawara (roadshow) Apresiasi Sastra ke beberapa sekolah dan perguruan tinggi , serta Tarung Penyair Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Rumusan dan Rekomendasi Seminar&lt;br /&gt;Seminar berlangsung sehari penuh dalam 10 sesi, diawali dengan pleno dan dilanjutkan dengan 9 sesi panel dalam 3 kelas paralel, telah menghasilkan rumusan dan rekomendasi sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Ruh puisi nusantara tidak terlepas dari kebudayaan dan masyarakat nusantara. Oleh karena itu, diperlukan: (a) pertemuan yang intensif secara periodik dan berkelanjutan antar penyair nusantara; (b) penerbitan antologi puisi karya penyair nusantara di luar PPN; (c) pemanfaatan internet untuk kegiatan publikasi puisi dan kritik puisi secara daring (online) yang dapat diakses secara luas; (d) pengembangan kritik puisi melalui berbagai pendekatan yang memungkinkan terungkapnya kekayaan teks puisi berkenaan dengan ruh puisi nusantara; (e) pemahaman atas ruh puisi nusantara dapat menjadi jembatan untuk memahami kebudayaan dan masyarakat nusantara.&lt;br /&gt;2. Media massa cetak maupun elektronik masih berpengaruh dalam sejarah perkembangan puisi nusantara mutakhir, oleh sebab itu diperlukan komitmen dari insan atau pelaku pers untuk mempertahankan keberadaan rubrik puisi. Bagi media massa yang tidak memiliki rubrik puisi dianjurkan untuk mengadakan atau menyediakannya.&lt;br /&gt;3. Penyair perlu memperhatikan fungsi dan sifat media massa yang tepat, ringkas, dan aktual agar tercipta bentuk estetika baru yang merepresentasikan puisi media massa.&lt;br /&gt;4. Media massa digital terutama internet, telah menunjukkan peran dan fungsi yang besar dalam perluasan ruang publikasi puisi. Namun, untuk menghindari degradasi nilai puitika diperlukan sistem seleksi pada puisi yang akan diunggah, dengan tanpa mengurangi sifat-sifat internet sebagai media yang sangat terbuka bagi kebebasan berkreasi. Oleh karena itu setiap situs web sastra harus menempatkan editor yang memiliki kompetensi bahasa dan sastra.&lt;br /&gt;5. Pertemuan Penyair Nusantara selanjutnya diharapkan mengakomodasi berbagai jenis puisi klasik dan kontemporer.&lt;br /&gt;6. Pelaksanaan pengajaran sastra di lembaga pendidikan, sebagai bagian dari strategi kebudayaan nusantara, khususnya pengajaran puisi, sangat memerlukan kreativitas guru/pengajar guna memaksimalkan hasil pembelajaran dan mengatasi hambatan yang ada.&lt;br /&gt;7. Pemerintah wajib menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran sastra khususnya pengajaran puisi.&lt;br /&gt;8. Untuk menciptakan komunikasi yang baik antara penyair dan dunia pendidikan serta untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran puisi, para penyair harus lebih aktif membantu proses pembelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Hasil Temu Kerja&lt;br /&gt;Temu Kerja dalam rangka PPN V diikuti wakil-wakil dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Musyawarah dalam Temu Kerja tersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. PPN VI 2012 akan dilaksanakan di Jambi, Indonesia.&lt;br /&gt;2. Delegasi dari Singapura menyanggupi menjadi tuan rumah PPN VII tahun 2013.&lt;br /&gt;3. Guna meningkatkan manfaat PPN bagi peserta dan masyarakat sastra di nusantara, penyelenggara PPN seyogyanya melaksanakan kegiatan pokok berupa: (a) penerbitan buku antologi puisi peserta melalui sistem kurasi yang dapat dipertanggungjawabkan; (b) seminar puisi internasional; (c) temu kerja antardelegasi negara peserta; (d) jerayawara (road show) ke sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas; serta (e) panggung pertunjukan puisi dan panggung tarung penyair nusantara.&lt;br /&gt;4. Merekomendasikan kepada penyelenggara PPN berikutnya untuk memberikan penghargaan kepada penyair terpilih dengan nama Anugerah Penyair Nusantara.&lt;br /&gt;5. Pemerintah yang menjadi tuan rumah agar memfasilitasi secara penuh penyeleganggaraan PPN.&lt;br /&gt;6. Memandatkan kepada panitia PPN VI untuk mengajak Filipina, Vietnam, Kamboja dan Timor Leste menjadi peserta PPN VI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 18 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIM PERUMUS PPN V:&lt;br /&gt;Ahmadun Yosi Herfanda (Indonesia) Ketua&lt;br /&gt;Zulkhair Ali (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Anwar Putra Bayu (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Fakhrunnas MA Jabbar (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Chavchay Syaifullah (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Isbedy Stiawan ZS (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Ahmad MD Tahir (Singapura) Anggota&lt;br /&gt;Nor Herman Maryuti (Singapura) Anggota&lt;br /&gt;Dimas Arika Mahardja (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Jamal Tukimin (Singapora) Anggota&lt;br /&gt;M Husyairi (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Aprion (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Suyadi San (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Dad Murniah (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Gunoto Saparie (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Nik Abdul Rakib Nik Hassan (Thailand) Anggota&lt;br /&gt;Mohamad Saleh Rahamad (Malaysia) Anggota&lt;br /&gt;Shamsudin Othman (Malaysia) Anggota&lt;br /&gt;Eva Rosdiana (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;Zeffri Ariff (Brunei Darussalam) Anggota&lt;br /&gt;Eva Rosdiana (Indonesia) Anggota&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-214516553300762792?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/214516553300762792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=214516553300762792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/214516553300762792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/214516553300762792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/07/rumusan-dan-rekomendasi-pertemuan.html' title='RUMUSAN DAN REKOMENDASI   PERTEMUAN PENYAIR NUSANTARA (PPN) V PALEMBANG'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-4045286470889755200</id><published>2011-07-31T10:31:00.000-07:00</published><updated>2011-07-31T10:39:33.169-07:00</updated><title type='text'>Rekomendasi dialog borneo kalimantan xi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dialog Borneo-Kalimantan XI yang berlangsung sejak 13 Juli telah selesai dan ditutup oleh Gubernur Kalimantan Timur pada 15 Juli malam. Acara inti yang berupa seminar atau dialog telah melahirkan banyak gagasan dan pemikiran dari para pemakalah yang hadir dari Malaysia Timur dan empat provinsi di Kalimantan serta para peserta yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Pada akhir sesi dialog, diadakan rapat tim perumus rekomendasi, yang diambil dari perwakilan berbagai daerah anggota Dialog&lt;br /&gt;Borneo-Kalimantan. Rapat telah berhasil merumuskan rekomendasi berupa 6 poin penting, di antaranya adalah menunjuk Wilayah Persekutuan Labuan sebagai tuan rumah Dialog Borneo-Kalimantan XII, yang direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2013 nanti. Rekomendasi ini dibacakan dalam acara penutupan Dialog Borneo-Kalimantan XI. Dalam acara penutupan ini, selain dibacakan rekomendasi, diadakan juga penandatangan MoU kerjasama pengembangan sastra di Kaltim antara Gubernur Kaltim, Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim, dan Rumah Sastra Korrie Layun Rampan.&lt;br /&gt;Gubernur, dalam pidato penutupannya menyatakan rasa bangga karena&lt;br /&gt;terselenggaranya pertemuan sastra internasional sepulau di Kaltim ini dapat menjadi penanda adanya jalinan kekerjasamaan di bidang bahasa, sastra, dan kebudayaan di antara wilayah-wilayah senegara dan antarnegara sepulau Borneo-Kalimantan, melengkapi kekerjasamaan di bidang lain, seperti ekonomi, politik, keamanan, dan sebagainya. Gubernur juga menyatakan bahwa Pemerintah akan berusaha memberi&lt;br /&gt;perhatian yang lebih untuk kemajuan dunia sastra ini karena bangsa yang berbudaya tinggi adalah bangsa yang menghargai sastra. Bentuk-bentuk perhatian yang akan diupayakan itu bisa berupa:&lt;br /&gt;(1) memberikan kemudahan dan dukungan pendanaan bagi para sastrawan untuk&lt;br /&gt;menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sastra di wilayah ini;&lt;br /&gt;(2) memberikan kemudahan dan dukungan pendanaan bagi para sastrawan Kalimantan Timur untuk mengikuti even sastra di tempat lain, baik nasional maupun internasional; (3) memberikan kemudahan dan dukungan pendanaan bagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh komunitas-komunitas atau kelompok-kelompok sastra di wilayah ini;&lt;br /&gt;(4) memberikan penghargaan jasa atau hadiah seni secara berkala kepada para sastrawan yang berjasa di wilayah ini; dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-4045286470889755200?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/4045286470889755200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=4045286470889755200' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4045286470889755200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4045286470889755200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/07/rekomendasi-dialog-borneo-kalimantan-xi.html' title='Rekomendasi dialog borneo kalimantan xi'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-3686718783850395539</id><published>2011-07-03T11:43:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T12:09:21.296-07:00</updated><title type='text'>ANTOLOGI PUISI SEPULUH KELOK DI MAOUSELAND</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Janoary M Wibowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Jalanan d&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-p9ZP_sSfVmo/ThC-AzYdTVI/AAAAAAAADaI/6jyCS8gHFnA/s1600/sepuluh%2Bkelok.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-p9ZP_sSfVmo/ThC-AzYdTVI/AAAAAAAADaI/6jyCS8gHFnA/s200/sepuluh%2Bkelok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625204855587818834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;i sini gelap dan penuh kelokan. Seperti hidup, bukan? Jika terpeleset di tikungan, pahamilah setiap luka adalah tanda kau pernah berkunjung ke Mouseland.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“You know, Michael. The worst thing in this world is to know too much. You’d bette&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;r try to stay naïve. It’s much better.”&lt;/span&gt; kata Eli Wurman—diperankan oleh Al Pacino—dalam film People I Know. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Dunia ini relatif. Yang salah di tempa&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-N-TjmuN5oJc/ThC9m4EWuSI/AAAAAAAADaA/mrljXHH5RRI/s1600/10%2Bkelok%2Bmaousland.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-N-TjmuN5oJc/ThC9m4EWuSI/AAAAAAAADaA/mrljXHH5RRI/s200/10%2Bkelok%2Bmaousland.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625204410169080098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;t ini bisa jadi sahih di tempat lain.”&lt;/span&gt; perkataan Tristan kepada Bodhi dalam Supernova karya Dewi Lestari. “Let’s keep it undergound. Nobody out there would understand it anyway.” sebaris lirik dari lagu hip hop yang dinyanyikan oleh Grandmaster Flash—rapper asal Bronx. Saya lupa judul lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya menuliskan judul lalu kutipan-kutipan yang mungkin—sampai pada kalimat ini—tak nampak berhubungan antara yang satu dengan yang lain? Sederhana, itu alasan politis. Ya. Politik. Usaha saya untuk didengarkan—dalam kesempatan ini dibaca oleh dunia yang telah terlalu terlena pada nama. Ada nama Al Pacino, ada nama Dewi Lestari, ada nama Grandmaster Flash—entah siapa dia saya juga tidak begitu mengenal. Begitulah proses politik. Memilih apa-atau-siapa yang didengarkan dan kemudian digunakan sebagai rujukan. Apakah tarikan logika saya tentang politik berbeda dengan pemahaman khalayak umum? Tak apa. Anggap saja itu politik diri saya. Pancasila-nya NKRJ, Negara Kesatuan Republik Janoary, yang gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik itu keterlanjuran sejarah. Sejarah saya sendiri. Saya terlanjur menonton People I Know sebelum menulis ini. Saya terlanjur membuka-buka halaman Supernova sambil menikmati lagu hip-hop Grandmaster Flash sebelum menulis ini. Saya juga terlanjur membaca The Politics of Literature-nya Jaqcues Ranciere sebelum membaca Sepuluh Kelok di Mouseland. Lalu kemudian, saya mencoba menghubung-hubungkan keduanya—dengan kata lain putus asa menarik keduanya pada satu garis. Antara Politik dalam Sastra dan Sepuluh Kelok di Mouseland berhubungan, paling tidak itu yang saya tangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila yang saya tangkap tak jelas dan gelap bagi pembaca. Itu resiko bagi saya. Namun, beruntung saya—atau kasihan saya—bisa menggunakan nama Ranciere untuk berlindung. Merujuk pada Ranciere, politik pada umumnya adalah cara-cara manusia yang dipikirkan lalu digunakan untuk mewujudkan—atau tidak mewujudkan—suatu hal apapun untuk mendapatkan—atau tidak mendapatkan—apapun. Politik adalah cara-cara agar individu dapat didengarkan sebagai pernyataan, bukan hanya didengar sebagai keramaian. Sedangkan, politik dalam sastra—lebih tepatnya adalah politik dalam seni menulis—adalah cara-cara menyelaraskan cara pandang, cara berpikir, dan cara berperilaku manusia dengan keadaan sekitarnya pada sebuah objek berupa tulisan. Politik dalam sastra selanjutnya akan saya tuliskan dengan politik diri penulis—murni kenekatan saya dalam membuat istilah tanpa merujuk pada satu namapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Politik diri dalam Sepuluh Kelok di Mouseland&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Politik diri terasa kental Sepuluh Kelok di Mouseland. Ada Husni Hamisi, Arif F Kurniawan, Aras Sandi. Ada Dalasari Pera, Arganita Widyawati. Ada Arther Panther Olii. Ada Kang Arief, ada Mbak Lina Kelana. Ada Reski Kuantan, juga Noegi Arur. Ada sepuluh penyair. Ada sepuluh cara-cara menulis puisi. Ada sepuluh sejarah-sejarah yang menyusun mengapa penyair ini menulis puisi seperti itu, penyair itu menulis puisi seperti ini. Jauh sebelum buku ini terbit, saya berani beranggapan mereka telah berpolitik dengan memutuskan diri untuk menulis puisi. Memutuskan diri untuk membuat akun facebook. Memutuskan diri juga untuk memberikan atau menerima permintaan pertemanan di facebook. Juga, memutuskan untuk saling bertemu kata bertemu sapa—entah bertemu muka, lalu bersepakat untuk mengumpulkan puisi menjadi sebuah antologi. Bagaimana proses politis yang sebenarnya ada dalam diri masing-masing penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, keberagaman politik diri yang berkumpul dalam satu buku, satu wilayah. Mouseland. Entah dimana di peta letak wilayah itu, mungkin ada dalam tiap-tiap kepala masing-masing penyairnya—bahkan pada tiap-tiap kepala pembacanya. Ya, Mouseland adalah wilayah fiksi, dengan sepuluh politik diri menjadi kelokan-kelokannya. Puisi adalah fiksi—menuliskan apa yang pernah dituliskan Sartre, sebab fiksi adalah mengimitasi kehidupan. Bukan lagi merekonstruksi kejadian di depan mata, tetapi mereproduksi yang diketahui di hadapan kata. Aras Sandi dalam Negeri Bumi menuliskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;sorak sorai dan tepuk tangan dijadikan kebanggaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;kekalahan dan kemenangan dijadikan lencana kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;diarak arai, disorak sorai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;padahal;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;hanya untuk sebuah negeri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas saya menangkap gambaran sebuah Negeri bernama Indonesia di sajak itu. Namun, Aras seperti memutuskan diri untuk mengimitasi apa yang terjadi pada Negeri Indonesia ke Negeri Bumi di wilayah Mouseland. Politik diri Aras berselaras dengan politik di sekitarnya, masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;Arif F Kurniawan pun begitu. Pinokio yang dia ambil dari cerita yang sudah banyak orang ketahui, hidung Pinokio bertambah panjang setiap kali dia berbohong. Namun, Arif menciptakan Pinokio-nya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ia  ingin  berhenti  menanggung  malu  menerima  ejekan,  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;kata  orang-orang, tanduk hidungnya  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;selalu  tumbuh  lebih  panjang  dari  kebohongan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada 2 bait berikutnya, Arif semakin kentara memperlihatkan bahwa Pinokio-nya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ia tampak  semakin bodoh,kini.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;seorang  diri di sesungging  tepian,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;menggergaji  batang  hidung  sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif dengan Pinokio-nya menampilkan jalinan antara politik diri dengan politik. Sebuah hubungan yang harus selalu ada, walau kali ini hubungan itu adalah pertentangan.&lt;br /&gt;Berbeda dengan penyair Arther Panther Olii, di puisinya Senja di Tepi Sungai Bone. Dia menuliskan keterangan—semacam footnote untuk puisi—di bawah puisinya tersebut. Sungai Bone ada di Gorontalo. Dan Gorontalo ada di Indonesia. Indonesia itu bukan Mouseland. Jadi, sebuah senja di tepi Sungai Bone bukan fiksi. Nyata. Namun, melihat bagaimana Arther menuliskan bait terakhir dalam puisinya tersebut, nampak ada unsur imajineri—bolehlah serampangan dihubung-hubungkan dengan fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;di tepi sungai bone, senja telah tenggelam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;dan kenangan tentang kita : tersisa kelam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi saya—dengan politik diri dan sejarah saya sendiri—tidak akan merasa kelam ketika berada di tepi Sungai Bone ketika senja. Namun, saya bukan pemilik wilayah Mouseland. Arther-lah yang memiliki wilayah Mouseland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuliskan tiga gejala dari tiga penyair memang tidak bisa sepenuh-penuhnya mewakili sepuluh. Namun, alasan politis saya bukan bahwa ketujuh yang lain tak menampilkan politik dirinya, melainkan lebih kepada alasan teknis. Terlalu panjang untuk ditulisbacakan semua—baik bagi saya dan pembaca tulisan saya yang gelap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun tulisan itu, kegelapan akan tetap menyertainya. Sebab, pada dasarnya, tulisan lahir untuk tulisan itu sendiri. Merujuk pada yang dikatakan Grandmaster Flash, keep it underground. Juga, sekali lagi pada Sartre, tulisan adalah objek yang terlahir tanpa makna apapun dan tidak mempunyai peran apapun. Penulis dan pembaca yang memasukkan makna dan perannya pada apapun—sesuai politik diri masing-masing penulis juga masing-masing pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disneyland adalah wilayah Walt Disney berpolitik diri. Di sana dia menciptakan wahana-wahana. Di sana dia menciptakan nama-nama. Ada Donald Duck, ada Daisy Duck. Ada Pluto, ada Minnie Mouse, Ada Mickey Mouse. Mouseland adalah wilayah kesepuluh penyair berpolitik diri. Di sana mereka menuliskan puisi. Di sana mereka menciptakan sejarahnya sendiri. Proses menulis dan menerbitkan antologi adalah tanda bahwa sebuah sejarah diri—dari kesepuluh penyair—sedang dibangun. Sedang, ya, sedang. Sebab, politik diri adalah proses. Proses menyelaraskan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh manusia dengan apa yang akan dilakukannya di dunia sekitarnya. Politik diri akan terus bergerak—berubah—seiring dengan berubahnya sejarah diri—apa-apa yang dialami. Mouseland adalah sejarah bagi kesepuluh penyairnya dalam kaitan penulisan. Mouseland adalah sejarah bagi kesekian banyak pembaca—juga calon pembacanya—dalam kaitan pembacaan. Sepuluh kelok di sana akan terus berkelok-kelok seiring kelokan kehidupan yang akan dialaminya nanti. Nikmatilah tiap kelokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) apresiasi impresif—yang mungkin terlalu berkelok-kelok—terhadap Sepuluh Kelok di Mouseland, sebuah buku antologi bersama sepuluh penyair nusantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis di buku 10 KELOK DI MOUSELAND&lt;br /&gt;Arif Fitra Kurniawan - Semarang&lt;br /&gt;Arther Panther Olii - Manado&lt;br /&gt;Reski Kuantan - Riau&lt;br /&gt;Dalasari Pera Belawa - Belawa&lt;br /&gt;Arganita Widawati - Pontianak&lt;br /&gt;Aras Sandi - Semarang&lt;br /&gt;Husni Hamisi - Makassar&lt;br /&gt;Kang Arief - Ngawi&lt;br /&gt;Lina Kelana - Lamongan&lt;br /&gt;Neogi Arur - Batu Sangkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sumber : http://www.facebook.com/notes/fahrur-rozi-atma/esai-ii-launching-antologi-puisi-sepuluh-kelok-di-maouseland/240301695997881&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-3686718783850395539?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/3686718783850395539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=3686718783850395539' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3686718783850395539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3686718783850395539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/07/antologi-puisi-sepuluh-kelok-di.html' title='&lt;center&gt;ANTOLOGI PUISI SEPULUH KELOK DI MAOUSELAND&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-p9ZP_sSfVmo/ThC-AzYdTVI/AAAAAAAADaI/6jyCS8gHFnA/s72-c/sepuluh%2Bkelok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-4218788108455420066</id><published>2011-06-29T10:34:00.000-07:00</published><updated>2011-06-29T11:12:16.581-07:00</updated><title type='text'>Kesastraan Kalsel Sebelum, Semasa dan Sesudah tahun 70-an</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alha&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-qJp00u4go1o/TgtjBv4NSLI/AAAAAAAADZg/iU9L4_DfLlg/s1600/arsyad%2Bindradi_Penyair%2BKalsel.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 77px; height: 101px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-qJp00u4go1o/TgtjBv4NSLI/AAAAAAAADZg/iU9L4_DfLlg/s200/arsyad%2Bindradi_Penyair%2BKalsel.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623697441385433266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;mdulillah aku masih menyimpan buku Data-Data Kesenian Daerah Kalsel yang berupa stensilan yang diterbitkan  Depdikbud Kan.Wil Prov.Kalsel, Proyek Pusat Pengenbangan Kesenian Kalsel 1975/1976, karena pada tahun 90-an kantor ini terbakar, arsip Data Seni Budaya yang lainnya entahlah apakah dapat diselamatkan. Buku ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan kesastraan Kalsel pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini khusus mengetengahkan data perkembangan kesastraan Kalsel merujuk pada buku Data-Data Kesenian Daerah Kalsel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kesastraan Kalsel tentu saja tidak terlepas dari perkembangan kesastraan Indonesia, karena sastrawannya ikut memberikan andilnya bagi  perkembangan kesastraan Indonesia. Ini tampak dalam periode - periode perkembangannya dari masing- masing periode tersebut. Periode – periode tersebut adalah :&lt;br /&gt;1. Periode Sebelum Perang 2. Periode Pendudukan Jepang / Revolusi Fisik 3. Periode Tahun 50-an 4. Periode Tahun 60-an 5. Periode Tahun 70-an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Periode Sebelum Perang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada periode ini yang paling menonjol adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merayu Sukma&lt;/span&gt;  ( nama aslinya : Muhammad Sulaiman ).  Ada beberapa bukunya yaitu :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Putra Mahkota Yang Terbuang&lt;/span&gt; ( roman sejarah ), &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Yurni Yusri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;( roman detektif ),    &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kunang-Kunang Kuning &lt;/span&gt;( roman detektif ), &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Sinar Memecah Rahasia &lt;/span&gt;( roman detektif ), &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Berlindung dibalik Tabir&lt;/span&gt; ( roman ),  J&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;iwa yang Disiksa Dosa&lt;/span&gt; (roman), dan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Jurang Meminta Korban&lt;/span&gt; ( roman ). Hampir semua bukunya diterbitkan di Medan. Sayangnya buku-bukunya ini tidak dicetak ulang sehingga sulit didapat. Masa produktifitasnya terhenti ditahun 50-an sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis lainnya adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arthum Artha&lt;/span&gt; karyanya berupa  cerpen banyak dimuat  di majalah Terang Bulan (Surabaya). Selain cerpen ia menulis roman antara lain : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Gadis&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Zaman Kartini&lt;/span&gt; ( Gemilang,1949,Kandangan), &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tahanan Yang Hilang&lt;/span&gt; ( Pustaka Dirgahayu,1950, Balikpapan), &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kepada Kekasihku Rokhayanah&lt;/span&gt; ( Mayang Mekar,1951,Banjarmasin). Puisi-puisinya juga bertebaran di majalah Mimbar Indonesia, Siasat/Gelanggang, Indonesia, Pelopor, Mutiara, Zenith,Gajahmada dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode ini muncul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maseri Matali&lt;/span&gt; (Kandangan) dan puncak karyanya menjelang akhir  revolusi fisik sampai tahun 1952. Ia satu-satunya Penyair Kalsel yang disoroti kritikus HB Yassin. Puisi-puisinya umumnya dimuat di Mimbar Indonesia, Pancawarna, Waktu dan Bakhti. Ia dianggap penyair yang kuat pada zamannya. Ia tidak sempat menerbitkan semua karyanya dalam satu antologi. Tetapi setahun setelah ia wafat (1969), sebanyak 15 puisinya dibukukan oleh D.Zauhidhie dkk. dalam judul “ &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Nyala &lt;/span&gt;“ (stensilan).&lt;br /&gt;Muncul di periode ini seperti, M.Yusuf Aziddin, Mugeni Jafri, Haspan Hadna. Karya-karya mereka hampir tak pernah dibaca oleh generasi berikutnya karena di samping tidak banyak juga tidak pernah dibukukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Periode Pendudukan Jepang / Revolusi Fisik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping sastrawan terdahulu masih berkarya, diperode ini muncul sederetan nama antara lain, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aliansyah Luji &lt;/span&gt;( penyair,prosais, Banjarmasin), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zafri Zamzam&lt;/span&gt; ( penyair, Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H.Ahmad Basuni&lt;/span&gt; ( cerpenis, Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SM Darul &lt;/span&gt;( penyair, Kandangan ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masdan Rozhani &lt;/span&gt;( penyair, cerpenis, Kandangan ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asycor Z &lt;/span&gt;(Asyikin Noor Zuhri, penyair, Jakarta ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling produktif pada periode ini, menjelang dan sesudah tahun 50-an adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alinsyah Luji&lt;/span&gt;. Banyak puisinya di majalah Mimbar Indonesia, Siasat/Gelanggang, Mutiara dan lain-lain. Romannya antara lain, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Memperebutkan Mawar di Candi Agung&lt;/span&gt; ( Getaran Masyarakat,1955,Banjarmasin), &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Intan Berlumur Darah&lt;/span&gt; ( Fa.Widya,1956, Bandung ) dalam dua jilid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi – puisi Asycor Z (Asyikin Noor Zuhri) dan SM Darul dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia menjelang dan sesudah tahun 50-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Periode Tahun 50-an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semarak dalam berkarya pada periode ini setelah bermunculan sastrawan-sastrawan muda. Hal ini karena sarana – sarana penerbitan sangat menunjang seperti Mimbar Indonesia, Indonesia, Siasat/Gelanggang, Budaya, Konfrontasi, Merdeka/Genta, Kisah,Roman, Basis, Media, Gajahmada, serta surat kabar baik di Jakarta mau pun di Kalsel sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya sastrawan muda tersebut adalah penyair dengan sederetan nama seperti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ramtha Martha &lt;/span&gt;nama aslinya Rahmad Marlin ( Martapura ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Darmansyah Zauhidie&lt;/span&gt; (Kandangan ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hijaz Yamani&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Azn.Ariffin&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yiustan Aziddin&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dachri Oskandar &lt;/span&gt;( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syamsul Suhud&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mugeni HM&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taufiqurrahman&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syamsul Bachriar AA&lt;/span&gt; ( Jakarta ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abdul Kadir Ahmad&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syamsiar Seman&lt;/span&gt; ( Barabai ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salim Fachry &lt;/span&gt;( Kandangan ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ardiansyah M &lt;/span&gt;( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gapfuri Arsyad&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rustam Effendi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karel &lt;/span&gt;( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Korsen Salman &lt;/span&gt;( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Imran Mansur &lt;/span&gt;( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gumberan Saleh&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adham Burhan&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sir Rosihan&lt;/span&gt; ( Sayarkawi, Banjarmasin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping penyair juga cerpenis seperti, Hijaz Yamani, Syamsiar Seman, Adham Burhan, Ramtha Martha dan Yustan Aziddin. Sedang Gumberan Saleh juga menulis novel. Sebelum menulis puisi Yustan Aziddin lebih dulu menulis cerpen untuk “cerita minggu pagi pada RRI Banjarmasin dan juga sandiwara radio. Pada tahun 50-an Ramtha Martha khusus menulis cerpen yang dimuat di “Mimbar Indonesia” dan “Kisah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penulis pada periode ini yang  lahir dan tumbuh namun tidak bisa bertahan dan berhenti sama sekali sampai pada periode berikutnya, kecuali beberapa orang seperti D.Zauhidhie, Hijaz Yamani, Ramtha Martha dan Salim Fachry. Sedangkan Yutan Aziddin dan Adham Burhan lama istirahat kemudian berkarya lagi ditahun 70-an. Yustan Aziddin, Adham Burhan dan Hijaz Yamani ikut dalam 19 penyair Banjarmasin ( &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Panorama&lt;/span&gt;,1974, DKD Kalsel ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penulis pada periode ini tidak sempat membukukan  sendiri hasil karya mereka, kecuali D,Zauhidhie ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imajinasi&lt;/span&gt; ) dan Syamsiar Seman ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bingkisan Pagi&lt;/span&gt; ) dan Gumberan Saleh novelnya ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Affair di Tanjung Silat&lt;/span&gt; ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsiar Seman lebih produktif lagi sampai tahun 2000-an dengan beberapa buah buku baik berupa pantun Banjar, cerita rakyat, Peribahasa Banjar, dan adat istiadat Banjar yang diterbitkan oleh penerbit lokal. Buku-bukunya menjadi bahan ajaran mata pelajaran muatan lokal di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1963 terbit kumpulan puisi “ &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Perkenalan di dalam Sajak&lt;/span&gt;” diterbitkan oleh CV.Himmah Banjarmasin yang diprakarsai oleh Yustan Aziddin dan Syamsul Suhud.&lt;br /&gt;Penyairnya yang tergabung menurut wilayah geografis dan kurun kepenyairannya . Ini merupakan antologi penyair-penyair Kalimantan baik  periode pendudukan Jepang/revolusi fisik, 50-an, dan 60-an, serta penyair Kalbar,Kalteng dan Kaltim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Periode Tahun 60-an&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode ini tidak banyak muncul sastrawan baru. Yang muncul seperti, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A.Shafwani&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibahy &lt;/span&gt;( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mh.Hadhariah Roch&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Murjani&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bawy&lt;/span&gt; ( Banjarmasin ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andi Amrullah&lt;/span&gt; (Banjarmasin ). Mereka semua penyair. Mereka tidak sempat membukukan karyanya sendiri kecuali dalam Perkenalan di dalam Sajak. Mh Hadhariah Roch ikut dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Panorama&lt;/span&gt;. Sedangkan Andi Amrullah ketika masih studi di Malang bersama penyair-penyair Jawa Timur dalam kumpulan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Laut Pasang&lt;/span&gt; ( Pemda Kotapraja Surabaya,1963 ). Kemudian ia menerbitkan sendiri antologi puisinya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Demi Buah Tin dan Zaitun&lt;/span&gt; (1974).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Periode Tahun 70-an&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode ini, sangat terasa hiruk pikuknya kesastraan Kalsel karena  bertumbuhannya sastrawan baru dengan ramainya penciptaan sastra terutama puisi. Umumnya karya mereka termuat di harian surat kabar di Banjarmasin seperti bulanan kebudayaan “Bandarmasih” dan rubrik – rubrik “Persepektif” dari Banjarmasin Post, “Dian” pada “Media Masyarakat”, dan juga “Dinamika”, hanya Ayamuddin Tifani dan Eza Thabri Husano di majalah Mimbar dengan ruang budayanya “Matahari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang muncul pada periode ini : Ayamuddin Tifani ( Banjamasin ), Arsyad Indradi ( Banjarmasin ), Eza Thabri Husano ( Banjarbaru ),Ismed  M.Muning  nama aslinya Ismail Effendi ( Banjarmasin ), Hamami Adaby ( Banjarbaru ), Ibramsyah Barbary ( Banjarmasin ), A.Rasidi Umar ( Banjarmasin ), Sabri Hermantedo ( Banjarmasin ), Backtiar Sanderta ( Banjarmasin ), Ajim Ariyadi ( Banjarmasin ), Swastinah MD ( Banjarmasin ), Ulie S.Sebastian ( Banjarmasin ), A.Ruslan Barkahi ( Negara ), Arifin Hamdie ( Banjarmasin ), A.Mujahiddin S ( Banjarmasin ), S.Surya ( Banjarmasin ), Ibrahim Yatie ( Banjarmasin ), A.Rachman ( Banjarmasin ), M.Armin Azhardhie ( Banjarmasin ), Johan Kalayan ( Banjarmasin ), Abdul Karim Amar ( Banjarmasin ), Abdussamad SA  ( Negara ),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sederetan nama tersebut di atas, menyusul nama-nama seperti, Nayan Muhamad (Yan Pieter AK,Banjarmasin ), Hamberan Syahbana ( Hamberan Basuwinda, Banjarmasin ), Haderawi Yose ( Banjarmasin ), A’ans Anjar Asmara ( Banjarmasin ), Annie Mienty ( Banjarmasin ), Masry A.Gani ( Pagatan/Kotabaru),   Amiddin B.Fuad ( Pleihari ), Amansyah Noor ( Negara ), Suriansyah Ramli ( Banjarbaru ), A.Chair Karim ( Banjarbaru ), RA Benawa ( Banjarbaru ), T.Noor Is. Amendy ( Banjarbaru ), Hanna ( Banjarbaru ), Muhammad Rais Salam ( Banjarbaru ), Akhmad Fajeri Astanti ( Banjarbaru ), A.Syahrani Hasyim ( Banjarbaru ), M.Hasfiany Sahasby ( Banjarbaru ), Roek Syamsuri ( Banjarbaru ), Ada sebelas penyair Banjarbaru termasuk Eza Thabri Husano dan Hamami Adaby menghimpun puisinya dalam antologi Puisi Banjarbaru Kotaku yang diterbitkan oleh DKD Banjarbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair - penyair Amuntai HSU juga menghimpun puisinya dalam sebuah antologi puisi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Antologi Sajak 10 Penyair Hulu Sungai Utara &lt;/span&gt;diterbitkan oleh DKD HSU, yang tergabung di dalamnya yaitu Yusni Antemas, Rosdiansyah Habib, Darmawinata, Amir Husaini Zamzam, Rachman Rosdhy, Alfisamadhi, Asmuri Aman, M.Umairan Baqir, dan Amir Hasan Arsya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tergolong dalam periode ini disamping aktif menulis puisi juga aktif menulis naskah Drama seperti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ajim Ariyadi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hamberan Syahbana &lt;/span&gt;( Drama dan cerpen ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Backtiar Sanderta &lt;/span&gt;( teater Tradisional dan cerpen), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ismed M.Muning&lt;/span&gt; (teater tradisional)  dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Swastinah MD&lt;/span&gt; menulis cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah tahun 70-an yakni kurun waktu tahun 80-an, tahun 90-an dan sampai pada tahun 2000-an, sastrawan yang tergolong periode 70-an ini kreatifitas penulisannya  mulai menurun bahkan ada yang berhenti sama sekali, masa istirahat, dan ada yang meninggal dunia. Sayangnya mereka baik yang berhenti, masa istirahat mau pun yang meninggal dunia tidak sempat membukukan karya-karyanya  antara lain, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Ayamudin&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tifani&lt;/span&gt;  setelah meninggal dunia ( 23.09.1951- 06.05.2002 )baru sastrawan lain mencari dan mengumpulkan karyanya yang berserakan disana-sini, kemudian menghimpunnya dalam sebuah antologi puisi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tanah Perjanjian&lt;/span&gt; ( Hasta Mitra bekerjasama dengan Yayasan Bengkel Seni’78 Jakarta,2005 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian yang tergolong periode tahun 70-an yang eksis berkarya sampai tahun 2000-an antara lain, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arsyad Indradi, Hamami Adaby &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eza Thabri Husano&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hamami Adaby&lt;/span&gt; ada beberapa karya puisinya yang dibukukan berupa antologi  puisi  tunggalnya : Desah (84), Iqra (97), Nyanyian Seribu Sungai (2001), Kesumba (2002), Bunga Angin (2003), Dermaga Cinta (2004), Kaduluran ( Puisi Bahasa Banjar,2006).  Dan karya bersama antara lain  :  Banjarbaru Kotaku (74), Dawat (82), Bunga Api (94), Bahalap (95), Pelabuhan (96), Jembatan Asap ( 97), Bentang Bianglala (98),Cakrawala (2000), Tiga Kutub Senja ( Arsyad Indradi,Eza Thabri Husano,Hamami Adaby,2001), Bahana (2001), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Bula Ditelan Kutu (2004), Anak Zaman (2004), Baturai Sanja ( Bhs Banjar,2004),Bumi Menggerutu (2005), Dimensi (2005),Garunum (2006). Menerima  Penghargaan Seniman Sastra dari Walikota Banjarbaru (2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eza Thabri Husano&lt;/span&gt; ada beberapa karya puisinya yang dibukukan berupa antologi  puisi  tunggalnya : Rakit Bambu (1984), Surat Dari Langit ( 1985), Clurit Dusun (1993), Aerobik Tidur (1996). Dan karya bersama antara lain : Banjarbaru Kotaku (74), Dawat (82), Bunga Api (94),  Getar (Bulsas Kreatif Kota Batu Jatim (1995), Getar II (Bulsas Kreatif Kota Batu Jatim, 1996), Bangkit III (Bulsas Kreatif Kota Batu Jatim,1996), Bentang Bianglala (98),Datang Dari Masa Depan (1999), Jakarta Dalam Puisi Mutakhir 2000), Cakrawala (2000), Tiga Kutub Senja ( Arsyad Indradi,Eza Thabri Husano,Hamami Adaby,2001), Bahana (2001), Narasi Matahari (2002), Sajadah Kata (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Bulan Ditelan Kutu (2004), Anak Zaman (2004), Baturai Sanja ( Bhs Banjar,2004),Bumi Menggerutu (2005), Dimensi (2005). Menerima Penghargaan Seni Bidang Sastra dari Gubernur Provensi Kalsel,1996 dan Penghargaan dari Walikota Banjarbaru bidang Sastra, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arsyad Indradi&lt;/span&gt; baru dapat menghimpun karya puisinya dalam bentuk antologi puisi tunggalnya : &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Nyanyian Seribu Burung&lt;/span&gt; ( KSSB, 2006 ),&lt;br /&gt;Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia “&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kalalatu&lt;/span&gt; “ ( KSSB, 2006 ), &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Romansa Setangkai Bunga&lt;/span&gt; ( KSSB, 2006 ), &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Narasi Musafir Gila&lt;/span&gt; ( KSSB, 2006 ), &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Anggur Duka&lt;/span&gt; ( KSSB,2009), Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia “&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Burinik&lt;/span&gt;” (KSSB,2009), Kumpulan Esai dan Artikel dari beberapa sastrawan Indonesia dengan tajuk : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Risalah Penyair  Gila&lt;/span&gt;  (KSSB,2009)&lt;br /&gt;Antologi Puisi bersama antara lain :&lt;br /&gt;Jejak Berlari ( Sanggar Budaya, 1970 ), Edisi Puisi Bandarmasih, 1972, Panorana (Bandarmasih, 1972), Tamu Malam ( Dewan Kesenian Kalsel, 1992), Jendela Tanah Air ( Taman Budaya /DK Kalsel, 1995), Rumah Hutan Pinus ( Kilang Sastra, 1996),Gerbang Pemukiman ( Kilang Sastra, 1997 ), Bentang Bianglala ( Kilang Sastra,1998), Cakrawala ( Kilang Sastra, 2000 ), Bahana ( Kilang Sastra, 2001 ), Tiga Kutub Senja ( Kilang Sastra, 2001 ), Bulan Ditelan Kutu ( Kilang Sastra, 2004 ),Bumi Menggerutu ( Kilang Sastra, 2004 ), Baturai Sanja ( Kilang Sastra, 2004 ),Anak Jaman ( KSSB, 2004 ), Dimensi ( KSSB, 2005 ), Seribu Sungai Paris Barantai (2006),Penyair Kontemporer Indonesia dalam Bhs China (2007),Kenduri Puisi Buah Hati Untuk Diah Hadaning (2008),Tarian Cahaya Di Bumi Sanggam  (2008),Bertahan Di Bukit Akhir (2008),Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009),Konser Kecemasan (2010). Pada tahun 2006 menghimpun puisi dari Penyair Se Nusantara dalam antologi Puisi Penyair Nusantara : “ 142 Penyair Menuju Bulan (KSSB,2006).&lt;br /&gt;Anugrah yang pernah diterima bidang  :&lt;br /&gt;Tari dari Majelis  Bandaraya Melaka   Bersejarah pada Pesta Gendang  Nusantara VII Malaysia (2004), Tari dari Majelis  Bandaraya Melaka Bersejarah pada Pesta Gendang  Nusantara XII Malaysia (2009),&lt;br /&gt;Tari dari Walikota Banjarbaru  (2004), Pengawas Seni Budaya Berprestasi I Kabupaten Banjar dan Provinsi Kalimantan Selatan (2009),. Sastra dari Walikota Banjarbaru  (2010) dan Sastra dari Gubernur Prov.Kalsel (2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamberan Syahbana dan Ibramsyah Barbary lama tidak muncul, pada tahun 2008 mereka kembali menulis dan aktif mengikuti kegiatan sastra di Kalsel. Hamberan Syahbana sudah beberapa cerpen ditulisnya, disamping menulis esai dan artikel kesastraan dan juga puisi, sedang Iberamsyah Barbary  menghimpun puisinya yang ditulisnya dari tahun 1963 – 2011 dalam antologi puisinya &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Perjalanan ke Istana Putih.&lt;/span&gt; Hamberan Syahbana menerima penghargaan bidang Teater oleh Gubernur Provinsi Kalsel,2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah periodesasi Perkembangan Kesastraan Kalimantan Selatan walau secara singkat namun inilah  sebagai  perspektif  perjalanan  Kesastraan Kalimantan  Selatan yang  hidup dan berkembang dari masa kemasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Banjarbaru, 25 Juni 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-4218788108455420066?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/4218788108455420066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=4218788108455420066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4218788108455420066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4218788108455420066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/06/kesastraan-kalsel-sebelum-semasa-dan.html' title='Kesastraan Kalsel Sebelum, Semasa dan Sesudah tahun 70-an'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-qJp00u4go1o/TgtjBv4NSLI/AAAAAAAADZg/iU9L4_DfLlg/s72-c/arsyad%2Bindradi_Penyair%2BKalsel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-4326716439740270160</id><published>2011-06-25T04:01:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T04:05:22.539-07:00</updated><title type='text'>MENEBAR BENIH SASTRA DI BANUA MURAKATA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-5BbGuKS2xG8/TgXA35varAI/AAAAAAAADZQ/LYKQigkYBrw/s1600/Yessika%2BSus.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 100px; height: 135px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5BbGuKS2xG8/TgXA35varAI/AAAAAAAADZQ/LYKQigkYBrw/s200/Yessika%2BSus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622111776466971650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Yessika Susastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; INI catatan ringan sebagai bahan untuk sebuah iven sastra "Aruh Sastra Kalimantan Selatan VIII di Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah, 16--19 September 2011. Catatan ringan ini sengaja dibuat selagi ada kesempatan, dan tentu saja perlu masukan dan saran dari pembaca budiman demi sesuatu yang lebih bermanfaat dan mendatangkan martabat bagi pergerakan sastra. Judul catatan ini, sepenuhnya menuruti tema yang diusung oleh panitia penyelenggara. Lantaran belum ada deskripsi lengkap mengenai maksud dan tujuan hajatan Aruh Sastra (setidaknya belum membaca TOR), saya masih meraba-raba apakah yang sebaiknya dikemukakan dalam iven tahunan yang mulai melegenda itu.&lt;br /&gt;Agar pembaca memiliki gambaran betapa aktivitas sastra di Kalimantan Selatan selama ini, akan saya nukilkan historisitas jejak kesastrawanan Kalimantan Selatan, setelah itu barulah saya coba kemukakan kiat atau strategi "menebar benih sastra di Banua Murakata".&lt;br /&gt;Pergerakan Sastrawan Kalsel&lt;br /&gt;Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan sesungguhnya sudah mulai dilakukan sebelum perang dunia kedua, di sekitar pertengahan atau akhir tahun 1930-an, atau hampir bersamaan dengan kurun waktu kegiatan penulisan yang dilakukan oleh para sastrawan Angkatan 1930-an (Angkatan Pujangga Baru). Meskipun pada kurun waktu awal penulisan para sastrawan Kalsel tidak setenar Angkatan Pujangga Baru, karena mereka umumnya menulis pada penerbitan (majalah dan koran) lokal, tidak sebagaimana sastrawan Angkatan Pujangga Baru yang menciptakan karya-karyanya yang menjadi karya monumental karena menulis dalam majalah Pujangga Baru – satu-satunya penerbitan penting yang memuat karya sastra para sastrawan di zamannya. Para sastrawan Kalsel yang memulai kegiatan penulisan karya sastra ini antara lain Merayu Sukma, Anggraini Antemas (Yusni Antemas), M. Yusuf Aziddin, Artum Artha, Ramlan Marlim, Hadharyah M, Merah Danil Bangsawan, dan lain-lain. Mereka juga telah mempunyai sejumlah buku, baik yang diterbitkan Kalsel atau usaha sendiri, maupun di luar Kalsel.&lt;br /&gt;Dapat dikemukakan bahwa setiap periodisasi sastra Indonesia, sastrawan Kalsel melibatkan diri. Pada kurun waktu 1942 s.d. awal 1950-an bermunculan pula karya para sastrawan Kalsel baik dari mereka yang menulis sebelum tahun 1940-an maupun mereka yang baru memublikasikan karyanya dalam peeiode ini, seperti Artum Artha yang produktif memublikasikan karya puisi, cerpen dan romannya di media massa berwibawa di Jakarta seperti majalah Mimbar Indonesia dan Siasat/Gelanggang. Sederet nama lain yang juga intensif menulis dan memublikasikan puisi-puisinya ke majalah Mimbar Indonesia, Waktu, Pantja Warna, dll. adalah Maseri Matali, Asyikin Noor Zuhri, Masrin Mastur, dll. Penyair Maseri Matali sendiri sempat disinggung oleh Paus Sastra H.B. Jassin dalam bukunya Tifa Penyair dan Daerahnya sebagai salah seorang penyair berbakat dari pedalaman Kalimantan yang bersahut-sahutan dengan generasi seangkatannya (Angkatan 45).&lt;br /&gt;Setelah Angkatan 45, sastrawan Kalsel yang muncul dan mulai aktif menulis dalam berbagai genre penulisan; puisi cerpen, novel ialah Hijaz Yamani, Ramta Martha (Rahmat Marlim), Azn. Ariffin, Dachry Oskandar, D. Zauhidhie, Taufiqurrahman, Yustan Aziddin, Salim Fachry, Sholihin Hasan, Aliansyah Ludji, Rustam Effendi Karel, Korsen Salman, Imran Mansyur, Abdul Kadir Ahmad, Syamsul Suhud, Syamsul Bahriar AA, Syamsiar Seman, Goemberan Saleh, Sir Rosihan,  dll. Karya para sastrawan ini dipublikasikan di berbagai majalah dan surat kabar terbitan lokal dan Jakarta, seperti Pahatan, Pusparagam, Bandarmasin, Minggu Pagi, Mimbar Indonesia, Kisah, Budaya Jaya, Zenith, Siasat, Gembira, Gajah Mada, Indonesia, Horison, Roman, Cerita, Konfrontasi, dan lain.lain.&lt;br /&gt;Dekade 1960-an di tanah air diwarnai oleh munculnya dualisme angkatan, yakni Angkatan 63 atau Angkatan Manifes yang dicetuskan oleh Satyagraha Hoerip dan Angkatan 66 yang dideklarasikan oleh H.B. Jassin. Pada tahun 1963 telah terjadi apa yang disebut Manifes Kebudayaan yang banyak didukung oleh para sastrawan yang anti-komunis di tanah air. Di antara para pencetus dan penandatangan Manifes Kebudayaan ini di Jakarta adalah H.B. Jassin, Wiratmo Sukito, Goenawan Mohamad, dll. Sedangkan para manifestan di Kalimantan Selatan terdapat pula para sastrawan seperti Yustan Aziddin dan Rustam Effendi Karel. Sastrawan Kalsel lainnya yang di tahun 1960-an itu bermukim di Jawa Timur yaitu Hijaz Yamani dan Andi Amrullah juga mendukung dan ikut menandatangani Manifes Kebudayaan tersebut. Dan para sastrawan Kalsel yang produktif dan muncul dalam dekade 60-an ini antara lain M.H. Hadharyah Roch, A.S. Ibahy, Ardiansyah M, Murjani Bawi, Bachtar Suryani, Gusti Muhammad Farid, dan lain-lain. Pada 1963 untuk pertama kali terbit antologi puisi penyair se-Kalimantan Perkenalan di Dalam Sajak Penyair Kalimantan. Kemudian terbit pula beberapa antologi puisi perorangan dari penyair D. Zauhidhie (Imajinasi, 1960), Bachtar Suryani (Kalender, 1967), Syamsiar Seman (Bingkisan, 1968), dan Maseri Matali (Nyala, 1968).&lt;br /&gt;Perkembangan sastra(wan) dekade 1970-an di Kalimantan Selatan terbilang sangat pesat dan menggembirakan, sebagaimana hingar-bingarnya  percaturan sastra di tanah air. Terutama di Kalsel, kenyataan perkembangan yang menggembirakan ini dirayakan lagi dengan dibentuknya lembaga atau organisasi kesenian seperti Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalimantan Selatan  (kini menjadi Dewan Kesenian Kalimantan Selatan) yang digagas pada Musyawarah Seniman (Musen) pertama se-Kalimantan Selatan, 28 April s.d. 2 Mei 1971 di kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. DKD Kalsel periode pertama ini diketuai oleh seniman dan politisi Anang Adenansi. Kemudian berturut-turut di berbagai kota dan kabupaten lainnya di Kalsel juga mendirikan dewan kesenian. Dan melalui program komite sastranya, DKD Kalsel menerbitkan majalah bulanan kebudayaan Bandarmasih, penerbitan rutin antologi puisi bersama maupun perorangan, antara lain Panorama, Bandarmasih, Jembatan, Jembatan II, Air Bah, 10 Penyair Hulu Sungai Utara, Banjarbaru Kotaku, Penjuru Angin, Riak-riak Barito, dll. Tahun 1978, Pustaka Jaya Jakarta menerbitkan antologi puisi Tanah Huma dari tiga penyair Kalsel, D. Zauhidhie, Yustan Aziddin, dan Hijaz Yamani. Demikian pun sayembara penulisan puisi dan even lomba deklamasi dan baca puisi secara rutin diselenggarakan dan diprakarsai DKD Kalsel.&lt;br /&gt;Para sastrawan yang muncul pada dekade ini adalah Ajamuddin Tifani, Eza Thabry Husano, Arsyad Indradi, Hamami Adaby, M. Syarkawi Mar’ie, Yuniar M. Ary, A. Rasyidi Umar, Bakhtiar Sanderta, Sabrie Hermantedo, Andi Amrullah, Ibrahim Yati, Soufyan Surya, A. Mudjahidin S, Ulie S. Sebastian, Ibramsyah Amandit, Adjim Arijadi, Roeck Syamsuri Saberi, A. Dimyati Riesma, Rizhanuddin Rangga, Syarkian Noor Hadie, Johan Kalayan, Yan Pieter A.K. (Nayan van Houten), Dardy C. Hendrawan, Mas Husaini Maratus, Ahmad Fahrawi, Tarman Effendi Tarsyad, Burhanuddin Soebely, dan lain-lain. Oleh karena aktivitas bersastra di Kalsel kemunculannya lebih awal, maka penulisan sastra di daerah ini tumbuh dan berkembang lebih pesat dibandingkan provinsi lainnya di Kalimantan. Dan sebagai salah satu kantong kesusastraan di Indonesia, Kalimantan Selatan memiliki sastrawan-sastrawan yang kreatif dan eksis dengan karya-karya sastranya yang tidak kalah kualitasnya dengan karya para sastrawan luar Kalsel. Karya para sastrawan Kalsel baik secara kuantitas maupun kualitas tidak hanya hadir sebagai khasanah lokal (Kalsel), tetapi juga memberi kontribusi bagi masyarakat dan perkembangan sastra Indonesia modern. Bila ada anggapan bahwa Kalsel adalah gudang sastrawan, hal itu tak bisa dimungkiri dan stigma itu masih melekat hingga hari ini.&lt;br /&gt;Dekade awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an – untuk sementara – diklaim sebagai ‘puncak’ pertumbuhan ataupun perkembangan sastra di Kalimantan Selatan. Namun di dua dekade ini karya sastra yang paling dominan hadir adalah genre puisi. Hal ini terbukti dari jumlah karya sastra (sajak) dan penyair Kalsel yang muncul ke permukaan. Menurut sastrawan dan kritikus sastra Korrie Layun Rampan, bukan hanya perkembangan kuantitas sastrawan dan karya sastra, tapi juga perkembangan kualitas sastra sangat pesat di Kalsel.  Rubrik-rubrik sastra di media cetak lokal maupun nasional didominasi oleh puisi. Khususnya untuk publikasi karya puisi, cerpen, cerber, dan esai di media cetak lokal, para sastrawan Kalsel merasa terbantu dengan kehadiran rubrik sastra di harian Banjarmasin Post, Media Masyarakat, dan Dinamika Berita (sekarang Kalimantan Post). Lebih spektakuler lagi, harian Banjarmasin Post – koran tertua di Kalimantan yang kini merger dengan harian Kompas – merupakan satu-satunya penerbitan di dunia – berdasarkan klaim Ajip Rosidi – yang berani menyajikan rubrik puisi bernama Dahaga untuk sosialisasi karya para penyair. Sedemikian banyaknya penyair yang menulis untuk Dahaga, sehingga pada setiap hari pemunculannya rubrik ini dijejali oleh sajak dan sangat luar biasa dalam melahirkan penyair – tentu dengan klasifikasi; penyair yang sajaknya berkualitas dan tidak berkualitas. Secara representatif dapat digambarkan, bahwa sepanjang tahun 1981 saja tercatat sebanyak 251 orang penyair yang menulis untuk Dahaga dengan jumlah sajak tak kurang dari 2.336 buah (berdasarkan data penelitian pengamat sastra Kalsel, Tajuddin Noor ganie). Rubrik puisi Dahaga yang sempat bertahan sekitar 7 tahun (1978-1985) ini digawangi oleh tiga serangkai sastrawan, yaitu Yustan Aziddin (Wapemred. Banjarmasin Post), D. Zauhidhie, dan Hijaz Yamani (ketiganya kini sudah almarhum). Tumbuh suburnya perpuisian – hingga muncul anggapan Kalsel mengalami inflasi puisi dan kepenyairan –  di Kalsel juga memacu antarpenyair untuk saling berkompetisi menerbitkan sajak-sajaknya, baik secara perseorangan maupun secara kolektif  bersama penyair luar Kalsel yang diterbitkan Banjarmasin, Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Tasikmalaya, Padang, dan beberapa kota lainnya, hingga Brunei Darussalam dan Malaysia. Bahkan pada dekade 1980-an itu pula – berdasarkan hasil penelitian tak resmi penyair Jogja, Bambang Widiatmoko – Kalsel diklaim menduduki peringkat kedua dalam kategori populasi penyair terbanyak di Indonesia setelah Jogjakarta.&lt;br /&gt;Even-even sastra seperti forum diskusi atau temu sastrawan juga marak diselenggarakan di berbagai kota dan kabupaten di wilayah Kalsel. Forum sastra paling monumental di era 1980-an adalah Fo-rum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982, yang digagas oleh komunitas penyair  bernama  Himpunan  Penyair  Muda  Banjarmasin  (HPMB).  Sastrawan/penyair  yang menonjol  dengan  wawasan estetik puisi dan menemukan gaya pengucapan atau bahasanya sendiri serta beberapa di antaranya memiliki reputasi kepenyairan nasional pada dekade ini, antara lain  Ajamuddin Tifani,Ahmad Fahrawi,Burhanuddin Soebely, Tarman Effendi Tarsyad  (walaupun  awal  ke-munculan keempat sastrawan ini pada dekade 1970-an, tapi oleh Abdul Hadi WM di Forum Puisi Indonesia ’87 di TIM dikategorikan sebagai generasi penyair 80-an), Y.S. Agus Suseno, M.Rifani Djamhari, Noor Aini Cahya Khairani, Ali Syamsuddin Arsi, Ariffin Noor Hasby, Sandi Firly, Fahruraji Asmuni, Eddy Wahyuddin SP, Muhammad Radi, Zain Noktah, Kony Fahran (kini bermukim di Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim), Jamal T. Suryanata,  Eko Suryadi WS,  Abdul Karim, Tajuddin Noor Ganie, Radius Ardanias, Maman. S. Tawie, Iwan Yusi, Micky Hidayat, Akhmad setia Budhi, Aria Patrajaya, Sri Supeni, Mas Alkalani Muchtar, dan lain-lain untuk menyebut hanya beberapa nama. Iklim bersastra yang terbilang kondusif dan bergairah pada dekade 80-an dan 90-an tersebut boleh dikata merupakan era kebangkitan sastra Kalsel dengan ledakan-ledakan kreativitas yang telah berimplikasi melahirkan sejumlah sastrawan dengan kapasitas intelektual dan  kegigihan  idealisme yang  cukup  penting  diperhitungkan pada khasanah sastra Indonesia.&lt;br /&gt;Pertengahan 1990-an hingga memasuki abad 21, yaitu awal 2000-an hingga 2008 ini, walaupun iklim bersastra di Kalsel tidak sesemarak dekade sebelumnya, namun denyut kehidupan dan kegairahan para sastrawan untuk berkarya masih tetap terasa dan tidak pernah mengalami stagnasi atau kemandekan. Para sastrawan terkini dari generasi 2000-an yang sedang berproses, kreatif serta produktif dan mulai bermunculan ikut menyumbangkan bentuk, warna dan pengucapan literer, dan mereka pun bersemangat merayakan kreativitas bersastra, bersaing  bersama sastrawan generasi 1990-an serta disokong oleh  sastrawan dari generasi 1980-an dan beberapa dari generasi 1970-an yang masih menunjukkan vitalitas berkarya. Sederet nama sastrawan baru generasi pertengahan 1990 hingga 2000-an ini antara lain: Sainul Hermawan, M. Hasbi Salim, Harie Insani Putra, Abdurrahman Al Hakim, Abdurrahman El Husaini, Isuur Loeweng, M. Nahdiansyah Abdi, Hajriansyah, Elang W. Kusuma, Aliman Syahrani, Shah Kalana Al-Haji, Hardiansyah Asmail, Andi Jamaluddin AR. AK., Fahmi Wahid, Fitriadi, M. Fitran Salam, Joni Wijaya, dll. Para sastrawan ini menulis dalam berbagai genre, seperti puisi, cerpen, esai, dan novel. Pada dekade ini bermunculan pula para penulis perempuan yang rata-rata masih berstatus mahasiswi dan aktivis seni di kampusnya, di antaranya: Nonon Jazouly, Dewi Alfianti, Hudan Nur, Nina Idhiana, Syafiqotul Machmudah, Rahmatiah, Ratih Ayuningrum, Nailiya Nikmah, Anna Fajarona, Endang Fitriani, Rismiyana, Annisa, dan Helwatin Najwa. Karya-karya berupa puisi, cerpen, dan esai sastra para perempuan muda yang pintar, cerdas dan memiliki potensi hebat ini semakin menunjukkan adanya upaya masing-masing mereka untuk mengeksplorasi sumber-sumber penciptaan yang beraneka-warna, dan menjelajahi berbagai kemungkinan bentuk maupun gaya pengucapan. Dan kehadiran maupun peran para sastrawan generasi baru ini setidaknya turut pula memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia di Kalsel. Tetapi, berkaca pada pengalaman, hanya sastrawan yang memang benar-benar mempunyai ketangguhan dan kesungguhan yang terus-menerus untuk menciptakan karya yang berkualitas secara estetik maupun tematik,  gigih dan konsisten, memperlakukan kerja sastra yang identik dengan ‘kekerasan’, ‘kekejaman’, dan ‘berdarah-darah’ yang kemudian mampu mempertahankan eksistensi kesastrawanannya.&lt;br /&gt;Sepanjang tahun 1980 hingga 1990-an, kesusastraan Indonesia mutakhir dilanda hiruk-pikuk dengan terjadinya ledakan-ledakan luar biasa dahsyatnya sehubungan dengan  gerakan sastra secara kolektif yang memunculkan komunitas budaya atau komunitas sastra di berbagai wilayah di Indonesia.   Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP), Komunitas Budaya Buruh Tangerang (BUBUTAN), Roda-Roda Budaya Tangerang, Komunitas Sastra Tegal, untuk menyebut hanya beberapa nama, merupakan gerakan sastra yang mencuat sebagai fenomena pertumbuhan sastra yang menarik. Bahkan di tahun 90-an keberadaan KSI dan RSP menjadi perbincangan dan diangkat sebagai polemik panjang di berbagai media massa nasional.    Menjamurnya  komunitas sastra yang diklaim sebagai lahirnya “pusat-pusat” pergerakan sastra baru ini berbarengan dengan ramainya polemik  tentang “marjinalisasi” sastra Indonesia dan peran para sastrawan akibat sistem penunjang kreativitas yang sangat tidak memadai. Tumbuhnya komunitas-komunitas sastra  ini tak dimungkiri menimbulkan pula  konsekuensi interpretatif beragam baik positif maupun sinisme. Namun yang pasti, kehadiran komunitas-komunitas sastra alternatif ini di samping ingin memperbaiki berbagai ketimpangan yang ada dalam perangkat sistem sastra di Indonesia, tampaknya dimaksudkan juga sebagai upaya ‘perlawanan’ atau ‘pembangkangan’ para sastrawan yang merasa terpinggirkan terhadap pusat-pusat kekuasaan yang melakukan penetrasi terhadap dunia sastra, dalam konteks ini negara, media massa, sekaligus mendobrak arogansi sentralisme dan monopoli para sastrawan mapan yang bertahta di pusat kesenian seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)nya. Dalam pandangan kreatif, lahirnya komunitas sastra merupakan penentangan terhadap legitimasi dan kewibawaan pemegang otoritas sastra di pusat – yang sebelumnya dapat dianggap sebagai penghalang kreativitas.&lt;br /&gt;Bagi sastrawan Kalimantan Selatan, menjamurnya komunitas sastra di berbagai wilayah tanah air sesungguhnya bukan sesuatu yang asing. Di awal 1980-an – selain komite sastra di Dewan Kesenian Kalsel, bidang seni sastra di Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Kalsel, dan Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kalsel serta cabang-cabang HIMSI di berbagai kota dan kabupaten –  khususnya Banjarmasin sebagai ibu kota provinsi, sudah memiliki komunitas sastrawan bernama Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB). Kehadiran HPMB yang didirikan pada tahun 1981 oleh para aktivis sastra – terutama para penyair muda kreatif, gigih, punya daya gerak dan cukup militan – ini  merupakan fenomena tersendiri bagi perjalanan dan persentuhan proses kreatif kepenyairan Kalsel.&lt;br /&gt;Salah satu forum sastra yang terbilang fenomenal pernah diselenggarakan komunitas ini adalah Forum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982 dan Forum Siklus 5 Penyair Banjarmasin di Banjarmasin. Kiprah komunitas ini sempat  mengalami  kevakuman  selama  beberapa  tahun  karena  berbagai  kesibukan  para penggiatnya di luar komunitas.  Akhirnya  pada pertengahan  tahun 1980-an, komunitas ini bubar dengan sendirinya.Walaupun komunitas penyair ini hanya tinggal nama, namun kiprah, andil ataupun sumbangsihnya dalam meramaikan dan merayakan rumah besar sastra di Kalsel bahkan turut pula mewarnai peta sastra tanah air patutlah untuk diapresiasi dan senantiasa dikenang.&lt;br /&gt;Setelah komunitas penyair (HPMB), pada pertengahan tahun 1980-an dunia sastra Kalsel disemarakkan lagi dengan bertumbuhannya komunitas sastra di berbagai daerah kabupaten dan kota, baik yang terorganisir maupun organisasi informal. Namun atmosfer yang tercipta dari komunitas tersebut tentu berpengaruh positif bagi perkembangan dan pertumbuhan sastra di masing-masing wilayah komunitas itu berada. Di Banjarmasin berdiri Bengkel Sastra Banjarmasin, Sanggar Sastra Mandiri, Busur Sastra dan Teater Balambika (BSTB), Lingkaran Sastra Mozaika, Forum Diskusi Sastra Poetica (bermarkas di Taman Budaya Kalsel), Keluarga Penulis Banjarbaru, Dapur Seni Amandito (Kota Banjarbaru), Sanggar Marta Intan (Martapura, Kabupaten Banjar), Posko La Bastari (Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan), Sanggar Sastra Sukmaraga (Kabupaten Hulu Sungai Utara), Sanggar Sastra Mandastana, Sanggar Riak-riak Barito (Kabupaten Barito Kuala), Sanggar Anggrek Harivi (Kabupaten Tanah Laut), Pusat Olah Seni Sastra Kotabaru, Sanggar Bamega 88 (Kabupaten Kotabaru), dan Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Korwil Kalsel. Dari puluhan organisasi komunitas yang berbentuk formal maupun nonformal ini sebagian besar juga tinggal nama alias bubar tanpa alasan yang jelas.&lt;br /&gt;Dekade 1990-an hingga 2000-an, bermunculan pula komunitas-komunitas sastra di berbagai kantong budaya yang pertumbuhan dan perkembangan sastranya cukup meriah.  Seperti  di kota Banjarbaru berdiri komunitas Kilang Sastra Batu Karaha, Forum Taman Hati, Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, Front Budaya Godong Kelor, Rumah Sastra Pelanduk, serta Sanggar Ar Rumi dan Sanggar Matahari, X-Pas Borneo (ketiganya di kota Martapura, kabupaten Banjar), dan beberapa komunitas sastra lainnya, baik yang berjalan sendiri maupun berkelompok.  Sederet  komunitas yang  frekuensi  kegiatan  bersastranya cukup tinggi di beberapa kampus perguruan tinggi negeri maupun swasta dan bermunculannya Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI)  di beberapa  sekolah  menengah atas di Kalsel yang diprakarsai majalah sastra Horison, juga tak bisa diabaikan perannya. Namun dalam perjalanannya, di antara komunitas ini hanya beberapa yang mampu bertahan hidup hingga hari ini.&lt;br /&gt;Menebar Benih Sastra, Meningkatkan Minat Berkarya Sastra&lt;br /&gt;Langkah strategis dalam upaya menebar benih sastra dan meningkatkan minat berkarya sastra perlu dilakukan secara bersama-sama oleh stakeholders, seperti dikemukakan dalam poin-poin berikut:&lt;br /&gt;1. Stakeholders seni budaya (Gubernur, angota DPRD, instansi seni, dan seniman serta budayawan) perlu bersinergi menyatukan langkah dan persepsi untuk membina dan mengembangkan potensi seni sastra. Pembina seni sastra perlu menyusun program peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan sarasehan, seminar, pelatihan, dan bimbingan teknis. Dalam upaya pembinaan seni sastra ini kiranya perlu dimksimalkan peran lembaga  atau organisasi sastra yang dapat mewadahi kiprah sastrawan dan masyarakat dalam berkarya. Masuk dalam pembinaan  ini perlu didirikan sekolah seni, baik tingkat sekolah menengah maupun sekolah tinggi.&lt;br /&gt;2. Materi pembinaan meliputi sastra yang berakar pada budaya daerah dan berssinergi dengan seni arsitektur, seni batik, seni tari, seni musik, seni teater, seni kerajinan, seni desain grafis, seni film, seni rupa, dan seni budaya tradisi di setiap daerah di kabupaten di Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;3. Pembina seni sastra seyogianya dapat memainkan peranannya masing-masing dan secara bersama-sama memajukan seni sastra ke kancah yang lebih luas (regional, nasional, internasional) dengan prinsip think globaly, act localy (berwawasan global, bertindak lokal) seperti falsafah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.&lt;br /&gt;4. Pelaku seni sastra terus berkarya. Aktivitas pelaku seni sastra ini perlu difasilitasi sepantasnya. Pelaku seni sastra ini meliputi organisasi seperti sanggar seni dan aktivitas individual sastrawan. Pelaku ini dalam melaksanakan aktivitasnya perlu dukungan perhatian dan financial yang memadai dan pemberian penghargaan khusus bagi pelaku seni dan budaya oleh pemerintah adalah merupakan hal yang sepantasnya.&lt;br /&gt;5. Jalur pendidikan formal dan nonformal, termasuk pelatihan dan sanggar kerja yang terjdwal penting pula dijadikan tumpuan dalam menebar benih dan ,inat berkarya sastra.&lt;br /&gt;6. Aruh Sastra, sebagai iven yang telah mentradisi dan merupakan bertemunya stakeholders yang terkait dengan minat berkarya sastra kiranya mampu memainkan peranannya secara lebih efektif dn signifikan.&lt;br /&gt;7. Dunia sastra kini, sejalan dengan paradigma yang telah mengglobal, yakni fenomena dunia maya seperti banyaknya blogger, facebokers, twitter, dan grup-grup penulisan kreatif, maka upaya menebar benih sastra dan meningkatkan minat berkarya sastra dapat dilakukan di situs jejaring sosial, apalagi banyak tokoh sastrawan yang memanfaatkan akun ini untuk melakukan "pembinaan" dan apresiasi bagi para pendatang baru di dunia penulisan kreatif.&lt;br /&gt;8. Tujuan akhir paradigma sastra adalah perilaku. Pendidikan sangat sentral untuk membentuk paradigma ini sejak dini, untuk mengarah pada pemahaman dan menumbuhkan daya cipta, mendukung penciptaan insan yang cerdas ESQnya, untuk menghadapi dan bersesuaian dengan lingkungan dari waktu ke waktu, maka peran pendidikan formal dan nonformal tidak dapat diabaikan. Siswa dan mahasiswa adalah ujung tombak dalam pembinaan minat berkarya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**** http://www.facebook.com/notes/yessika-susastra/menebar-benih-sastra-di-  banua-murakata/210913702286023&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-4326716439740270160?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/4326716439740270160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=4326716439740270160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4326716439740270160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4326716439740270160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/06/me-nebar-benih-sastra-di-banua-murakata.html' title='ME&lt;center&gt;NEBAR BENIH SASTRA DI BANUA MURAKATA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-5BbGuKS2xG8/TgXA35varAI/AAAAAAAADZQ/LYKQigkYBrw/s72-c/Yessika%2BSus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-3664259418463496148</id><published>2011-06-23T20:27:00.000-07:00</published><updated>2011-06-23T20:32:50.430-07:00</updated><title type='text'>DAFTAR NAMA PENYAIR/PESERTA PPN V DI PALEMBANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-HkAXob0QUyg/TgQE-tcSpTI/AAAAAAAADZA/05isM26nbKs/s1600/Anwar%2BPutra%2BBayu%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 100px; height: 171px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-HkAXob0QUyg/TgQE-tcSpTI/AAAAAAAADZA/05isM26nbKs/s200/Anwar%2BPutra%2BBayu%2B2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5621623710261880114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Panitia penyelenggara PPN V di Palembang, 16-19 Juli 2011 menargetkan 200 peserta yang diundang sebagai peserta PPN V, sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDONESIA (149):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. AA. Ajang&lt;br /&gt;2. Ganjar Sudibyo&lt;br /&gt;3. A. Rahim Qahhar&lt;br /&gt;4. Abdul Latif Apriaman&lt;br /&gt;5. Abdul Salam. Hs&lt;br /&gt;6. Abduhrrahman El Husaini&lt;br /&gt;7. Abidah El Khaleqi&lt;br /&gt;8. Acep Syahril&lt;br /&gt;9. Acep Zamam Noor&lt;br /&gt;10. Afrion&lt;br /&gt;11. Agit Yogi Subandi&lt;br /&gt;12. Ahmad Kekal Hamdani&lt;br /&gt;13. Ahmmad Wayang&lt;br /&gt;14. Ahmadun Yosi Herfanda&lt;br /&gt;15. Akaha Taufan Aminuddin&lt;br /&gt;16. Akidah Gauzillah&lt;br /&gt;17. Alex R Nainggolan&lt;br /&gt;18. Ali Syamsudin Arsi&lt;br /&gt;19. Alizar Tanjung&lt;br /&gt;20. Alya Salaisha Shinta&lt;br /&gt;21. Amien Wangsatalaja&lt;br /&gt;22. Anisa Afzal&lt;br /&gt;23. Anjungbuana&lt;br /&gt;24. Anwar Putra Bayu&lt;br /&gt;25. Arafat Nur&lt;br /&gt;26. Arie Mp Tamba&lt;br /&gt;27. Arief Rahman Heriansyah&lt;br /&gt;28. Arieyoko KSMB&lt;br /&gt;29. Arsyad Indradi&lt;br /&gt;30. Asrizal Nur&lt;br /&gt;31. Azzura Dayana&lt;br /&gt;32. Badrul Munir Chair&lt;br /&gt;33. Bambang Widiatmoko&lt;br /&gt;34. Benny Arnas&lt;br /&gt;35. Bode Riswandi&lt;br /&gt;36. Budhi Setyawan&lt;br /&gt;37. Budi Saputra&lt;br /&gt;38. Bustan Maras&lt;br /&gt;39. C.H. Yurma&lt;br /&gt;40. D. Kemalawati&lt;br /&gt;41. Dad Murniah&lt;br /&gt;42. Dg. Kumarsana&lt;br /&gt;43. Dharmadi&lt;br /&gt;44. Dheni Kurnia&lt;br /&gt;45. Dhenok Kristianti&lt;br /&gt;46. Diah Hadaning&lt;br /&gt;47. Dian hartati&lt;br /&gt;48. Dimas Arika Miharja&lt;br /&gt;49. Dody Kristianto&lt;br /&gt;50. Doel Cp Alisyah&lt;br /&gt;51. Dony p. Herwanto&lt;br /&gt;52. Dwi S Wibowo&lt;br /&gt;53. Dyah Setyawati&lt;br /&gt;54. Eddy Pranata Pnp&lt;br /&gt;55. Efendi Danata&lt;br /&gt;56. Eko Putra&lt;br /&gt;57. Eko Triono&lt;br /&gt;58. Endang Supriadi&lt;br /&gt;59. Esha Tegar Putra&lt;br /&gt;60. Evi Idawati&lt;br /&gt;61. Eza Thabary Husano&lt;br /&gt;62. Faisal Syahreza&lt;br /&gt;63. Fakhrunas Ma Jabar&lt;br /&gt;64. Fatin Hamama&lt;br /&gt;65. Fikar. W. Eda&lt;br /&gt;66. Firman Venayaksa&lt;br /&gt;67. Fitri Yani&lt;br /&gt;68. Frans Ekodhanto&lt;br /&gt;69. Gampang Prawoto&lt;br /&gt;70. Gunoto Saparie&lt;br /&gt;71. Hafney Maulana&lt;br /&gt;72. Hasan Al Bana&lt;br /&gt;73. Hasan Bisri Bfc&lt;br /&gt;74. Heri Maja&lt;br /&gt;75. Heru Emka&lt;br /&gt;76. Hudan Nur&lt;br /&gt;77. Husen Arifin&lt;br /&gt;78. Husnu Abadi&lt;br /&gt;79. Husnul Khuluqi&lt;br /&gt;80. Ian Sanchin&lt;br /&gt;81. Idris Siregar&lt;br /&gt;82. Inggit Putria Marga&lt;br /&gt;83. Irvan Mulyadie&lt;br /&gt;84. Irwan Sofwan&lt;br /&gt;85. Isbedy Stiawan Zs&lt;br /&gt;86. Iverdixon Tinungki&lt;br /&gt;87. Jamal. T. Suryana&lt;br /&gt;88. J.J. Polong&lt;br /&gt;89. Jumardi Putra&lt;br /&gt;90. Jumari. Hs&lt;br /&gt;91. Kijoen&lt;br /&gt;92. Kiki Sulistyo&lt;br /&gt;93. Kurnia Effendi&lt;br /&gt;94. Lanang Setiawan&lt;br /&gt;95. L. K Ara&lt;br /&gt;96. M. Enthieh Mudakir&lt;br /&gt;97. M. Iqbal J. Permana&lt;br /&gt;98. M. Raudah jambak&lt;br /&gt;99. Mahmud Jauhari Ali&lt;br /&gt;100. Maualana Satrya Sinaga&lt;br /&gt;10 1. Muda Wijaya&lt;br /&gt;102. Muhammad Ibrahim Ilyas&lt;br /&gt;103. Mulyadi J. Malik&lt;br /&gt;104. Nana Riskhi Susanti&lt;br /&gt;105. Nanang Suryadi&lt;br /&gt;106. Nandang Darana&lt;br /&gt;107. Nugraha Umur Kayu&lt;br /&gt;108. Nurochman Sudibyo. YS&lt;br /&gt;109. Pringadi Abdi Surya&lt;br /&gt;110. R. Griyadi&lt;br /&gt;111. Rama Prabu&lt;br /&gt;112. Ramayani Riance&lt;br /&gt;113. Rara Gendis&lt;br /&gt;114. Remy Novaris&lt;br /&gt;115. Rifan Nazhip&lt;br /&gt;116. Rini F Hauri&lt;br /&gt;117. Rio Fitra. SY.&lt;br /&gt;118. Rozi Kembara&lt;br /&gt;119. Salman. S. Yoga&lt;br /&gt;120. Sandi Firly&lt;br /&gt;121. Satmoko Budi Santoso&lt;br /&gt;122. Shohifur Ridho Ilahi&lt;br /&gt;123. Sides Sudyarto. DS.&lt;br /&gt;124. Sihar Ramses Simatupang&lt;br /&gt;125. Shobir Peor&lt;br /&gt;126. Sulaiman Tripa&lt;br /&gt;127. Suyadi San&lt;br /&gt;128. Syahdaka Musyfiq Abadaka&lt;br /&gt;129. Syaifudin Gani&lt;br /&gt;130. Syamsu Indra Usman&lt;br /&gt;131. Syarif Hidayatullah&lt;br /&gt;132. T. Wijaya&lt;br /&gt;133. Tarmizi Rumahitam&lt;br /&gt;134. Tjahjono  Widarmanto&lt;br /&gt;135. Tjahjono Widijanto&lt;br /&gt;136. Toton Dai Permana&lt;br /&gt;137. Viddy Ad Daeri&lt;br /&gt;138. Wahyu Din Talo&lt;br /&gt;139. Wayan Sunarta&lt;br /&gt;140. Yopi Setia Umbara&lt;br /&gt;141. Yoyon Amilin&lt;br /&gt;142. Yusri Fajar&lt;br /&gt;143. Zulhamdi. AS&lt;br /&gt;144. Prof.Dr. Budi Darma&lt;br /&gt;145. Dr. Taufik Ismail&lt;br /&gt;146. Chapcay&lt;br /&gt;147. Tarech Rasyid&lt;br /&gt;148. Dr. Ganjar Hwia&lt;br /&gt;149. Sutardji Calzoum Bachri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAYSIA (18)&lt;br /&gt;1. Arisel Ba&lt;br /&gt;2. Wan A. Rafar&lt;br /&gt;3.  Dato Kemala&lt;br /&gt;4. SM. Zakir&lt;br /&gt;5. Khalid Salleh&lt;br /&gt;6. Shapiai Mohd Ramly&lt;br /&gt;7. Shamsudin Othman&lt;br /&gt;8. Rosmiaty Shaari&lt;br /&gt;9. Nimois. T.Y&lt;br /&gt;10. Naapie Mat1&lt;br /&gt;11. N. Faisal Ghazali&lt;br /&gt;12. Mohd. Amran daud&lt;br /&gt;13.  Prof. Irwan Abubakar&lt;br /&gt;14. Prof. Muhammad Haji Salleh&lt;br /&gt;15. Rahimidin Zahari&lt;br /&gt;16. Tan Sri Dato’ Dr Ismail Hussein&lt;br /&gt;17. Dr. Ibrahim Ghaffar&lt;br /&gt;18. Mualim Ghazalie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINGAPORE (8)&lt;br /&gt;1. Ahmad Md Tahir&lt;br /&gt;2. Sk. Cinta Zeni&lt;br /&gt;3. Johar Buang&lt;br /&gt;4. Rasiah Halil&lt;br /&gt;5. Noor Hasnah Adam&lt;br /&gt;6. Muhammad Jailani Bin Abu Talib&lt;br /&gt;7. Herman Mutiara&lt;br /&gt;8. Djamal Tukimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BRUNEI DARUSSALAM (8)&lt;br /&gt;1. Addy&lt;br /&gt;2. Selmi Mesra&lt;br /&gt;3. Rahimi  A.B&lt;br /&gt;4. Kamar D51&lt;br /&gt;5. Zefri Ariff&lt;br /&gt;6.  Mohd. Khairol Nazwan&lt;br /&gt;7. Mohd. Shahrin bin Haji Metussin (Adi Swara)&lt;br /&gt;8. Suip bin Hj. Abd. Wahab (nurfik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THAILAND (8)&lt;br /&gt;1. Hamra Hasan (Dr. Nik Abdullah)&lt;br /&gt;2. Phaosan Jehwae&lt;br /&gt;3. Mr.  Set   Al-Jufri&lt;br /&gt;4. Mr. Asmarn  Tohmeena&lt;br /&gt;5. Mrs. Che Faridah  Tohmeena&lt;br /&gt;6. Ustaz  Ridwan  Hassan&lt;br /&gt;7. Mr. Sawawee  Pakda Amin&lt;br /&gt;8. Miss Charidja  NikWan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link : http://pertemuanpenyairnusantara.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-3664259418463496148?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/3664259418463496148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=3664259418463496148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3664259418463496148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3664259418463496148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/06/daftar-nama-penyairpeserta-ppn-v-di.html' title='&lt;center&gt;DAFTAR NAMA PENYAIR/PESERTA PPN V DI PALEMBANG&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-HkAXob0QUyg/TgQE-tcSpTI/AAAAAAAADZA/05isM26nbKs/s72-c/Anwar%2BPutra%2BBayu%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-8109630303686706267</id><published>2011-06-15T08:25:00.000-07:00</published><updated>2011-06-24T09:34:41.551-07:00</updated><title type='text'>LOMBA CIPTA PUISI,MENULIS CERPEN, CERITA RAKYAT DAN PAGELARAN SASTRA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rangka Aruh Sastra ke-8 Kalimantan Selatan di Barabai HST, tgl 16 – 19 September 2011 dengan Tema “ Menebar Benih Sastra di Banua Murakata”, Panitia Penyelenggara  membuka kesempatan bagi penulis yang berdomisili di wilayah Kalimantan Selatan untuk mengikuti  beberapa lomba yaitu :&lt;br /&gt;1) Lomba cipta puisi bahasa Indonesia, tema bebas.&lt;br /&gt;2) Lomba menulis cerpen bahasa Indonesia, tema bebes.&lt;br /&gt;3) Lomba menulis cerita rakyat berkisar cerita rakyat yang ada di daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah.&lt;br /&gt;Masing-masing mata lomba, peserta boleh mengirimkan maksimal 3 (tiga) karyanya yang ditulis tahun 2010/2011 + biodata singkat + foto,asli tidak saduran/jiplakan,belum pernah dipublikasikan di media cetak/internet atau sedang diikutkan pada lomba yang lain.&lt;br /&gt;Untuk lomba puisi, panjang puisi maksimal dua kwarto dan untuk lomba cerpen dan kisah rakyat 4-7 kwarto, font 12 times new roman diketik satu setengah spasi.&lt;br /&gt;Naskah masing-masing lomba sebanyak  4(empat) rangkap dimasukkan ke dalam amplop, di sudut kanan atas amplop ditulis  jenis lomba yang diikuti dan sudah masuk ke panitia melalui post  atau diantar sendiri dengan alamat DISBUDPARPORA Kabupaten HST di Barabai Jl.H.Abdul  Muis Redhani Kelurahan Barabari Timur Kec.Barabai Kab.HST &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;atau kirim ke email fahmi.wahid64@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, &lt;/span&gt;selambatnya 30 Juli 2011.&lt;br /&gt;Hadiah-hadiah sbb :&lt;br /&gt;1) Lomba cipta puisi dan menulis cerpen bahasa Indonesia :&lt;br /&gt;Pemenang I,II,III dan Harapan I,II,III dari masing-masing mata lomba akan mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan.( Rp 2.000.000, Rp 1.500.000, Rp 1.000.000, Rp 750.000. Rp 500.000, Rp 400.000 )&lt;br /&gt;2) Lomba menulis cerita rakyat :&lt;br /&gt;Pemenang I,II,III dan harapan I,II,III akan mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan ( Rp 1.500.000, Rp 1.000.000, Rp 750.000, Rp 600.000, Rp 500.000, Rp 400.000 )&lt;br /&gt;Pemenang I sampai harapan III dan yang dipilih masing-masing mata lomba akan di antologikan.&lt;br /&gt;4. Khusus lomba Pagelaran Sastra :&lt;br /&gt;Setiap Kabupaten/Kota dapat mengirimkan satu kelompok maksimal anggotanya 12 (dua belas orang) yang teridiri dari pemain,pemusik dan krew.&lt;br /&gt;Yang dipergelarkan memilih salah satu cerpen yaitu :&lt;br /&gt;a. Bunglon karya Anton Cekov&lt;br /&gt;b. Lurik karya Hasan Al Banna&lt;br /&gt;c. Lukisan Angsa karya Fakhrunas MA Jabbar&lt;br /&gt;d. Buaya Putih karya Ajamudin Tifani&lt;br /&gt;e. Sanja Kuning karya Sandi Firly&lt;br /&gt;Durasi penampilan maksimal 15 menit.( diluar pengaturan setting )&lt;br /&gt;Hadiah : Pemenang I,II,III dan Harapan I,II,III akam mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan masing – masing Rp 5.000.000, Rp 4.500.000, Rp 4.000.000, Rp 3.500.000, Rp 3.000.000, Rp 2.500.000,-&lt;br /&gt;Disamping lomba Panitia juga mengharapkan partisifasi penyair yang berdomisi di wilayah Kalsel untuk mengirimkan karya puisinya sebanyak  3 (tiga) puisi + bioadata singkat + foto yang akan diterbitkan dalam sebuah antologi puisi. Karya puisi dimasukan dalam amplop dan di sudut kanan atas amplop ditulis Antologi Puisi dikirim melelui post atau diantar sendiri dengan alamat DISBUDPARPORA Kab.HST di Barabai Jl.Abdul  Muis Redhani Kelurahan Barabari Timur Kec.Barabai Kab.HST &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;atau kirim ke email &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;fahmi.wahid64@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, selambatnya 30 Juli 2011&lt;br /&gt;Yang belum jelas silakan kontak person 081351128514 / 081348120891&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Salam Sastra&lt;br /&gt;Panitia Aruh Sastra ke-8 Kalsel di Barabai HST&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-8109630303686706267?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/8109630303686706267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=8109630303686706267' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8109630303686706267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8109630303686706267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/06/lomba-cipta-puisimenulis-cerpen-cerita.html' title='&lt;center&gt;LOMBA CIPTA PUISI,MENULIS CERPEN, CERITA RAKYAT DAN PAGELARAN SASTRA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-8537073610770614554</id><published>2011-06-09T04:34:00.000-07:00</published><updated>2011-06-09T04:40:41.802-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>Arsyad : Kasihan Kesultanan Banjar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-EhkI2rKurdI/TfCxJE2f0WI/AAAAAAAADYg/xZe0jMXatI0/s1600/Kesultanan%2BBanjar.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 391px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-EhkI2rKurdI/TfCxJE2f0WI/AAAAAAAADYg/xZe0jMXatI0/s400/Kesultanan%2BBanjar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616183504810266978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah seniman Sirajul Huda yang mengaku tak diminta izin tarian “Japin Rantawan”&lt;br /&gt;ciptaannya dibawakan tim Kesultanan Banjar di “Tong Tong Fair” Belandan, giliran seniman Kalsel Arsyad Indradi mengaku hal sama. Arsyad Indradi selaku pencipta Tari Semangat Ratu Zaleha yang dibawakan oleh kesenian Sanggar Kesultanan Banjar, mengaku terkejut tariannya dibawakan. “Saya terkejut. Sebab baru sekarang tahu tarian ciptaan saya itu dibawakan ke Eropah. Saya bangga dan sangat senang mendengarnya” ucap seniman tari ini kepada MK, diBanjarbaru,kemarin (2/6). “Namun saya sangat sangat menyayangkan kepada Tim Kesenian Kesultanan Banjar itu yang tak konfirmasi (izin) terlebih dalu kepada saya sampai keberangkatannya” tambahnya.&lt;br /&gt;Menurut Arsyad, hal ini memberikan kesan buruk kepada pihak Kesultanan. Ia menyatakan itu sebagai ketidaksopanan para Tim Kesenian Kesultanan Banjar.&lt;br /&gt;“Kasihan Kesultanan yang tidak tahu-menahu. Dan dalam hal ini menjadi prasangka yang macam-macam dari berbagai kalangan yang tidak paham. Jika tahu adat-istiadat, tentunya Tim Kesenian Kesultanan Banjar ini akan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;bapadah.&lt;/span&gt;” Sesungguhnya aku bukan ingin dihormati ataupun disangka ingin “&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;bakasak&lt;/span&gt;” ikut tetapi seyogyanyalah bapadah kepada koreorafernya,”ucapnya.&lt;br /&gt;Arsyad bahkan mengaku berterima kasih dan mengizinkan dengan tulus bila minta izin.”Sebab bagaimanapun juga ini menyangkut nama penciptanya, manakala dibacakan sinopsisnya dan nama koregrafernya sebelum tarian itu ditampilkan. Apalagi setelah diketahui bahwa penari Tim Kesenian Kesultanan Banjar itu penari pemula yang baru belajar, tidak profisional.” ujar Arsyad yang juga dikenal sebagai penyair.&lt;br /&gt;Bahkan Arsyad agak was-was, jangan-jangan ragam gerak Tari Semangat Ratu Zaleha keliru dan tidak menyebutkan namanya sebagai penciptanya atau diganti dengan nama orang lain “Karena aku mengetahui pelatih tari dan semua penarinya bukan penari profisional alias pemula,”ucapnya.&lt;br /&gt;Seharusnya,lanjut Arsyad, Tim Kesenian Kesultanan Banjar (yang bertanggung jawab) memunculkan batang hidungnya guna meminta izin sebelum keberangkatan. “Sebenarnya kejadian ini adalah pembelajaran bagi kita semua bahwa kita harus selalu menjunjung tinggi hak cipta dan menghargai hasil karya seniman. Maaf, bukan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;seniman dadakan&lt;/span&gt; atau&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; seniman tempelan.&lt;/span&gt; Agar seni Budya Banjar dan Adat-istiadat Tanah Banjar selalu lestari. Semoga”,pungkasnya ( ananda-kmk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Harian Media Kalimantan,Jumat,3 Juni 2011.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-8537073610770614554?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/8537073610770614554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=8537073610770614554' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8537073610770614554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8537073610770614554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/06/arsyad-kasihan-kesultanan-banjar.html' title='&lt;center&gt;Arsyad : Kasihan Kesultanan Banjar&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-EhkI2rKurdI/TfCxJE2f0WI/AAAAAAAADYg/xZe0jMXatI0/s72-c/Kesultanan%2BBanjar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-5088599302652536587</id><published>2011-05-27T04:06:00.000-07:00</published><updated>2011-05-27T04:10:18.091-07:00</updated><title type='text'>Tiga Buku Sastra Spektakuler  Akan Diluncurkan dalam Dialog Borneo-Kalimantan XI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-2E63sRPrFIk/Td-GNSPMH0I/AAAAAAAADX0/hFhyYAJesX4/s1600/Aminuddin%252BRifa%2527i.tif.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 100px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-2E63sRPrFIk/Td-GNSPMH0I/AAAAAAAADX0/hFhyYAJesX4/s200/Aminuddin%252BRifa%2527i.tif.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611351223518895938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dialog Borneo-Kalimantan merupakan acara pertemuan sastra internasional yang melibatkan para sastrawan tiga negara satu pulau, yaitu pulau Borneo atau Kalimantan. Ketiga negara yang terlibat adalah Indonesia (Kaltim, Kalsel, Kalteng, Kalbar), Malaysia Timur (Sabah, Sarawak, Labuan, Miri), dan Brunei Darussalam. Acara pertemuan ini diadakan tiap dua tahun sekali dengan bergiliran tempat pelaksanaannya. Kalimantan Timur siap menjadi tuan rumah untuk pertemuan yang kesebelas di tahun 2011 ini.&lt;br /&gt;Dialog Borneo-Kalimantan XI direncanakan akan berlangsung pada 5-7 Juli 2011 di Samarinda. Beberapa rangkaian acara akan mewarnai Dialog Borneo-Kalimantan XI ini. Acara utamanya berupa seminar sastra dengan menghadirkan pemakalah dari ketiga negara. Acara juga dilengkapi dengan malam pementasan karya sastra dari berbagai wilayah dan negara. Kegiatan akan dipusatkan di Ruang Serbaguna Kantor Gubernur Kaltim dengan diawali jamuan makan malam di Pendopo Lamin Etam.&lt;br /&gt;Acara ini diikuti oleh para undangan serta masyarakat pecinta sastra di Kaltim sebagai tuan rumah. Undangan terdiri dari para sastrawan atau karyawan dari tiga negara se-Kalimantan atau se-Borneo. Diundang juga beberapa sastrawan/karyawan dari luar Borneo—seperti Jawa, Malaysia Semenanjung, dan Singapura—untuk menjadi peninjau. Bagi masyarakat pecinta sastra di Kaltim yang berminat mengikuti kegiatan ini dapat mendaftarkan diri pada Panitia yang bersekretariat di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, di Samarinda.&lt;br /&gt;Panitia juga menyiapkan penerbitan tiga buku sastra yang akan diluncurkan pada acara itu, yaitu buku Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia, Kalimantan dalam Prosa Indonesia, dan Kalimantan dalam Puisi Indonesia. Ketiga buku ini dieditori oleh sastrawan Kaltim Korrie Layun Rampan. Buku-buku ini akan dibagikan kepada para undangan yang telah mendaftarkan diri.&lt;br /&gt;Naskah ketiga buku ini sudah dirancang lama oleh Korrie Layun Rampan, yaitu sejak tahun 2007, dengan berbagai kendalanya. “Tiga naskah yang  hampir rampung pada awal 2009 dan telah mencapai sekitar 3000 halaman ketik satu spasi, lebih dari separonya tak terselamatkan terkena virus. Bahan-bahan yang ada harus diketik ulang karena umumnya bahan-bahan itu diseleksi dari berbagai penerbitan yang diburu di berbagai tempat, baik di Kalimantan maupun di berbagai perpustakaan di Jakarta, Medan, Banjarmasin, Surabaya, Mataram, Yogyakarta, Semarang, Malang, Jambi, Bandung, dan lain-lain,” demikian Korrie menceritakan suka duka penyusunan buku-buku ini.&lt;br /&gt;Dengan gigih, Korrie mencari cara untuk mengganti naskah-naskah yang hilang. Dan akhirnya naskah-naskah ini dapat juga disiapkan, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Di antara sastrawan yang terlibat membantu dalam pengumpulan naskah adalah Abdul Rahim Hasibuan, Amien Wangsitalaja, Shantined, dan Zulhamdani AS.&lt;br /&gt;Penerbitan ketiga buku yang keseluruhannya hampir mencapai 3000 halaman tentu membutuhkan ketelitian tersendiri. Untuk itu Korrie dibantu beberapa ahli bahasa yang bertindak sebagai pemeriksa aksara, yaitu Diyan Kurniawati, M.Hum., Nurul Masfufah, M.Pd., dan R.M. Sunny, S.Pd. Setelah itu, naskah masih dibaca dan diedit ulang. Bertindak sebagai proofreader (pembaca ahli) adalah Amien Wangsitalaja yang sekaligus menjadi co-editor.&lt;br /&gt;Buku Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia memperlihatkan perjalanan sastra di Kaltim sejak lahirnya sastra Indonesia modern pada tahun 1946 di Kalimantan Timur. Buku ini merupakan vademecum atau ensiklopedi historis perjalanan sastra Indonesia di Kalimantan Timur. Memuat karya dari hampir seluruh sastrawan dan para pemerhati sastra di daerah ini dari yang tertua kelahiran tahun 1923 sampai yang termuda kelahiran 1994. Buku ini merupakan antologi kompilasi, di dalamnya dimuat karya-karya berupa puisi, cerpen, drama, penggalan novel, dan esai/kritik dari 150 karyawan/penulis Kaltim.&lt;br /&gt;Sementara itu, buku Kalimantan dalam Prosa Indonesia dan Kalimantan dalam Puisi Indonesia merupakan buku yang memperlihatkan eksistensi sastra Indonesia yang lahir dari para sastrawan Kalimantan dari empat provinsi, terutama mereka yang masih giat berkiprah dan penuh antusiasme menulis karya prosa dan puisi hingga kini. Dalam buku Kalimantan dalam Prosa Indonesia dimuat karya prosa (esei, cerpen, drama) dari 55 karyawan/penulis se-Kalimantan dan dalam buku Kalimantan dalam Puisi Indonesia dimuat puisi-puisi dari 60 penyair se-Kalimantan.&lt;br /&gt;Kepada semua karyawan/penulis (atau ahli warisnya) yang termuat dalam ketiga buku ini juga akan dibagikan buku gratis dan honorarium alakadarnya. Untuk itu mereka juga diharapkan mendaftarkan diri pada Panitia. “Panitia akan berusaha menyampaikan undangan kepada seluruh penulis yang tulisannya dimuat, tapi akan lebih baik jika para penulis atau ahli warisnya juga proaktif menghubungi Panitia karena ada beberapa nama yang Panitia kesulitan mendapatkan alamat lengkapnya,” demikian penjelasan Panitia.&lt;br /&gt;Berikut adalah daftar para karyawan/penulis yang karyanya dimuat dalam ketiga buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Nama 150 Karyawan (Penulis Karya) Kaltim yang Karyanya Dimuat dalam Buku&lt;br /&gt;Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. KADRIE OENING (1923-1989)         &lt;br /&gt;2. SYARIFAH MARYAM BARAKBAH (1926-2000)    &lt;br /&gt;3. HAJI AMIR (1926-2000)        &lt;br /&gt;4. AHMAD DAHLAN (1928-1986)       &lt;br /&gt;5. M. SJARWANI MISKAN (1928-....)      &lt;br /&gt;6. MANSYAH USMAN (1928-1998)      &lt;br /&gt;7. BURHAN DAHLAN (1931-2000)      &lt;br /&gt;8. H. HASANI HA (1932-….)       &lt;br /&gt;9. HERMAN SYUKUR (1933-….)        &lt;br /&gt;10. BADARUDDIN HAMIDY (1934-2007)     &lt;br /&gt;11. MASWAN DACHRI (....-....)       &lt;br /&gt;12. ACHMAD NOOR (1934-….)        &lt;br /&gt;13. MASRAN (....-....)         &lt;br /&gt;14. M. ARDIN KATUNG (1935-…)      &lt;br /&gt;15. SUHANA (....-....)         &lt;br /&gt;16. OEMARMAYAH E.HS (….-….)       &lt;br /&gt;17. NATHANAEL NB (1936-2004)        &lt;br /&gt;18. H. MOHAMMAD AINI (1937-....)       &lt;br /&gt;19. FLORA INGLIN HARRY MOERDANI (1938-….)     &lt;br /&gt;20. M. SATTAR MISKAN (1938-….)       &lt;br /&gt;21. MASDARI AHMAD (1939-....)        &lt;br /&gt;22. H.M.A. TUMENGGUNG (....-….)       &lt;br /&gt;23. BACHRIN MASJHOER (1941-….)      &lt;br /&gt;24. RUSMALA DEWI (1941-….)       &lt;br /&gt;25. AWANG SHABRIANSJAH (....-….)       &lt;br /&gt;26. SUDIN HADIMULYA (1942-2009)       &lt;br /&gt;27. YURNALIS NGAYOH (1942-…)       &lt;br /&gt;28. HAMDI AK (1942-….)         &lt;br /&gt;29. IBRAMSYAH AMANDIT (1943-...)       &lt;br /&gt;30. ACHMAD RIZANI ASNAWI (1944-2002)      &lt;br /&gt;31. IMDAAD HAMID (1944-....)        &lt;br /&gt;32.  DJUMRI OBENG (1945-….)       &lt;br /&gt;33. YULLY REDZIE (1945-....)        &lt;br /&gt;34. JOHANSYAH BALHAM (1947-....)       &lt;br /&gt;35. M. JAFAR HARUNA (1951-….)      &lt;br /&gt;36. KARNO WAHID (1953-....)        &lt;br /&gt;37. KORRIE LAYUN RAMPAN (1953-….)        &lt;br /&gt;38.YUVENALIS PAMUNG (1954-....)       &lt;br /&gt;39. BUDDY WARGA (DATUK MARANGAN) (1954-....)   &lt;br /&gt;40. TATANG DINO HERRO (1955-....)       &lt;br /&gt;41. S. IBRAHIM KONONG (....-....)       &lt;br /&gt;42. MUGNI BAHARUDDIN (1955-....)       &lt;br /&gt;43. ABDUL RAHIM HASIBUAN (1956-….)      &lt;br /&gt;44. YUVENALIS LAHAJIR (1957-….)       &lt;br /&gt;45. MASRIADY MASTUR (1957-2008)       &lt;br /&gt;46. MIZIANSYAH J. (1957-2008)       &lt;br /&gt;47. ANDI BURHANUDDIN SOLONG (1957-....)      &lt;br /&gt;48. NANANG RIJONO (1958-....)        &lt;br /&gt;49. SYAFRIL TEHA NOER (1958-....)       &lt;br /&gt;50. ZULHAMDANI AS (1958-….)        &lt;br /&gt;51. ROEDY HARYO WIDJONO AMZ (1958-….)     &lt;br /&gt;52. RIZAL EFFENDI (1958-....)        &lt;br /&gt;53. SYAFRUDDIN PERNYATA (1958-....)      &lt;br /&gt;54. SYAMSUL KHAIDIR (1958-2009)   &lt;br /&gt;55. ADAM A. CHIEFNI (....-....)        &lt;br /&gt;56. YADI AM (....-....)         &lt;br /&gt;57. FIECE ESF (....-....)         &lt;br /&gt;58. DIAN SAREH CH (....-....)        &lt;br /&gt;59. MISMAN RSU (1959-....)        &lt;br /&gt;60. MARYATI (1959-....)          &lt;br /&gt;61. SAPRUDIN ITHUR (1960-....)        &lt;br /&gt;62. SUKARDHI WAHYUDI (1960-....)       &lt;br /&gt;63. KONY FAHRAN (1960-....)       &lt;br /&gt;64. HAMDANI (1960-....)         &lt;br /&gt;65. UNTUNG ERHA (1960-....)        &lt;br /&gt;66. ANDROECIA DARWIS (1961-....)       &lt;br /&gt;67. HABOLHASAN ASYARI (1961-....)       &lt;br /&gt;68. HADRI A. BASYIR (1962-....)        &lt;br /&gt;69. HERRY TRUNAJAYA BS (1962-....)       &lt;br /&gt;70. DJAHAR MUZAKIR (1963-....)       &lt;br /&gt;71. SYAIFUL ARIFIN (1963-....)        &lt;br /&gt;72. ELANSYAH JAMHARI (1964-....)       &lt;br /&gt;73. YAYA W.S. ARIA SANTYKA (1965-....)     &lt;br /&gt;74. SUNARYO BROTO (1965-....)        &lt;br /&gt;75. HERMAN A. SALAM (1965-....)       &lt;br /&gt;76. HAMSI HAMZAH (1965-....)        &lt;br /&gt;77. PARDI SURATNO (....-....)       &lt;br /&gt;78. AGUS MUSTAPA (1966-....)       &lt;br /&gt;79. WIDI MULYONO (1966-....)       &lt;br /&gt;80. FATIMAH ASYARI (1966-....)        &lt;br /&gt;81. SITI JUMARIYAH (1967-....)       &lt;br /&gt;82. DATU ISKANDAR ZULKARNAEN (1968-....)    &lt;br /&gt;83. ATIK SULISTYOWATI (1968-....)      &lt;br /&gt;84. ANIROH (1968-....)         &lt;br /&gt;85. ATIK SRI RAHAYU (1970-....)       &lt;br /&gt;86. YUDIANTI HERAWATI (1971-....)       &lt;br /&gt;87. HASAN ASPAHANI (1971-....)       &lt;br /&gt;88. GUS NOY (1971-....)         &lt;br /&gt;89. AMIEN WANGSITALAJA (1972-....)       &lt;br /&gt;90. RIATRI LESTARI SOEMARIYONO (1972-2009)     &lt;br /&gt;91. DIDIEN OELOEN (1972-....)        &lt;br /&gt;92. SARI AZIS (1972-....)         &lt;br /&gt;93. LENY ROSTANTRI (1972-....)       &lt;br /&gt;94. SHANTINED (1972....)        &lt;br /&gt;95. ARIF ER RAHMAN (1972-....)       &lt;br /&gt;96. ANNA MARY (1973-...)         &lt;br /&gt;97. RITA WIDYASARI (1973-....)       &lt;br /&gt;98. MOYANK (1974-....)        &lt;br /&gt;99. BRILL A. MARLUDI (1974-....)      &lt;br /&gt;100. DAIAN @ DIYAN KURNIAWATI (1975-....)     &lt;br /&gt;101. RINA MEYLANI (1975-....)        &lt;br /&gt;102. eMeN @ MIRA NURHAYATI (1975-....)     &lt;br /&gt;103. NUR_N (1975-....)        &lt;br /&gt;104. D. SUDARYA (1976-....)       &lt;br /&gt;105. DANI JULIUS (1976-....)       &lt;br /&gt;106. ANDI A. HARBAS (....-....)        &lt;br /&gt;107. HERMIYANA (1976-....)       &lt;br /&gt;108. UNI SAGENA HASYIM (1977-....)       &lt;br /&gt;109. KAHAR AL BAHRI (1977-....)       &lt;br /&gt;110. NURUL MASFUFAH (1977-....)       &lt;br /&gt;111. MUHAMMAD SADLI (1978-....)       &lt;br /&gt;112. HANAFI KOETAI (1978-….)       &lt;br /&gt;113. SULTANI (1979-....)         &lt;br /&gt;114. ALYA KHASFY (1980-....)        &lt;br /&gt;115. DIDIK ERI SUKIANTO (1980-....)       &lt;br /&gt;116. SOPHIE (1980-....)          &lt;br /&gt;117. ALLIANDA (....-....)         &lt;br /&gt;118. TRI WAHYUNI (1980-....)        &lt;br /&gt;119. D.H. DEVITA (1980-....)        &lt;br /&gt;120. NAJMA AIKO (1980-....)        &lt;br /&gt;121. BASIR DAUD (1981-....)        &lt;br /&gt;122. KHOIRIYYATUZZAHRO (1981-....)       &lt;br /&gt;123. GITA LIDYA (1981-....)        &lt;br /&gt;124. NOVIETA CHRISTINA (1981-....)      &lt;br /&gt;125. FACHMI RACHMAN (1981-....)       &lt;br /&gt;126. MAYA WULAN (1982-....)       &lt;br /&gt;127. NURNI JURNI (1983-....)        &lt;br /&gt;128. ERNA W. (1983-....)         &lt;br /&gt;129. CHITA WIJAYA (1985-....)        &lt;br /&gt;130. dEN CIPTO (1985-....)         &lt;br /&gt;131. DIAN HERAWATI SITUMORANG (1985-....)      &lt;br /&gt;132. KARTIKA HERIYANI (1987-....)       &lt;br /&gt;133. JURAIDAH SUTRA (1987-....)       &lt;br /&gt;134. SITI MALEHA (1987-....)       &lt;br /&gt;135. ANTUNG FIRMANDANA (1988-....)      &lt;br /&gt;136. ANDRIANE URAN (....-....)  &lt;br /&gt;137. DHENOK PRATIWI  (1989-....)      &lt;br /&gt;138. FLOS SOCRA (1989-....)        &lt;br /&gt;139. FITRIANI UM SALVA (1989-....)       &lt;br /&gt;140. FARIDAMIATY (1989-....)        &lt;br /&gt;141. ENI AYU SULISTYOWATI (1990-....)      &lt;br /&gt;142. LUDVY ALFAUDILLA (1991-....)       &lt;br /&gt;143. RINDU EVELINA HUTAPEA (1991-....)      &lt;br /&gt;144. AMBAR SULISTYOWATI (1991-....)      &lt;br /&gt;145. MIRANTI RASYID (1991-....)       &lt;br /&gt;146. ASMAUL ROKIMAH (1992-....)       &lt;br /&gt;147. LAILATUL MARDHIYAH (1992-....)      &lt;br /&gt;148. AL-QUMAIRA (1992-....)        &lt;br /&gt;149. MIFTAHURRAHMAH (1993-....)      &lt;br /&gt;150. MEGA AYU MUSTIKA (1994-....)       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Nama 55 Karyawan Kalimantan (Kaltim, Kalsel, Kalteng, Kalbar)&lt;br /&gt;yang Karyanya Dimuat dalam Buku Kalimantan dalam Prosa Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AANT S. KAWISAR  (Kalbar)&lt;br /&gt;ABDUL RAHIM HASIBUAN (Kaltim)&lt;br /&gt;ALIANSYAH JUMBAWUYA (Kalsel)&lt;br /&gt;ALI SYAMSUDIN ARSI  (Kalsel)       &lt;br /&gt;AMIEN WANGSITALAJA (Kaltim)        &lt;br /&gt;ARTUM ARTHA (Kalsel)         &lt;br /&gt;A.SETIA BUDHI (Kalsel)&lt;br /&gt;ATIK SRI RAHAYU (Kaltim)          &lt;br /&gt;ATIK SULISTYOWATI (Kaltim)        &lt;br /&gt;BURHANUDDIN SOEBELY (Kalsel)       &lt;br /&gt;DAIAN (Kaltim)         &lt;br /&gt;DESI ARIANI (Kaltim)          &lt;br /&gt;DHENOK PRATIWI (Kaltim)         &lt;br /&gt;D.H. DEVITA (Kaltim)          &lt;br /&gt;DIDIN OELOEN (Kaltim)          &lt;br /&gt;DWI HARIYANTO (Kaltim)          &lt;br /&gt;D. ZAUHIDHIE (Kalsel)         &lt;br /&gt;ELLA DEVIANTI EFFENDI (Kalbar)        &lt;br /&gt;ERMINAWATI (Kaltim)          &lt;br /&gt;ERSIS WARMANSYAH ABBAS (Kalsel)       &lt;br /&gt;FLORA INGLIN HARRY MOERDANI (Kaltim)       &lt;br /&gt;HABOLHASAN ASYARI (Kaltim)         &lt;br /&gt;HAJRIANSYAH (Kalsel)          &lt;br /&gt;HASAN ASPAHANI (Kaltim)         &lt;br /&gt;HERMAN A SALAM (Kaltim)        &lt;br /&gt;HERRY TRUNAJAYA BS (Kaltim)        &lt;br /&gt;IBNU HS (Kalteng)          &lt;br /&gt;IWAN YUSI (Kalsel)          &lt;br /&gt;JAMAL T. SURYANATA (Kalsel)&lt;br /&gt;KAYLA UNTARA (Kalsel)          &lt;br /&gt;KORRIE LAYUN RAMPAN (Kaltim)&lt;br /&gt;M. ANWAR M. H (Kalteng)         &lt;br /&gt;MICKY HIDAYAT (Kalsel)          &lt;br /&gt;MISRI AN (Kaltim)           &lt;br /&gt;MUHAMMAD SYAFIQ (Kaltim)         &lt;br /&gt;NAILIYA NIKMAH JKF (Kalsel)         &lt;br /&gt;NALA ARUNG (Kaltim)         &lt;br /&gt;NANANG RIJONO (Kaltim)         &lt;br /&gt;NURNI K. SULAIMAN (Kaltim)         &lt;br /&gt;PRADONO (Kalbar)          &lt;br /&gt;R. MUHAMAD SUNNY (Kaltim)        &lt;br /&gt;SANDI FIRLY (Kalsel)&lt;br /&gt;SARI AZIS (Kaltim)           &lt;br /&gt;SHANTINED (Kaltim)           &lt;br /&gt;SRI NORMULIATI (Kalsel)         &lt;br /&gt;SUKARDHI WAHYUDI (Kaltim)        &lt;br /&gt;SUNARYO BROTO (Kaltim)         &lt;br /&gt;SYAFRUDDIN PERNYATA (Kaltim)        &lt;br /&gt;TAJUDDIN NOOR GANIE (Kalsel)         &lt;br /&gt;TRI WAHYUNI RAHMAT (Kaltim)        &lt;br /&gt;UNTUNG ERHA (Kaltim)         &lt;br /&gt;WURI HANDAYANI PS (Kaltim)        &lt;br /&gt;WIDI MULYONO (Kaltim)         &lt;br /&gt;Y.S. AGUS SUSENO (Kalsel)        &lt;br /&gt;ZULHAMDANI AS (Kaltim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Nama 60 Penyair Kalimantan (Kaltim, Kalsel, Kalteng, Kalbar)&lt;br /&gt;yang Puisinya Dimuat dalam Buku Kalimantan dalam Puisi Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.A. AJANG (Kalsel)   &lt;br /&gt;ABDUL KARIM AMAR (Kalsel) &lt;br /&gt;ABDUL RAHIM HASIBUAN (Kaltim)&lt;br /&gt;AGUS DWI UTOMO (Kaltim)&lt;br /&gt;AHMAD FAHRAWI (Kalsel)         &lt;br /&gt;ALI SYAMSUDIN ARSI (Kalsel)        &lt;br /&gt;AMIEN WANGSITALAJA (Kaltim)        &lt;br /&gt;ANJANI KANASTREN (Kaltim)        &lt;br /&gt;ARIEF RAHMAN HERIANSYAH (Kalsel)        &lt;br /&gt;ARIFFIN NOOR HASBY (Kalsel)        &lt;br /&gt;ARSYAD INDRADI (Kalsel)         &lt;br /&gt;ASPIHAN N. HIDIN (Kalsel)         &lt;br /&gt;ATIK SRI RAHAYU (Kaltim)          &lt;br /&gt;BURHANUDDIN SOEBELY (Kalsel)       &lt;br /&gt;DIDIN OELOEN (Kaltim)         &lt;br /&gt;EKO SURYADI WS (Kalsel)        &lt;br /&gt;ELLYAS SURYANI SOREN (Kalbar)        &lt;br /&gt;ERIKA ADRIANI (Kalsel)&lt;br /&gt;EZA THABRY HUSANO (Kalsel)        &lt;br /&gt;FITRIANI UM SALVA (Kaltim)        &lt;br /&gt;HAJRIANSYAH (Kalsel) &lt;br /&gt;HANNA FRANSISCA (Kalbar)        &lt;br /&gt;HASAN ASPAHANI (Kaltim)        &lt;br /&gt;IBRAMSYAH AMANDIT (Kalsel)         &lt;br /&gt;IWAN YUSI (Kalsel)          &lt;br /&gt;JAKA MUSTIKA (Kalsel)          &lt;br /&gt;JAMAL T. SURYANATA (Kalsel)          &lt;br /&gt;JUNJUNG BUIH (Kaltim)         &lt;br /&gt;KARNO WAHID (Kaltim)         &lt;br /&gt;KAYLA UNTARA (Kalsel)         &lt;br /&gt;KORRIE LAYUN RAMPAN (Kaltim)       &lt;br /&gt;LOVIE GUSTIAN (Kaltim)         &lt;br /&gt;MAHMUD JAUHARI ALI (Kalsel)        &lt;br /&gt;MAMAN S. TAWIE  (Kalsel)         &lt;br /&gt;M. ANWAR M.H. (Kalteng)         &lt;br /&gt;M. FADJROEL RACHMAN (Kalsel)        &lt;br /&gt;M. NAHDIANSYAH ABDI (Kalsel)        &lt;br /&gt;MICKY HIDAYAT (Kalsel)         &lt;br /&gt;MISRI AN (Kaltim)          &lt;br /&gt;MIZAR BAZARVIO (Kalbar)          &lt;br /&gt;MUGNI BAHARUDDIN (Kaltim)        &lt;br /&gt;NANANG RIJONO (Kaltim)         &lt;br /&gt;NURDIN YAHYA (Kalsel)         &lt;br /&gt;NURUL MASFUFAH (Kaltim)        &lt;br /&gt;ODHY’S (Kalbar)          &lt;br /&gt;PRADONO (Kalbar)          &lt;br /&gt;RITA WIDYASARI (Kaltim)         &lt;br /&gt;ROEDY HARYO WIDJONO AMZ (Kaltim)      &lt;br /&gt;ROECK SYAMSURI SABERI (Kalsel)       &lt;br /&gt;SHANTINED (Kaltim)         &lt;br /&gt;SOPHIE RAZAK (Kaltim)         &lt;br /&gt;SUKARDHI WAHYUDI (Kaltim)        &lt;br /&gt;SUNARYO BROTO (Kaltim)         &lt;br /&gt;SYARKIAN NOOR HADIE (Kalsel)        &lt;br /&gt;TAJUDDIN NOOR GANIE (Kalsel)        &lt;br /&gt;TARMAN EFFENDI TARSYAD (Kalsel)       &lt;br /&gt;YUDHISWARA  (Kalbar)        &lt;br /&gt;ZULFAISAL PUTERA (Kalsel)        &lt;br /&gt;ZULHAMDANI AS (Kaltim)         &lt;br /&gt;ZURRIYATI ROSYIDAH (Kalsel) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note :&lt;br /&gt;Dicopy dari : Aminuddin Rifai Wangsitalaja  ( rastantri@yahoo.com)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-5088599302652536587?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/5088599302652536587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=5088599302652536587' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/5088599302652536587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/5088599302652536587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/05/tiga-buku-sastra-spektakuler-akan.html' title='Tiga Buku Sastra Spektakuler  Akan Diluncurkan dalam Dialog Borneo-Kalimantan XI'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2E63sRPrFIk/Td-GNSPMH0I/AAAAAAAADX0/hFhyYAJesX4/s72-c/Aminuddin%252BRifa%2527i.tif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-6775626407413900238</id><published>2011-05-20T21:08:00.000-07:00</published><updated>2011-05-20T21:12:06.826-07:00</updated><title type='text'>PUISI, PENYAIR DAN PEMBACA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-UpEQKZiU1Cc/Tdc7ds7MSzI/AAAAAAAADTk/V_0U2OcCC0I/s1600/a%2527yat.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 100px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-UpEQKZiU1Cc/Tdc7ds7MSzI/AAAAAAAADTk/V_0U2OcCC0I/s200/a%2527yat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609017242374916914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : A’yat Khalili&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puisi adalah suara jiwa penyair, tentang apa yang dilihat mata, dirasa dan dicecap lidah dan kulit, apa yang dicium hidung, dipikir otak dan sesuatu apa yang disimpan hati. Eksperesi jiwa itu menghadirkan rasa indah dan rasa kagum bagi setiap manusia yang menikmatinya. Puisi adalah merupakan komunikasi langsung seorang penyair dengan alam, maka tak salah jika terkadang ia hadir menyuarakan gerak daun yang ditingkap angin, sehempas debu yang diterjang angin, atau aroma bunga yang dibawa angin dari halaman rumah. Sebab dari selain itu, puisi adalah merupakan salah satu bentuk jenis karya sastra yang dilengkapi dengan pemakaian majas, denotasi dan konotasi serta penggunaan lambang-lambang, yang terkadang bahasa yang digunakan penyair, ada yang padat, naratif, dan terdapat penghilangan sebagian tanda dan kata untuk lebih mengintensifkan puisinya.&lt;br /&gt; Unsur-unsur puisi didapatkan dari pancaindra, melihat, merasakan dari apa yang terkecil sampai ke paling besar. Yang tampak sampai ke kasat mata. Seorang penyair adalah orang yang paling tertuntut kepekaan dan meresapi setiap kemungkinan dalam perasaan memahami hidup, bahasa dan peristiwa-peristiwa terhadap gejala luar biasa yang ada di alam ini. Penyair dan lingkungannya. Ia hidup dalam dunia bahasa yang tak terbatas dan tak terlepas dari sifat kolektif. Selain pribadinya yang mempunyai jiwa, masyarakat pun punya jiwa. Penyair dan masyarakat adalah ibarat anak dan ibu, yang membentuk dari akumulasi semacam interaksi dan interelasi antara keduanya. Penyair seolah berada dibuaiannya, sementara sang ibu sendiri selalu memberi berbagai macam kebutuhan anak. Karena ia dibentuk dan lahir sebagai anggota-anggota masyarakat berdasarkan desakan-desakan emosional yang terkadang juga kurang rasional dan ril. Hingga dalam hidup yang ia jejaki, ia serapi, ia renungi sebagai sebuah pengetahuan dan pengalaman pahit-manis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya itu telah bermacam-macam warna berbeda yang dapat ia hadirkan, yang tentu kemudian cukup memiliki ciri khas berbeda dan bernilai tersendiri dalam lingkungan hidupnya.&lt;br /&gt; Ia tidak akan hadir dalam ruang kosong belaka, nihil makna. Melainkan puisi sebagai suara terdalam manusia sebagai sang penyair dalam mentransenden bahasa, yang dalam istilah ilmu linguistic—sebagai suatu kalimat yang tidak dapat disampaikan dengan cara lain apa pun, kecuali dalam dan oleh kalimat puisi itu sendiri. Jika kita pun bertanya, dapatkah air mata dan tangis diterjemah dengan bahasa, luka yang tersiksa mampukah ditulis. Di situ bahasa hanya menjadi bahasa. Luka pun tetap menjadi bahasa luka. Ia tak bisa menjelaskan kalimat, begitu pun kata hanya hidup dalam kata itu sendiri. Di luar itu semua—apa yang dipikirkan manusia tentang hari esok hanyalah sunyi, sunyi tak terbatas. Ironi dan abstrak. Puisi sangat penuh pekat-kental, ia sarat dengat hukum nilai, alam estetika telah menjadi tuntutan pembaca dalam mengakrabi puisi agar semakin terkesan, penuh etnik, sosia, dan religius. Yang dalam catatan ini perubahan paling kecil dalam puisi akan mengakibatkan perubahan seluruh komponen dalam rangkaian unsurnya. Hingga puisi akhirnya tidak menjadi kosong arti, dan mustahil dipisahkan dari bunyi kata yag terungkap. Dengan alasan apa pun, puisi tidak untuk diterjemah, sebab ia memang bukan untuk dipikir apalagi diterjemah dengan bahasa lainnya. Ia hanya hadir untuk memenuhi keragaman bahasa, sebagai hakikat awal mula bahasa diciptakan bagi manusia, yang lalu memunculkan dan menjelaskan banyak peristiwa bahasa untuk kemudian diolah batin dan dirasakan oleh pemahaman jiwa. Selain itu semua, hanya sebuah arti atau pengertian yang tak termaknakan.&lt;br /&gt;Seorang pembaca tentunya harus benar-benar tahu dan menguasai linguistic bahasa. Dalam potret lain, harus hidup dalam dunia bahasa. Sebab jika tidak, ia sedang menghadapi besi dingin. Ketika menyentuhnya tak bakal mendapat percik apa pun, kecuali kegelapan amat sangat dan serangkaian kalimat tak bermakna. Lalu bagaimana mungkin, jika tak pernah luka akan menangis. Jika tak pernah hidup akan mati. Mendalami rasa, indera, bahasa, gerak, hingga lahir gema dalam jiwa. Sebab dalam puisi yang menentukan adalah penghayatannya. Pikiran terkadang buntu. Ia adalah batas terendah mencari pembacaan puisi. Sedang puisi sendiri puncak teratas bahasa. Octavio Paz; pernah menulis “ bila puisi menyentuh suatu bahasa apa pun maka menjadi ujaran (beku) dan seketika itu juga berhenti jadi bahasa”. Artinya sebagaimana di atas tersebut, puisi tidak dapat dibahasakan dengan cara ungkap apa pun, selain cara ungkap puisi itu sendiri, ia lahir dari gema rasa—untuk dirasakan jiwa lain, yang kehadiran itu bakal mesti jadi sangkut-paut kehidupannya menerima gema di sekitar dirinya yang menimpa.&lt;br /&gt;Istilah puisi muncul dari runut kata, rasa, bunyi, gema, makna dan indera. Yang satu sama lain berpaduan—tak terpisahkan. Bekerjasama dan saling mengisi. Bahkan mustahil diceraikan keutuhannya yang membentuk ujud puisi itu sendiri. Tidak ada rupa kedua dari puisi. Puisi hanya puisi. Ia hidup sendiri. Akan tetapi dari perangkat itu, puisi bisa hadir jadi pemahaman universal, dan multitafsir. Bagi sebagian pembaca, puisi dapat dirasakan dari getaran bunyinya, sebagia lain dari kedahsyatan kata-katanya, sebagian lagi dari anaforinya, dan ada juga tak menemukannya. Namun, walau sebesar apu pun semua itu tak akan pernah sampai sebagaimana maksud penyairnya itu. Ada yang berlebih dalam pandangannya. Ada yang kewalahan mencarinya. Lebih-lebih seorang pembaca hendaklah mengetahui lingkungan juga hal ihwal proses kreatif sang penyair. Karena ini, tentu bakal membantu kuat penelitian dan pemahamannya tentang puisi-puisi Yang dibaca. Contoh kecil Sutardji CB, puisi-puisinya hanya dapat dipamahi sebagian orang yang telah benar-benar tahu dan mengenal serta membaca catatan hidup yang ia prioritaskan sebagai salah satu proses kreatifnya menulis puisi-puisi mantra kepada khalayak pembaca. Dan masih banyak …yang selanjutnya terserah pembaca mencari dan mengenal puisi secara lebih luas. Hingga kita akhirnya faham, bahwa kenikmatan puisi dan kefahamannya menjadikan manusia lebih arif dan bijak, beradab dan lembut serta selalu ingat pada momentum sendiri.&lt;br /&gt;Telenteyan Longos, Gapura, 13 September 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A`YAT KHALILI&lt;br /&gt;Bernama asli Khalili. Lahir di kampung Telentean desa Longos, Gapura, Sumenep, 10 Juli 1990. menyelesaikan pendidikan dasarnya di desanya sendiri (MI Taufiqurrahman, sementara SMP-nya ia habiskan di Yayasan Abdullah( YAS`A) Pangarangan, Sumenep.Ia selain menulis puisi, juga cerpen, esai, dan naskah kebudayaan agama. pada tahun 2006; memenangkan juara ke-2 lomba cipta puisi remaja tingkat nasional dalam rangka Bulan Bahasa &amp;amp; Sastra di Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta 2006; memenangkan juara 1 lomba penulisan sastra tingkat remaja Jawa Timur, di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya 2006; memenangkan juara 1 sayembara penulisan sastra tingkat remaja Jawa Timur, di Teater Kedok SMAN 6 Surabaya 2007; memenangkan juara 2 lomba penulisan puisi religius tingkat mahasiswa se-Indonesia yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Purwokerto, 2010); nomine lomba cipta puisi Forum Tinta Dakwah (FTD) Forum Lingkar Pena (FLP) Riau, 2010; nomine lomba menulis puisi bertajuk “ Batu Bedil Award 2010” yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus, dalam rangka Festival Teluk Semaka (FTS) 2010; dan juara ke-1 lomba cipta puisi “ Give Spirit For Indonesia 2011” , Januari 2011 ini.  Ia juga mengikuti undangan Liburan Sastra Pesantren (Berlibur, Berkarya, Bersastra)bersama Penerbit LKiS dan komunitas Matapena, Jogja 2008. karya-karyanya yang sudah terbit;Akhir Sebuah Jalan (2006) Rumah Seribu Pintu (2007. Ia juga salah satu pendiri Rumah Sastra Bersama dan penggerak Bengkel Puisi Annuqayah.&lt;br /&gt;Beralamat: Jl. Makam Pahlawan, PP. Annuqayah, Daerah Latee, Rayon Al-Bukhari 23, Guluk-guluk, Sumenep Madura Jawa Timur 69463.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-6775626407413900238?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/6775626407413900238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=6775626407413900238' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6775626407413900238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6775626407413900238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/05/puisi-penyair-dan-pembaca.html' title='&lt;center&gt;PUISI, PENYAIR DAN PEMBACA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-UpEQKZiU1Cc/Tdc7ds7MSzI/AAAAAAAADTk/V_0U2OcCC0I/s72-c/a%2527yat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-8947949673327959290</id><published>2011-05-01T21:23:00.000-07:00</published><updated>2011-05-01T21:26:44.051-07:00</updated><title type='text'>Lomba Menulis Puisi untuk Cinta dan Kasih Ibu 2011 (oleh Hanna Fransisca, Zhu Yong Xia 朱永霞)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-nkpUOQWz0Mo/Tb4ySkNuF2I/AAAAAAAADSM/r3BHzp9vylE/s1600/Hanna%2BFransisca3.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 155px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-nkpUOQWz0Mo/Tb4ySkNuF2I/AAAAAAAADSM/r3BHzp9vylE/s200/Hanna%2BFransisca3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601970281035732834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sahabat FB terkasih, tak terasa setahun telah berlalu, dari Mei, kembali kita ke Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei bagi saya, adalah sebuah bulan yang senantiasa menampakkan dua sisi: harapan sekaligus kecemasan. Mei adalah sebuah pertanda. Dan di bulan Mei pula, tiga puluh dua tahun yang lalu, saya dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah benar, bahwa sejak kecil saya menyukai sastra. Adalah sebuah kebebasan, jika saya (ataupun siapa saja), ingin menandai bulan Mei dengan sebuah pilihan yang disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya tahun-tahun lalu, saya memberi penanda Mei dengan menawarkan kenikmatan petualangan kreatif bagi para sahabat, untuk menulis sesuatu yang paling dekat dengan diri kita. Sesuatu yang membuat kita ada. Sesuatu yang yang kita sebut, kasih sayang abadi, kasih sayang yang tak pernah tergantikan oleh apa pun, yakni kasih sayang seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka izinkan pada Mei ini, Mei 2011, saya kembali menawarkan arena untuk menulis puisi terbaik bagi dedikasi seorang ibu. Saya sesungguhnya risih untuk menyebut kata lomba--alangkah tidak enaknya. Tapi baiklah, sebut saja ini sebuah arena. Sebuah lapangan perjumpaan yang menawarkan petualangan, terutama bagi sahabat-sahabat FB terbaik saya, di mana kalah atau menang bukanlah tujuan pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran juri, hanyalah pelengkap untuk menandai batas sebuah arena. Hal terpenting dari perjumpaan ini, adalah keikutsertaan para sahabat. Bagi saya, keikutsertaan para sahabat jauh lebih berharga dari hanya sekedar istilah kalah atau menang. Maka tuliskanlah puisi terbaik bagi ibu, kirimkan pada penjaga batas arena, yang kali ini (seperti halnya tahun lalu) kembali dijaga oleh Acep Zamzam Noor (Penyair, peraih Khatulistiwa Literary Award, dan peraih SEA Write Award), serta Joni Ariadinata (Sastrawan, Redaktur Majalah Sastra Horison). Konsistensi dari dua nama penjaga batas arena ini, semata-mata dimaksudkan untuk sebuah pertanggungjawaban kelak, ketika puisi-puisi yang terpilih diterbitkan.&lt;br /&gt;Adapun penjelasan dari bahasa yang lebih gamblang tentang aturan main serta prosedur standar, bisa dibaca dalam format pengumuman di bawah ini. Selamat menikmati petualangan yang berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat dan Ketentuan:&lt;br /&gt;1. Peserta terbuka untuk umum&lt;br /&gt;2. Naskah harus asli, bukan saduran atau terjemahan&lt;br /&gt;3. Naskah belum pernah dipublikasikan di media apapun&lt;br /&gt;4. Panjang pendek naskah bebas&lt;br /&gt;5. Peserta mencantumkan biodata diri, alamat jelas, nomor kontak, dan nomor rekening bank untuk memudahkan kebutuhan admistrasi. (Biodata diri akan dijaga keamanannya)&lt;br /&gt;6. Peserta hanya boleh mengirimkan maksimal tiga puisi&lt;br /&gt;7. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat&lt;br /&gt;8. Peserta dapat mengirimkan karyanya melalui email: ibupuisi_ibu@yahoo.com&lt;br /&gt;9. Pengiriman naskah terakhir paling lambat tanggal 25 Mei 2011.&lt;br /&gt;10. Pengumuman 10 nomine akan diumumkan pada tanggal 27 Mei 2011.&lt;br /&gt;11. Penetapan pemenang 1, 2, 3, dan pemenang favorite akan diumumkan berbarengan hari ulang tahun saya, pada tanggal 30 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi:&lt;br /&gt;1. Pemenang pertama akan mendapatkan uang tunai sebesar 2.500.000,- rupiah&lt;br /&gt;2. Pemenang kedua akan mendapatkan uang tunai sebesar 1.500.000,- rupiah&lt;br /&gt;3. Pemenang ketiga akan mendapatkan uang tunai sebesar 1.000.000,- rupiah&lt;br /&gt;4. 10 Nomine akan mendapatkan paket buku sastra terjemahan yang akan dikirim setelah pengumuman pemenang lomba&lt;br /&gt;5. Di samping penentuan pemenang 1, 2, dan 3, dari 10 nomine akan dipilih satu puisi favorite. Puisi favorite ini akan ditentukan oleh para sahabat FB, yang dikirim melalui ruang komentar yang disediakan khusus setelah penetapan 10 nomine diumumkan. Suara terbanyak akan menentukan pemenang favorite.&lt;br /&gt;6. Pemenang favorite akan mendapatkan uang tunai sebesar 500.000,- rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas partisipasi para sahabat FB terkasih. Semoga damai dan sejahtera senantiasa melimpah bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 30 April 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-8947949673327959290?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/8947949673327959290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=8947949673327959290' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8947949673327959290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8947949673327959290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/05/lomba-menulis-puisi-untuk-cinta-dan_01.html' title='&lt;center&gt;Lomba Menulis Puisi untuk Cinta dan Kasih Ibu 2011 (oleh Hanna Fransisca, Zhu Yong Xia 朱永霞)&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nkpUOQWz0Mo/Tb4ySkNuF2I/AAAAAAAADSM/r3BHzp9vylE/s72-c/Hanna%2BFransisca3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-4963743653969287805</id><published>2011-04-18T11:04:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T11:08:33.243-07:00</updated><title type='text'>EKSISTENSIALISME DALAM BUNGKAM MATA GERGAJI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-skrPx--Ba3s/Tax-EUO-HLI/AAAAAAAADQs/ISLIeFJYb_E/s1600/Bang%2BBen.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-skrPx--Ba3s/Tax-EUO-HLI/AAAAAAAADQs/ISLIeFJYb_E/s200/Bang%2BBen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596987049530760370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui gumam terangkai pemberontakan, perlawanan, dan kegundahan terhadap  orang-orang bebal yang menyebarkan kerusakan demi kerusakan dengan menggunakan kekuasaannya. Melalui gumam juga tersibak jalan kebebasan sebagai penghargaan terhadap kemanusiaan. Hal ini begitu menggoncang dan mengusik dalam buku Bungkam Mata Gergaji (Kumpulan Gumam Asa) karya Ali Syamsudin Arsi (ASA), Framepublishing; Yogyakarta, 2011.  Kumpulan gumam dalam buku ini dapat dikatakan sebagai gumam perlawanan sekaligus keberpihakan kepada hakikat manusia yang terus tergilas oleh mata gergaji sehingga terpisah, tercerai berai dan penuh luka, yang menjadikannya tidak terlihat eksistensinya sebagai individu maupun dalam komunitas dan hubungan dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan gumam dalam Bungkam Mata Gergaji (Framepublishing, 2011) memperlihatkan kecenderungan keras kepalanya sang pengarang yang  mengambil jalan kebebasannya dalam berkarya, menapaki secara konsisten kegelisahan sebagaimana orang sedang memperjuangkan kebebasan dalam hidupnya meski rasa takut juga terus membayangi. Tanpa kebebasan, maka kemampuan setiap individu untuk memilih berarti tidak ada, yang dalam gumam Asa terungkap dalam bungkam mata gergaji; memisahkan, memburai, dan melukai.  Dalam pandangan Jean-Paul Sartre yang membatasi kebebasan manusia sebagai bagian dari “neraka adalah orang lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bungkam Mata Gergaji (BMG) juga memperlihatkan adanya kecenderungan pilihan, tanpa mengganggu kebebasan, beberapa gumam dalam  format yang jauh lebih pendek dari ketiga buku terdahulu, yang dinyatakan sebagai “berdamai” dengan “orang lain” sehingga beberapa gumamnya pendek dan sebagian sangat pendek. Pilihan berdamai itu tidak berarti merubah gaya gumam yang banyak menghamburkan kata-kata, meskipun sebenarnya dapat lebih sedikit kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bungkam mata gergaji telah menjadi frase pembimbing dalam menyusuri kumpulan gumam ini, yang menjadi penanda kepedihan dan kuatnya hegemoni terhadap situasi dan kondisi yang mengitari manusia, yang sebagiannya tergambar telah kehilangan kebebasannya.  Eksistensi manusia terbungkam mata gergaji dalam pandangan ASA tergambar dengan “mengucur luka luka luka dari gelak keruhnya sungai beban dari lubang-lubang galian beban dari lumpur-lumpur luapan beban dari drama-drama tayangan beban dari meriahnya kelap-kelip kaca taburan sinar, akh beban yang ternyata sangat memilukan”, sebagai eksistensi yang terluka dalam lingkungan penuh ancaman dan pengendalian dari orang yang bermuka tebal tak tahu malu tak bermata juga tak bertelinga sebagai digambarkan ASA sebagai “orang-orang bebal pun tetap saja mendengkur di ...”, dengan akhir “di” menunjuk pada sesuatu yang bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BMG merupakan keruntuhan kebebasan manusia, ia digambar  ASA dengan “telah melibas setiap bayang-bayang dari berjuta harapan, harapan yang dihamparkan oleh banyak telapak tangan terbuka dan sangat terbuka, tetapi bungkam mata gergaji adalah rahasia dari kekuasaan genggam di kepal-kepal tangan bergetar, urat syaraf pun terhentak tiba-tiba, genggam yang sejalan dengan kebiri di lingkup nafsi-nafsi”. Keruntuhan kebebasan ini tiada lain dari kelumpuhan sebagai manusia, manusia yang siap digusur  demi kedamaian dengan rela atau tidak untuk tersingkir, dalam ungkapan ASA, “mata gergaji bergerak dengan kaki-kaki, mata gergaji bergerak dengan tulang-tulang, mata gergaji bergerak dengan mata terpejam, mata gergaji terus melibas mata pencaharian. Bahkan tak akan dibiarkan bertumbuhan tunas-tunas bermekaran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam BMG, ASA menunjukkan perlawanannya, dapat dikatakan sastra perlawanan terhadap keadaan yang mengekang dan membungkam. Meski perlawanan melalui gumam ini berhadapan dengan “dengkur berkepanjangan”, namun ada tekad yang kuat untuk terus melawan terhadap orang-orang bebal yang mengarahkan keberadaan manusia dalam kubangan kekacauan eksistensinya. ASA menyatakan, “Kami telah kepalkan tangan, tapi suara kami dibalas dengkur berkepanjangan”, untuk menunjukkan masih adanya kesadaran sebagai individu yang tidak mau  terus  dikondisikan dalam “bungkam bagian dari kekuasaan, bungkam adalah kesepakatan, bungkam adalah mematikan, bungkam adalah tikamam, bungkam adalah menyingkir dan enyahkan, bungkam adalah berbalik tangan, bungkam adalah memalingkan, bungkam adalam melemahkan”.  Ungkapan-ungkapan ASA penuh vitalitas kekiri-kirian, yang mengosong tema pembebasan dari “neraka adalah orang  lain” dengan cara  melawan manusia (orang lain)  yang dikatakan ASA, “berasal dari racun yang menetes di awan-awan”, yang menjelma dalam berbagai bentuk hingga “jadilah ia sebagai pembungkam segala kehendak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai fenomena pembungkaman tertangkap melalui BMG, seperti perilaku orang-orang yang mengatasnamakan agama untuk membungkam.  ASA memandangnya, “Sementara ada yang saling berebut naik ke atas podium masjid untuk mendapatkan kabel-kabel mikropon serta alat memantulkan kebesaran diri mereka, saling berebut untuk mendapatkan corong-corong”.  ASA memberontak, “Kami telah tergusur dari tempat tinggal kami sendiri, tanah kami telah ditumbuhi gedung-gedung, sawah kami telah bersemi menara-menara, ladang kami telah penuh dengan swalayan toserba kotak-kotak kaca pameran”, yang sebagiannya digiring melalui corong-corong yang diperebutkan tersebut.&lt;br /&gt;Dalam BMG nampak ASA yang radikal, yang kiri, yang individualis, yang pemberontak, yang begitu bersemangat berupaya mendobrak pembungkaman atas keunikan individu dan situasi hidupnya. Dibandingkan dengan ketiga buku Gumam Asa terdahulu, BMG menunjukkan sosok ASA yang penuh semangat pembebasan dan perlawanan terhadap bentuk-bentuk yang menghilangkan kebebasan seseorang.  Ada semangat eksistensialis dalam BMG, dalam pemikiran tentang kebebasan manusia, sebagaimana secara gamblang terungkap di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerja sebuah gergaji adalah sistem bergerak untuk menjadi terpisah, menjadi berseberangan, saling berhadap-hadapan. Sama-sama merasakan luka berkepanjangan, luka dari bungkam mata gergaji. Sakit yang dirasakan bersama-sama. Luka untuk bersama-sama. Bila ada satu mata gergaji maka ia akan diikuti oleh gerak mata gergaji yang lain. Sistem, sebagai tameng ampuh dalam mempertahankan, sistem sebagai tameng untuk menyerang. Sedangkan kerja sebuah gergaji adalah sebagai pemisah. Untuk apa persatuan, bila di dalam sistem persatuan itu sendiri ada pihak dominan karena sikap ketidak-adilan yang diberlakukan. Untuk apa persatuan bila cara kerja bungkam mata gergaji terlalu sering menyakitkan, selalu memamerkan bentuk-bentuk keculasan, selalu mempertontonkan bahwa yang seharusnya dilindungi ternyata dijadikan tumbal berbagai kekuatan, sebagai korban kekuasaan, di semua bidang, karena bungkam mata gergaji menciptakan sesuatu yang sepotong-sepotong, terpisah-pisah, terpecah-pecah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Radar Banjarmasin, 17 April 2011: 5)&lt;br /&gt;Komentar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan gumam ASA ini bukan kumpulan puisi, juga bukan cerpen,tetapi merupakan hasil karya sastra yang boleh dikatakan bercorak baru. Bila kita membaca kumpulan gumam ini lalu mencari tokoh yang konkrit,alur dan plot maupun endingnya maka ...kita akan terjebak dalam sebuah kamar yang gelap. Dalam empat buah buku gumam ASA ini saya pribadi berpendapat ada beberapa buah pikiran,kegalauan,kecemasan,jengkel,haru dan puluhan perasaan lagi yang mengganjal dalam hatinya yang dia ekspresikan ketika dia menjalani ekplorasi kehidupan ini.. Baik buku 1,2,3 dan 4 ini terdiri beberapa bab. Dan bab-bab ini ada yang bertautan dan ada yang berdiri sendiri. Menelusuri makna leksikal,"gumam" ini berarti suara omongan yang tertahan di mulut (Kamus Besar Bahasa Indonesia,hal.286). Dalam bahasa Banjar sama dengan "garunum". Tentu kita memakliumi bahwa orang yang bergumam atau bagarunum itu suaranya ada yang jelas ada yang tidak. Jadi,dalam kumpulan gumam ASA ini ada yang jelas apa yang diekspresikannya dan ada yang tidak. Berhadapan dengan yang tidak jelas ini tentu si pembaca/penikmat akan mendapat kesulitan apa yang dimaksudkan ASA ini. Solusinya kita kembalikan saja kepada ASA atau tafsirkan sendiri. Membaca Kumpulan Gumam ASA yang ke-4 ini : BUNGKAM MATA GERGAJI jauh berbeda dengan yang 1,2,3 Pada buku 4 ini gumam asa lebih terdengar jelas,lebih terang,lebih dapat dimengerti.Ini juga kita maklumi sebab psikologis ASA pada buku 4 ini agak cerah walau pun ada juga sedikit di bawah sadarnya. Alhasil, adanya karya sastra dalam Kumpulan Gumam ASA ini, ASA telah menggorenkan mata pena memperkaya khazanah kesastraan Indonesia. Salam kreatif. (Arsyad Indradi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-4963743653969287805?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/4963743653969287805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=4963743653969287805' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4963743653969287805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/4963743653969287805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/04/eksistensialisme-dalam-bungkam-mata.html' title='EKSISTENSIALISME DALAM BUNGKAM MATA GERGAJI'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-skrPx--Ba3s/Tax-EUO-HLI/AAAAAAAADQs/ISLIeFJYb_E/s72-c/Bang%2BBen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-8480987545886345292</id><published>2011-04-16T03:16:00.000-07:00</published><updated>2011-04-16T03:18:34.968-07:00</updated><title type='text'>Temu Sastrawan Ke-4 di Ternate</title><content type='html'>Kepada&lt;br /&gt;Yth. Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami beritahukan bahwa Temu Sastrawan Indonesia-4 akan dilaksanakan di Ternate, Maluku Utara, pada 25-29 Oktober 2011. TSI-4 bertema “Sastra Indonesia Abad ke 21, Keragaman, Silang Budaya dan Problematika”. Adapun kegiatan TSI-4 ini meliputi Seminar, Musyawarah Sastrawan, Penerbitan Antologi Sastra, Panggung Sastra, Pameran/Bazar/Launching Buku, Workshop dan Wisata Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, kami mengundang Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara untuk mengirimkan karya dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Puisi :&lt;br /&gt;- lima (5) buah puisi karya asli yang ditulis dalam tahun 2011&lt;br /&gt;- belum dipublikasikan ke media mana pun&lt;br /&gt;- Biodata maksimal 10 baris&lt;br /&gt;- diemailkan ke : puisi.tsi4@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Cerpen :&lt;br /&gt;- tiga (2) buah cerpen karya asli yang ditulis dalam tahun 2011&lt;br /&gt;- belum dipublikasikan ke media mana pun&lt;br /&gt;- panjang cerpen berkisar 5 halaman sampai 10 halaman kwarto (600 Kata)&lt;br /&gt;- memakai font times new roman size 12&lt;br /&gt;- Biodata maksimal 10 baris&lt;br /&gt;- diemailkan ke : cerpen.tsi4@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengiriman karya dapat dilakukan sejak: 23 Maret 2011 – 23 Juli 2011. Bagi sastrawan yang karyanya lolos seleksi Dewan Kurator TSI-4, akan mendapat undangan resmi dari panitia TSI-4 dan honorarium tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia akan menyediakan penginapan (akomodasi), makan-minum (kosumsi) dan transport lokal selama kegiatan berlangsung, uang lelah dan cinderamata. Mengingat keterbatasan dana, maka kami mohon maaf tidak bisa menyediakan biaya transportasi peserta undangan dari tempat asal ke tempat tujuan (pp).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perhatian, kerja sama dan partisipasi Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara, kami ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternate 21 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Takzim,&lt;br /&gt;Panitia Temu Sastrawan Indonesia 4&lt;br /&gt;Ternate 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan Daud Dino Umahuk&lt;br /&gt;Ketua Pelaksana Sekretaris&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-8480987545886345292?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/8480987545886345292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=8480987545886345292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8480987545886345292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8480987545886345292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/04/temu-sastrawan-ke-4-di-ternate.html' title='&lt;center&gt;Temu Sastrawan Ke-4 di Ternate&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-6445664054419735088</id><published>2011-04-06T09:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T11:18:07.902-07:00</updated><title type='text'>Apa Benar Taufiq Ismail Melanggar Licentia Poetica?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-gdAKdx83llY/TayAUdQ-8wI/AAAAAAAADQ0/SfTelHyIZto/s1600/ilham-q-moehiddin.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 100px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-gdAKdx83llY/TayAUdQ-8wI/AAAAAAAADQ0/SfTelHyIZto/s200/ilham-q-moehiddin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596989525856285442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Sejumlah Temuan dalam Telisik Literasi atas Polemik Plagiarisme Karya Malloch)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;oleh Ilham Q. Moehiddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;POLEMIK perihal dugaan plagiarisme yang dilakukan Taufik Ismail seketika merunyak akhir-akhir ini. Polemik ini seketika menjadi ‘hebat’ sebab ikut menyeret nama penyair besar sekelas Taufiq Ismail, yang oleh Paus Sastra Indonesia, HB. Jassin, dikelompokkan ke dalam penyair angkatan ’66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya, seorang cerpenis wanita, Wa Ode Wulan Ratna, memposting sebuah karya Douglas Malloch dalam catatan di akun Facebook-nya. Karya Malloch yang sejatinya berjudul ‘Be The Best of Whatever You Are’ itu terposting berupa terjemahan berjudul ‘Akar-akar Pohon’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja saya membaca puisi itu, dan merasa dejavu. Serasa saya pernah membaca atau mendengar puisi macam itu, entah dimana. Lalu saya teringat pada programa Jika Aku Menjadi Special Ramadhan stasiun TransTV yang ditayangkan sebelum berbuka puasa pada Ramadhan 2010. Pada tayangan itu, aktris Asri Ivo membacakan puisi ‘Kerendahan Hati’. Caption pada tayangan itu juga menampilkan nama Taufik Ismail sebagai pencipta puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memuat prasangka apalagi tuduhan, sayapun ikut mem-posting dua entitas puisi itu ke akun Facebook saya, pada 25 Februari 2011, sekadar mengajak beberapa sastrais dan budayawan untuk berdiskusi perihal itu. Benar saja, postingan itu memancing diskusi dan debat. Semenjak itulah, ‘dugaan samar’ ini menyebar kemana-mana. Diskusi dan polemik seputar ini seketika menyeberang ke Twitter, dan menjadi ramai di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Telisik Literasi pada Kedua Puisi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat saya, akar polemik ini sungguh patut dipertanyakan. Jika benar seperti apa yang dituduhkan orang kebanyakan pada Taufik Ismail, maka upaya itu tidak bisa sekadar disebut meringkas, menyadur, ataupun mentranskrip. Jika diperhatikan secara saksama, apa yang tertulis sebagai puisi Douglas Malloch yang kemudian dituliskan sebagai milik Taufik Ismail, tak memenuhi ketiga unsur di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikatakan meringkas, maka perilaku meringkas sangat sukar dikenakan pada entitas puisi, sebab akan otomatis melanggar licentia poetica. Apa benar penyair besar Taufiq Ismail dengan sengaja melanggar licentia poetica? Saya tak sepenuhnya yakin dia melakukan itu. Kemudian, jika dikatakan menyadur, maka Taufik Ismail tak tampak sedang menyadur puisi Douglas Malloch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadur adalah menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dari bahasa lain. Menyadur juga diartikan sebagai mengolah (hasil penelitian, laporan, dsb.) atau mengikhtisarkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2002: 976). Dengan demikian, menyadur mengandung konsep menerjemahkan secara bebas dengan meringkas, menyederhanakan, atau mengembangkan tulisan tanpa mengubah pokok pikiran asal. Hal penting yang harus kita ketahui ialah bahwa dalam menyadur sebuah tulisan, ternyata kita diperkenankan untuk memperbaiki bentuk maupun bahasa karangan orang lain, misalnya dalam kasus karangan terjemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, penyaduran tidak bisa serta-merta diberlakukan pada puisi, sebab ada aspek bahasa, bunyi dan makna, yang belum tentu dapat diinterpretasikan secara tepat oleh penyadur. Jika penyaduran dilakukan pada cerpen, dan novel berbahasa asing, maka proses yang dijelaskan pada KBBI sudah tepat. Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam menyadur adalah dengan meminta izin, mencantumkan sumber tulisan berikut nama penulisnya.&lt;br /&gt;     Cobalah simak puisi &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Be The Best of Whatever You Are&lt;/span&gt;, karya Douglas Malloch ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;If you can’t be a pine o the sop of the hill, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          Be a scrub in the valley – but be &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          The little scrub by the side of the hill; (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          Be a bush if you can’t be a tree&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          If you can’t be a bush be a bit of the grass &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          And some highway happier make (2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          If you can’t be a muskie then just be a bass&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          But the leveliest bass in the lake&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          We can’t all be captains, we’ve got to be crew (3) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          There’s something for all of us here&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          There’s big work to do, and there’s lesser to do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          And the task you must do is the near&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          If you can’t be a highway the just be a trail (4) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          If you can’t be the sun, be a star&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          It isn’t by size you win or you fail &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;          Be the best of whatever you are (5)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Puisi Douglas Malloch ini adalah puisi berjenis kuatrain dan berada di jalur tengah aliran kepenyairan. Douglas Malloch, dalam puisinya ini, jelas sekali hendak mendudukkan pokok pikirannya sebagai masonic yang berkaitan dengan kehidupannya sebagai penebang kayu, secara terurut, tanpa putus. Artinya, jika hanya hendak menekankan pada kebaikan setiap orang untuk ‘menjadi yang terbaik dengan cukup menjadi dirinya sendiri’, maka Douglas Malloch tak perlu menuliskannya hingga empat bait. Pesannya bisa langsung sampai hanya dalam dua atau tiga bait saja. Inilah mengapa proses penyaduran tidak bisa dilakukan pada puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, simaklah puisi &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Kerendahan Hati &lt;/span&gt;karya Taufik Ismail berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Kalau engkau tak mampu menjadi beringin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          yang tegak di puncak bukit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          yang tumbuh di tepi danau &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          memperkuat tanggul pinggiran jalan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Jadilah saja jalan kecil, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Tetapi jalan setapak yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          membawa orang ke mata air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Tidaklah semua menjadi kapten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          tentu harus ada awak kapalnya…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          rendahnya nilai dirimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Jadilah saja dirimu….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;          Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pada terminologi penyaduran, bentuk reposisi dan pengembangan masih diperbolehkan. Tetapi jika diperhatikan lebih saksama (terutama pada larik-larik yang dimiringkan) tampak sekali beberapa larik sengaja dihilangkan, dan, atau menggantinya dengan larik berbeda.&lt;br /&gt;     Ada dua larik pada puisi Douglas Malloch yang hilang, yakni; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;If you can’t be a muskie then just be a bass/ But the leveliest bass in the lake//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, berganti dengan larik berbeda pada puisi Taufik Ismail, yakni; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tetapi jalan setapak yang/ membawa orang ke mata air//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah penghilangan dan penggantian ini disengaja? Jika melihat terjemahan dua larik puisi Douglas Malloch, dan membaca dua larik baru pada puisi Taufik Ismail, maka jelas sekali bahwa penggantian tersebut disengaja. Pengubahan, atau penggantian ini dari sisi licentia poetica seharusnya tidak boleh terjadi, sebab telah mengubah makna dan bunyi puisi Douglas Malloch. Inikah yang disebut penyaduran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini dijawab dengan tuntas oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gorys Keraf.&lt;/span&gt; “Sebuah bentuk ringkasan dari sebuah tulisan hendaknya tetap menekankan sisi konsistensi akan sebuah urut-urutan sesuai dengan ide atau gagasan pengarang. Begitu halnya saat kita menyadur, hal tersebut juga berlaku—tetap mempertahankan ide dari naskah asli.” Tegas Keraf dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Komposisi &lt;/span&gt;(1984:262, Flores. Penerbit Nusa Indah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Yang Luput dari Taufik Ismail.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik disimak, adalah dua larik yang tadi telah dibahas di atas, yang entah mengapa luput oleh Taufik Ismail dimasukkan ke dalam puisinya. Dua larik itu adalah; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;If you can’t be a muskie then just be a bass/ But the leveliest bass in the lake//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu kesatuan dari bunyi dan makna yang dikatakan Keraf, maka dua larik yang luput itu seharusnya tetap ada untuk mengikat dua larik sebelumnya; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;If you can’t be a bush be a bit of the grass/ And some highway happier make//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemah dugaan saya, bahwa Taufik Ismail tidak mengetahui persis makna kata muskie dan bass dalam dua larik puisi Douglas Malloch itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kata dalam larik puisi Douglas Malloch itu memang tidak ditemukan dalam dalam kamus besar Bahasa Inggris (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Contemporary English-Indonesian Dictionary, Drs. Peter Salim, M.A.&lt;/span&gt;). Rasa penasaran pada kata lake (danau), yang membawa saya pada dua jenis ikan yang berhabitat di danau primer dan sepanjang sungai besar di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musky&lt;/span&gt; adalah sejenis ikan besar, yang masih satu genus dengan Arwana dari Amazon. Muskie adalah nama dalam bahasa pasar masyarakat setempat, untuk ikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musky,&lt;/span&gt; yang hidup di danau-danau di Minnesota. Sedang Bass adalah nama setempat untuk ikan smallmouth (salmon). Ikan dengan ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dari ikan Muskie. Habitatnya di sungai-sungai primer di Amerika Utara. Itulah mengapa kata Muskie dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bass&lt;/span&gt; tidak terdapat di dalam kamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga untuk mengisi kekosongan dua larik yang terlanjur menggantung pada satu bait tersebut, Taufik Ismail kemudian menggantinya dengan; Tetapi jalan setapak yang/ membawa orang ke mata air//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merujuk pada Keraf, maka penggantian ini jelas sekali telah mengubah secara drastis ide dan gagasan pengarang. Artinya, paham atau tidaknya Taufik Ismail pada dua kata tersebut, tidak dapat dijadikannya alasan untuk mengganti dua larik pada puisi Douglas Malloch dengan dua larik baru. Maka, terang saja, Taufik Ismail tidak saja gagal menyembunyikan fakta, bahwa dirinya tidak sekadar terinspirasi keindahan makna puisi Douglas Malloch, sehingga tanpa sadar atau tidak terperangkap dalam bentuk plagiarisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah ada kemungkinan penyair sekaliber Taufiq Ismail akan melakukan hal ini? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu’alam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Bantahan dan Sejumlah Bukti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Keterangan Redaktur Majalah Sastra, Horison, Fadli Zon, yang juga kemenakan Taufiq Ismail, dalam bantahan yang termuat pada PedomanNews.com, bahwa, Taufiq Ismail mengatakan padanya merasa pernah membahas puisi itu atau menerjemahkan puisi itu dalam kegiatan SBSB atau MMAS di sekolah-sekolah, ikut membuktikan bahwa pernah ada terjadi persentuhan antara Taufiq Ismail dengan puisi Douglas Malloch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada buku &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Terampil Berbahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas VIII,&lt;/span&gt; yang disusun oleh Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto yang diterbitkan Pusat Perbukuan, Diknas RI. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pada Pelajaran 11,&lt;/span&gt; bagian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;C: Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan; halaman 198, &lt;/span&gt;dengan jelas dapat ditemukan puisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kerendahan Hati&lt;/span&gt; karya Taufik Ismail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada keterangan sumber di bawah puisi Taufik Ismail pada halaman tersebut. Rupanya para penyusun memasang puisi itu dan meninggalkan sumbernya pada daftar pustaka. Artinya, keterangan soal latar belakang dan darimana sumber yang digunakan hanya tim penyusun yang bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah peneraan puisi &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kerendahan Hati &lt;/span&gt;karya Taufik Ismail itu sepengetahuan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taufiq Ismail?&lt;/span&gt; Ini dengan terang sudah dijawab sendiri oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taufiq Ismail &lt;/span&gt;yang disampaikan oleh Fadli Zon, bahwa T&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;aufiq Ismail &lt;/span&gt;memang terlibat dalam kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) atau MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) di sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Fadli, puisi &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kerendahan Hati&lt;/span&gt; yang beredar, nama pengarangnya ditulis sebagai Taufik Ismail. Padahal, nama penyair itu memakai "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;q&lt;/span&gt;" pada nama Taufiq-nya, bukan "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;k&lt;/span&gt;". Jadi bisa jadi apa yang digunjingkan itu salah orang. Demikian pembelaan Fadli, yang dikutip &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tempo Interaktif, &lt;/span&gt;Jumat 1 April 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati adalah penting menuliskan nama seseorang secara benar dalam sebuah literasi (khususnya pada pemberitaan), namun agaknya Fadli Zon tidak memeriksa dengan teliti sebelum melontarkan bantahannya. Keliru serupa ini kerap terjadi pada tera nama Goenawan Mohamad yang sering dituliskan orang dengan Gunawan Muhammad. Kendati dituliskan keliru, ingatan kolektif orang tetap merujuk pada satu sosok. Apalagi, baik Goenawan Mohamad dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taufiq Ismail &lt;/span&gt;adalah dua nama besar penyair, sastrawan dan budayawan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kerendahan Hati &lt;/span&gt;yang termuat dalam buku Diknas di atas, nama penyair itu dieja dengan huruf akhir ‘&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;k’&lt;/span&gt;. Pun pada beberapa terbitan Horison Sastra Indonesia sendiri, kerap dituliskan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ismail, Taufik, dkk (penyunting). 2011. Horison Sastra Indonesia. Jakarta: The Ford Foundation&lt;/span&gt;”, sebagai salah satu contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pengejaan ‘Taufik Ismail’ juga ditemukan pada kata sambutan dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Lady Di conspiracy : Misteri Dibalik Tragedi Pont de L’Alma,&lt;/span&gt; karya Indra Adil, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, dalil Fadli Zon perihal huruf akhir pada nama penyair itu seketika patah. Sebab, apabila karakter penulisan nama tersebut dianggap penting, tentulah hal ini telah diperhatikan benar sejak lama. Tidak setelah polemik ini mengemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pada berita yang sama, Fadli Zon juga mengungkapkan tak dia temukan puisi Kerendahan Hati dalam empat buku karya-karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taufiq Ismail&lt;/span&gt;. Salah satunya kumpulan puisi tahun 1953-2008 berjudul &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit,&lt;/span&gt; (Mei, 2008) setebal 1076 halaman. "Di buku itu saya tidak menemukan puisi berjudul 'Kerendahan Hati'," katanya. Menurut Fadli, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taufiq Ismail &lt;/span&gt;juga menerjemahkan puisi 160 penyair Amerika yang dikumpulkan dalam buku "Rerumputan Dedaunan" dan hingga saat ini belum diterbitkan. Dalam terjemahan tersebut tak ada puisi Douglas Malloch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Fadli ini bisa saja dipercaya, namun sebenarnya tidak berkorelasi langsung dengan isu yang sudah terpolemik. Buku kumpulan puisi MBML itu terbit pada 2008, sementara itu buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terampil Berbahasa Indonesia &lt;/span&gt;itu terbit pada tahun yang sama. Sedang pada 2009, puisi itu masih sempat dibacakan pada programa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika Aku Menjadi Special Ramadhan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;2010&lt;/span&gt; di TransTV. Program MMAS dan SBSB yang dimana Taufiq Ismail dan Majalah Horison terlibat langsung sudah dilaksanakan sejak tahun 1998 hingga 2008. Bahkan beberapa puisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kerendahan Hati&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;karya Taufik Ismail &lt;/span&gt;sudah terposting di beberapa blog sejak 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah sinyalemen ini secara tidak langsung membentuk premis terhadap kehadiran karya tersebut dalam kurun waktu 1998 hingga 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dari telisik literasi ini, kini, siapapun boleh menarik kesimpulan masing-masing, perihal polemik pada entitas puisi karya Douglas Mulloch itu. Telisik literasi ini tidak hendak mencuatkan sebuah masalah yang selama ini kerap merisaukan kalangan sastrawan; plagiarisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telisik literasi inipun tidak dalam posisi menuduh siapapun telah melakukan plagiat. Bahwa sebagai telisik literasi, ada baiknya ini dijadikan pembelajaran pada masa selanjutnya, bahwa penghargaan atas sebuah karya sastra/literasi sebaiknya memang diberikan pada sosok pengkaryanya. Demikian. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Lampiran Foto:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kerendahan Hati&lt;/span&gt;" karya Taufik Ismail dalam buku Terampil Berbahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas VIII, yang disusun oleh Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto yang diterbitkan Pusat Perbukuan, Diknas RI. Pada Pelajaran 11, bagian C: Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan; halaman 198.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;http://www.facebook.com/notes/ilham-q-moehiddin/sejumlah-temuan-dalam-telisik-literasi-atas-polemik-plagiarisme-karya-malloch/10150202690620757#&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;[Attachment(s) from mediacare included below]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Facebook: Radityo Full&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;YM: radityo_dj&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Twitter: @mediacare&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;artculture-indonesia@yahoogroups.com,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-6445664054419735088?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/6445664054419735088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=6445664054419735088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6445664054419735088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6445664054419735088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/04/apa-benar-taufiq-ismail-melanggar.html' title='&lt;center&gt;Apa Benar Taufiq Ismail Melanggar Licentia Poetica?&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gdAKdx83llY/TayAUdQ-8wI/AAAAAAAADQ0/SfTelHyIZto/s72-c/ilham-q-moehiddin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-6841168161530305022</id><published>2011-04-03T10:02:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T22:53:58.118-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>Sekilas tentang Penyair Gila Arsyad Indradi dan Secuil Sajak Religiusnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-UqARDLLFI1c/TZio9CkGz3I/AAAAAAAADO0/xfiiN0Ec5S8/s1600/Mahmud%2BJA.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-UqARDLLFI1c/TZio9CkGz3I/AAAAAAAADO0/xfiiN0Ec5S8/s200/Mahmud%2BJA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591404703994269554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Mahmud Jauhari Ali&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyair yang satu ini telah lama saya kenal dengan rambut panjangnya yang aduhai menawan hati. Bersama lima belas seniman Kalimantan Selatan lainnya pernah dipenjara kerena melawan pemerintah. Sejak tahun 1970-an awal hingga sekarang, penyair yang bernama lengkap Muhammad Arsyad Indradi ini masih setia dengan dunia kepenyairan lokal maupun nasional. Bahkan tak cuma itu, surat kabar Cina pun sempat memberitakannya di sana. Pemberitaan itu berkaitan dengan buku 142 Penyair Menuju Bulan yang dibuat dan diterbitkannya sendiri serta menyebarkannya di seluruh nusantara. Buku itu memuat puisi-puisi dari 142 penyair di Indonesia, termasuk sajak Sutardji Calzoum Bachri ada di dalamnya. Dan yang paling mencengankan adalah, biaya pembuatan hingga penyebaran buku itu berasal dari penjualan sebidang tanah kesayangannya. Karena itulah ia disebut sebagai penyair gila. Penyair yang benar-benar loyal pada dunia kepenyairan dan menempatkan puisi sebagai bentuk caranya mengagungkan Tuhan dan juga untuk kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi saya temukan sebuah sajak miliknya yang menurut saya perlu ditanggapi dengan sebuah esai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Narasi Ayat Batu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Yang terhampar di sajadahku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Kujatuhkan di tebingtebing lautmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Cuma gemuruh ombak dalam takbirku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Angin mana di gurungurunmu beribu kafilah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Dan beribu unta yang tersesat di tepitepi hutanmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Dan bersafsaf di oasis bumimu yang letih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Kuseru namamu tak hentihenti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Di ruasruas jari tanganku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Yang gemetar dan berdarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Tumpahlah semesta langit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;Di mata anak Adam yang sujud di kakimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat Batu. Ayat? Batu? Menjadi sebuah frasa? Jika kita cari di saentero ini sungguh tak pernah ada frasa itu. Kata “ayat” kita kenal sebagai firman Illahi berupa kata-kata yang menjadi pedoman bagi manusia yang bertuhan. Sedangkan “batu” termasuk benda padat yang keras. Lalu apakah ini simbol dari ayat yang sukar dicerna (mutasyabihat) ataukah ayat yang sukar diamalkan karena jiwa belumlah bersih? Bisa juga itu menyimbolkan ayat-ayat Tuhan yang hebat. Tapi, yang terakhir tadi sulit diterima akal karena kata “batu” tak cukup untuk menjadi simbol kemahadahsyatan ayat-ayat Tuhan yang tak serupa dengan hanya puisi buatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah membaca bagian pembukanya, “Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit”, jelas bahwa Ayat Batu itu merupakan ayat-ayat Allah yang sulit diamalkan manusia yang mengaku muslim. Yang juga menadakan bahwa ayat-ayat Allah hanya dapat diamalkan di puncak pengetahuan dan iman yang tinggi/naik. Kita tidak dapat mengamalkannya jika kita tak mengetahui maksud dari ayat-ayat Allah itu. Kita juga tak bisa menjalankan ayat-ayat Allah jika iman kita turun karena godaan yang begitu hebat menerpa kita. Puncak di sini adalah tingkatan iman dan pemahaman ayat-ayat Allah pada diri kita. Tanpa iman kita tak akan pernah meyakini kebenaraan nash Alquran. Dan jika kita hanya bertaklid buta tanpa ilmu atas isi Alquran itu sendiri, kita tak maksimal beribadah (ikut-ikutan). Inilah menurut saya maksud ayat batu yang dibelah di puncak bukit. jadi, ada dua hal yang menjadi fokusnya, yakni mengetahui (mengerti/memiliki ilmunya) dan menjalankan ayat-ayat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam larik itu tidak hanya puncak sebenarnya, tapi titik puncak/tingkatan tertinggi. Karena itulah Arsyad Indradi menyebutnya dengan kulminasi. Lalu ayat-ayat yang manakah itu? Mari kita amati larik selanjutnya. “Yang terhampar di sajadahku” Apakah yang dimaksudkan itu? Jawabnya adalah sholat. Dalam hal ini ayat-ayat itu ialah ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan perintah sholat. Sangat banyak ayat-ayat dalam Alquran yang berisi perintah sholat. Termasuk juga ayat yang menerangkan faedah sholat seperti “Qod aflahalmu’minunalladzina hum fi sholatihim” (Almu’minun: 1—2). Yang artinya sungguh beruntunglah orang-orang yang mereka khusyuk dalam sholatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajak ini Arsyad Indradi menyadari betul sholat itu sebagai bentuk ibadah yang harus dijalankan dengan iman dan ilmu itu yang melahirkan keikhlasan. Keikhlasan itu yakni penyerahan diri di laut (keluasan kekuasaan Allah), lihat larik ketiga pada bait pertama itu. Sehingga, hanya Dia yang ada dalam setiap napas tatkala menyebut Allahu Akbar. Maha Besar Allah itu yang luasnya melingkupi seluruh alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 255);"&gt;Angin mana di gurungurunmu beribu kafilah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 255);"&gt;Dan beribu unta yang tersesat di tepitepi hutanmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 255);"&gt;Dan bersafsaf di oasis bumimu yang letih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin di sini bisa berupa cobaan dan godaan yang menerpa manusia-manusia sebagai kafilah di muka bumi ini. Hingga sebagian dari kita tersesat karena hati kita yang disimbolkan dengan “unta” telah ditiupi cobaan itu. Ada yang menarik di sini. Mengapa Arsyad Indradi tidak memakai kata "kuda" dan malah memakai kata "unta" sebagai simbol hati kita? Padahal kita sering mendengar bahwa penunggang kuda itu adalah pikiran/akal dan kuda itu sendiri adalah hati. Jika akal mampu mengendalikan hati, maka tak akan tersesatlah kita. Nah, di sini kok “unta”? Menurut saya ini untuk lebih mendekatkan puisi ini ke hal yang Islami. Karena unta dan Islam sama-sama akrab dengan tanah Arab. Tanah yang kita ketahui sebagai tanah turunnya Islam. Sebagian hati umat manusia memang telah tersesat atas pemikiran-pemikiran yang lemah (tergelincir) dan itu disebabkan oleh adanya cobaan dan godaan. Banyak di antara kita yang tergelincir di dunia ini, semisal sholat dengan berbahasa Indonesia. Sedangkan rasul saja memerintahkan kita untuk sholat seperti sholatnya beliau. “Shollu ra’aitumunni usholi” (Sholatlah seperti sholatku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Kuseru namamu tak hentihenti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Di ruasruas jari tanganku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Yang gemetar dan berdarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Tumpahlah semesta langit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Di mata anak Adam yang sujud di kakimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sholat itulah kita benar-benar ingat dan tunduk kepada-Nya. Betapa syahdunya hati menyeru nama Allah dalam doa yang benar-benar khidmat. Terutama dalam sujud kita. Subhanallah sajak ini indah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak di atas merupakan salah satu saja dari sekian banyaknya sajak-sajak Arsyad Indradi yang merupakan sesepuh bagi sastrawan di Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud Jauhari Ali mengomentari catatan Anda "Puisi-Puisi Cinta Arsyad Indradi "Romansa Setangkai Bunga" : Antara Kapal Berlabuh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"membaca judul sajak ini memeras otak saya untuk memahami maksudnya. antara kapal berlabuh, sebuah judul yang unik dan seakan memainkan arti. ada apa antara kapal berlabuh itu. lalu kapal berlabuh dengan benda semacam apa sehingga ada kata "antara" di sana? apakah itu dermaga? inilah salah satu pentas bahasa puisinya Arsyad Indradi yang mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;jangan ada sangsi ketika puput penghabisan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;pertanda senja akan membawa kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;ke ombak yang paling jauh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;muara tak lagi perbatasan bertolaknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penggelan itu menggabarkan sebuah kesiapan yang harus kita tancapkan dalam-dalam pada jiwa kala usia beranjak tua dan lebih tua lagi. dalam penggelan ini, Arsyad Indradi bermain-main dengan kata puput, senja, ombak, muara, dan juga perbatasan. kata-kata itu sebagian merupakan simbol atas ungkapan-ungkapan jiwanya. ada nuansa keenggenan di sana untuk menuju tua. yang jelas kita tahu semakin tua, maka semakin banyak pula tanggung jawab bagai ombak yang bergulung di laut lepas. mulai kewajiban memeras keringat, mendidik istri, mengurus dan membesarkan anak-anak, dsb. di sini kita benar-benar disuguhi simbol-simbol sebagai penguat sajak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;sebuah kapal yang sarat dengan riwayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;yang kita aksarakan pada sebuah perjalanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;dan burungburung laut melepaskan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;kepaknya ke karangkarang ketika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;kelam menyempurnakan malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;adalah masasilam yang kita sauhkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;pada alir usia kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penggelan berikutnya ini menggambarkan perjalanan diri kita yang memiliki riwayat hidup. riwayat hidup itu tentunya di masa silam. masa depan adalah riwayat hidup untuk kehidupan yang lebih lanjut lagi. Arsyad Indradi begitu asyik menyelami kehidupan pada penggalan ini. kapal, perjalanan, burung-burung, malam menjadi penarik keindahan hingga melekat padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;sebab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;langit tak lagi dapat menyimpan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;pandangan mata bila kita akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;menghitung nasib antara kapal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;berlabuh dengan pelabuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;di mana kita menambatkan keyakinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;maka layar telah kita kembangkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;sebab laut adalah sebuah jalan panjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;yang mesti kita tempuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;dan kita tak perlu lagi berpaling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari judul di atas yang menimbulkan tanya. akhirnya kita temukan di sini jawabannya. bukan antara kapan dan kapal, tetapi antara kapal dan dermaga/pelabuhan. ini merupakan perjalanan hidup kita yang penuh rona ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertak Hanyar,4 Feb 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-6841168161530305022?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/6841168161530305022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=6841168161530305022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6841168161530305022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/6841168161530305022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/04/sekilas-tentang-penyair-gila-arsyad.html' title='&lt;center&gt;Sekilas tentang Penyair Gila Arsyad Indradi dan Secuil Sajak Religiusnya&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-UqARDLLFI1c/TZio9CkGz3I/AAAAAAAADO0/xfiiN0Ec5S8/s72-c/Mahmud%2BJA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-7532035834230200252</id><published>2011-03-30T10:38:00.000-07:00</published><updated>2011-03-30T10:46:15.155-07:00</updated><title type='text'>Rendahnya Apresiasi Akademik terhadap Karya Sastrawan Kalsel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-XzdAA4C8LBg/TZNsW-YW-ZI/AAAAAAAADMU/k6qsE5d2Ujw/s1600/Sainul%2BHermawan%2Bedit.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 121px; height: 162px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-XzdAA4C8LBg/TZNsW-YW-ZI/AAAAAAAADMU/k6qsE5d2Ujw/s200/Sainul%2BHermawan%2Bedit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589930704455006610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh Sainul Hermawan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu isu penting yang saya tawarkan dalam diskusi sastra yang diselenggarakan oleh Radar Banjarmasin pada 30 Desember 2010 di Minggu Raya Banjarbaru adalah apakah kemeriahan sastra di Kalsel yang ditandai dengan kegiatan aruh sastra, festival, tadarus, sayembara dan pelatihan penulisan, penerbitan buku dan peluncurannya, dan sebagainya berhasil menciptakan publik pembacanya? Asumsi saya bahwa satra Kalsel tidak terlalu banyak ditekuni dalam publik pembacaan yang meriah tampaknya memang perlu disikapi bersama sehingga pada pelaksanaan kegiatan bersastra di tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang perlu menguatkan kegiatan yang berorientasi pada perayaan pembacaan dalam pengertian yang luas, yaitu bukan sekadar dibaca untuk pertunjukan, melainkan juga pembacaan dalam pengertian memasukkan dalam materi pembelajaran sastra dan bahasa di sekolah dan perguruan tinggi serta upaya pembacaan dalam pengertian transformatif-intertekstual antarmedia kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan persoalan ini memerlukan keterlibatan banyak pihak dalam ranah yang sangat lintas disiplin. Sistem sastra memerlukan pemain yang lain: guru/dosen bahasa dan sastra, wartawan, apresiator, kritikus, dan seniman lain. Dalam esai ini saya hanya mengisahkan hasil survey tentang penelitian sastra di PBSI FKIP Unlam Banjarmasin. Saya berharap upaya survey yang sama dapat dilakukan di institusi lain yang menyelenggarakan pembelajaran sastra baik di perguruan tinggi, sekolah, maupun di tengah masyarakat umum. Kedua institusi yang berada di ibukota provinsi ini dapat dianggap sebagai lembaga yang relatif representatif untuk melihat bagaimana “perayaan akademik” terhadap produk para sastrawan di Kalsel. Data hasil survey bersumber dari buku wisuda sarjana kedua kampus itu yang mencantumkan judul-judul skripsi para wisudawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survey judul penelitian sastra di PBSID FKIP Unlam didasarkan pada buku wisuda tahun 1999, 2002 sampai 2006, dan 2008 sampai 2010 Kesimpulan tulisan ini tentu terikat pada katerbatasan data yang digunakan. Saya tak berhasil menemukan buku wisuda tahun 2000 sampai 2001 dan 2007. Dari sumber itu terkumpul seratus lebih judul penelitian sastra. Berapa banyak puisi, cerpen, novel, dan drama karya sastrawan Kalsel yang diteliti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 1999 sampai 2006&lt;br /&gt;   Dalam rentang itu penelitian tentang puisi karya sastra sastrawan Kalsel: (1) Tema dan Gaya Bahasa dalam Puisi M. Rifani Djamhari Penyair Banjarbaru (Maisyarah, 2003) dan (2) Religi Mantra dalam Puisi Bahasa Banjar Mangga Riau Naga Karya Noor Cahya Khairani (Mahrita, 2003);  (3) Analisis Struktural dan Semiotik dalam Antologi Puisi Duri-Duri Tataba Karya Penyair Tabalong (Asni Farina, 2005).&lt;br /&gt;Cerita pendek karya sastrawan Kalsel  yang dibaca dalam penelitian akademik yaitu: Konflik Sosioreligius dalam Kumpulan Cerpen Karya Aliman Syahrani dan Karya Kidh Hidayat (Siti Nurdiniah K. 2004); Unsur dalam Cerpen Racun Karya YS Agus Suseno (Libermart C. S. 2004); Citra Perempuan dalam Cerpen Banjar Modern (Samsul Bahri 2005); Representasi Kehidupan Religi Masyarakat Dayak Loksado dalam Novel Palas Karya Aliman Syahrani (Gusti Y. Risman, 2005)&lt;br /&gt;Dalam rentang waktu 6 tahun, karya sastrawan Kalsel yang dibaca adalah karya Aliman Syahrani, YS Agus Suseno, Noor Cahya Khairani, Rifani Dajmhari, dan lain-lain. Dalam perspektif pembaca, dibaca atau tidak merupakan dasar untuk menyatakan sastrawan itu ada atau tidak. Meskipun demikian, hasil sementara ini perlu dicocokkan dengan aktivitas pembacaan di ranah yang lain. Oleh karena itu, pencatatan tentang aktivitas sosial apa saja yang membaca karya sastrawan Kalsel, kapan, dan dimananya perlu terus dilakukan sebelum menyatakan bahwa sastrawan Kalsel telah ribuan jumlahnya.&lt;br /&gt;Pencataan tentang bagaimana karya sastrawan Kalsel telah dibaca dalam penelitian, resensi buku, esai, diskusi buku, festival dan lomba-lomba, jauh lebih penting daripada catatan tentang jumlah sastrawan. Sebab, dalam perspektif sejarah sastra, hanya karya sastra yang dibacalah yang ada. Ada dan tiadanya karya sastra bukan ditentukan oleh kuantitas produksi, melainkan juga ditentukan oleh kuantitas konsumsi atau penerimaan pembaca (readers’ responses).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 2008 sampai 2010&lt;br /&gt;Pada wisuda ke-64, 14 Oktober 2008, ada 30 wisudawan PBSI. Dari wisudawan itu ada 8 penelitian sastra. Hanya ada 2 karya sastrawan Kalsel yang diapresiasi, yaitu karya Ajamuddin Tifani dan Arsyad Indradi. Karya Ajamuddin diteliti oleh Eva Wahyuni (2008) dengan judul  Metafora Puisi Sosial Karya Ajamuddin Tifani dalam Tanah Perjanjian, dan karya Arsyad diteliti oleh Noorhana (2008) dengan judul Karakteristik Puisi dalam Antologi Kalalatu Karya Arsyad Indradi.&lt;br /&gt;Pada wisuda Unlam ke-66, 29 September 2009, wisudawan PBSI sebanyak 25 orang. Penelitian sastranya sebanyak 11 skripsi. Karya sastrawan Kalsel yang diteliti saat itu cuma karya  Jamal T. Suryanata, yang dilakukan oleh Taufik Akbar dengan judul  Penggunaan Maksim Kerjasama dan Maksim Kesantunan dalam Kumpulan Cerpen Galuh Karya Jamal T. Suryanata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada wisuda ke-67 dan 68, PBSI meluluskan 51 sarjana, dengan penelitian sastra sebanyak 18 skripsi. Karya sastrawan Kalsel yang dibaca secara akademik hanya ada dua, yaitu karya Arsyad Indradi dan Hajriansyah. Karya Arsyad diteliti oleh Nova Liyani (2010) dengan judul  Kemampuan Siswa Kelas X SMA PGRI 2 Banjarmasin memahami Jenis Gaya Bahasa Puisi Romansa Setangkai Bunga Karya Arsyad Indradi, dan karya Hajriansyah diteliti oleh Annisa Fitrahmaniah (2010) dengan judul  Penggunaan Gaya Bahasa pada Kumpulan Cerpen Angin Besar Menggerus Ladang-Ladang Kami Karya Hajriansyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian dunia ilmiah yang rendah terhadap karya sastrawan Kalsel menyiratkan beberapa kemungkinan: Pertama, karya sastra lokal tidak mudah diakses atau diperoleh oleh mahasiswa. Kedua, pengetahuan tentang signifikansi dan urgensi kajian sastra lokal rendah. Ketiga, lemahnya pengetahuan teoretis para dosen tentang kemungkinan penelitian sastra lokal yang menarik yang dapat ditawarkan kepada mahasiswa, dan keempat, ini hanya hanya semacam gunung es dari sikap umum yang memandang sastra sebagai produk budaya yang tak bermanfaat atau sebagai artefak artistik semata yang tak ada kaitannya dengan pendidikan, politik, sejarah, ilmu jiwa, serta ilmu dan karya seni lainnya, dan keempat, tiadanya nilai penting dalam karya itu karena tidak setiap karya sastra dapat diteliti jika peneliti tidak memiliki pertimbangan alasan rasional yang dapat dipertanggungjawabkan secara teoretis mengenai nilai penting karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemungkinan pertama &lt;/span&gt;dapat diatasi dengan menggencarkan pemasaran produk sastra ke kampus dalam bentuk ceramah sastra bersama. Komunitas Sastra Indonesia cabang daerah (Banjarmasin, Banjarbaru, Barabai, atau Kotabaru) dalam hal ini bisa memerankan diri sebagai mediator yang dapat menjembatani kerjasama antara kampus dan sastrawan Kalsel. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemungkinan kedua dan ketiga &lt;/span&gt;memerlukan keterlibatan para akademisi sastra untuk terus menyegarkan pengetahuan sastra. Ilmu&lt;br /&gt;sastra terus berkembang. Kemandekan dan kemonotonan jenis penelitian sastra di kampus bukan hanya mencerminkan kualitas pembelajaran yang monoton dan stagnan, melainkan juga cerminan kualitas dosen dan mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemungkinan keempat&lt;/span&gt; memerlukan peran sastrawan untuk mencipta karya yang lebih berkualitas secara artistik, historis, psikologis, dan filosofis. Faktor ini juga jadi acuan utama mereka dalam meneliti karya sastra. Karena itu, karya Andrea Hirata dan Habiburrahman el- Shirazy lebih banyak dibaca dalam rentang 2008-2010. Ini bukan pekerjaan sederhana. Sastrawan harus antikemapanan dan berusaha untuk terus inovatif. Selera pembaca, sejarah, dan budaya terus berubah dan sastrawan dan ilmuwan sastra serta pembaca sastra secara umum perlu sama-sama menghiasi diri dengan bacaan-bacaan baru. Kalau tidak, kita hanya akan jadi bagian riwayat pembacaan dan penulisan sastra yang jalan di tempat: stagnan!&lt;br /&gt;Bjm., 16.01.2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian Radar Banjarmasin&lt;br /&gt;Berita  Budaya dan Sastra&lt;br /&gt;Minggu, 6 Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-7532035834230200252?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/7532035834230200252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=7532035834230200252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7532035834230200252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7532035834230200252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/03/rendahnya-apresiasi-akademik-terhadap.html' title='&lt;center&gt;Rendahnya Apresiasi Akademik terhadap Karya Sastrawan Kalsel&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-XzdAA4C8LBg/TZNsW-YW-ZI/AAAAAAAADMU/k6qsE5d2Ujw/s72-c/Sainul%2BHermawan%2Bedit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-607721035062704190</id><published>2011-03-20T10:47:00.000-07:00</published><updated>2011-03-20T10:50:01.849-07:00</updated><title type='text'>3 KOTA 1 ANTOLOGI 1001 MAKNA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Hary Soedarto Harjono*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkumpul bersama adalah permulaan, tetap bersama adalah kemajuan, dan bekerja bersama adalah keberhasilan. Pernyataan Henry Ford ini agaknya tepat mewakili kerja kolaborasi 3 dukun kata dari 3 kota yang menghasilkan antologi sajak 3 di Hati. Jika mengintip latar historis terciptanya antologi ini yang tidak dapat dilepaskan dari atmosfir ‘negeri gurindam” tempat masyhurnya nasihat-nasihat Raja Ali Haji yang bernafaskan Melayu dan Islam, maka aura sastra klasik itu —  setidaknya atmosfir syair, pantun, atau gurindam dan nilai-nilai Islam — dapat diduga mewarnai sajak-sajak yang terhimpun di dalamnya. Meskipun sudah barang tentu penyair juga melakukan transformasi  estetika dan nilai-nilai tersebut dalam proses penciptaan sehingga dihasilkan sajak-sajak universal yang ‘melesat’ meninggalkan lingkungan fisik, sosial, psikologi, dan budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi 3 di Hati, tiga “djiwa” dalam satu hati, sejatinya mengguratkan tiga dimensi pewarnaan sajak yang berbeda intensitasnya: merah, kuning, dan hijau, warna pelangi (bukan warna PDI-P, Golkar, dan PPP). Sajak-sajak Dimas Arika Mihardja lebih memerah, penuh semangat  ‘memanen senja/melukis bianglala di dada’, yang dengan elan vital menyala-nyala ‘menatah sajak emas di beranda’ menebar ‘mantra kamasutra’.  Sementara sajak-sajak D. Kemalawati (Deknong) lebih menguning, menyuarakan ‘isyarat tentang berbagai alamat dunia dan akhirat’ dengan bahasa yang lebih lugas, yang menurut Dimas lebih ‘berpijak di bumi/melukis cakrawala saat laut dan langit bertaut’ (‘Tiga Dimensi’). Sedangkan sajak-sajak Diah Hadaning (Diha) lebih kontemplatif menghijau, sejuk, hening dan teduh, serupa ‘kearifan pelangi’. Tema-tema demikian ini secara eksplisit terimplisitkan dari sajak-sajak seperti dalam “Semak Bakau yang Menyapa dalam Diam”, “Perempuan-perempuan Pulau Sunyi”, “Hujan Oktober dan Gurindam Hati”, “Teratak Kecil di Pulau Sunyi”, dan “Intan dari Pulau Sunyi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga dimensi itu menghadirkan sajak-sajak yang ‘merah kuning hijau’ yang lengkap, tidak saja menggantung ‘di langit yang biru’, melainkan juga mendarat di bumi yang pekat. Dengan kata lain, komposisi warna pelangi ini dapat dikatakan merepresentasikan cita rasa artistik para penciptanya, yang membumi dan melangit.  Di dalamnya ada nuansa lirik yang personal, nuansa kemanusiaan, nuansa sosial, dan juga religiusitas yang kesemuanya mengajak pembaca menikmati, merenung, dan memaknai sajak sesuai dengan latar pengetahuan, pengalaman, dan cakrawala harapan masing-masing. Dengan kata lain, 1001 makna dapat didedahkan dari antologi ini sesuai dengan perspektif pemaknaan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak Diha dalam antologi ini amat kental dengan nuansa esoteris melalui penyelisikan hakikat yang diangkat dari alam kosmos dan tema-tema hidup keseharian yang direnung-renungkan, dihayati dengan sepenuh-penuh perasaan (dengan tidak begitu hirau pada logika), dan diungkapkan dengan bahasa yang padat. Yang menarik, penyair perempuan pemegang rekor MURI yang menerbitkan kumpulan sajak paling tebal (700 halaman) dalam usia paling senior (70 tahun) , yang juga dikenal dengan sajak-sajak kejawen ini seperti dirasuki roh Melayu, atau setidaknya terpanggil, terusik, ‘terganggu’ batin dan jiwanya untuk hanyut dalam ekstase di lautan estetika dan nilai-nilai Melayu Lama. Misalnya terlihat dalam ‘Semak Bakau yang Menyapa dalam Diam’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semak bakau&lt;br /&gt;semak pulau&lt;br /&gt;menyapa sukma&lt;br /&gt;dalam bahasa purba:&lt;br /&gt;simak akarku      &lt;br /&gt;dengan mata batin, tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kutipan sajak tersebut terdapat variasi permainan bunyi yang kuat dan khas syair Melayu, yang mengisyaratkan adanya keinginan yang kuat untuk menggali esensi sampai ke akar-akarnya. Begitu juga dalam ‘kisah reraja Batak/tak usai disibak-sibak’ (‘Memandang Pulau Penyengat dari Seberang’), ‘orang-orang dari seberang/ datang bertandang/ ada syair ada dendang/ diusung rasa senang’ (Perempuan-perempuan Jilbab Kuning), dan lebih jelas lagi modifikasi nuansa gurindam yang terintegrasikan dalam ‘Hujan Oktober dan Gurindam Hati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujan membisik pelan&lt;br /&gt;gurindam pasal empat:&lt;br /&gt;hati itu kerajaan di dalam tubuh&lt;br /&gt;jikalau zolim segala anggota pun rubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, roh sebagian petuah Melayu yang Islami dari Raja Ali Haji dalam Gurindam 12 merasuki jasad dan jiwa sajak ini, yang selanjutnya dipertegas dengan gubahan pernyataan sikap penyair sendiri berdasarkan pengalaman hidup yang panjang bergumul dengan kata: ‘dalam kata adalah kekuatan/ dalam kata adalah perbuatan’.  Tidak hanya itu, dalam ‘Membaca Angin Anjung Cahaya’ roh syair dan pantun Melayu juga merasuki jasad sajak ini, yang sekaligus mengisyaratkan kekaguman dan keinginan,  serta keterbukaan dan kesadaran penyair pada daya magis alam pikir, rasa, dan estetika Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaguman dan keinginan penyair itu tersirat dari ‘umbai-umbai menyimpan anggun/ aku semakin ngungun’. Untuk mengejar kesesuaian bunyi, secara kreatif digunakan diksi dari khazanah bahasa Jawa ngungun. Juga dalam ‘Membaca Wajah-wajah’: ‘aku ingin mencium wangi/ aroma syair kearifan’. Keterbukaan dan kesadaran untuk menerima dengan suka cita tercermin dari: segenap hati tengah bersuka/ membangun keajaiban dunia kata’ (‘Membaca Angin Anjung Cahaya’). Ini semakin memperlihatkan bahwa Sang Pencari berupaya  menyelami khazanah pemikiran dan estetika Melayu dalam memperkaya pengalaman batin dan pengungkapan sajak-sajaknya. Dengan kata lain, ada upaya penyair dalam pencarian kali ini untuk melakukan transformasi dan revitalisasi nilai-nilai Melayu (lama) menjadi sajak-sajak kini yang lebih longgar secara fisik dengan metafor yang khas tetapi padat dalam penyampaian pesan. Penggunaan diksi Melayu seperti ‘tuan’, ‘puan’, ‘reraja’, ‘rebana’, ‘barzanji’, ‘pompong’, ‘tongkang’, dan juga pengungkapan ritmis seperti ‘zikirnya memantik hati/ lusa selalu bisa ditata kembali’, serta persajakan yang kaya dengan permainan bunyi khas syair dan pantun (meskipun tidak secara utuh), dan roh gurindam menjadi warna dominan sajak-sajak Diha yang hening tetapi menyimpan 1001 makna dalam antologi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda warna dengan sajak-sajak Diha, sajak-sajak Dimas menampung berbagai tema kaya nuansa yang diungkapkan dengan bahasa yang lebih lentur, cair dan kadang sangat transparan layaknya prosa pendek. Misalnya terdapat dalam ‘Kisah Pagi Sehabis Hujan’, yang merupakan representasi konkret pergulatan psiko-religi-eksistensial  penyair dalam dunia kepenyairannya. Dalam sajak ini penyair terlibat dalam monolog pergulatan batin yang berat dan berlarat-larat. Di satu pihak, interpretasi kalangan tertentu dari perspektif agama (Islam) secara tegas menyatakan bahwa penyair (tertentu) sangat dibenci dan dilaknat oleh Tuhan karena biasanya hanya ‘mengatakan sesuatu yang tak pernah dilakukannya/ ia melukis cinta, tetapi dengan pakaian dusta/ Ia menyatakan setia, namun seperti domba berbulu serigala’, bukan sebaliknya.  Di pihak lain, dunia kepenyairan, ‘negeri kata-kata’ sudah menjadi pilihan hidup bagi Dimas, dan juga dua D lainnya, Diha dan Deknong. Penyair dalam hal ini dihadapkan pada situasi yang dilematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya pergulatan batin itu dimenangkan oleh Dimas dengan penyikapan reflektif yang merunduk dan arif: ‘Ya, Allah ampunilah khilaf dan salahku/ Jadikan aku kupu-kupu di atas aroma bunga/  Jadikan aku sayap-sayap laron yang tanggal saat mengecup lampu/ Maafkan segala kata dan cintaku/ Sungguh di hadapan-Mu aku hanyalah serpihan debu’. Sebuah ungkapan kepasrahan yang mencerminkan sikap religiusitas penyair, yang mengisyaratkan juga pengakuan atas transendensi kekuasaan Allah yang demikian untouchable, tak tersentuh, tak terbatas — yang dipertegas lagi dengan ungkapan ‘aku lenyap saat Kauhapus jejak debu di Terompah-Mu’. Juga, ungkapan senada dalam ‘Esok Hari Saat Mentari Meninggi’: lalu kembali luruh sedalam simpuh, yang semakin mengekalkan ketidakberdayaan penyair di hadapan Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajaknya yang lain Dimas mengurai dimensi mata, detak djiwa, dan hati, yang sejatinya mengisyaratkan visi penyair dalam pergumulannya dengan dunia kata dan kesesuaian pandangannya dengan penyair lain (khususnya Diha dan Deknong), meskipun disadari bahwa yang melandasi kesesuaian itu adalah adanya perbedaan yang diibaratkan seperti bumi, laut, dan langit atau simbol lain serupa pelangi (bianglala). Dalam simbolisme ini dimensi mata dapat dimaknai memberikan arah, petunjuk, penerang, yang menuntun dalam penciptaan. Dimensi detak djiwa melambangkan jejak langkah spiritual, puja puji dan kerinduan penyair pada Yang Maha Kasih: ‘tak lelah kulidahkan bahasa sajadah/ menautkan jemari rindu yang rindang/ lalu kuronce jadi qasidah yang indah/ mengabadikan percintaan’ yang dalam konsep mistis Jawa barangkali ungkapan ini sejiwa dengan upaya-upaya penyatuan diri dengan Tuhan (manunggaling kawulo lan Gusti).  Selanjutnya, dalam dimensi hati semangat kebersamaan itu mengkristal menjadi sinergi: ‘aku perahu dan engkau kemudi/ maka berlayarlah kita/ bersama dalam badai dan damai’, yang diperkuat lagi dalam ungkapan bait berikutnya: ‘engkau orkestra simphoni di beranda hati/ kita bersama melangitkan jutaan merpati’. Dengan sinergi kolektif seperti inilah, maka dunia kata, dunia kepenyairan—meskipun berada ‘di dermaga paling sunyi’ dapat dihidupkan, diberi roh untuk tetap ‘abadi di hati’ sehingga sanggup menggerakkan mata dan tangan untuk ‘membaca bianglala dan melukis pelangi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimensi lain yang juga mengemuka dalam sajak-sajak Dimas dalam antologi ini adalah kesaksiannya pada kenestapaan orang lain, misalnya dalam ‘Sajak Mentawai’, ‘Meratapi Merapi’, ‘Air Mata Doa: untuk Mbah Maridjan’, ‘Kalkulasi Tragedi’, ‘Puisi Tragedi’, dan ‘Gempa 9,9 Skala Richter’. Kecuali dalam ‘Gempa 9,9 Skala Richter’ yang secara eksplisit menyarankan penyikapan untuk  berserah diri kepada yang Maha Berkuasa: ‘sebelum benarbenar tiarap di kedalaman dekap-Mu’, dalam sajak-sajak tragedi yang lain Dimas lebih nyaman memposisikan sebagai narator, misalnya dalam ‘Sajak Mentawai’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengar teriak ombak yang bangkit menggulung pantai&lt;br /&gt;muaro&lt;br /&gt;malin kundang digulung gelombang&lt;br /&gt;dan orangorang berteriak tsunami:&lt;br /&gt;suami istri itu pun mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam ‘Meratapi Merapi’: ‘di tengah sawah berarak wedhus gembel/ menyapu rumputan/ berlarian di lapak yang sesak isak’, dan juga dalam ‘Air Mata Doa’: ‘mbah Maridjan/ pengabdianmu sebagai abdi/ lunas di tangan juru kunci’, atau dalam ‘Puisi Tragedi’: ‘sebelah sayapku patah lagi, ayah/ hujan tumpah’. Pada sajak-sajak seperti ini Dimas cenderung menyerahkan sepenuhnya interpretasi dan tanggapan kepada pembaca secara netral tanpa mendampinginya dengan ungkapan-ungkapan lain yang memancing keterlibatan dan empati seperti yang dilakukan oleh D. Kemalawati dalam ‘Siapakah Kau Setelah Erupsi’: ‘lalu siapakah engkau kini/ yang sebelum erupsi/ mengirimkan aku cinta petani/ pada sajak padi merunduk hati’. Lebih jelas lagi perbedaan itu terlihat dari penyikapan D. Kemalawati dalam sajak tragedi pasca-Tsunami Aceh 2005 yang diekspresikan dalam ‘Dahaga Laut’: ‘biarkan kami mendekat/ memungut kayu-kayu yang berserakan/ untuk tiang gubuk kami yang baru’. Dengan perbandingan ini dapat diindikasikan bahwa terhadap persoalan yang sama (tragedi), intensitas penyikapan penyair bisa berbeda.  Perbedaan ini justru memperkaya dan pada taraf tertentu saling melengkapi. Perbedaan itu mungkin disebabkan karena kepekaan psikologis, empati, gender, dan mungkin juga perbedaan keterlibatan dalam persoalan (langsung atau tidak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, sajak-sajak D. Kemalawati dalam antologi ini lebih dominan diwarnai kegelisahan psikologis, relasi antarmanusia yang bisa mendatangkan duka, suka, dan penjelajahan spiritual yang salah satu manifestasi bentuknya adalah kerinduan pada Tuhan. Dalam ‘Sebelum Jejakmu Raib’, relasi antarmanusia yang mendatangkan disharmoni dan kekecewaan itu diekspresikan secara tegas oleh penyair. Segala yang dilakukan oleh aku lirik serba salah, tidak pernah dihargai: ‘setelah garasi dipenuhi cermin/ jejakmu raib entah kemana’. Warna serupa tercermin dari sajak ‘Setelah Kerelaan Kau Abaikan’: ‘apakah artinya kerelaanku terkurung dalam/ sangkarmu/ sedang pintu telah terbuka dan kau menjauh pergi’. Namun, dalam menghadapi situasi seperti itu Deknong menunjukkan ketegaran dan kedewasaannya, seperti tersirat dari ungkapan ‘kutahu dan sungguh aku tak mau/ kepergianmu/ menguburkan seluruh bait puisiku’. Lebih tegas lagi, kedewasaan penyikapan menghadapi persoalan itu terungkap dalam sajak ‘Keyakinanku’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar semua pintu terkunci&lt;br /&gt;biar semua dentang tak berbunyi&lt;br /&gt;biar semua kelam menuju pekat&lt;br /&gt;tak kubiarkan hati ini mengubah arah&lt;br /&gt;kau lah langitku&lt;br /&gt;tempat asal seluruh cahaya menyatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari tema yang diangkatnya, yang menarik dan menonjol dalam sajak-sajak D. Kemalawati dalam antologi ini adalah berkelebatnya imaji-imaji ‘liar’ yang telah dijinakkan sehingga menjadi metafor unik yang sanggup menghidupkan dan menguatkan ungkapan-ungkapannya. Misalnya, dalam ‘telah kugeraikan rambutku/ hingga pucuk-pucuk cemara merunduk malu’ atau ‘sekarang lidah laut sedang menjilati jejakku’ (Tarian Pelangi). Demikian juga dalam ungkapan ‘tapi akupun serupa gunung yang menjulang’ (Setelah Kerelaan Kau Abaikan), ‘berpacu binal riakku’ (Aku Rapuh Tanpa Karangku), dan dalam sajak ‘Izinkan Aku Ibu’ yang sarat kandungan metafor serupa, misalnya ‘Ibu, izinkan aku berteduh di rimbun daun hutanmu’, ‘…basahi parit jiwaku’, ‘..palung kalbuku’, ‘agar kristal keringat duniawi/ tak membeku di dada’, ‘menggigil bagai pucuk kuyup diterpa angin/ bentangkan selimut semestamu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih eksplisit lagi, metafor liar itu berkeliaran dalam sajak ‘Kangen’: kalau kangenku makin membara/ tak cukup lautan kata/ meredamnya/ maka berikan aku sebilah rencong/ untuk kutikam di dada hampa’. Selain itu, dalam sajak-sajak yang bernafaskan penjelajahan spiritual pun dijalin dengan metafor-metafor seperti itu dengan menggunakan simbolisme persetubuhan, kerinduan (kangen) pada kekasih, atau makam, seperti yang secara eksplisit diungkapkan dalam ‘Kangenku’, ‘Kangen Menujumu’, ‘Ruang Diri’, atau ‘Pagi di Cengkareng’.  Metafor seperti ini — meskipun telah secara intens dijelajahi juga oleh Amir Hamzah dalam kumpulan sajaknya Nyanyi Sunyi atau Rendra dalam Nyanyian Angsa-nya, namun tetap tidak menghilangkan kesan bahwa metafor yang digunakan D. Kemalawati pada konteks ini memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari para pendahulunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, memungkasi tulisan ini perlu saya ingatkan bahwa yang tersaji di sini hanya serpihan-serpihan pemaknaan impulsif terhadap sepilihan sajak yang pertimbangan, cara kerja, dan pendekatannya sangat subjektif dan jauh dari ilmiah. Ini hanya salah satu kemungkinan pemaknaan yang sudah barang tentu menyisakan ribuan bahkan jutaan kemungkinan pemaknaan lain yang lebih menarik dan mencerahkan.  Akhirnya, terpaksa harus saya sudahi tulisan ini karena tiba-tiba saya teringat ancaman dari gurindam Raja Ali Haji: apabila banyak berkata-kata/ di situlah jalan masuk dusta.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Hary Soedarto Harjono (Hary S. Haryono) adalah staf pengajar pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FKIP Universitas Jambi dan Program Magister Pendidikan Pascasarjana Universitas Jambi; kertas kerja ini disajikan dalam acara DIALOG SASTRA DAN TEMU PENYAIR 3 KOTA (Jakarta, Jambi, Aceh) di Aula Rektorat Lt. III Kampus Universitas Jambi, Mendalo Darat,Jambi 22 Maret 2011, pukul 08.30-selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;http://www.facebook.com/notes/dimas-arika-mihardja/3-kota-1-antologi-1001-makna/10150125&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;648364368&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-607721035062704190?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/607721035062704190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=607721035062704190' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/607721035062704190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/607721035062704190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/03/3-kota-1-antologi-1001-makna.html' title='&lt;center&gt;3 KOTA 1 ANTOLOGI 1001 MAKNA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-3120174587117564460</id><published>2011-03-18T10:07:00.000-07:00</published><updated>2011-03-18T10:13:00.918-07:00</updated><title type='text'>TARUNG PENYAIR PANGGUNG SEASIA TENGGARA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-yPcpOWId_9g/TYOSE01LRqI/AAAAAAAADI0/sSTsSbtcXos/s1600/Logo%2BTarung%2BPuisi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-yPcpOWId_9g/TYOSE01LRqI/AAAAAAAADI0/sSTsSbtcXos/s200/Logo%2BTarung%2BPuisi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5585468574468359842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Asrizal Nur :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TARUNG PENYAIR PANGGUNG Se Asia Tenggara Piala Bergilir Hj. Suryatati A. Manan Tanjungpinang, 14-17 April 2011 Dalam rangka Hari Ulang Tahun Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A. Manan, akan diadakan Tarung Penyair Panggung di Kota Tanjungpinang, pada tanggal 14-17 April 2011. Acara ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan penghargaan atas dedikasi Hj. Suryatati A. Manan terhadap kesusastraan, khususnya puisi, serta menggairahkan tradisi pemanggungan puisi yang unggul, inovatif dan kreatif serta wahana silaturrahmi penyair se-Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Pedoman Umum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Tarung Penyair Panggung adalah semacam “lomba pemanggungan puisi” secara bebas, menarik, inovatif, dan kreatif.&lt;br /&gt;2. Tarung Penyair Panggung ini terbuka bagi seluruh warga negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang berusia 17 tahun ke atas.&lt;br /&gt;3. Peserta adalah penyair yang telah mempublikasikan puisinya, baik dalam bentuk buku, pemuatan di media massa cetak dan digital, maupun di panggung baca puisi.&lt;br /&gt;4. Peserta yang telah mendaftar dan hadir mengikuti Tarung Penyair Panggung akan ditanggung penginapannya selama mengikuti acara.&lt;br /&gt;5. Pemenang Tarung Penyair Panggung tidak dibedakan antara pria dan wanita.&lt;br /&gt;6. Tarung Penyair Panggung dilaksanakan dalam dua babak, yaitu babak penyisihan dan babak final. Babak penyisihan dimaksudkan untuk memilih 15 peserta terbaik yang berhak tampil dalam babak final.&lt;br /&gt;7. Pemenang lomba mendapat uang pembinaan, piala Hj. Suryatati A. Manan, gelar pemenang, dan piagam penghargaan, masing-masing sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Juara I: Uang tunai Rp 15 juta, gelar pemenang, piala, dan piagam penghargaan.&lt;br /&gt;b. Juara II: Uang tunai Rp 10 juta, piala, dan piagam penghargaan.&lt;br /&gt;c. Juara III: Uang tunai Rp 8 juta, piala, dan piagam penghargaan.&lt;br /&gt;d. Tiga Finalis Unggulan: Masing-masing akan mendapat uang tunai Rp 2 juta, piala, dan piagam penghargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Syarat Pendaftaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta dapat mendaftarkan diri melalui email penyairpanggung@ http://www.facebook.com/l/c4257/gmail.com, CC ke asrizalnur_2005@ http://www.facebook.com/l/c4257/yahoo.co.id, dan ahmadun.yh@ http://www.facebook.com/l/c4257/gmail.com.&lt;br /&gt;2. Peserta wajib melampirkan tanda bukti karya (puisi) yang telah dipublikasikan, berupa hasil scan sampul buku kumpulan puisi, scan kliping koran/majalah yang memuat karyanya, VCD, atau scan foto pementasan baca puisi, serta scan kartu identitas diri (SIM atau KTP), biodata kepenyairan dan photo diri.&lt;br /&gt;3. Tanda bukti karya tersebut dilampirkan (di-attach) dan dikirimkan melalui email pada saat mendaftar ke alamat email tersebut di atas.&lt;br /&gt;4. Selain tanda bukti tersebut, pada saat mendaftar, peserta juga wajib mengirimkan (melampirkan) 3 (tiga) puisi karya sendiri yang akan dipanggungkan melalui email tersebut di atas. Puisi-puisi karya peserta akan dibukukan oleh Panitia.&lt;br /&gt;5. Pendaftaran beserta semua syarat tersebut di atas harus sudah diterima Panitia paling lambat tanggal 5 April 2011. 5. Setelah sampai di tempat Tarung Penyair Panggung, peserta wajib mendaftar ulang dengan mengisi formulir yang telah disediakan Panitia. 6. Pada saat mendaftar ulang, peserta wajib menyerahkan bukti karya dalam bentuk aslinya, baik berupa buku kumpulan puisi, kliping koran/majalah yang memuat karyanya, VCD, atau foto pementasan baca puisinya. 6. Pengambilan nomor undian dilaksanakan pada saat technical meeting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Pedoman Peserta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta Tarung Penyair Panggung ialah mereka yang telah mendaftarkan diri, mengikuti technical meeting, serta memenuhi semua ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;2. Peserta sudah berada di tempat acara selambat-lambatnya 30 menit sebelum acara Tarung Penyair Panggung dimulai.&lt;br /&gt;3. Peserta yang tiba gilirannya akan dipanggil sesuai dengan nomor undiannya.&lt;br /&gt;4. Apabila peserta yang nomor undiannya dipanggil tiga kali berturut-turut tidak tampil ke pentas yang telah disediakan, dianggap mengundurkan diri dan dinyatakan gugur haknya sebagai peserta.&lt;br /&gt;5. Peserta diperkenankan menggunakan alat bantu ketika memanggungkan puisi.&lt;br /&gt;6. Peserta membawakan 1 ( satu) puisi karya sendiri yang dipilih dari buku antologi puisi Tarung Penyair Panggung dan 1 (puisi) Walikota Tanjungpinang dipilih dikumpulan puisi Walikota Tanjungpinang, Ibu Hj.Suryatati A. Manan, yang telah disiapkan Panitia&lt;br /&gt;7. Puisi yang telah dibawakan untuk babak penyisihan, tidak diperkenankan dibawakan kembali pada babak final.&lt;br /&gt;8. Peserta yang tengah menunggu gilirannya, harus duduk di tempat masing-masing dengan tenang. 9. Peserta dilarang melakukan sesuatu yang bersifat mengganggu jalannya Tarung Penyair Panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Aspek Penilaian Dewan Juri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; akan menilai peserta dari aspek kualitas puisi dan pemanggungannya, dengan bobot nilai sbb. 1. Puisi: 30 2. Teknik pembacaan: 40 3. Inovasi pemanggungan: 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E. Pedoman Dewan Juri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Juri sudah harus berada di tempat selambat-lambatnya 10 menit sebelum Tarung Penyair Panggung dimulai.&lt;br /&gt;2. Selama Tarung Penyair Panggung berlangsung, juri tidak diperkenankan meninggalkan tempat duduk.&lt;br /&gt;3. Selama Tarung Penyair Panggung berlangsung juri tidak diperkenankan mengadakan percakapan dengan siapapun.&lt;br /&gt;4. Selama masa penilaian Dewan Juri diberikan waktu istirahat yang diatur oleh penyelenggara.&lt;br /&gt;5. Apabila para juri merasa memerlukan waktu istirahat lagi, bisa mengusulkan lewat penyelenggara.&lt;br /&gt;6. Juri berhak menghentikan atau mengulang peserta yang sedang pada gilirannya apabila terganggu, lewat penyelenggara.&lt;br /&gt;7. Dewan Juri menentukan Pemenang I, II, III, dan Tiga Finalis Unggulan.&lt;br /&gt;8. Dewan Juri bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;F. Pedoman Pelaksana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pelaksana sudah harus berada di tempat, selambat-lambatnya satu jam sebelum acara Tarung Penyair Panggung dimulai.&lt;br /&gt;2. Pelaksana berkewajiban memberikan keterangan sejelas-jelasnya mengenai Tarung Penyair Panggung tersebut.&lt;br /&gt;3. Pelaksana berkewajiban melayani peserta dan Dewan Juri selama lomba berlangsung.&lt;br /&gt;4. Pelaksana mengatur penyelenggaraan dan ketertiban selama lomba berlangsung.&lt;br /&gt;5. Pelaksana berhak menghentikan jalannya acara lomba apabila terjadi sesuatu yang dapat merugikan peserta maupun konsentrasi Dewan Juri.&lt;br /&gt;6. Pelaksana tidak berhak mencampuri masalah penilaian yang menjadi hak dan wewenang Dewan Juri.&lt;br /&gt;7. Pelaksana adalah jembatan yang menghubungkan kepentingan peserta, Dewan Juri, dan Penyelenggaran sesuai dengan tata tertib yang berlaku.&lt;br /&gt;8. Pelaksana bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;F. Jadwal Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pendaftaran dibuka tanggal 20 Februari – 5 April 2011.&lt;br /&gt;2. Technical Meeting dilaksanakan 14 April 2011 pukul 10.00 WIB.&lt;br /&gt;3. Tarung Penyair Panggung: a. Babak Penyisihan: 14-16 April 2011. b. Babak Final: 17 April 2011.&lt;br /&gt;4. Keterangan selanjutnya akan disampaikan pada saat technical meeting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;G. Alamat Sekretariat dan Informasi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Perpustakaan dan Arsip Kota Tanjungpinang Jl.Soekarno-Hatta No. 59-60 Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau – Indonesia Telp. (0771)314812 Info Online 24 Jam : Haris Pustaka (+6285264581979), Ahmadun YH (+6281315382096), Tusiran Suseno (+6285264738000) Tanjungpinang, 15 Februari 2011 PANITIA PELAKSANA TARUNG PENYAIR PANGGUNG Se Asia Tenggara Tusiran Suseno Ahmadun Y Herfanda Ketua Koord.Lomba&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-3120174587117564460?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/3120174587117564460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=3120174587117564460' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3120174587117564460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3120174587117564460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/03/tarung-penyair-panggung-seasia-tenggara.html' title='&lt;center&gt;TARUNG PENYAIR PANGGUNG SEASIA TENGGARA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-yPcpOWId_9g/TYOSE01LRqI/AAAAAAAADI0/sSTsSbtcXos/s72-c/Logo%2BTarung%2BPuisi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-3443500543719929836</id><published>2011-03-13T12:07:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T22:58:43.986-07:00</updated><title type='text'>Puisi, Saling Menginspirasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-jD7tu_GAGJ4/TX0XT_2LM8I/AAAAAAAADIk/vKknoxVYPd8/s1600/De%2BKemalawati%2B222.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 147px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-jD7tu_GAGJ4/TX0XT_2LM8I/AAAAAAAADIk/vKknoxVYPd8/s200/De%2BKemalawati%2B222.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5583644745332896706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh : De Kemalawati&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber inspirasi menulis puisi bisa dari mana saja. Pernyataan itu tentu tak perlu kita bantah. Menonton telivisi yang menayangkan bagaimana dahsyatnya gempa bumi melanda sebuah pulau,bagaimana bangunan bertingkat seolah menari-nari saat gempa berskala tinggi menggoyangnya, akan menjadi inspirasi bagi seorang penulis puisi untuk menuliskan syairnya. Bagaimana banjir bandang menghanyutkan gelondongan kayu dengan airnya kuning dan berat meluncur dengan kekuatan dahsyat, menghantam semua penghalang dan menghancur leburkan seluruh infrasruktur yang ada hingga nyawa manusia direnggutnya. Melihat tubuh manusia yang tergulung, berputar diantara air yang memburu kemudian tergeletak dibalut lumpur, tak bergerak, naluri penyair akan berpendar-pendar mencari kata yang tepat menggumamkan rasa dukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair menyampaikan semua rasa yang bergejolak di jiwanya dengan menyusun kata yang kadang menusuk para pembacanya tepat pada sasarannya. Ada penyair yang berhasil mengumpulkan kekuatan kata-kata sehingga puisinya dimaknai seperti yang dikehendaki. Tetapi tidak sedikit penyair yang mencari cara lain agar puisi-puisinya mengajak pembaca berimajinasi lebih liar dari penulisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada patokan yang harus dipatuhi seorang penyair kecuali menjaga rambu-rambu seadanya selebihnya adalah rasa yang ditawarkan kepada pembaca yang kemudian dicecap oleh pikiran perasaan pembaca bahwa puisi yang dihasilkan oleh penyair tersebut mempunyai cita rasa tinggi. Dan seperti juga makanan yang enak di lidah orang yang gemar memasak, dia akan selalu terinspirasi bila memakan makanan dengan cita rasa yang belum pernah dirasa untuk memasak dengan rasa yang sama. Tentu dengan mengetahui bumbu-bumbu apa yang ada dalam racikan makan yang baru pertama dinikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga penyair. Dalam hal ini, saya ingin berbagi bagaimana sebuah puisi yang saya tulis membalas SMS seorang sahabat hati (meminjam istilah penyair Dimas Arika Mihardja) bapak Arsyad Indradi yang mengabarkan kepada saya tentang kebahagiaannya karna baru saja mendapat anugerah dari Allah SWT seorang cucu laki-laki. Meski bukan cucu pertama, tapi bagi sang kakek yang sastrawan Indonesia yang sangat bergiat dalam dunia maya, lewat blog Penyair Nusantara dan beberapa blog lainnya yang beliau kelola, hal ini adalah kebahagiaan yang tak cukup kata untuk melukisnya. Dan saya membalas SMS beliau dengan puisi singkat yang saya beri judul Menimang Cucu.&lt;br /&gt;SMS yang terkirim itu masih saya simpan, dan saya yakin bapak Arsyad Indradi pun masih menyimpannya. Berikut saya turunkan di sini SMS tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;MENIMANG CUCU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Kepada Arsyad Indradi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;D Kemalawati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Setelah takbir kau perdengarkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;geliatnya kelihatan nyata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;sembari mengucap syukur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;kau raba detak jantungmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;menyamakan dengan denyut nadinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;sungguh waktu memberimu debar itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;sebagai jelmaan diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;kau simak tangis pertamanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;sebagai puisi berima muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;mendaratlah kasih dalam kecupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;entah telah berapa lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;kau simpan wanginya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;sebelum ia dalam pelukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Banda Aceh, 10 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puisi itu terkirim ke bapak Arsyad, dan beliau membalas: “Trimakasih mba De bingkisan puisinya. Cucu pertama kedua orangtuanya teriak kaget campur kagum karena kukasih tongkat dan mahkota dewa di fotonya dan daku jadikan foto profilku di FB. Oya mba De kita berempat baca puisi di gunung wayang, nanti daku pasangkan di blog mba De.”&lt;br /&gt;Demikian SMS balasan bapak Arsyad. Ya, rumoh sastra dkeumalawati tampil jauh lebih indah setelah campur tangan bapak Arsyad Indradi. Puisi- puisi yang ada di bawah rumah wayang adalah puisi SMS yang diabadikan bapak Arsyad sehingga ikatan kekerabatan dengan foto kami (Arsyad Indradi, Diah Hadaning, De kemalawati dan Dimas Arika Mihardja) tampil lebih simetris dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya tuliskan sebagai prolog ini sebenarnya adalah suatu pembuka perbincangan yang biasanya kami lakukan di ruang diskusi Rabu sore di lembaga kami, Lapena. Karena berbagai kesibukan ruang diskusi rabu sore itu sudah vakum dalam waktu yang lama. Dan sebagai pelepas rasa kangen saya dengan teman-teman peserta diskusi yang biasa hadir nyata di lapena, maka lewat lembaran catatan ini saya berbagi dengan teman teman bagaimana puisi itu sebenarnya saling mengispirasikan bagi sesama penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Menimang Cucu yang saya kirimkan spontan ke bapak Arsyad Indradi seperti yang saya tuliskan di atas, kemudian saya baca ulang lalu saya edit beberapa bagian sehingga saya yakin untuk menetap  di Rumoh Sastra D Keumalawati dan Romoh Puisi Kemala. Setelah muncul di halaman depan blog, saya  pikir tak salah kalau saya juga berbagi di FB.  Dan ternyata setelah saya terbitkan dengan menandai beberapa teman yang bagi saya meski pun ruangnya berbeda, mereka tak lain adalah teman berbincang di diskusi Rabu sore Lapena, komentar teman-teman disana tak hanya komentar biasa tetapi juga puisi-puisi yang dilahirkan spontan oleh teman-teman penyair seperti yang saya kutip berikut ini. Saya mulai dengan puisi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;MENIMANG CUCU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Kepada Arsyad Indradi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;D Kemalawati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Setelah takbir kau perdengarkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;geliatnya kelihatan nyata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;sembari mengucap syukur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;kau raba detak jantungmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;menyamakan dengan denyut nadinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;kau simak tangis pertamanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;sebagai puisi berima muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;mendaratlah kasih dalam kecupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;entah telah berapa lama menghidu wanginya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;sebelum kau timang dia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Banda Aceh, 10 Maret 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komen pertama yang menuliskan puisinya untuk Bapak Arsyad datang dari Dimas Arika Mihardja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENIMANG CINTA, MEMINANG KASIH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;~ bait-bait buat abah arsyad indradi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;seusai kautancapkan gunungan lengkap dengan wajah ceria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;angin lalu bercerita tentang desah kasih, ciuman putih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;ingin jemari ini tak letih menguntai ruas doa buat abah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;untuk pewaris riwayat cinta berbusana kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi itu dituliskan beberapa saat setelah puisi saya Menimang Cucu itu saya berhasil diterbitkan di FB. Dan komentar kedua yang menuliskan puisinya juga untuk bapak Arsyad dengan nada yang sama muncul dari Yssika Susastra. Berikut ini aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DALAM BAYANG IMPIAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Yessika Susastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;engkaukah cucuku? darah daging yang kuderaskan pada denyut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;jantung yang bernama kekasih? ah, senyummu sepertinya aku hafal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;sejak nenekmu dulu mencium punggung tangan saat ikrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;sebelum persandingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;engkaukah? ah, alangkah cantik mungil bibirmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;apakah yang kaubisikkan? abah?o, aku kakekmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;yang lucu, hayo tersenyumlah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;duh, basah deh sarung kakek terkena pipismu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;tapi enggak apa, pipislah lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;basuh dada kakek dengan kehangatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;engkaulah? ah, kakek bahagia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi itu juga tak berselang lama muncul di layar sama setelah beberapa komentar lainnya. Puisi berikutnya ditulis oleh penyair Moh Gufron Cholid yang di bawahnya dituliskan tanggal  penulisannya yaitu 11 Maret, satu hari setelah puisi Menimang Cucu saya publikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ADA SURGA DALAM KECUPMU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;: Arsyad Indradi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Moh Gufron Cholid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Ada surga dalam kecupmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Saat kau timang cucu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;...Dalam debar rindu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Ada surga dalam kecupmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Kebahagian menjadi tugu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Dunia pun cemburu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Sebab karunia tak henti memburu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Ramai sunyi hidupmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Kamar Hati, 11 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terinspirasi dengan puisi Menimang Cucu, seorang teman guru yang handal dalam menulis cerpen dan pernah beberapa kali memenangkan Sayembara Menulis Cerpen Guru (LMCP) yang diadakan Diknas Herni fauziah, kini bermukim di Medan, Sumatra Utara juga menulis puisi dengan judul yang sama Menimang Cucu. Sambil tertawa-tawa di telpon Herni yang akrab kupanggil Tata itu mengatakan kalau dia terinspirasi dengan puisi saya dan sengaja memakai judul itu sebagai tandingan. Berikut puisi yang diterbitkan di note-nya Herni Fauziah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENIMANG CUCU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Herni Fauziah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Seorang perempuan renta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;melantunkan senandung buaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;tak berirama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Ceracau-ceracau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;bagai suara mantera di antara wangi dupa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Seorang bocah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;bertelanjang dada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;meringkuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;merengkuh tubuhnya berselimut kain kumal, pudar warnanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Gigil-gigil sisa tangisan tadi malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;masih lekat di gurat-gurat wajahnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;senandung buaian masih terdengar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;mengisahkan cerita yang tertunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Ayah tiada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Bunda di Saudi Arabia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;bersandar di bahu yang renta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;rapuh pula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;dengan buaian kehilangan irama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;senandung terus terdengar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;entah sampai ke lembaran berapa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;mereka tak berani menerka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255);"&gt;Medan, 11 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak bermaksud mengatakan siapa menginspirasi siapa, dan juga tidak bermaksud memberikan suatu kesimpulan yang mutlak, dari apa yang saya dapatkan dalam menulis catatan di FB berupa puisi yang sangat sederhana telah lahir beberapa puisi yang sangat menginspirasi dan layak untuk dibincangkan. Tentu bagi mereka yang menulis di komentar puisi saya masih terbuka peluang untuk mereka mengubahnya dan menuliskan kembali di catatan mereka. Demikian, salam sastra De Kemalawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 13 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: di http://rumohsastradkeumalawati.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-3443500543719929836?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/3443500543719929836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=3443500543719929836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3443500543719929836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3443500543719929836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/03/puisi-saling-menginspirasi.html' title='&lt;center&gt;Puisi, Saling Menginspirasi&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-jD7tu_GAGJ4/TX0XT_2LM8I/AAAAAAAADIk/vKknoxVYPd8/s72-c/De%2BKemalawati%2B222.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-7253856189060030814</id><published>2011-03-10T07:00:00.000-08:00</published><updated>2011-03-10T07:11:12.519-08:00</updated><title type='text'>DIALOG SASTRA DAN REMU PENYAIR 3 KOTA DI JAMBI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-PveGFlemFDs/TXjogPeZ7XI/AAAAAAAADEc/qKu3_jHdPB0/s1600/3%2Bkota.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PveGFlemFDs/TXjogPeZ7XI/AAAAAAAADEc/qKu3_jHdPB0/s320/3%2Bkota.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5582467378733247858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyair dalam proses kreatif penciptaan sajak selalu menggumulii “tanah pilih” sebagai lahan garapan bagi sajak-sajaknya. Lewat observasi, penjelajahan, pengembangan, pengolahan, pendalaman, dan pergumulan terus-menerus penyair dalam proses kreatifnya senantiasa melakukan pilihan terbaik. Dalam melakukan pilihan itu, dengan intensitas masing-masing, penyair memilih lahan garapan bagi sajak-sajaknya. Bagi penyair, lahan garapan di “Tanah pilih” menyediakan aneka pengalaman fisik, spiritual, dan estetis. Aneka pengalaman fisik, spiritual, dan estetis itu kemudian diproses ke dalam sajak. Sajak, dengan demikian merupakan endapan pegalaman fisik, spiritual, dan estetis yang dieksplorasi  melalui proses introspeksi, membaca diri, memahami minat, hasrat, dan arah tujuan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanah Pilih” menyediakan keleluasaan bagi penyair untuk melakukan kinerja kreatif-inovatif-produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair dalam melakukan kinerja kreatifnya berpangkal tolak dari kreativitas. Dengan kreativitas, penyair memiliki keleluasaan melakukan penjelajahan, eksprolasi, dan menghasilkan sajak yang memiliki kadar “kebaruan” Dengan “kebaruan” penyair dapat memberikan tawaran-tawaran inovatif dan produktif. Dalam kinerja kreatif-inovatif-produktif, penyair selalu melakukan observasi, penjelajahan, pengembangan, pengolahan, pendalaman, dan pergumulan terus-menerus. Hasil kinerja kreatif-inovatif-produktif berupa sajak dapat diidentifikasi upaya setiap penyair dalam memformulasikan jati diri, identitas, atau warna sajak yang ditulis. Lewat sajak-sajak yang terdedah dalam buku ini dapat diidentifikasi bahwa hampir setiap penyair berusaha keras menawarkan pola ucap sajak yang menjadi ciri estetik masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara personal, penyair memiliki kemerdekaan dalam memilih lahan garapannya. Penyair dapat leluasa menulis tentang diri sendiri, orang lain, atau konteks sosial-kemasyarakatan serta  melakukan mimesis terhadap ciptaan Allah. Penyair dengan leluasa dapat menuliskan kepolosan dirinya, kurap dan penyakit masyarakat, merefleksikan apresiasi terhadap alam dan Sang Pencipta. Penyair dalam berkarya dituntut untuk jujur pada diri sendiri, orang lain, dan terhadap Sang Pencipta. Penyair menggubah sajak secara apa adanya, jauh dari sentimen pribadi, bertanggung jawab, dan tentu saja bercita rasa estetis tinggi merupakan manifestasi adanya sikap jujur. Kejujuran! Sebuah kata yang kini langka kita temukan di zaman yang carut-marut oleh berbagai kepentingan. Kejujuran tentu perlu dijadikan acuan bagi para pencinta kehidupan, penggubah kata, peengembang kebudayaan. Yang perlu dimiliki oleh seorang penyair adalah kejujuran. Dengan kejujuran akan lahir sajak-sajak yang menyentak lantaran lugas, cerdas, dan bernas. Kepolosan dan kelugasan di masa euforia penuh slogan, eufemisme, kepura-puraan, dusta, dan kesombongan terasa mendapatkan tempatnya tersendiri! Sajak yang menyentak adalah karya yang cerdas yang dikemas secara bernas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair memiliki banyak pemikiran dan tawaran kreatif dalam sajak-sajak yang digubahnya. Kinerja penyair lebih mengarah pada persoalan spiritual (tidak semata mendapatkan keuntungan finansial). Kinerja penyair lebih banyak memberi daripada menerima segala sesuatu yang bersifat kebendaan. Semangat, etos kerja, keikhlasan, dan meyakini bahwa segala yang dilakukan akan memberikan faedah bagi diri sendiri dan orang lain tentulah cukup membahagiakan. Sebab, urusan hidup tidak selalu dapat diukur dengan kelimpahan materi, melainkan ada hal-hal lain yang lebih mengarah ke hal yang rohaniah, spiritual, dan pengabdian terus-menerus. Namun, buru-buru perlu ditambahkan bahwa kinerja penyair semestinya masuk dalam kategori profesi yang profesional. Itulah sebabnya  hasil karya dan kinerjanya perlu mendapatkan apresiasi yang memadai dan tempat yang terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang penting dikemukakan ialah bahwa sajak menyediakan diri dibicarakan dengan berbagai pendekatan. Bobot sajak terutama terletak pada cara penyajian dan pada adanya pendaran nilai-nilai sebagai hasil refleksi dan kontemplasi sastrawannya. Bobot sajak selain ditentukan oleh penampilan sajak di atas kertas, terutama ditentukan oleh khalayak pembaca. Kepada para pembaca budiman, silakan menikmati sajak-sajak dengan khidmat, sebab melalui pembacaan penuh penghayatan akan terbentuk silaturahmi batiniah yang pada gilirannya akan memperkaya khasanah dan cakrawala kita tentang hidup dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA PROSES KREATIF penyair Diah Hadaning (Jakarta), DAM (Jambi), dan D Kemalawati (Banda Aceh)? Bagaimana atraksi mereka saat tampil membaca puisi di hadapan audience? Bagaimana respon mereka menghadapi berbagai tanggapan, pertanyaan,kritik dan saran? Semua itu akan terjawab di dalam agenda DIALOG SASTRA DAN TEMU PENYAIR 3 KOTA (JAKARTA, JAMBI, ACEH) yang dihelat di aula Rektorat Lantai III Universitas Jambi Kampus Pinang Masak Mendalo 22 Maret 2011 mulai pukul 08.30 WIB. Jika forum ini belum memuaskan, malam harinya akan digelar LESEHAN SASTRA di Taman Budaya Jambi mulai pukul 19.30 WIB. Acara ini lalu akan digelar di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin Jakarta 25 Maret 2011 pukul 19.00 WIB. Sahabat dan peminat silakan hadir.&lt;br /&gt;Salam sastra!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-7253856189060030814?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/7253856189060030814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=7253856189060030814' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7253856189060030814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7253856189060030814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/03/dialog-sastra-dan-remu-penyair-3-kota.html' title='&lt;center&gt;DIALOG SASTRA DAN REMU PENYAIR 3 KOTA DI JAMBI&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PveGFlemFDs/TXjogPeZ7XI/AAAAAAAADEc/qKu3_jHdPB0/s72-c/3%2Bkota.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-1488937688581117972</id><published>2011-02-28T18:30:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T19:17:02.348-08:00</updated><title type='text'>“Kalalatu” Ekpresi Arsyad Indradi Dalam Intrinsik Puisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ZBGdQfr2FWk/TWxbKEhmO7I/AAAAAAAAC6w/aFjPZMEbcRw/s1600/noor%2Bhana.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 146px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZBGdQfr2FWk/TWxbKEhmO7I/AAAAAAAAC6w/aFjPZMEbcRw/s200/noor%2Bhana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5578934266976680882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                                  Oleh : Noor Hana&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;           Bahasa lisan selalu dituntun oleh pengujar atau pembicaranya. Sedangkan sebuah teks tertulis memiliki maknanya sendiri setelah dipublikasikan. Artinya, kalau kita terlibat dalam suatu pembicaraan lisan maka maksud pembicara yang belum jelas dapat dipertegas dengan mengajukan pertanyaan kepada pembicara tersebut. Sebaliknya, sebuah teks, dalam hal ini puisi, tidak lagi sepenuhnya tergantung pada penjelasan yang diberikan oleh penyair tetapi tergantung pada tafsir pembaca atas puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi Puisi “Kalalatu” karya Arsyad Indradi yang kental dengan nuansa tanah Banjar ini  mengajak saya untuk menjelajahinya baik dari situasi bahasa, tema, bahasa puisi mau pun bentuk puisi  Situasi bahasa “ Kalalatu “, terlihat pada sajak “ Kai Adul “ mengungkapkan pikiran yang didasarkan oleh suatu pengamatan dan ingatan di masa lalu. Subjek lirik sajak ini sulit disifatkan, yang dapat dilakukan hanyalah membuat interpretasi tak langsung berdasarkan penggunaan kata-katanya. Sajak ini memasukkan persona ketiga, yakni Kai Adul yang digambarkan hanya dari sudut pandang pembicara, namun pandangannya sendiripun diungkapkan di dalamnya.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Setelah bacaan terakhir, penulis dapat menentukan secara umum, apa yang dibicarakan dalam sajak: pembicara dalam teks, yaitu subjek lirik terkenang kembali tentang sosok yang menjadi panutan dan sangat dikaguminya. Subjek lirikbercerita tentang masa dulu, ketika masih kecil ia bersama saudara dan anak-anak sebayanya begitu menikmati kebersamaan dengan tokoh yang bernama Kai Adul. Mereka memijat tangan dan kaki Kai Adul, mendengarkan nasehat dan petuah beliau mengenai kehidupan. Bayangan dari masa lalu ini muncul dan sampai pada hari itu ia masih tetap mengingat dan mengamalkan apa yang selalu diajarkan oleh Kai Adul.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Dalam sajak ini tidak dikatakan secara eksplisit apakah subjek lirik ini adalah wanita atau laki-laki, sehingga peneliti tidak dapat mengidentifikasi jenis kelamin dari subjek lirik, akan tetapi dalam teks tentu tetap ada petunjuk. Dalam sajak ini, disebut kata kami, akan tetapi tetap saja itu merupakan narasi dari satu orang saja. Pembicara adalah seorang anak yang telah menjadi dewasa kemudian berbicara mengenai masa kecil bersama anak-anak sebayanya dan Kai Adul, yang paling jelas adalah pada bait terakhir ......Mun kami takumpulan taganang aruah Kai/Sidin tahu nangapa nang handak kami pinta/Sampai wayahini kami pingkuti papadah sidin/Bismillah nitu anakkunci pambuka lawang surga&lt;br /&gt;                         &lt;br /&gt;Hal lain yang mungkin menjadi petunjuk adalah penggambaran mengenai cara bertutur Kai Adul terhadap subjek lirik pada larik keduabelas /hidup ada aturannya tungai/  kata ’tungai’ lazim digunakan untuk anak-anak, meski tidak mutlak memiliki hubungan kekerabatan, namun kata-kata ini menunjukkan hubungan emosional yang kuat antara keduanya.Dalam sajak tersebut, perasaan subjek lirik menjadi himpunan perhatian, walaupun kadang-kadang menjadi rumit karena dimasukkan orang ketiga sehingga sajak bisa bersifat dialog. Jika subjek lirik tidak berbicara kepada seorang pendengar maka sajak dapat menjadi semacam pendapat yangbersifat umum, dapat dikatakan sajak ini memasukkan unsur kisahan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Sajak yang memuat unsur kisahan, dimana subjek lirik bercerita, mengungkapkan pikiran dan pengamatannya tentang persona ketiga, juga terdapat pada sajak lain dalam antologi ini seperti sajak “ Nini Aluh “Mun taganang aruah nini barubuian banyumata/Sidin caramin mata wan wadah baungah /Nini landang umur jar urang sidin babustan....Handaklah nyaman mambuka lawang surga/Apikapik mamalihara muntung wan mamalihara rupa/Basuh batistangan wan adat pusaka ....Kemudian pada sajak “Bagandang Nyiru” ...Imbah itu inya kada tahu lagi wan dirinya/Nang tahu teja mambari sajumlah warna/Jalan nang kada tarasa asing dijalani/Hanyar babarapa hari badapat wan Ainun/Rasa saratus tahun bakawanan singrakatan//Kada kawa dikisah lagi bauma tiri/Juhri nang babatis panjang sabalah/Lamun harat bagimpar wan bagipang /Dikampung ngaran tapuji ......&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Perkataan pembicara dalam sajak Kai Adul tidak ditujukan kepada seseorang pendengar khusus. Monolog subjek lirik ditujukan kepada dirinya sendiri. Ia mengenang masa lalu, karena situasi dan kondisinya pada saat itu sangat memungkinkan untuk membuka kembali ingatannya tentang tokoh Kai Adul. Dirinya merenungi betapa petuah-petuah yang dulu selalu Kai Adul berikan amat dipegang oleh subjek lirik (dan anak-anak lain yang kemudian disebutnya dengan ’kami’). Sudut pembicara yang tidak ditujukan pada pendengar khusus, atau hanya berupa monolog pada diri sendiri banyak dimunculkan dalam Antologi ini. Sajak “Sarai sarapun” berbicara mengenai subjek lirik yang mengingatkan dirinya sendiri untuk selalu mawas diri. Baik batuakal kugamati sakikihduakikih/matahari nang mantapuk kabumbunan/ maulah pananjak bahindang bahindala/ kaina kada sawat baulah jalan/ manyampati ari/ bursiah sanja bagasut bahantak/ ka sangkar bumi.&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;Dalam banyak sajak, pendengar/ yang diajak bicara tetap implisit. Tidak hanya untuk diri sendiri, terdapat pula sajak yang ditujukan untuk alam dalam sajak Bulik Balanting.. .....Baturai wan hujan garimis/Aku tajipah/Dalam rajut lunta rakun/Kukikih carucuk/Nang batabul. Ilungilung maumbakgalahani/Sanja sasain bagalusut sasain mamarah janar dimataku/Kada usah lagiah batakun kamana burung-burung /Maurak halar. Kamana hutan bakau mancari /Humbayang sampai ka muhara/ Mun angin manampur/Kadundangakan parimataku.............&lt;br /&gt;                          Dengan mengajak bicara sesuatu yang tidak hadir, mati atau tak bernyawa, sesuatu itu dihadirkan, dihidupkan, dimanusiakan. ’langitai’ dan ’bumiai’ menjadi pemantul suara yang walaupun sendirinya diam, namun tanggap terhadap subjek lirik yang justru memerlukan pemantul semacam itu untuk mengungkapkan perasaannya. Kita lihat sajak “ Zikir Madihin “ ....Malam Ramadhan ini aku mambuang supan /Mambuang takutan aku musti badatang kahadapanmu/Galitiran kadua tanganku/Galitiran kadua tanganku/Galitiran manadah ka arasymu/Parau bakiau asmamu dalam sisiganku/Padih mataku dalam cahaya matamu/Ya Rabbi jangan engkau pajahakan /Lampu bashirah di tanganmu nyalaakan/Wan ma’rifatullah dalam batinku ....&lt;br /&gt;                          Orang kedua diajak bicara, tetapi tidak menjawab. Harus dipahami dari teks siapa orangnya dan apa hubungannya dengan subjek lirik. Di sini hubungannya Khalik dan makhluk. Jelaslah bahwa tidak ada jawaban dari pihak kedua, dari potongan sajak itu terungkap kerinduannya akan Tuhan yang dia dekati dengan deskripsi yang angkuh, namun penuh harap.&lt;br /&gt;                           &lt;br /&gt;Tema Kalaltu adalah subjek lirik serta perasaan dan pikirannya merupakan pusat sajak. Tidak ada perjalanan waktu seperti halnya dalam sebuah kisah. Meski begitu, sajak juga berisi sejumlah keterangan konkret mengenai dunia yang digambarkan. Seperti pada sajak WTC, Kuala Lumpur segala sesuatu terjadi pada saat sekarang (ketika berada di Kuala Lumpur) dan sebenarnya peristiwa yang paling penting adalah bahwa subjek lirik, karena pengaruh pengalaman ’kini’ yakni perjalanannya ke WTC, Kuala Lumpur membandingkan pada kondisi negerinya sendiri.&lt;br /&gt;                              &lt;br /&gt;Dalam gambaran khayalan subjek lirik, ia juga membangkitkan situasi kontras antara Kuala Lumpur dengan segala fasilitas, kemegahan, dan perlindungan keamanan bagi warga sipilnya dengan kondisi yang jika dibandingkan maka tidak ada apa-apanya (bait kedua dan ketiga). Sajak dibangun berdasarkan perbandingan dua keadaaan. Situasi masa kini, atau situasi di Kuala Lumpur dapat dipandang sebagai penyebab timbulnya gambaran perbandingan. Sejak bait awal hal tersebut sudah digambarkan, kemudian dilukiskan lebih luas dalam bait ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konstruksi ini menyebabkan terjadinya kisah perjalanan yang seakan-akan menjadi pokok pembicaraan sajak. Yang mencolok dalam ’kisah perjalanan’ ini adalah pada akhirnya subjek lirik menyadari bahwa kemajuan tekhnologi terkadang juga membawa dampak negatif terutama terhadap budaya masyarakat. Kesan ini tercipta pada kuplet terakhir........Mahancap aku turun kawal bakiaw/Kukiranangapa pina musti/Cis inya manyalaakan mancis/Jaharu manukar mancis nang ada gambar lightplaynya/Urang baanuan&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;Dalam pembacaan penulis, sajak-sajak Arsyad Indradi hadir sebagai perpaduan antara kemurungan dan pemberontakan. Suasana murung itu menjadi nada dasar yang sendu dari sebagian besar sajak dalam “Kalalatu”.  Sementara pemberontakan dideklarasikan dalam bentuk perlawanan terhadap perwujudan yang banyak menghilangkan, bahkan menindas budaya lokal, terutama oleh budaya modern yang kontroversial dan membuat banyak manusia menjadi marjinal. Seperti Sajak “ Kahilangan Banua “....Sakilan kadada lagi tanah hagan bakubur/Mambalas kabaikan wayah dipukung/Banyu didih panyulam susu aruah mama/Diganali banyu laang//Tanah mana baganti rupa/Saalaman ragaibacampur cuka/Wayahini siapa aku siapa ikam/Banua tinggalam Dan pada sajak”  Dundang Rista Saribhu Burung “...........Yulan ya lalalin/Hutan baratus tahun/Ditabang habis/Batubara dikikis/Hagan kasugihan tuantuan/Kami disipak/Ka padangpadang pangasingan/Tasingkir ka bukitbukit pamburuan&lt;br /&gt;                          &lt;br /&gt;Penyair merasa miris melihat eksploitasi besar-besaran terhadap kekayaan alam secara tidak bertanggung jawab oleh pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi. Dan pada sajak “Tampulu “ ....Ayuha dahulu/Wayah dipawayah kada balalawasan bataring/Mambulangkir banua/Tatah dipatatah kada balawasan bakuasa/Mun sudah pajah dalam carita/Jangan bahiyau sanakkulawargaTidak selamanya yang miskin akan terus menderita dan yang kaya tak mesti selalu sejahtera. Begitu pula dengan kekuasaan yang menjadi  kebanggaan seseorang atau kelompok, tidak selamanya akan bertahan. Dengan keyakinan bahwa roda kehidupan akan terus berputar, maka yang bisa dilakukan hanyalah pasrah. Segala daya upaya untuk menyatakan protes dan kekesalan terhadap keadaan itu hanya akan sia-sia karena hanya dianggap ’daun luruh’, atau sesuatu yang tidak diperdulikan keberadaannya. “ Daun Luruh “ Daun luruh/Di jalanan/Tajajak talincai urang lalulalang/Jaka hingkat bakuriaklawan siapa maminta tulung/Tapi inya daun/Sahibar daun/Daun&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Bagaimana Kalalatu pada penggunaan Bahasa ? Bila dibandingkan dengan teks prosa atau drama, pada puisi cara pengungkapanlah yang jauh lebih penting. Kesepian dalam hening malam, rindu pada Tuhan, bunga yang cantik, semuanya itu pada sendirinya adalah pernyataan yang usang dan klise. Meskipun demikian, para penyair selalu berusaha menyajikan pernyataan yang usang itu dengan cara selalu baru, isi dan ungkapan terjalin erat.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Penggunaan bahasa ditandai oleh adanya kiasan dan berbagai gaya. Memang dapat disimpulkan bahwa pada umumnya dalam puisi, kiasan dan bentuk gaya terdapat jumlah yang lebih besar daripada dalam penggunaan bahasa yang lain. Namun demikian, tidak mutlak itu harus merupakan bagian dari bahasa; ada penyair yang berusaha menjauhkan cara pengungkapan bahasa yang rumit. Hal ini pula yang tergambar dari puisi dalam antologi “Kalalatu” karya Arsyad Indradi.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Pada tataran bahasa puisi, Arsyad Indradi menjadikan puisinya begitu melodius, punya kekuatan ekspresif pada sajak, karena pengaruh pengulangan bunyi. Kita lihat sajak Mambangkit Batan Tarandam : Tarandam batang tarandam/Timbul tinggalam diarus banyu/Hilang jua di mata/Hilang jua di hati/Ingat kada jua diingat//Tarandam lawas tarandam/Tarandam lawas diarus banyu/Bangkitakanlah jua batang tarandam lawas/Pusaka paninggalan urang bahari//Mambangkit batang tarandam lawas tarandam/Pusaka bahari nang lawar pang tarandam/Tabangkit jua batang tarandam tabangkit/Barakat kita gawi sabumi&lt;br /&gt;                         &lt;br /&gt;Sajak ini menggunakan sederetan kata yang berawal dengan t,  “Tarandam batang tarandam/ timbul tinggalam”. Banyak t dalam sajak ini memberi kesan berat yang menunjang makna kedua larik terakhir. Tabangkit jua batang tarandam tabangkit/ barakat kita gawi sabumi. Bukan tidak sengaja penyair memilih “Mambangkit Batang Tarandam” sebagai judul. Kata ’batang tarandam’ muncul berulang sebanyak sembilan kali pada keseluruhan sajak ini. Kenyataan bahwa “Batang Tarandam” ini memiliki makna simbolik serta sifat-sifat yang dihubungkan kepadanya. ’batang’ ini dimanfaatkan untuk mendukung kesan berat. Diperlukan usaha keras untuk bisa membangkit dan mengangkat ’batang’ yang disatukan dengan kata ’tarandam’ membuat eksplisit makna yang ingin disampaikan.&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Dalam bahasa puisi selalu terjadi interaksi terus-menerus antara keterikatan dan kebebasan, antara ketentuan dan pembaharuan, antara tata bahasa dan praktik bahasa.&lt;br /&gt;Akan kita lihat bahwa seorang penyair bisa saja membebaskan ikatan antara kata dan apa yang hendak ditandai oleh kata tersebut. Hal ini dilakukan untuk menerobos makna yang lama dan menciptakan makna yang baru. Cara yang ditempuh adalah melalui penggunaan metafor. Metafor tercipta karena sebuah kata yang secara konvensional tak dapatdihubungkan dengan perkataan lainnya, justru dihubungkan untuk melakukan penyimpangan yang disengaja. Sebagai contoh, kata ’pandir’ secara konvensional merupakan atribut untuk menunjukkan yang kita dengar berupa ucapan. Akan tetapi, Arsyad Indradi dalam sebuah sajaknya dengan kreatif menunjukkan bahwa kata ’pandir’ menjadi atribut yang tidak hanya dari apa yang bisa didengar tetapi juga apa yang kita makan/ masukkan. Seperti puisinya Miang : Miang kajijingah/Miang tahayut kulipak paring/Miang tapalit jalatang/Miang takana hulat bulu/Masih kada sabarapa&lt;br /&gt;/Tapi mun miang/Tamakan pandir/Bakiruh tipang sabukuan awak&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Penyair, berbeda dengan pemakai bahasa lainnya, menghadapi bahasa dan kata-kata tidak pertama-tama sebagai alat yang siap pakai, tetapi sebagai bahan atau material yang masih harus dikerjakan dan diolah.&lt;br /&gt;                Penyair membicarakan kegelisahan. Tema yang abstrak ini dikonkretkan dengan kata ’miang’. ’Miang’ yang secara harfiah berarti gatal, digunakan berulang-ulang. Citra yang digunakan untuk ’miang’ ini sangat cocok dalam sajak tersebut, terutama sehubungan dengan tema yang begitu penting bagi sajak, yaitu kondisi dan situasi yang tidak mengenakkan. Dampak pencitraan terutama diperoleh karena perincian keempat pembanding yang memiliki makna serupa (makna sebenarnya, seperti kajijingahan, tahayut kulipak paring, tapalit jalatang, takana hulat bulu). Dengan demikian warna motif yang negatif ditekankan. Akan tetapi, larik berikutnya berbunyi Masih kada sabarapa/Tapi mun miang /Tamakan pandir/Bakiruh tipang sabukuan awak&lt;br /&gt;                           Larik tersebut memasukkan kata ’tetapi’ membangkitkan suatu penekanan lebih pada larik berikutnya, mun miang/ tamakan pandir/ bakiruh tipang sabukuan awak. Kata ’miang’ disandingkan dengan kata ’tamakan pandir’ (termakan omongan) dua acuan yang sama sekali tidak ada hubungannya secara logis. Akan tetapi kata ’miang’ (gatal) tepat untuk menggambarkan kondisi yang tidak mengenakkan yang jika seseorang mengalami maka akan menyebabkan gelisah dan tidak bisa tidur.&lt;br /&gt;Terlihat di sini bagaimana metafor dipergunakan untuk memainkan pengertian pandir. ’Pandir’ yang berarti kata-kata atau lebih tepatnya omongan, disandingkan dengan kata ’termakan’. Tentu saja ini tidak bisa dimaknai secara harfiah, karena kata-kata bukan sesuatu yang bisa dimakan. Namun, berdasarkan konteksnya, ’tamakan pandir’ atau termakan omongan dapat diterjemahkan. ’Tamakan’ (termakan) menjadi kata singkat yang bisa mengungkap penjelasan panjang. Pemilihan kata ’tamakan’ terkait dengan pengertian bahwa makan memerlukan suatu proses. Menggigit, mengunyah, lalu menelan. Sedangkan kata ’tamakan’ menyatakan perbuatan yang tidak diinginkan, mengandung unsur ketidaksengajaan, tidak melalui proses, atau secara  langsung dilakukan. Bahwa omongan atau kata-kata tidak hanya sekedar informasi yang lewat, didengarkan kemudian ditelan. Informasi itu harus diklarifikasi kebenarannya agar tidak hanya menjadi sekedar desas-desus ataupun gosip yang meresahkan.&lt;br /&gt;               Struktur kalimat juga mendukung oposisi makna keseluruhan sajak. Mula-mula kita baca pada larik pertama hingga larik keempat ’miang’ menjadi pembuka kalimat. Tekanan pada kata ’miang’ penyair mencoba menunjukkan tekanan perasaan gelisah dengan mengubah penempatan kata ’miang’ di akhir kalimat. Kemudian diakhiri dengan “bakiruh tipang sabukuan awak” . “Tamakan pandir” (termakan omongan) yang menyebabkan desas desus tanpa klarifikasi kebenaran dikatakan jauh lebih tidak mengenakkan.Kebebasan penyair atau licentia poetica adalah semacam lisensi khusus yang memberikan hak kepada para penyair untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam bahasa untuk memperbarui bahasa. Penyimpangan tersebut dapat dilakukan dalam bunyi bahasa untuk menciptakan efek fonetik bagi irama atau rima yang dikehendaki. Penyimpangan dapat pula dilakukan dalam makna bahasa, khususnya melalui teknik metafor, dimana dua kata dengan makna yang tidak bisa dipertautkan, digabungkan untuk menelurkan makna baru. Usaha pemaknaan baru ini dapat dilakukan juga dengan mengubah status sebuah kata sebagai kata benda menjadi kata kerja, atau kata sifat, dan sebaliknya. Selain itu, penyimpangan dapat dilakukan dengan mengubah bentuk kata, dengan menerapkan cara penulisan yang tidak sesuai dengan ejaan yang baku.&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Penyimpangan bentuk kata berupa pemberontakan terhadap ejaan ini juga dilakukan dengan konsisten oleh Arsyad Indradi. Sekalipun secara semantik dan secara fonetik dia tetap konvensional, dalam arti tidak memasukkan bunyi-bunyi atau kata-kata yang tidak dikenal ke dalam sajak-sajaknya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Ada beberapa penyimpangan yang dilakukannya. Diantaranya adalah menuliskan kata ulang tanpa tanda sambung. Dalam sajak “Di Pancung Lanting” peneliti menemukan bentuk-bentuk seperti: sahamahama, saricihricih, kilirkiliran, taruhuiruhui, ilungilung, dan baapikapik. Penyair juga menggabungkan dua kata yang seharusnya ditulis terpisah. Dalam sajak “Zikir Balarut” dapat ditemui bentuk-bentuk seperti: likatbaburih, manapungtawari, baraskuning, tanahbanyu, duitpacah, dan bauntungbatuah. Dalam sajak “Sarai Sarapun” penelitimenemukan bentuk seperti: sakikihduakikih, dan ampatpuluhsatu, yang semestinya ditulis: sakikih dua kikih, dan ampat puluh satu.Penyimpangan ejaan yang demikian, tentulah bukan ketidaksengajaan, atau kebetulan. Patut diingat bahwa huruf dan kata-kata tertulis adalah tanda untuk bunyi bahasa. Seorang penyair dapat memilih untuk melakukan manipulasi komponen tersebut.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Dalam sajak “Membangkit Batang Tarandam” tampak bentuknya yakni sajak terbagi menjadi menjadi tiga bait. Dapat dilihat bahwa pembagian ini ada kaitannya dengan kisah dan usaha untuk melestarikan Budaya Banjar atau yang diumpamakan sebagai “Mambangkit batang tarandam”. Prosesnya digambarkan sejak bait pertama hingga yang terakhir.  Bait pertama memaparkan bahwa Budaya Banjar telah hampir dilupakan. Bait kedua, timbul semangat untuk menghimbau masyarakat untuk mempertahankan kekayaan peninggalan orang tua terdahulu. Bait terakhir, patut dirayakan karena berkat kerjasama seluruh elemen masyarakat budaya ini tentu bisa dibangkitkan kembali.&lt;br /&gt;             Bentuk sajak dalam antologi ini tidak terlalu menonjol. Akan tetapi dapat dikatakan penyair memastikan bahwa jumlah bait atau bentuk paragraf dalam sajak-sajaknya mendukung isi atau makna keseluruhan sajak. Seperti dalam sajak berikut ini&lt;br /&gt;Marasa Maka Tahu  : .... Asa ganting paparutan napangai panurihan sunyi/Gatah tiiskada bagatah paluh nang diparah/Napang marasa maka tahu/Batis kulipak tungkulan baambah di padanga banta/Marajah pahumaan lawas pang taung/Lawas marajah pagat janji basambung pagat pulang/Marajah di hati napang/Manunjul jukung, jukung tapahalang/Manajak kupiah, kupiah tapahalang/Marasa maka tahu/Kikicaktu wadai gayam mata picak dipatuk hayam//Ari kalayang ari/Cagat mata tunduktingadah/Balangsar mahalimpaur/Sakalinya tahadangi buah bungur&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;Sajak “Marasa Maka Tahu” hanya terdiri dari dua bait. Bait pertama sebanyak 32 larik yang secara visual lebih panjang jika dibandingkan dengan bait kedua yang hanya 4 baris. Pembagian bait ini juga ada kaitannya untuk mendukung makna atau apa yang diceritakan dalam sajak. Bait yang panjang bercerita tentang penantian panjang seseorang akan perubahan nasibnya yang boleh dikatakan tidak beruntung. Bahkan harapannya agar orang yang kondisinya lebih baik tidak menutup mata akan keadaan itupun sia-sia. Penantian panjangnya itu diakhiri singkat oleh bait kedua puisi terutama larik terakhir sakalinya tahadangi buah bungur merupakan ungkapan yang berarti sesuatu yang percuma saja ditunggu. Salam sastra *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru, 17 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Esai ini telah saya angkat dalam bentuk skripsi saya untuk menyelesaikan S 1  FKIP Bahasa Indonesia dan Sastra UNLAM, 2008 )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-1488937688581117972?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/1488937688581117972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=1488937688581117972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/1488937688581117972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/1488937688581117972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/02/kalalatu-ekpresi-arsyad-indradi-dalam_28.html' title='&lt;center&gt;“Kalalatu” Ekpresi Arsyad Indradi Dalam Intrinsik Puisi&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ZBGdQfr2FWk/TWxbKEhmO7I/AAAAAAAAC6w/aFjPZMEbcRw/s72-c/noor%2Bhana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-8564181173284664341</id><published>2011-02-28T05:02:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T18:21:44.610-08:00</updated><title type='text'>Menikmati Puisi Dunia Maya (Bagian 11 )</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ohcUDhZB87s/TWxYH3Ntk-I/AAAAAAAAC6g/IiZLJCesw6U/s1600/Foto%2BHambran%2BSyahbana.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ohcUDhZB87s/TWxYH3Ntk-I/AAAAAAAAC6g/IiZLJCesw6U/s200/Foto%2BHambran%2BSyahbana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5578930930508993506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Hamberan Syahbana&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                  Essei Menikmati Puisi Dunia Maya bagian 11 ini akan membahas 4 buah puisi: yakni&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pesan Singkat puisi&lt;/span&gt; karya Kang Arief Dari Ngawi jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Riwayat Liang Lahat&lt;/span&gt; puisi karya Mif d’King dari Banjarmasin Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;raungan macan asia&lt;/span&gt; puisi Heru Yoga Pamungkas dari Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Langkah Ketiga Puluh&lt;/span&gt; puisi karya Kurnia Effendi dari DKI Jakarta&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;              Seyogyanya essei bagian 11 ini seperti biasa akan membahas keempat puisi tsb sekali gus. Tetapi karena ada sedikit keluhan dari pembaca yang menyatakan bahwa essei ini tsb terlalu panjang dan membuat pusing kepala membacanya sehingga essei tsb kurang maksimal dinikmati. Untuk menanggapi hal tsb. essei ini dibagi menjadi essei bagian 11a dan bagian 11b.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati Puisi Dunia Maya bagian 11a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. MENIKMATI PUISI KANG ARIEF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 Penyair yang satu yang nama lengkapnya adalah Oekusi Arifin Siswanto. lahir di Malang Jawa Timur pada tanggal 23 April 1979. Dalam dunia maya ia lebih dikenal dengan nama Kang Arief yang puisinya bertebaran di dunia maya, khususnya di jejaring sosial facebook.&lt;br /&gt;                Penyair ini juga pernah kuliah di Perguruan Tinggi di Akademi Komputer dan Manajemen, dan ISI Surakarta fakuktas senirupa. Kini dia menetap di RT 01 RW 09 Desa Gendingan Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi sebagai pengabdi masyarakat di Kantor Desa Gendingan di samping kesibukannya kesehariannya sebagai petani sawah dia juga rajin menulis puisi.&lt;br /&gt;                Penyair yang satu ini mengaku sama sekali tidak memiliki background sastra. Belajar menulis sastra secara otodidak. aktif menulis puisi facebook, menulis untuk majalah mingguan berbahasa daerah (Jawa)  JAYABAYA dalam bentuk Cerita Cekak ( cerpen berbahasa Jawa) dan geguritan [puisi berbahasa jawa], juga menulis Cerpen dan Puisi berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;PESAN SINGKAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                     Puisi Kang Arief&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kemanakah lari membawa kaki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tengah mengejar bahterakah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atau justru sedang menggarami luka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sementara paluh telah jengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terlalu lama terapung di permukaan mata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semalaman penuh kutunggui labuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di sudut palka yang tak jua segera menjadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hingga lumut menubuh malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan cahaya pun menguap sudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datanglah datang pengusung pesan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bawakan aku nyala pucuk api dari puncak batu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atau segenggam sarang laba-laba dari lawang goa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Untuk mematik lentera cinta bersinar kembali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jibril&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiupkanlah kisah yang kau jaring siang tadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bukan bukan..!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bukan tentang tahta emas Biqis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pun lantai Sulaiman yang melautkan bulan dan bintang bintang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kupinta cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tentang sebaik-baik cara untuk merogoh jantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Serta  bagaimana meletakkannya di cawan sujudku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agar mata dan telingaku mengerti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Satunya lafal  yang ada dalam dzikir sekepal daging&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan selanjutnya tak perlu lagi ada dusta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atau pun saling ingkar antar tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelak, tepat saat janji menuai waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngawi 17 Nopember 2010.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                  Puisi Kang Arirf yang berjudul PESAN SINGKAT ini tampil dengan tipografi tanpa bait-bait. Puisi ini terdiri 26 untaian larik yang mengumpul jadi satu bait saja. Puisi ini dibangun dengan diksi yang setengahnya bernuansa perjalanan laut, dan setengahnya lagi bernuansa religi. Nuansa ini dapat dirasakan dalam pemilihan kata: bakhtera, terapung di permukaan, labuh, palka, pucuk api [maksudnya mercu suar yang terlihat di ketinggian] puncak batu. Kata-kata ini berkaitan erat dengan pelayaran di malam hari. Berikutnya ada kata pemilihan kata: pengusung pesan [maksudnya pembawa risalah], sarang kaba-laba dari lawang goa, Jibril, Biqis [Ratu Bulkis], Sulaiman [nabi Sulaiman Alaihi Salam], sujudku,dzikir. Semua kata-kata tsb berkaitan erat dengan religi. Untuk bisa menikmati puisi ini kita harus mencermatinya secara bertahap. Untuk itu marilah kita cermati mulai dari larik1 sampai dengan laik 9 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Kemanakah lari membawa kaki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Tengah mengejar bahterakah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Atau justru sedang menggarami luka &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Sementara paluh telah jengah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;5. Terlalu lama terapung di permukaan mata &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;6. Semalaman penuh kutunggui labuh  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;7. Di sudut palka yang tak jua segera menjadi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;8. Hingga lumut menubuh malam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;9. Dan cahaya pun menguap sudah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                  Membaca larik-larik di atas kita melihat bahwa larik-larik tsb dibangun dengan diksi dan untaian larik yang puitis dan memukau. Semua itu bukanlah untaian larik yang bisa langsung tertulis begitu saja. Tetapi semua kata-kata tab adalah hasil buah pemikirian dan pencarian yang dalam. Larik-lariknya penuh dengan ambiguitas ungkapan yang harus dimaknai secara konotatif. Larik-lariknya juga diperkuat dan diperindah dengan majas-majas. Komposisinya mampu membentuk rima dan ritme yang tertata rapi. Sehingga puisi ini menjadi nyaman untuk dinikmati, menjadi indah untuk dibaca dan direnungkan. Dan menjadi irama yang merdu ketika diperdengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Di larik 1 ada ungkapan lari membawa kaki. Secara denotatif maknanya memang benar-benar lari membawa kaki, tetapi secara konotatif bisa bermakna lain. kata lari maknanya adalah perjalanan hidup dan membawa kaki barangkali maknanya membawa nasib. Secara keseluruhan larik 1 ini membentuk majas erotesis yang ditandai dengan kalimat tanya Kemanakah lari membawa kaki[?]. Di sini juga ini ada majas pleonasme sekaligus juga majas zeugma pada ungkapan lari membawa kaki.&lt;br /&gt;                 Di larik 2 ada ungkapan mengejar bahktera. Secara denotative bahtera adalah alat atau sarana transportasi di laut. Pada skala kecil ungkapan bahktera di sini bisa berarti cinta sebagai alat berupa dasar untuk mewujudkan sebuah rumah tangga, atau bisa juga bermakna rumah tangga yang mengarungi samudra kehidupan dalam menuju pantai bahagia. Tetapi pada skala yang lebih besar bisa bermakna suatu badan atau sebuah organisasi, bahkan pada skala nasional bsa berarti Negara dalam perjalanan sejarah mencapai tujuan Negara yang adil dan merata makmur sejahtera. Untaian larik 2 ini juga adalah majas erotesis yang ditandai dengan pertanyaan. Tengah mengejar bahterakah. Jika dikaitkan dengan larik sebelumnya yaitu larik 1 yang mengungkapkan lari membawa kaki dalam mengejar bakhtera di larik 2 ini adalah majas hiperbola yang menggunakan ungkapan yang berlebihan. Ini ditandai dengan ungkapan lari membawa kaki untuk mengejar bakhtera yang lebih dahulu melaju mengarungi lautan luas.  &lt;br /&gt;                   Di larik 3 ada ungkapan menggarami luka. Kata luka maknanya adalah duka. Dalam istilah puisinya adalah duka lara nestapa yang rasanya tentu pedih perih dan sangat menyakitkan. Di sini ada majas hiperbola dengan menggunakan ungkapan yang melebih-lebihkan keadaan. Bayangkan luka itu sudah pedih rasanya jika digarami tentu rasanya akan lebih pedih lagi. Menggarami luka maknanya adalah menambah duka yang sudah ada. Dengan kata lain adalah membuat duka semakin lara.&lt;br /&gt;                   Di larik 4 ada ungkapan paluh tengah jengah atau dengan kata lain keringat sudah banyak bercucuran. Maknanya adalah tenaga sudah banyak terkuras, sebagai tanda bahwa sudah banyak usaha yang dilakukan. Dan tentu juga sudah banyak pengorbanan dalam mewujudkan keinginan atau cita-cita. Dengan kata lain larik ini mengungkapkan adanya perjuangan dan pengorbanan yang belum menampakkan hasilnya. Ternyata larik ini juga terasa sangat indah dan puitis. Lebih-lebih jika membacanya dengan penekanan pada bunyi vocal [e] ada pada kata. Sementara, telah dan kata jengah.&lt;br /&gt;                  Di larik 5 ada ungkapan terapung di permukaan mata. Biasanya kata terapung itu menunjukkan ada sesuatu yang mengapung di permukaan air. Sedangkan dalam larik ini terapung di permukaan mata. Berarti mata di sini adalah hanyalah sebuah ungkapan yang sama sifatnya dengan permukaan air. Kalau dikaitkan demgan larik 4 di atas, maka berarti yang mengapungnya adalah paluh yang telah jengah itu. Ini berarti bahwa perjuangan dan pengorbanan selama ini telah lama mengapung di permukaan mata. Di mata ini juga ada air, yakni air mata. Sedangkan kata air mata sendiri kesannya adalah tangisan yang menandakan ada suka dan juga ada duka. Suka dan duka pada puncaknya sama-sama mengeluaran air mata. Untaian di larik 5 ini membentuk majas hiperbola yang ditandai terlalu lama terapung di permukaan mata.&lt;br /&gt;                   Di larik 6 ada ungkapan Semalaman penuh kutungggui labuh. Kata semalaman maknanya adalah sepanjang malam atau selama 1 malam. Malam itu kesannya adalah gelap. Malam di sini maknanya masa-masa penantian yang gelap selama menanti labuh. Kata labuh ini mengingatkan kita pada kata pelabuhan tempat berlabuhnya kapal ketika tiba dari sebuah pelayaran yang jauh.&lt;br /&gt;                   Di larik 8 ada ungkapan lumut menubuh malam. Kata lumut erat kaitannya dengan air. Kalau suatu barang di luar air jika terlalu lama bisa dikatakan berkarat dan berdebu. Maka dengan maksud yang barang di dalam air dikatakan berlumut sebagai tanda bahwa sesuatu itu sudah terlalu lama. Dalam konteks larik-larik di atas ini berarti sudah terlalu lama lari membawa kali, sudah terlalu lama terapung di permukaan mata, sudah terlalu lama perjalanan hidup ini sampai berlumut. Sedangkan kata menubuh adalah sebuah kata bentukan dari morfem tubuh dan me menjadi menubuh. Yang artinya adalah menjadi tubuh. Dan kata malam di sini kesannya adalah gelap. Dalam hal ini maknanya adalah hidup dalam keadaan gelap. Dalam konteks larik sehingga lumut menubuh malam maka maknanya lumut bagaikan menubuh malam, lumut menjadi satu dengan malam. Ungkapan ini  menandakan malam semakin berlumut, berarti hidup yang gelap jadi semakin gelap. Dengan kata lain hidup semakin suram&lt;br /&gt;                    Berikutnya di larik 9 ada ungkapan cahaya menguap. Kata cahaya maknanya adalah harapan. Dalam konteks ini berarti harapan itu sudah mulai sirna. Larik 9 ini juga merupakan majas hiperbola yang ditandai dengan uangkapan cahaya menguap.&lt;br /&gt;                    Selanjutnya marilah kita cermati larik 10 sampai dengan larik 13 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;10. Datanglah datang pengusung pesan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;11. Bawakan aku nyala pucuk api dari puncak batu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;12. Atau segenggam sarang laba-laba dari lawang goa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;13. Untuk mematik lentera cinta bersinar kembali &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              Larik-larik di atas dibangun dengan diksi bernuansa doa dan harapan. Untuk lebih jelasnya marilah kita cermati larik-larik tsb satu persatu berikut ini. Di larik 10 di atas ada doa dan harapan Datanglah datang pengusung pesan. Karena terlalu lama terapung di permukaan mata, semalaman penuh menunggu labuh, hingga lumut menubuh malam, maka satu-satunya jalan adalah berharap agar datang pesan lewat pengusung pesan. Larik 10 ini diperindah dengan pengulangan bunyi [da] dan bunyi [pe] pada klausa datanglah datang pengusung pesan.&lt;br /&gt;                  Di larik 11 ada ungkapan nyala pucuk api dan puncak batu. Kata api dengan sifatnya yang panas mampu membakar sesuatu, dalam konteks ini adalah mampu membakar semangat. Sedangkan kata batu yang sifatnya yang kuat dan keras mampu menghadapi berbagai masalah. Dalam hal ini penyair menginginkan agar pembawa pesan membawa sesuatu yang bisa membangkitkan semangat sehingga mampu menghadapi berbagai masalah.&lt;br /&gt;                    Di larik 12 penyair mengharapkan agar pembawa pesan dapat membawakan alternatif lain berupa sarang laba-laba dari lawang goa. Buat apa? Membaca sarang laba-laba mengingatkan kita pada jaring laba-laba yang mampu menjaring lalat dan serangga lainnya. Sedangkan sarang laba-laba dari lawang goa mengingatkan kita pada riwayat hijrahnya Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya Abu Bakar r.a yang bersembunyi di dalam goa dari kejaran musuh. Tetapi selamat karena adanya laba-laba yang secara tak terduga membuat sarang di lawang goa. Ini adalah suatu keajaiban. Dalam konteks ini sang penyair nampaknya menginginkan adanya suatu keajaiban yang bisa menyelamatkannya.&lt;br /&gt;                    Di larik 13 ada ungkapan mematik lantera cinta bersinar kembali. Maka jelaslah sudah bahwa doa dan harapan yang diungkapkan di larik 10 sampai dengan larik 12 adalah dalam rangka menyinarkan kembali lantera cinta yang mulai redup. Pada tataran pertama kata cinta di sini maknanya memang benar-benar cinta sepasang anak manusia. Tetapi mengingat puisi ini bernuansa religi maka kata cinta di sini adalah: [1] cinta hakiki antara Tuhan dengan kekasihnya Muhammad SAW. [2] Kecintaan kita kepada junjungan kita dan orang-orang yang terkasih lainnya. [3] Kecintaan murni kita kepada saudara-saudara kita. Yang selama ini lantera cinta tsb terasa sangat redup bahkan barangkali sudah padam.&lt;br /&gt;                   Larik-larik ini terasa indah dan puitis karena larik-larik tsb juga dibangun sepenuhnya dengan imaji auditif sekaligus juga imaji visual. Kita seolah-olah mendengar sesorang bergumam mengucapkan harapannya. Sekaligus terbayang di benak kita suatu gambaran secara surealis ada yang datang dri puncak bukit batu membawakan nyala api. Juga terbayang sarag laba-laba di  mulut goa.&lt;br /&gt;              Larik-larik ini juga menjadi indah karena di sini juga ada majas hiperbola di larik 11 yang ditandai dengan bawakan aku nyala pucuk api dari puncak batu. Di larik 12 majas litotes yang ditandai dengan segenggam sarang laba-laba. Dan di larik-larik ini juga ada majas antropomorfisme yang ditandai dengan pucuk api dan lantera cinta. &lt;br /&gt;                   Berikutnya marilah kita cermti larik 14 sampai dengan larik 21 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;14. Jibril&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;15. Tiupkanlah kisah yang kau jaring siang tadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;16. Bukan bukan..!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;17. Bukan tentang tahta emas Biqis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;18. Pun lantai Sulaiman yang melautkan bulan dan bintang bintang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;19. Kupinta cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;20. Tentang sebaik-baik cara untuk merogoh jantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;21. Serta bagaimana meletakkannya di cawan sujudku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                  Larik-larik di atas dibangun dengan ungkapan-ungkapan religius fantastis. Lihatlah di larik 14 ada kata jibril yang mengingatkan kita pada malaikat Jibril ‘Alaihis Salam yang biasanya selalu menyampaikan risalahNya kepada para Rasul. Berikutnya di larik 15 ada ungkapan Tiupkanlah kisah yang kau jaring siang tadi. Maksudnya adalah kisah-kisah dan mutiara hikmah disampaikan melalui berbagai media ini. Baik berupa ceramah kultum, atau siaran rohani lainnya yang memaparkan kisah dan riwaaayat orang-orang yang diberkahi.&lt;br /&gt;                   Di larik 16, 17 dan 18 ada serangkaian ungkapan penyangkalan yang ditandai dengan: Bukan bukan ..!! Bukan tentang tahta Biqis. Pun lantai Sulaiman yang melautkan bulan dam bintang-bintang. Larik-larik ini mengingatkan kita pada kisah Siti Bulkis dengan Nabi Sulaiman. Keduanya memang orang-orang terkasih yang diberkahi tetapi kesannya lebih pada kemegahan tahta dan dan kekayaan. Dalam konteks ini bukan cerita itu yag diinginkan sang penyair. Yang diinginkannya terungkap di dalam larik 19, 20 dan larik 21. Kupinta cerita. Tentang sebaik-baik cara untuk merogoh jantung. Serta bagaimana meletakkannya di cawan sujudku.&lt;br /&gt;                  Kata cerita di sini maknanya adalah contoh-contoh riwayat orang-orang yang diberkahi. Kata jantung mengingatkan kita pada organ tubuh yang sangat penting. Bahkan kita tak bisa hidup tanpa jantung. Dalam konteks ini jantung bisa bermakna inti atau makna hakiki kehidupan. Manusia tidak dapat hidup tanpa jantung. Demikian juga hidup dan kehidupan menjadi sia-sia jika tanpa makna hakiki. Sedang makna hakiki kehidupan itu mengacu pada hakikat penciptaan manusia sebagaimana yang telah dinyatakanNya dalam firmanNya bahwa Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaku.&lt;br /&gt;                   Dalam konteks ini sebaik-baik cara merogoh jantung maknanya adalah cara memaknai hidup secara baik dan benar. Kata cawan mengingatkan kita pada benda yang biasa digunakan buat mewadahi minuman dan makanan berkuah lainnya. Sedangkan kata sujud mengingatkan kita pada gerakan ibadah yang ada di dalam berbagai agama. Ungkapan meletakannya di cawan sujudku. Maknanya memaknainya dengan pengabdian yang benar.&lt;br /&gt;                   Berikutnya marilah kita cermati untaian di larik 22 sampai dengan larik 26 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;22. Agar mata dan telingaku mengerti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;23. Satunya lafal yang ada dalam dzikir sekepal daging&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;24. Dan selanjutnya tak perlu lagi ada dusta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;25. Atau pun saling ingkar antar tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;26. Kelak, tepat saat janji menuai waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Larik-larik di atas dibangun dengan diksi bernuansa religi sekaligus juga bermuatan peringatan dan prediksi yang bakal pasti terjadi di hari perhitungan yang akan datang. Hal ini jelas terungkap di dalam larik Dan selanjutnya tak perlu lagi ada dusta - Atau pun saling ingkar antar tubuh - Kelak, tepat saat janji menuai waktu. Larik-larik ini mengingatkan kita bahwa nanti tak akan ada lagi dusta, karena kita memang tidak bisa bohong. Bagian-bagian tubuh kita bicara sendiri tentang apa yang sudah kita perbuat. Mulut kita akan bicara tentang makanan halal-haram yang sudah kita makan. Mata, telinga dan hidung juga akan akan bicara. Tangan dan kaki juga akan bicara sendiri. Kita tidak bisa apa-apa, apalagi berbohong seperti di dunia ini.&lt;br /&gt;                   Inilah inti pesan singkat yang di sampaikan Kang Arief melalui puisinya ini. Amanat dan pesan moral yang dapat kita petik dalam puisi ini adalah: Hendaknya kita harus mengingat kembali tentang hari pembalasan yang biasa kita sebut Yaumil Mahsyar. Hari pembalasan melalui  pengadilan yang maha adil. Sekecil apapun kebaikan dan keburukan kita akan tertungkap. Semuanya kita akan mendapat ganjaran dan balasan yang seadil-adilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;II. MENIKMATI PUSI MIF D’KING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Mif d’King adalah nama pena dari Ahmad Miftah . Penyair kelahiran Kuala Trengganu Malaysia 22 September 1985 ini sekarang menetap di Jalan Ahmad Yani Km.3,5 Komplek Karang Paci Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;                   Putra pertama dari 4 bersaudara dari Drs.H.M.Musni Tabsier dan Norhamidah ini telah menyelesaikan pendidikan terakhirnya S1 (SH) pada Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan masih berstatus lajang.&lt;br /&gt;    Dalam kesibukannya sehari-hari sebagai Public Relation dari sebuah CV yang bergerak di bidang jasa pengiriman, ternyata ia juga seorang penulis. Dia juga rajin menulis puisi melalui jejaring facebook dengan nama Mif d’King. Diantara puisinya itu adalah Riwayat Liang Lahat berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Riwayat Liang Lahat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                     oleh Mif d'King  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesudah ini nafas itu kemana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesudah ini tertinggal kafan saja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesudah ini sholat pun tak bisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesudah ini tanah selimut raga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesudah ini tamparan pun tak berguna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesudah ini dunia tertawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesudah ini keranda harus kemana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesudah ini apa yang tersisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sudah disini sesal berjumpa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum ini goreskan kencana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum ini sholat fardu terjaga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum ini sunnah terlaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum ini amal mulia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum ini terbijaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum ini bahagia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum ini bertakwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum ini tentram di dada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum disini rindu berjumpa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kemana anak istriku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kemana pula suami pelindungku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teriak pun tak mampu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Liang lahat tak terlihat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dari sana aku terbuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bermula riwayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berakhir hikayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banjarmasin, 11122010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      Puisi Riwayat Liang Lahat karya Mif d’King ini terdiri dari 4 bait. Bait 1 terdiri dari 9 larik. Bait 2 terdiri dari 9 larik. Bait 3 terdiri dari 3 larik. Baik 4 terdiri dari 4 larik. Seluruh lariknya berjumlah 25 larik. Sesuai dengan judulnya maka puisi ini banyak berbicara tentang hal ikhwal yang berkaitan dengan keadaan si mayyit setelah dan keadaan sebelum dimasukkan ke liang lahat.&lt;br /&gt;                       Marilah kita cermati dengan saksama bait 1 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Sesudah ini nafas itu kemana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Sesudah ini tertinggal kafan saja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Sesudah ini sholat pun tak bisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Sesudah ini tanah selimut raga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;5. Sesudah ini tamparan pun tak berguna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;6. Sesudah ini dunia tertawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;7. Sesudah ini keranda harus kemana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;8. Sesudah ini apa yang tersisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;9. Sudah disini sesal berjumpa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Bait 1 ini sepenuhnya dibangun dengan rima sekaligus ritme yang tertata rapi. Hal ini ditandai dengan pengulangan kata Sesudah ini di setiap awal larik. Dan pengulangan bunyi vokal [a] di setiap akhir lariknya. Pengulangan-pengulangan tsb membentuk rima awal sekaligus rima akhir dengan pola pesajakan a, a. a, a, a, a, a, a, a.&lt;br /&gt;                    Bait ini jiga dibangun dengan diksi yang bernuansa sebuah pemakaman. Bait ini diawali dengan sebuah pertanyaan Sesudah ini nafas itu ke mana. Frasa nafas itu di sini mengingatkan kita pada roh yang kini telah keluar dari jasad. Jasad yang sejatinya berasal dari tanah kini kembali ke tanah.&lt;br /&gt;            &lt;span style="font-style: italic;"&gt;       Sesudah pemakaman ini yang tertinggal hanyalah kain kafan saja. Tinggal sendiri di dalam kubur berselimutkan tanah yang setia. Hidup di alam barzah tak mampu berbuat apa-apa lagi. Mau marah? Di sini tamparan sudah tak berguna lagi. Dunia di luar sana banyak yang masih bisa tertawa. Tapi di sini? Keranda adalah symbol kematian. Mau dibawa ke mana? Pasrah terpaksa harus menerima ganjaran apa yang akan didapat.Karena saat ini, bahkan sholat pun sudah tak bisa lagi. Yang ada tersisa hanyalah sesal semata.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                     Marilah kita cermati bait 2 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;10. Sebelum ini goreskan kencana &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;11. Sebelum ini sholat fardu terjaga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;12. Sebelum ini sunnah terlaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;13. Sebelum ini amal mulia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;14. Sebelum ini terbijaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;15. Sebelum ini bahagia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;16. Sebelum ini bertakwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;17. Sebelum ini tentram di dada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;18. Sebelum disini rindu berjumpa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                   Bait 2 ini dibangun dengan diksi yang berkaitan erat dengan perbuatan manusia yang seygyanya diperbuat sebelum meninggal. Bait 2 ini diawali dengan larik Sebelum ini goreskan kencana. Klausa sebelum ini maknanya adalah semasa hidup sebelum roh berpisah denga jasad. Kata kencana berarti emas yang kita tahu bahwa emas itu adalah simbol kemuliaan. Sebelum ini goreskan kencana maksudnya adalah buatlah hidup kita selalu berakhlak mulia dan beramal yang baik. Hidup dalam koridor habum minallaah dan hablum minannasy. Puisi ini masuk dalam koridor puisi epigram yang ditandai dengan ungkapan-ungkapan yang berisi tuntunan agar selamat di alam kehidupan yang akan datang. Tuntunan tu jelas tersurat dalam untaian larik-larik di bait 2 di atas.&lt;br /&gt;                    Agar kita bisa selamat berada di alam barzah dan alam akhirat nanti hendaklah kita selalu: menentramkan diri dengan cara meningkatkan iman dan takwa, menjaga jangan sampai melalaikan sholat fardhu, melaksanakan sunnah rasul, beramal mulia, berlaku adil dan bijaksana, membiasakan hidup bahagia sakinah mawaddah warrahmah. Jika semua rambu-rambu itu sudah ditaati dan dilaksanakan dengan benar, maka kerinduan berjumpa dengan kebahagiaan akhirat insya Allah akan terwjujud. Bukan di akhirat saja, bahkan di alam kubur pun kita sudah berjumpa dengan amal mulia yang menemani kita sebelum tiba di alam akhirat.&lt;br /&gt;                     Berikitnya marilah kita cermati bait 3 berkut ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;19. Kemana anak istriku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;20. Kemana pula suami pelindungku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;21. Teriak pun tak mampu      &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              Bait 3 di atas dibangun dengan diksi yang bernuansa keresahan dan kegelisahan bagi mayyit yang selama hidupnya tak mengindahkn warning di bait 2 tsb di atas. Tinggal sendiri di dalam kubur. Tak ada lagi anak dan istri. Bagi mayyit wanita tinggal sendiri di dalam kubur, tak ada lagi suami yang biasa melindunginya. Semuanya sudah terjadi. Bahkan tak mampu berteriak. Kini hanya ada sesal yang sudah tak berarti lagi.&lt;br /&gt;                    Berikutnya mari kita cermati bait 4 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;22. Liang lahat tak terlihat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;23. Dari sana aku terbuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;24. Bermula riwayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;25. Berakhir hikayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Bait 4 ini dibangun dengan rima dan ritme yang tertata rapi yang ditandai dengan pengulangan bunyi [at] di akhir larik 22, 23, 24 dan 25. dalam kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;terlihat,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;terbuat,&lt;/span&gt; r&lt;span style="font-style: italic;"&gt;iwayat&lt;/span&gt; dan di dalam kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hikayat&lt;/span&gt;. Semua pengulangan stb membentuk rima dengan pola persajakan a, a, a, a. Di larik 22 ada pengulangan konsonan [l] pada kata liang dan lahat. Pengulangan bunyi konsonan [t] pada kata Tak dan kata terlihat. Di larik 24 dan 25 ada pengulangan bunyi [ber] dan bunyi [yat] pada kata bermula dan kata berakhir, berikutnya pada kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;riwayat &lt;/span&gt;dan kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hikayat.&lt;/span&gt; Semua pengulangan itu membentuk ritme yang turut memperindah puisi ini.&lt;br /&gt;                  Di larik 22 ada untaian Liang lahat tak terlihat. Kata tak terlihat di sini maksudnya adalah Liang lahat tsb telah tertutup tanah kembali. Berikutnya ada Dari sana aku terbuat - Bermula riwayat - Berakhir hikayat. Larik ini mengingatkan kita pada riwayat penciptaan nabi Adam alaihis salam yang diciptakan dari tanah. Bermula riwayat dan berakhir hikayat maknanya adalah manusia berasal dari tanah dan kemudian kembali lagi ke tanah.&lt;br /&gt;                    Puisi ini berjudul Riwayat Liang Lahat. Judul puisi ini mengingatkan kita pada hal-hal yang berkaitan dengan kematian dan pemakaman.  Kematian itu adalah hal yang pasti terjadi pada setiap manusia. Bahkan kematian juga adalah hal yang sangat menakutkan. Lebih- lebih lagi jika dikaitkan dengan dosa-dosa.&lt;br /&gt;                    Pesan moral yang amat berharga dalam puisi ini adalah: hendaknya kita selalu ingat akan mati. Karena mengingat mati adalah salah satu cara untuk meningkatkan iman dan keberimanan kita kepada yang memberi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-8564181173284664341?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/8564181173284664341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=8564181173284664341' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8564181173284664341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/8564181173284664341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/02/menikmati-puisi-dunia-maya-bagian-11.html' title='&lt;center&gt;Menikmati Puisi Dunia Maya (Bagian 11 )&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ohcUDhZB87s/TWxYH3Ntk-I/AAAAAAAAC6g/IiZLJCesw6U/s72-c/Foto%2BHambran%2BSyahbana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-7305270888233834445</id><published>2011-02-15T10:30:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T22:26:39.418-08:00</updated><title type='text'>PUBLIKASI, DIALOG SASTRA DAN TEMU PENYAIR 3 KOTA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-jY988mh4M_Q/TVrGsNLCO8I/AAAAAAAAC34/ypq9yzhjiF8/s1600/Foto%2BDimas%2BAM.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 136px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-jY988mh4M_Q/TVrGsNLCO8I/AAAAAAAAC34/ypq9yzhjiF8/s200/Foto%2BDimas%2BAM.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5573985951576898498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SAHDAN. Saat wisata budaya di Pulau Penyengat Kepulauan Riau dalam rangkaian Temu Sastrawan Indonesia III, usai kapal merapat di pelabuhan dan disambut wanita-wanita berkompangan memukul rebana, secara spontan saya (DAM) berseru "3 DIMENSI" (maksudnya 3 penyair berawalan huruf D--Diah Hadaning, DAM, dan D Kemalawati) sembari berjalan beriringan di antara batang-batang ilalang yang baru saja ditebang. Diah Hadaning mengerti maksud seruanku lalu berkata memaknai 3 D sebagai DETAK DALAM DJIWA, lalu D Kemalawati menyebutnya sebagai "sejarah" yang harus diabadikan. Kami bertiga di perjalanan wisata budaya itu lantas bersepakat untuk mengabadikan karya ke dalam sebuah buku, biar Lapena yang menerbitkannya. Nanti buku itu kita launching di Banda Aceh, Jambi,dan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah terpengaruh mantra, entah lantaran stamina saling mencinta, sesampai di Jambi dalam waktu 3 hari saya kirimkan email kepada D Kemalawati sebanyak 33 puisi sesuai kesepakatan dan kukasih pengantar singkat "telah kutunaskan dan kulunaskan: tunai". Kiriman puisi saya ini rupanya serupa "tantangan menarik" ketika D Kemalawati langsung merespon, "kalau 33 puisi telah tersedia, aku lagi menyeleksi dan membuat puisi baru", begitu katanya. Kepada Mbak Diah Hadaning kukirim SMS "Mbak telah kulunaskan kewajibanku setor 33 puisi, jika puisi-puisi mbak Diah sudah siap kirimkan ke emailku ya?". Tak berapa lama, mungkin selang 2 minggu, mbak Diah Hadaning secara mengejutkan mengirim 33 puisi yang semuanya baru. Puisi-puisi mbak Diah Hadaning terinspirasi peristiwa dan pengalaman saat melakukan wisata budaya di Pulau Penyengat dan tentu saja terkait dengan "silaturahmi hati" melalui puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi hati memang dapat dijembatani melalui puisi. Setiap penyair yang berawalan huruf "D" masing-masing telah menuliskan segenap perasaan, pikirannya, pengalamannya, dan harapannya di dalam puisi. Puisi yang terkumpul berjumlah 99 puisi. Buku kumpulan puisi ini oleh D Kemalawati diberi judul 3 DI HATI ( Diah Hadaning, Dimas Arika Mihardja, D Kemalawati). Jakarta, Jambi, Banda Aceh lalu bertemu dan saling bertamu. Launcing buku ini telah dilaksakan di Banda Aceh dengan sukses.Tercatat ada 8 karangan bunga ukuran besar sebagai ucapaan selamat. Wakil Wali Kota Banda Aceh (Illiza Saaduddin Djamal) turut membaca puisi di acara ini, menyediakan konsumsi, dan bahkan meminjamkan mobil sebagai sarana melakukan ziarah tsunami. Mobil ini lalu dinahkodai oleh Helmi Hass (suami D Kemalawati) mengantarkan Djazlam Zainal (dari Malaysia yang bertindak sebagai pembedah buku) dan saya melakukan ziarah budaya ke segenap pelosok Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARET, DI KOTA KARET. Rencananya, 22 Maret 2011 buku 3 DI HATI (Lapena, 2010) ini dilaunching di kota karet, Jambi. Di Negeri Seribu Seloka yang berpijak pada filosofi "Adat bersendi syara' syara'bersendikan Kitabullah" ini acara digelar di dua tempat. Tanggal 22 Maret 2011 pagi hingga siang/sore acara DIALOG SASTRA DAN TEMU PENYAIR  3 KOTA ini dihelat di Aula Rektorat Universitas Jambi. Acara ini akan diawali dengan launcing dua buku. Buku utama dan pertama berjudul 3 DI HATI yang memuat puisi Diah Hadaning (Jakarta), Dimas Arika Mihardja (Jambi), dan D Kemalawati (Banda Aceh) dan buku kedua sebagai pendamping berjudul KEPAK ANGSA PUTIH (karya mahasiswa peserta penulisan kreatif puisi dan DAM sebagai pengajarnya).Launching ini diselang-seling Pesta Puisi, menampilkan penyair Diah Hadaning, DAM, dan D Kemalawati serta beberapa perwakilan mahasiswa yang puisinya termuat dalam buku KEPAK ANGSA PUTIH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai PESTA PUISI dilaksanakan talk show DIALOG SASTRA yang menghadirkan 3 penyair sebagai nara sumber dan 2 pembicara. Penyair Diah Hadaning, DAM, dan D Kemalawati diberi ruang untuk mengisahkan perjalanan kreatifnya selaku penyair. Sebagai pemicu pembicaraan dikemukakan 2 keras kerja yang membahas puisi-puisi yang terangkum dalam buku 3 DI HATI. Akan tampil Dr. Maizar Karim, M.Hum (Pakar sastra dan Pembantu Rektor III Universitas Jambi) dan Dr. Hary S. Harjono (Kritikus, penulis, peneliti) yang disertasinya terfokus pada kritik sastra. Acara dilanjutkan dengan silaturahmi dialogis terkait dengan dunia perpuisian. Acara di kampus ini rencananya juga mengundang sastrawan lain dan tentu saja sivitas akademika Universitas Jambi untuk turut menyemarakkan silaturahmi mata hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM harinya, Taman Budaya Jambi siap menyambut kehadiran penyair tamu dengan menu lesehan penyair dan sambung rasa yang diwarnai atraksi seni. Apa saja yang akan ditampilkan dan susunan acara di Taman Budaya Jambi, saat ini sedang dipersiapkan. Tunggu tanggal mainnya, dan marilah bersama-sama menyukseskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-7305270888233834445?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/7305270888233834445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=7305270888233834445' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7305270888233834445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7305270888233834445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/02/publikasi-dialog-sastra-dan-temu.html' title='&lt;center&gt;PUBLIKASI, DIALOG SASTRA DAN TEMU PENYAIR 3 KOTA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-jY988mh4M_Q/TVrGsNLCO8I/AAAAAAAAC34/ypq9yzhjiF8/s72-c/Foto%2BDimas%2BAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-3864080958092886708</id><published>2011-01-02T11:06:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T22:39:17.088-08:00</updated><title type='text'>Sekuntum Pagi Untuk Arsyad Indradi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TSDNjpJWa5I/AAAAAAAACrY/ZaJKsYRQ2Ec/s1600/Rama%2BPrabu.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 125px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TSDNjpJWa5I/AAAAAAAACrY/ZaJKsYRQ2Ec/s200/Rama%2BPrabu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557667952399379346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Rama Prabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:/arsyad indradi  [kado ulang tahun]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam mana yang tak melunaskan perjalanan panjangmu*)&lt;br /&gt;sedang fajar pagi menghitung jumlah sajakmu&lt;br /&gt;lewat jendela kamar dan hamparan kebun bunga&lt;br /&gt;sebelah rumah riwayat kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nun ditimur&lt;br /&gt;dibalik sutra halimun*)&lt;br /&gt;gugusan bintang gemintang turun dirambutmu&lt;br /&gt;membasuh tetes risau dari rindu&lt;br /&gt;menyemayamkan jejak putih di uban wangimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wajah senjamu selalu bilang bagaimana esok hari&lt;br /&gt;aku mesti merangkai tubuhmu**)&lt;br /&gt;menjahit kelopak sunyi lewat isyarat seribu burung terbang&lt;br /&gt;lewat kalalatu yang mayang dipunggung kenang&lt;br /&gt;bunga kertas yang disulam jadi romansa&lt;br /&gt;dan berharap aku simpan di jambangan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini, tapak kaki dijalan puisi telah mendulang kasih abadi&lt;br /&gt;ritus-ritus putaran menetap dibebatu sunyi&lt;br /&gt;karena wajah senjamu telah berkata:&lt;br /&gt;dibalik rangkaian bahasa yang berlimpah maka disitulah dusta cinta ***)&lt;br /&gt;dimana kita menatah tebingnya jadi tiang tebu merah&lt;br /&gt;rahasia birahi seorang majnun ditaman kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;*) puisi sekuntum pagi, arsyad indradi, 1981&lt;br /&gt;**) puisi bunga kertas, aryad indradi, 1973&lt;br /&gt;***) puisi mendulang cinta, arsyad indradi, 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 30 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Abdul Kohar Ibrahim, Dwi Klik Santosa, Yonathan Rahardjo dan 17 lainnya menyukai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Lembayung Senja :&lt;br /&gt;Met pagi .... puisinya bagus ... jd ingat SEsuatu .... SYukron Mas Rama ...&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Rama Prabu aku terharu baca puisimu untuk sahabat batinku ini. Lantaran FB-ku bermasalah (tak bisa menulis note) aku numpang ngucapin selamat buat Abah ya? Jika berkenan, boleh kok disandingkan di pelaminan dengan puisimu yang indah.&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#lembayung: selamat pagi..sejahtera pagi hingga siangmu..!&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#ram DAM:&lt;br /&gt;duh kepanapa ya, tunggu saja beberapa saat...nanti juga akan pulih...sahaya akan pajang agar berdampingan cinta kita untuk abah..! sahabat batin...tabik....sehat sejahtera selalu..&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja:&lt;br /&gt;Duh kian haru, hanya judulnya tuh jadi Y...ESSIKA, edit dong hehehehehe makasig telah merepotkan. Aku kesal sejak kemarin tak bisa nulis....&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Lembayung Senja :&lt;br /&gt;Amiiin ..... Allahumma ..... Amiiin YRA * met aktifitas .... semoga sukses sll untuk Mas Rama .... Amin *&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rini Sanyoto :&lt;br /&gt;selamat pagi kan Rama, menjelang akhir tahun dengan sajian yang indah......aku suka, menata tebing dan tenggelam disela gunung.... sungguh menginspirasi ...salam&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Mariska Lubis :&lt;br /&gt;pagi yang cerah dan senyum di bibir merah... sejuta rasa bahagia... dalam pelukan... terima kasih cinta atas segala keindahan di pagi hari... heheheh...&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#mas DAM:&lt;br /&gt;dengan senang hati....! duh ada cinta lewat beragam cara...via inbox asik...tetap sampai di jantung sahabat.&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#lembayung: amin...!&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#mb rini:&lt;br /&gt;tataan teging itu untuk sahabat...sekaligus pendahulu dalam jejak sajak...&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#mb ML:&lt;br /&gt;senyum di bibir merah...ah...seperti biasa selamat pagi semua...&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Heru Marwata :&lt;br /&gt;Hm, benarkah di "... sebelah rumah riwayat kata-kata (RP) dan "... dibalik rangkaian bahasa yang berlimpah maka disitulah dusta cinta ***) (AI) "... kemarin, hari ini,dan esok" (Om DAM)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah ini benar-benar SINDIRAN yang sangat dahsyat Mas R...ama. Paduan 3 komposisi yang asyik. Ai laik dis.Lihat Selengkapnya&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Kurniawan Yunianto :&lt;br /&gt;sebuah kepedulian .. kasih sayang seorang rama prabu kepada penulis pendahulu ... saluuut .. maturnuwun mas .. berkah rahayu&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#mas heru:&lt;br /&gt;ya begitulah cinta kita pada seorang penyair yang telah mendedikasikan dirinya untuk jalan puisi...perpaduan hati sahaya dan Mas DAM yang sekarang fbnya sedang dalam problem....komposisi untuk saling menjaga hati..&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#bung KY:&lt;br /&gt;ya, sebuah kepedulian cinta antara sesama pribadi yang mendedikasikan diri di jalur puisi...seperti kita..!rahayu juga!&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Yvonne De Fretes :&lt;br /&gt;puisi2 cantik dua sahabat...sy menikmatinya...selamat ya untuk abah sayang...selamat tahun baru mas rama ,mas dam, n semua teman...salam&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu ‎#mb yvone:&lt;br /&gt;ya..bukti cinta kita pada semua...selamat tahun baru juga ya...!&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Dwi Klik Santosa :&lt;br /&gt;sajak persembahan yang romantis ....&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Rama Prabu DKS:&lt;br /&gt;begitulah kita saling mencintai dan manjaga harmoni....heee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Dimas Arika Mihardja untuk Abah&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TSDOM7yz5LI/AAAAAAAACrg/5qnVaQ1-ZeQ/s1600/n1403985450_30128746_4328801.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TSDOM7yz5LI/AAAAAAAACrg/5qnVaQ1-ZeQ/s200/n1403985450_30128746_4328801.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557668661779752114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SAJAK YESSIKA UNTUK SUI LAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sui lan berdiri di pelabuhan, melabuhkan kejora&lt;br /&gt;di dada Cinta. rambutnya tergelai sepanjang riak dan ombak&lt;br /&gt;menjilati pantai, meruak di cakrawala senja&lt;br /&gt;kabarkan padaku sui lan, jangan katakan "sialan"&lt;br /&gt;sebab aku meindukan bincang semalaman di pelataran&lt;br /&gt;di lobi hotel alia bersama diha, membaca puisi&lt;br /&gt;menatap lekat nyi gondosuli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sui lan, lihatlah camar gemetar di tiang layar&lt;br /&gt;mendebur d keidalaman debar&lt;br /&gt;mekar di taman keindahan&lt;br /&gt;katakan padaku sui lan, pelabuhan itu&lt;br /&gt;tanah perkebunan sayur itu&lt;br /&gt;dan kerjap matamu&lt;br /&gt;terbit di ufuk timur,tak mau tenggelam di sela gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sui lan, ayo teus berjalan menyisir semenanjung&lt;br /&gt;atau jadi bunga bakung yang sederhana saja&lt;br /&gt;sebab usia kita sama, menyukai tiga rupa:&lt;br /&gt;kemarin, hari ini,dan esok&lt;br /&gt;larut dalam sajak yang penuh isak&lt;br /&gt;dan menyebutmu Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bengkel puisi swadaya mandiri,30 desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;De Kemalawati :&lt;br /&gt;Sui lan. . . Kepada siapa kusebut bapak?&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Sui Lan adalah "kekasih abadi" Bapak Arsyad Indradi (Banjarbaru, Kalimantan Selatan) yang hari ini berulang tahun. Lantaran FB bermasalah tak bisa nulis catatan, puisi ini kukirim lewat inbox Arsyad Indradi sahabat batinku, ya dia itu Si Penyair Gila. Begitulah Deknong Kemalawati adikku. Persahabatanku dengan beliau tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Abah Arsyad Indradi ini adalah juga "pacar" mbak Diha. Salam DAM, damai di hati ya?&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;De Kemalawati :&lt;br /&gt;Wah, selamat ultah pak Irsyad, dikirimi puisi begitu indah. Beruntung nian mengenal orang2 hebat seperti mbak Diha, mas Dimas dan kini pak Arsyad, semoga aku ketularan 'gila' kalian. Salam&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;De Kemalawati, adikku yang akan "gila", abah Arsyad Indradi inilah yang menerbitkan buku 148 Penyair Menuju Bulan, buku setebal 728 halaman dibidani sendiri, dibiayai sendiri (dengan menjual sebidang tanah) hanya untuk memberi Kado Hari Jadi ke-7 Kota Banjarbaru dan Hari Ulang tahun beliau ke 57 (31 Desember 1949). Dengan buku itu lantas aku menyebutnya dengan "Penyair Gila", penyair Gaek yang tak mati-mati juga kreativitasnya.&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Hamberan Syahbana :&lt;br /&gt;O giti ya? Hehehe, aku baru tahu tu: kalau Sui Lan itu si Penyair Gila yang dari Banjarbaru itu. Burung camar di tiang layar itu tentunya Mas DAM ya?&lt;br /&gt;Kalau begitu:&lt;br /&gt;Kuucapkan selamat panjang umur buat sui lan dan&lt;br /&gt;berjuta selamat pagi aku ucapkan&lt;br /&gt;buat burung camar yang gemetar di tiang layar di pelabuhan&lt;br /&gt;sambil menunggu datangnya angin yang tak pernah bosan mengantarkan biduk kasmaran&lt;br /&gt;yang gemar mengarungi lautan demi lautan&lt;br /&gt;yang tak gentar menerjang ombak badai dan taupan&lt;br /&gt;yang pantang surut sebelum tiba di daratan&lt;br /&gt;pantai harapan yang didambakan&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Pak Hamberan, apakah yang kita punya selain cinta dan setia pada makna kata dan tegur sapa? angin senja telah merisalahkan pengalaman berdekapan dan Pak Hamberan terus saja duduk di emperan menuliskan kata cinta itu. Duh,indahnya silaturahmi hati buat orang-orang terkasih.&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;De Kemalawati :&lt;br /&gt;aku terharu, apa yang aku dan teman2 Lapena buat hari ini belum apa2 dibandingkan abah Arsyad. Ternyata cermin di hadapanku makin lebar dan makin bening, aku melihat makin banyak orang2 di depanku berpeluh dan berotot terus menggali, menanam dan memupuk. . . Duh&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Galih Sundari :&lt;br /&gt;Sui Lan,digerai rambutnya berjuntai desau rebana dengan pepujian syahdu,sebagaimana Putri Junjung Buih 'beterbangan' saat hendak meneguk tetes siraman jiwa dari Pancaran Arrasy.&lt;br /&gt;Didermaga Bandar Masih sang Suryanata memaknai tentang tiga rupa,usia yang sama dan trisakti.engkaukah itu duhai Sui Lan,Dam,Arsyad Indradi?&lt;br /&gt;Salam salimku pada yg 'GILA',&lt;br /&gt;Selamat Ulang tahun,semoga dalam berkahNYA slalu.Amin.&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Mbak Galih Sundari, untaian kata-katamu pagi ini menunjukkan betapa ada potensi kreatif di dirimu. Hayo jadilah kegilaan menulis untuk mengabadikan cinta,mengabarkan sikap bersetia pada kehidupan. Terima kasih ya? Salam 123 sayang semuanya.&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Galih Sundari :&lt;br /&gt;Oh Pak Dam,betapa hasrat bagai merapi namun harus me-lawu,terpasung dalam toleran cinta dari yang tercinta sbagai belahan jiwa.bekunya mega di gunung kota baru,memenjarakan liarnya imaji.maka hanya meliuk dikomen dan seadanya,sbagai penawar dahaga akan kegilaan.&lt;br /&gt;He.he.he,kusuka salam mesra njenengan,pak Dam.123 sayang semuanya.&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Mahmud Jauhari Ali Full :&lt;br /&gt;benar-benar persahabatan yang memesona. walau beda kota, jarak tak menjadi penghalang. mantap .... selamat ultah duhai Abah Arsyad Indradi ....&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Abah Arsyad, hapuskan air matamu, bersama Sui Lan engkau bisa kembali berlayar bermilyard jarak tempuh, jangan kuwatirkan kaki lepuh, kepulkan lagi sayap harap menyergap kekuatan dan semangatnya.&lt;br /&gt;o&lt;br /&gt;Arsyad Indradi :&lt;br /&gt;Terima kasih Mas Dimas terima kasih kawan2 semua semoga kita selalu dalam lindungannya. Ditahun baru ini (2011) terus kita kibarkan semangat berkarya. Biarkan kita "gila" mengejar cahaya akanan itu tiada kan goyah tiada kan luntur. Yessika - Sui Lan dua jiwa satu raga,dua raga satu jiwa. 123 salam sastra semuanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-3864080958092886708?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/3864080958092886708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=3864080958092886708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3864080958092886708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3864080958092886708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2011/01/sekuntum-pagi-untuk-arsyad-indradi.html' title='&lt;center&gt;Sekuntum Pagi Untuk Arsyad Indradi&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TSDNjpJWa5I/AAAAAAAACrY/ZaJKsYRQ2Ec/s72-c/Rama%2BPrabu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-3480799723087512353</id><published>2010-12-29T07:05:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T22:28:01.310-08:00</updated><title type='text'>CATATAN DI HULU SUNGAI BATANGHARI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRtPFf0gQEI/AAAAAAAACqI/smaPDl230BE/s1600/Dam%2BBaca%2BPuisi.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRtPFf0gQEI/AAAAAAAACqI/smaPDl230BE/s200/Dam%2BBaca%2BPuisi.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556121521151295554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti Naga dari Selatan, Jambi menggeliat dengan pembangunan pesat di bidang investasi dan perdagangan, sehingga mall, mini market, plaza, hingga hipermarket berdiri menghiasi gambaran metropolis.Sebagai fenomena, kita catat bahwa masyarakat Jambi  memasuki tahap perkembangan yang disebut post  tradisional society. Kita mencatat unsur-unsur modernitas yang menandai mentalitas masyarakat modern, seperti individualisme (sikap ”Siape lu, siape gua”), orientalisme terhadap kehidupan kota, fenomena kehidupan demokratis, dominasi media massa, dan  mengutamakan mutu hasil karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping pembangunan yang berindikator dunia ekonomi dan perdagangan modern itu, ternyata pasar tradisional tergusur. Lihatlah Pasar Angso Duo merana, Pasar Burung nempel di gang yang sesak, Pasar TAC memprihatinkan, dan pasar-pasar liar tumbuh di sepanjang troar dan gang-gang sempit (apalagi ketika musim buah tiba). Ketika pembangunan mall, hipermarket, dan plaza menggusur pasar tradisional, maka rakyat kecil menggeliat dengan kreativitasnya sendiri membangun pasar-pasar liar. Ironisnya, pedagang kaki lima terus digerus oleh tangan-tangan kekuasaan lewat Satpol PP. Pedagang digusur dan tidak pernah diberikan solusi, padahal rakyat kecil bagaimana pun perlu menghidupi keluarganya. Lokalisasi Payo Sigadung terus saja menampung pendatang dari luar daerah, menjajakan gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena sosial terjadi ketika anak-anak jalanan bertubuh dan berpakaian bersih menadahkan tangan di Traffict Light, nenek renta susah payah menyeberang jalan di tengah keramaian kota (dan maaf, tidak ada lagi Pramuka/ Satpam/ polisi yang rela membantu). Anak-anak "punk" dengan gayanya sendiri menghiasi terminal dan tempat-tempat strategis dengan aneka asesoris yang dikenakan. Seakan-akan orang-orang tidak lagi peduli pada penderitaan orang lain, orang memanfaatkan musibah sebagai upaya mendapatkan sedekah (menolong korban tabrak lari, tapi yang lebih dulu diselamatkan adalah dompet dan perhiasannya), dan masih banyak lagi bentuk-bentuk fenomena sosial-budaya di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya hidup orang kota kini menjadi trend  centre bagi warga masyarakat. Semacam ada image bahwa orang metropolis gaya hidupnya cenderung glamour, perlente, melengkapi diri dengan aneka asesoris mutakhir, dan membawa ikon-ikon ekonomi kreatif dan efektif. Setiap orang merasa perlu menenteng handphone atau telefon selular (meskipun terkadang tampak gagap teknologi). Generasi muda, termasuk anak-anak sekolah menggendong laptop (komputer jinjing). Gaya berpakaian modis (meski membelinya di loakan), mobilitas tinggi (meski terkadang hanya jalan-jalan di pusat keramaian dengan tujuan tidak jelas). Kita juga mencatat bahwa kemacetan lalu lintas mulai terasa di Jambi sebagai manifestasi gaya hidup urban-metropolis, egois, dan tidak disiplin. Daerah Simpang Mayang, misalnya, tentu perlu penjagaan dan pengaturan polisi sehingga lalu lintas dapat berjalan lancar serta terhindar dari kemacetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dicatat juga fenomena munculnya cultural lag, yaitu fenomena yang menggambarkan keadaan masyarakat yang dengan mudah menyerap budaya yang bersifat meterial, tetapi belum mampu untuk mengadaptasi budaya yang bersifat non-material. Fenomena persaingan dunia usaha telephone seluler, aneka produk play statition, aneka game dan lambang prestise (membawa laptop) hanya untuk keperluan mode yang bersiafat musiman. Masyarakat hanyalah konsumen, user, yang hanya bisa memanfaatkan teknologi maju, tanpa dibarengi pemahaman karakteristiknya. Dampak ikutan gaya hidup ini ialah maraknya aneka penipuan secara canggih dengan iming-iming aneka hadiah yang menggiurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi 1998 membuahkan hasil masyarakat semakin kritis dalam iklim kehidupan yang demokratis. Namun, perilaku demokratis ini senyatanya belum menjadi bagian hidup masyarakat perkotaan. Contoh-contoh sikap kritis dalam bingkai kehidupan yang demokratis tampak dari berbagai unjuk rasa berbagai elemen masyarakat terhadap setiap akan dilakukan pengundangan Rencana Undang Undang. Kita masih ingat betapa lapisan masyarakat berssikap pro kontra terhadap sosialisasi Undang Undang Pornografi dan Porno Aksi, Undang Undang Badan Hukum Pendidikan; Lapisan masyarakat tertentu juga reaktif terhadap pelaksanaan PILKADA, sehingga timbul kesan ”Siap memang, tetapi tidak siap kalah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menggembirakan (juga menyedihkan) dalam pranata kehidupan sosial post tradisionalis, media massa memegang otoritas dalam mengendalikan berbagai isue, pemberitaan, penciptaan opini, penciptaan trend centre, dan berbagai macam dampak positif maupun negatif yang mengiringinya. Media massa senyatanya telah berhasil menciptakan mitos baru, pencitraan pejabat, dan bisa jadi pembunuhan karakter orang-perorang. Dalam masyarakat post tradisionalis juga ditandai oleh adanya penghargaan terhadap karya dan kekaryaan sebagai bagian dari kebudayaan dalam pengertian yang luas dan kompleks.  Pekerjaan baru bagi gubernur baru, walikota baru, dan pemangku budaya Jambi ialah "mengangkat batang terendam" di berbagai bidang. Menggeliatlah Naga dari Selatan lalu merenangi aliran Batanghari menyambut tahun baru 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah potret fenomena budaya kita hari ini. Salam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-3480799723087512353?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/3480799723087512353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=3480799723087512353' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3480799723087512353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/3480799723087512353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2010/12/catatan-di-hulu-sungai-batanghari.html' title='&lt;center&gt;CATATAN DI HULU SUNGAI BATANGHARI&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRtPFf0gQEI/AAAAAAAACqI/smaPDl230BE/s72-c/Dam%2BBaca%2BPuisi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-7554628395079449342</id><published>2010-12-26T19:29:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T22:29:09.264-08:00</updated><title type='text'>SURAT SASTRA BUAT BUNG DJAZLAM ZAINAL DI MALAYSIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRgI20Wci-I/AAAAAAAACnw/RgpMYLilB7k/s1600/DAM%2BBaca%2BPuisi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 159px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRgI20Wci-I/AAAAAAAACnw/RgpMYLilB7k/s200/DAM%2BBaca%2BPuisi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555199878220254178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Salam sastra,&lt;br /&gt;Indonesia dan Malaysia berjalin-berkelindan melalui bahasa puak Melayu. Melalui bahasa dan karakter budaya Melayu ini kita lantas menjalin silaturahmi bungahati, saling mengkritisi dan mengungkapkan kesejatian diri. Melalui surat sastra ini kukabarkan bahwa keberagaman budaya kita bisa senantiasa direntang-panjangkan menyeberangi selat Malaka. Ingin kukabarkan kepadamu bahwa aku masih terus melahirkan aneka puisi dalam bingkai segitiga sama sisi. Aku merasa perlu menulis surat sastra ini agar pembacaan atas puisi-puisi yang kugubah selama ini mendapatkan tempat yang proporsional dan barangkali dapat menambah latar pembicaraan bung Djazalam Zainal pada sajak-sajakku di bawah tajuk "Dimas Arika Mihardja: Sumbangannya pada Puisi Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal mula segala seni sastra adalah religius. Itulah sebabnya mengapa para estetikus abad-abad lampau telah mencoba menerangkan apakah seni itu. Seni, sambil memperhitungkan adanya berbagai trend, dalam keadaannya yang murni, lazim ditanggapi sebagai kekayaan rohaniah manusia yang memberikan satu pesona, satu pengalaman tak sehari-hari, sesuatu yang transendental, yang dalam bahasa Plato merupakan bayangan Keindahan Sejati, yang oleh Bergson maupun Iqbal ditanggapi kurang lebih sebagai ilham Ilahiat yang bahkan layak diperbandingkan dengan ilham kerasulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, seni itu sesuatu yang luhur. Kenapa? Sebab watak  seni sastra menuntut kejujuran (hanya melahirkan yang memang hidup dalam jiwa), menuntut simpati kemanusiaan (berbicara dari hati ke hati secara jujur dan bukan dari ideologi ke ideologi), dan yang mengungkapkan haru (bukan “kepedihan”). Dengan demikian, seni susastra memang bergerak pada “arus bawah” hidup dan memunculkan ke permukaan undangan ke arah kedalaman. Arus bawah ini dikenal dengan istilah religiusitas (bukan beragama). Haru itu sendiri, memang agaknya tak lain dari rasa hening yang aneh (yang sering tak disadari) yang menyebabkan orang tersentak dan menyebut: “Allah”. Dalam religiusitas, terdapat nilai ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni puisi di satu pihak harus mampu mengajak seseorang beriman, mengagungkan Allah, dan di pihak lain ia harus mampu mengasimilasi sifat-sifat Allah pada diri manusia seperti cinta kasih, penyayang dan lain sebagainya yang mampu membawa kedamaian bagi umat manusia. Hal ini tidak berarti penyair berkarya untuk menyaingi Allah, tetapi ia berkarya untuk menyesuaikan diri secara lebih baik dengan tata ciptaan-Nya. Secara maknawi, karya puisi tidak dimaksudkan menambah jumlah pemeluk, melainkan memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Allah, terlepas dari segala penyakit hipokrisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi antara manusia-penyair dengan Allah realisasinya bisa meluas, bisa pula menyempit perspektifnya. Secara luas, bentuk komunikasi antara manusia-penyair dengan Allah teraktualisasi dalam bentuk kekaguman manusia-penyair akan berbagai bentuk ciptaan Allah (Allah adalah Maha Kreator yang mampu menciptakan alam semesta beserta isinya). Manusia-penyair, dalam konteks ini hanyalah peniru secara mimesis. Dari tangan manusia-penyair lalu lahir berbagai karya yang secara mimesis tidak dimaksudkan menandingi kreativitas Allah, melainkan sebagai semacam perpanjangan tangan. Hitung-hitung manusia-penyair bertindak sebagai kafilah di bumi yang dengan suntuk mengangungkan berbagai Keindahan Ciptaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, manusia-penyair ternyata juga merupakan makhluk individu dan makhluk sosial dalam pranata sosiologis. Secara individual, manusia-penyair memiliki atensi pada masalah-masalah personal sebagai pangkal tolak konsepsi estetis dalam setiap berkarya. Dalam perspektif individual pula, manusia-penyair selalu dirundung kegelisahan untuk berdekatan dengan Sang Khalik. Lantaran Sang Khalik sifatnya serba “Maha”, secara personal manusia terkadang serupa debu di “terompah-Nya”. Manusia lantas merasa kecil, kotor, dan silau oleh Cahaya Maha Cahaya. Manusia secara personal juga terkadang penasaran untuk menyibak rahasia ciptaan-Nya: alam semesta beserta isinya acapkali membuat manusia “terluka” oleh berbagai penyebab. Selain itu, secara watak personal manusia ialah memiliki rasa ingin tahu segalanya, termasuk rahasia-Nya.&lt;br /&gt;Secara sosial, manusia-penyair langsung atau tidak langsung terlibat dalam kancah persoalan sosial kemasyarakatan. Itulah latar belakang kenapa hampir setiap manusia-penyair selalu tertarik memperbincangkan dan mengusung persoalan personal dan persoalan sosial ke dalam puisi yang diciptakannya. Terminologi Islami untuk mengangkat dan dekat dengan persoalan sosial itu, habluminnanas, menjadi proyek penulisan yang tidak pernah habis dijadikan entry penulisan puisi. dalam perspektif ini manusia-penyair lantas berhubungan dengan aneka persoalan manusia di dunia: keadilan-ketidakadilan, keburukan-kebaikan, kemiskinan-kekayaan, material-spiritual, jasmani-rohaniah, dan oposisi binner lainnya dalam konfrontasi tiada henti.&lt;br /&gt;Konsepsi estetik manusia-penyair, dengan demikian, berpangkal tolak pada tiga dimensi: religiusitas, individual, dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skema ini disebut dengan “SEGITIGA SAMA SISI” dalam proses kreatif penciptaan karya berupa puisi. Pada sudut paling atas segitiga adalah ALLAH (representasi MISTERI ILAHI); sudut bawah—kiri adalah MANUSIA (representasi MISTERI manusia); dan sudut kanan—bawah adalah KEHIDUPAN (representasi MISTERI kehidupan) dan bidang yang berada di tengah-tengah segi tiga adalah lingkaran MISTERI.&lt;br /&gt;Bung Djazlam Zainal yang baik, kau pasti merasakan bahwa dalam hubungan antara manusia dengan Ilahi terentang misteri. Pemahaman, penghayatan, dan keyakinan manusia terhadap Sang Ilahi merentangkan hubungan misterius dalam berbagai tingkatan: syariat, tariqat, hakikat, dan makrifat, dan berbagai paham serta keyakinan lainnya. Dalam hubungan antara manusia  dengan kehidupan juga merentangkan sejumlah misteri: ada-tiada, berada-mengada, ada-bersama, ada-sendiri, dll. Demikian pula hubungan antara manusia, Ilahi, dan kehidupan terdapat misteri dan manusia secara filosofis-transendental selalu berupaya memahami hakikat hidup, asal muasal hidup, rona hidup, tujuan hidup, kualitas hidup, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara triadik, di dalam segitiga sama sisi ini terdapat LINGKARAN MISTERI yang tidak habis digali selama proses kreatif penciptaan puisi. Konsepsi estetik ini, lebih lanjut memang menjadi urusan masing-masing kreator. Setiap kreator memiliki pandangan yang beragam tentang bagaimana ia menghasilkan puisi. Konsepsi estetik ini merupakan wujud nyata visi sastrawan pelahirnya.&lt;br /&gt;Lantas, apakah roh? Di manakah “Roh” berada? Seperti apakah ronanya? Seperti apakah fungsi dan maknanya? Roh berada di dalam LINGKARAN MISTERI. Artinya, sehebat apapun manusia dengan perkembangan dan dukungan teknologi apapun tetaplah tidak mampu memotret roh dengan persis. Roh, keberadaannya dapat seperti angin yang bisa dirasakan, namun tidak dapat dipegang. Roh berposisi sebagai misteri atau teka-teki, dan teka-teki tak mesti dipertanyakan serta dijawab. Adanya roh lantaran adaNya. AdaNya bagi manusia bukanlah teka-teki, tak perlu ditanyakan atau dijawab. Sebab, Dia Ada dengan sendirinya dan di luar jangkauan pemikiran manusia. Di sinilah misteri Ilahi itu.&lt;br /&gt;Mengenai apa itu roh dan bagaimana ronanya? Ada yang menawarkan jawabannya, yakni: roh alam, roh kehidupan, roh tulisan, roh lisan, roh pandangan, roh pendengaran, roh penciuman, roh keyakinan, roh persaudaraan, roh persahabatan, roh gerakan. Selain itu, juga roh pada jiwa, roh pada rasa, roh pada raga, roh pada agama, roh pada negara, roh dalam waktu... berakhir pada Dia.  Benarlah hubungan triadik SEGITIGA SAMA SISI yang aku skemakan. Senyatanya roh berada di dalam lingkaran misteri Ilahi, rahasia personal dan persoalan sosial. Semua roh personal dan sosial  berakhir pada Dia. Karena pada akhirnya bermuara pada Dia, maka manusia sebagai kafilah di bumi merasa terpanggil untuk melakukan pemujaan atau pengangungan kepada-Nya. Tidaklah heran, setelah pencarian dan penemuan bahwa ujung pencarian ialah Dia, maka dalam berkarya, berbuat, dan berkelakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bingkai konsepsi estetik yang berpangkal tolak dari SEGITIGA SAMA SISI, bisa jadi menyediakan wacana puisi yang merupakan: (1) pencerminan karya reformis yang melahirkan revolusi dalam bentuk, (2) pencerminan karya inspiratif yang menawarkan kejenialan ide dan tematik, (3) karya-karya yang revolusioner lantaran kekuatan estetikanya, dan (4) memiliki makna penting sebagai wacana religiusitas.  Orang Indonesia, konon, ada yang menyukai yang sederhana dalam pengungkapan, tak perlu penjelasan; ada pembaca yang memang awam dan perlu dituntun dengan uraian puisi. Uraian dan kajian bung Djazlam Zainal   atas sajak-sajakku setidak-tidaknya telah memandu pembaca awam untuk dapat mengenal dan menghargai puisi. Dahaga mereka memang perlu kita puasi dengan kupasan-kupasan puisi. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, salam budaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-7554628395079449342?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/7554628395079449342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=7554628395079449342' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7554628395079449342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/7554628395079449342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2010/12/surat-sastra-buat-bung-djazlam-zainal.html' title='&lt;center&gt;SURAT SASTRA BUAT BUNG DJAZLAM ZAINAL DI MALAYSIA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRgI20Wci-I/AAAAAAAACnw/RgpMYLilB7k/s72-c/DAM%2BBaca%2BPuisi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-367970529958976704</id><published>2010-11-08T05:59:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T22:30:13.108-08:00</updated><title type='text'>KOMUNITAS SASTRA DI INDONESIA: TUMBUH BAK CENDAWAN, SIRNA LAKSANA ASAP</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRnPy442rII/AAAAAAAACpo/MJ1YbclwCXY/s1600/iwan%2Bgunadi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 107px; height: 171px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRnPy442rII/AAAAAAAACpo/MJ1YbclwCXY/s200/iwan%2Bgunadi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555700088509475970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Iwan Gunadi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia heran ketika ber¬kunjung ke Universitas Leiden, Belanda, beberapa tahun lalu. Ia heran bukan lantaran koleksi kar¬ya-karya sastra lama Indonesia di sana jauh lebih lengkap ketimbang di negeri¬nya. Banyak kalangan, terutama para akademisi, sudah lama memaf¬humi¬nya. Kolonialisme, inilah yang kemudian sering muncul sebagai tumbal argumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, bukan hal itu yang membuatnya heran. Mereka pun lebih lengkap mengoleksi karya-karya sastra mutakhir terbitan pelbagai komunitas sastra di Indonesia. Rupanya, itulah biang keladi keheranannya. Maklum, di almamaternya sendiri, ia merasa tak mudah menemukan karya sastra semacam itu. Padahal, pelbagai karya sastra itu diterbitkan paling lama sekitar 1995. Ia sendiri kemudian betah di Universitas Leiden untuk memperdalam ilmu dan meneliti sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendawan di Musim Hujan&lt;br /&gt;Memang, sejak awal 1980-an, di Indonesia tumbuh ba¬nyak komunitas sastra. Kalau kita pakai perumpamaan klise, fenomena ter¬se¬but bak cendawan di musim hujan. Pemetaan yang dilakukan Komunitas Sas¬tra Indonesia (KSI) untuk Litbang Harian Kompas (Jakarta) pada 1997 saja berhasil me¬ngum¬pul¬kan informasi dari 54 komunitas sastra yang tumbuh dan atau masih aktif di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek). Dari jumlah tersebut, yang berhasil dipetakan ada 46 komunitas sastra. Jumlah tersebut saja melebihi jumlah 35 organisasi yang mengikuti Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI) yang digelar di Jakarta pada awal Maret 1964. Artinya, selama 33 tahun, jumlah komunitas sastra di wilayah yang lebih sempit sudah melebihi jumlah komunitas di wilayah yang jauh lebih luas, walau mungkin di wilayah yang lebih luas tersebut masih banyak komunitas sastra yang tidak turut konferensi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau wilayahnya kita perluas sampai seluruh Indonesia dengan ren¬tang waktu sama (1997), jumlahnya bisa ratusan atau bahkan lebih. Apalagi jika rentang waktunya diperpanjang melebihi tahun tersebut. Melani Budianta, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, misalnya, pada diskusi “Mencermati Sastra Subkultur Kita” yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia di Jakarta, 31 Mei 2001, memperkirakan bahwa pada saat itu jumlah komunitas sastra di Indonesia lebih dari 200 dan 75 di antaranya berada di Jakarta. Jumlah tersebut pun belum termasuk komunitas sastra yang dibentuk di kampus-kampus perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau rentang waktu untuk taksiran Melani diperpanjang ke depan hingga 2010, misalnya, jumlahnya jauh di atas angka itu. Krisis moneter (krismon) pada 1997 yang berkembang menjadi krisis multidimensi, lalu berujung dengan mundurnya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) pada 21 Mei 1998, menyorongkan ruang yang luas untuk tumbuhnya kelompok-kelompok, termasuk kelompok kesusastraan. Krismon membangkrutkan banyak perusahaan dan menciptakan pengangguran di mana-mana. Mengamen menjadi salah satu cara bagi para pengangguran untuk bertahan hidup. Dari sana, muncullah aktivitas pementasan karya sastra, terutama puisi, di atas moda transportasi darat. Keguyuban di antara para pelakunya melahirkan sejumlah komunitas sastra. Tumbuhnya ratusan media massa sejak 1998 setelah Menteri Penerangan Kabinet Reformasi Pembangunan pimpinan Presiden Baharuddin Jusuf (B.J.) Habibie, M. Yunus Yosfiah, membuka keran kebebasan penerbitan media massa tentu turut merangsang ramainya komunitas sastra. Begitu juga pencabutan Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001), terutama komunitas sastra yang berbasis warga negara Indonesia keturunan Tionghoa.&lt;br /&gt;Kalau kita sepakat dengan asumsi bahwa komunitas teater, komunitas seni secara umum, atau komunitas nonseni tak terlepas atau tak jarang juga melakukan ak¬tivitas sastra, jumlah “komunitas sastra” tentu lebih banyak lagi. Maklum, jumlah aktivitas sastra seolah tak pernah menyusut. Penyelenggaranya tentu tak hanya komunitas sastra, tapi juga komunitas seni yang lain atau bahkan komunitas nonseni yang punya perhatian atau minat terhadap sastra. Apalagi, tak sedikit pekerja sastra yang juga berteater, berseni rupa, dan ataupun menggeluti atau sekurangnya meminati cabang kesenian lain ataupun sebaliknya, tak sedikit orang di luar pekerja sastra menggeluti atau sekurangnya meminati sastra. Kenyataan tersebut juga kembali menambah deret panjang “komunitas sastra”. Kalau ingin bukti, tengok saja buku Direktori Seni dan Budaya Indonesia 2000, misalnya. Dari 3.869 komunitas seni budaya di Indonesia yang berhasil dicacat hingga 1999, komunitas yang melakukan aktivitas sastra melebihi angka taksiran Melani tadi. Mereka bukan hanya komunitas sastra, tapi komunitas cabang kesenian yang lain, komunitas seni secara umum, atau bahkan komunitas budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang mencengangkan dapat dilihat pada hasil Susenas Model 2003 yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS)—sekarang, namanya Badan Pusat Statistik (BPS). Selama 1993-2003, BPS mencatat keberadaan 89.658 organisasi kesenian dari 26 provinsi di Indonesia. Jumlah tersebut meliputi organsasi kesenian di bidang musik, seni tari, seni rupa, karawitan, pedalangan, teater, dan sastra. Organisasi kesenian di bidang sastra mencapai 4.699 atau 5,24% dari jumlah total organisasi kesenian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran berbagai komunitas sastra itu tak merata. Pulau Jawa menjadi wilayah yang paling banyak memiliki organisasi kesenian di bidang kesusastraan. Provinsi-provinsi di Maluku dan Papua diperkirakan sebagai wilayah yang paling sedikit memiliki komunitas sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan Politik, Sosial, dan Ekonomi&lt;br /&gt;Kesemarakan pertumbuhan komunitas sastra di Indonesia selama 30 tahun terakhir itu tentu tak lepas dari kondisi politik, sosial, dan ekonomi selama rentang waktu tersebut. Selama itu, masyarakat Indonesia mengenal dua tipe kehidupan politik, sosial, dan ekonomi yang berbeda. Selama 20 tahun hingga Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI, masyarakat Indonesia hidup dalam hegemoni negara, yang direpresentasikan oleh pemerintahan Soeharto dengan aktor tunggal Soeharto sendiri. Rentang waktu tersebut merupakan bagian utama dari 32 tahun masa kepemimpinan Soeharto yang berkuasa secara otoriter. Selama 32 tahun rezim Orde Baru tersebut, kekuatan negara lebih besar ketimbang pengaruh masyarakat. Bahkan, banyak analis politik dan sosial menilai masa tersebut sebagai periode ketertekanan masyarakat yang teramat sangat, terutama sejak 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi yang lebih kuat itu, negara mampu mengambil sejumlah langkah kebijakan politik untuk mengendalikan kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Akibatnya, pada awal 1980, Pemerintah Indonesia telah berhasil melemahkan semua potensi kritis masyarakat. Masyarakat tak lagi berani berseberangan atau berbeda paham dengan pemerintah. Sebab, kontrol pemerintah ditebar di mana-mana. Masyarakat seperti hidup dalam rumah kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau akhirnya masyarakat seperti menerima kondisi represif tersebut, hal itu lebih karena efektifnya pengaruh candu ekonomi yang ditiupkan rezim Soeharto. Tapi, di luar keterbiusan oleh candu ekonomi, masyarakat sesungguhnya tak sepenuhnya menerima represi negara dengan diam seribu bahasa. Kelompok masyarakat yang kritis membentuk kelompok-kelompok kecil yang bergerak secara informal di luar wilayah-wilayah yang mudah dikontrol penguasa. Begitu juga dengan kelompok-kelompok kesenian, termasuk kelompok kesusastraan. Mulanya mereka tumbuh di taman-taman budaya yang dibangun pemerintah, tapi kemudian menyebar ke luar setelah taman-taman budaya berubah menjadi pusat-pusat kesenian. Maraknya pertumbuhan komunitas sastra di luar pusat-pusat kesenian itu boleh jadi merupakan upaya berkelit dari represi negara terhadap para warganya serta tak lepas dari munculnya kesadaran kolektif yang lebih meluas pada 1980-an dan lebih-lebih pada 1990-an untuk tak lagi menempatkan Jakarta sebagai barometer standar estetika kesusastraan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi perkembangan teknologi informasi (TI) memberikan kesempatan yang nyaris tanpa batas yang disediakan situs-situs web sastra, blog sastra, mailing list (milis), ataupun situs jaringan sosial seperti friendster (www.friendster.com) dan facebook (www.facebook.com) di dunia maya alias internet yang mulai tumbuh sebelum krisis moneter pada pertengahan 1997. Dunia maya kemudian tak hanya menjadi wadah untuk menyosialisasikan karya sastra, tapi juga menjadi wadah untuk saling berinteraksi: mulai dari berdiskusi, berdebat, bergunjing, tukar informasi, apresiasi interaktif, atau sekadar berkenalan di antara orang-orang yang menyenangi, meminati, dan atau memahami karya sastra. Sejak itulah, komunitas-komunitas sastra di dunia maya, yang kemudian ditengarai sebagai komunitas sibersastra, bermunculan memperkaya ragam komunitas sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Pintas Legitimasi Kesastrawanan&lt;br /&gt;Awalnya, kesemarakan pertumbuhan komunitas sastra di Indonesia itu dicurigai dilatari kecenderungan seperti ini: seseorang yang merasa belum menjadi sastrawan menjadikan komunitas sastra sebagai “kendaraan” yang akan menyulapnya sebagai sastrawan. Komunitas sastra berperan sebagai legitimator status “kesastrawanan”. Atau, seseorang yang sudah merasa menjadi sastrawan menjadikannya sebagai “kendaraan” yang akan menguatkannya sebagai sastrawan besar. Besar di sini dapat bermakna sastrawan yang menghasilkan karya-karya bermutu tinggi, yang berpotensi memopulerkan namanya. Atau, besar juga dapat berarti nama besar yang dihasilkan dari politik sastra yang ditempuhnya, bukan lantaran karya-karyanya. Bahkan, boleh jadi, karya-karyanya tak seberapa atau bahkan bermutu rendah. Tapi, karena aktivitas politik sastranya lebih heboh, namanya menjadi besar dan terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena semacam itu mengemuka lantaran tak sedikit komunitas sastra dibentuk dengan relasi yang tidak imbang antaranggotanya. Dalam bahasa politik, ia dikenal sebagai kekuasaan. Relasi yang tidak imbang tersebut mungkin lahir lantaran komunitas sastra itu sejak awal memang berfungsi sebagai sanggar atau wadah pembibitan atau pelatihan. Dalam kondisi demikian, potensi konflik antarkepentingan mungkin lebih kecil untuk terjadi atau bahkan tak ada celah. Sebab, komunitas semacam itu memang dibangun dengan kesadaran bahwa relasi antaranggotanya memang timpang alias tidak imbang. Tak heran bila pihak yang terdominasi atau terhegemoni kekuasaan itu tak merasa dirugikan. Kekuasaan dengan citra positif sebagaimana dipahami Michel Foucault tampaknya cocok untuk kondisi seperti itu.&lt;br /&gt;Dalam relasi tak imbang seperti itu, biasanya, ada pemuka yang berperan sebagai pusat kekuasaan. Seluruh instrumen komunitas berputar dalam hegemoninya. Seluruh anggota komunitas biasanya berusaha mengidentifikasi diri sesuai dengan keinginan, pemikiran, dan sikap sang pemuka. Walaupun mungkin sang pemuka tak menghendaki hal-hal semacam itu terjadi, sikap feodalistik para anggota tak jarang membuat mereka sungkan atau “takut” mengidentifikasi diri menjadi sesuatu yang bertentangan dengan keinginan, pemikiran, dan sikap sang pemuka. “Takut” dinilai tak sopan, tak tahu diri, dan semacamnya seolah-olah telah menjadi senjata yang dibikin mereka sendiri untuk membunuh keakuannya. Padahal, di sisi lain, di antara mereka banyak yang menyadari bahwa keakuan merupakan salah satu senjata kesenimanan, termasuk kesastrawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan seperti itu terjadi pada banyak komunitas besar. Ada seseorang yang menjadi as atau pusat. Semua orang yang ada di sekitar atau sekelilingnya mencoba mengidentifikasi diri seperti sang pusat. Tak heran kalau kemampuan kritis mereka terhadap sang pusat majal. Kalau hal ini terjadi, pertumbuhan dan perkembangan komunitas sastra selama 30 tahun terakhir terasa paradoks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, kehadiran pelbagai komunitas sastra itu seperti ingin menegasikan apa yang selama ini disebut pusat: Taman Ismail Marzuki di antara taman-taman kesenian lain, Jakarta di antara propinsi-provinsi lain, Majalah Horison di antara majalah-majalah lain atau Majalah Horison sebagai sebuah kesendirian, rubrik seni dan budaya Harian Kompas pada edisi Minggu di antara harian-harian lain yang memiliki rubrik yang sama, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sisi lain, kehadiran pelbagai komunitas sastra seperti menciptakan pusat-pusat baru. Bedanya, pusat pertama bersifat institusional yang beragam. Karena itu, sifat acuannya pun samar. Karena acuannya samar, setiap proses kreatif yang mengacu kepadanya masih memiliki potensi keanekaan yang lebih luas. Sedangkan, pusat kedua bersifat personal individual. Karena itu, referennya tegas dan tunggal. Karenanya, setiap proses kreatif yang bertolak darinya memiliki peluang yang lebih sempit untuk menjadi penuh warna. Boleh jadi, hasil dari setiap proses kreatif itu hanyalah manifestasi dari isi kepala sang pusat atau varian-varian yang hanya sedikit berbeda dari karya-karya kreatif sang pusat. Kalau hal tersebut yang terjadi, pusat-pusat baru yang personal individual ini tentu “lebih berbahaya” untuk suatu kreativitas dan inovasitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, bila relasi yang tidak imbang itu lahir bukan karena konsekuensi bentuk komunitas sastra, ketimpangan itu muncul biasanya lantaran pihak pendominasi atau penghegemoni memiliki kemampuan menjalin hubungan antarpersonal dan jaringan yang lebih luas. Ada juga memang sejumlah komunitas dengan hubungan antaranggota yang timpang karena pihak pendominasi atau penghegemoni memang memiliki pengetahuan sastra dan kemampuan menghasilkan karya sastra yang lebih baik. Tapi, yang terakhir ini tampaknya jauh lebih sedikit dari yang pertama. Komunitas sastra model pertama itu sendiri biasanya dibentuk lebih karena inisiatif pihak pendominasi atau penghegemoni. Dalam kondisi seperti itu, konflik antarkepentingan lebih berpeluang terjadi. Kalau hal ini mencuat, komunitas sastra tersebut terancam bubar.&lt;br /&gt;Ancaman yang sama juga dapat membayangi komunitas sastra yang bersandar pada satu figur tertentu sebagai pusat segalanya. Tapi, ancaman tersebut tak dilatarbelakangi konflik yang tajam antaranggota. Sebab, dalam komunitas dengan pusat satu tokoh tertentu, keberlangsungan hidup komunitas sastra cenderung tak dipengaruhi ada tidaknya konflik antaranggota. Apalagi bila konflik itu tak melibatkan sang pemuka atau sang pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ancaman bubar bagi komunitas sastra semacam itu biasanya hanya muncul dari sang pemuka sendiri. Keberadaan komunitas sastra tetap akan terjaga dan bergairah selama sang pemuka tetap bergairah pula. Kalau sang pemuka tak lagi bergairah atau bahkan meninggal dunia, komunitas sastra itu dapat lebih dipastikan akan terancam bubar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Bergemuruh, Karya Melimpah&lt;br /&gt;Nah, dalam deretan panjang komunitas sastra tadi, banyak sastrawan berkarya. Me¬reka begitu bergairah menghasilkan karya sastra, terutama puisi. Bah¬kan, akibat begitu banyaknya, ada yang mengatakan bahwa kesusastraan Indonesia se¬dang mengalami inflasi penyair dan booming puisi. Karena banyak orang menciptakan puisi, predikat “penyair” pun disandang banyak orang. Boleh dikatakan, puisi, penyair, dan komunitas sastra mengalami booming serempak selama 1990-an. Booming yang muncul lantaran adanya keterkaitan kuat di antara ketiganya. Pemetaan yang dilakukan KSI tadi menyebutkan, 20 komunitas sastra di Jabotabek sa¬ja telah menerbitkan sekitar 140 buku sastra atau terbitan berkala sejak awal 1990-an hingga 1998. Jumlah itu belum termasuk penerbitan yang dilakukan secara pribadi. Padahal, penerbitan jenis terakhir ini lebih bergairah. Ia juga belum termasuk karya rekam audio dan audio-visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, semua itu hanya mampu diakses segelintir orang. Masya¬ra¬kat luas tak mampu mengaksesnya. Satu hal itu terjadi lantaran ma¬sya¬rakat Indonesia tentu bukan pemburu buku. Dua, ketakmampuan mengakses tersebut terjadi lantaran karya-karya itu umumnya dicetak sangat terbatas. Bahkan, ada yang difotokopi hanya puluhan eksemplar.&lt;br /&gt;Tiga, penyebarannya sangat sempit. Biasanya karya-karya itu hanya beredar dalam sejumlah komunitas yang memiliki jaringan dengan penerbit atau penulisnya. Paling sial—dan ini tak jarang terjadi—karya-karya itu hanya dinikmati anggota komunitas penerbitnya. Empat, kesadaran mereka untuk mendaftarkan karya-karya cipta itu sangat tipis. Akhirnya, pelbagai karya sastra lahir di pelbagai komunitas sastra bak cendawan di musim hujan dan jejaknya hilang laksana asap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Dibaca, Diskusi Digelar&lt;br /&gt;Lebih banyak komunitas sastra dengan kegiatan utama berdiskusi ketimbang komunitas sastra dengan kegiatan utama pementasan karya sastra, terutama pembacaan puisi (baca: deklamasi), musikalisasi puisi, atau teaterisasi puisi. Tapi, hal itu bukan jaminan bahwa kegiatan berdiskusi lebih banyak dilakukan ketimbang pementasan karya sastra, khususnya pembacaan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang justru terjadi adalah sebaliknya: pementasan karya sastra, terutama pembacaan puisi, mendominasi pelbagai kegiatan yang dilakukan komunitas-komunitas sastra di seluruh Indonesia. Diskusi formal atau informal, seminar, saresehan, pelatihan, penerbitan buku, dan jenis kegiatan lain tentang sastra yang diselenggarakan komunitas-komunitas sastra hampir selalu diselingi dengan kegiatan pementasan karya sastra, khususnya pembacan puisi. Bahkan, diskusi, seminar, saresehan, dan pidato yang membahas bukan tentang sastra tak jarang diselingi dengan aktivitas pementasan karya sastra, khususnya pembacaan puisi. Banyak demonstrasi buruh dan mahasiswa diselingi pembacaan puisi, termasuk demonstrasi mahasiswa yang akhirnya memaksa Soeharto mundur sebagai Presiden RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegairahan membaca atau mementaskan karya sastra seperti didedahkan di atas tentu tak lepas dari relatif terjaminnya kebebasan berekspresi. Di sisi lain, sambil meminjam terminologi dari buku Walter J. Ong, Orality and Literacy: The Technologizing of the Word, A. Teew pernah menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia terimpit dilema di antara kelisanan dan keberaksaraan dengan kenyataan yang jauh lebih kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan lain yang dominan dilakukan pelbagai komunitas sastra di Indonesia adalah berdiskusi. Ada sejumlah bentuk kegiatan yang dikategorikan sebagai berdiskusi dalam pembahasan ini. Mulai dari mengobrol, berdebat, seminar, saresehan, kongres, hingga bentuk-bentuk lain perbincangan yang memungkinkan peserta bertukar informasi, pikiran, dan perasaan; serta menyampaikan dan menerima pujian, tanggapan, saran, kritik, atau celaan dalam suatu topik tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti kegiatan pembacaan atau pementasan karya sastra, kegiatan berdiskusi tak selalu hadir pada setiap kegiatan sastra. Selain sebagai kegiatan mandiri, kegiatan berdiskusi umumnya hadir pada kegiatan sastra dengan cakupan yang lebih luas. Pada pertemuan seperti itu, berdiskusi kerapkali menjadi kegiatan utama. Ada lumayan banyak nama yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan seperti itu. Misalnya, dialog sastra, forum sastra atau sastrawan, festival sastra, jambore sastra, kongres sastra atau sastrawan, pekan sastra, pertemuan sastra atau sastrawan, silaturahmi sastra atau sastrawan, dan temu sastra atau sastrawan. Yang paling banyak digunakan adalah temu sastra. Cakupan peserta atau wilayahnya bisa satu daerah tingkat dua (kabupaten atau kota madya), beberapa daerah tingkat dua, satu daerah tingkat satu (provinsi), beberapa daerah tingkat satu, satu pulau, beberapa pulau, nasional atau se-Indonesia, beberapa negara serumpun (Melayu), dan bahkan ada yang bercakupan lebih luas dari itu. Acara-acara itu ada yang digelar hanya sekali, tiap tahun, atau tiap dua tahun. Tak semua kegiatan seperti itu diselenggarakan secara penuh oleh komunitas sastra. Kegiatan dengan skala yang lebih besar dan cakupan yang lebih luas lebih sering digelar oleh lembaga pemerintah, dewan kesenian, atau komunitas sastra yang memiliki jaringan yang luas dan dukungan finansial yang kuat, termasuk memiliki jaringan atau dukungan di lembaga pemerintah, dunia usaha, atau lembaga donor dari luar negeri. Tak heran jika jaringan atau dukungan tersebut menyempit atau melemah, kegiatan yang semula diniatkan dapat diselenggarakan secara rutin terpaksa menjadi beberapa kali saja atau bahkan hanya satu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melimpahnya Karya Sastra, Melemahnya Mutu?&lt;br /&gt;Menerbitkan buku merupakan “kegemaran” lain komunitas sastra di Indonesia selain membaca puisi dan berdiskusi. Pemetaan yang dilakukan KSI menyebutkan, 20 komunitas sastra di Jabotabek sa¬ja telah menerbitkan sekitar 140 buku sastra atau terbitan berkala sejak awal 1990-an hingga 1998. Angka tersebut belum memasukkan jumlah buku yang diterbitkan Forum Lingkar Pena (FLP) yang baru berdiri pada 1997 di Depok, Jawa Barat. Ketika berulang tahun yang kesepuluh pada 2007, FLP pernah mengklaim telah menerbitkan lebih dari 500 judul buku selama rentang eksistensinya. Jumlah itu belum termasuk penerbitan yang dilakukan secara pribadi. Padahal, penerbitan jenis terakhir ini lebih bergairah. Ia juga belum termasuk karya rekam audio dan audio-visual. Kalau cakupan wilayah diperluas hingga seluruh Indonesia dan rentang waktu diperpanjang hingga masa mutakhir, tentu, jumlahnya akan jauh lebih dari angka itu. Melimpahnya karya sastra, sementara ini, memang menjadi sumbangan terbesar komunitas sastra bagi khazanah sastra Indonesia. Sebab, sekali lagi, begitu banyak karya sastra lahir di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerbitkan buku sastra memang menjadi obsesi setiap komunitas sastra. Bahkan, bagi komunitas sastra yang punya dana lebih dari cukup, boleh jadi, hal itu merupakan suatu “kegemaran”. Pada sedikit komunitas sastra, obsesi dan “kegemaran” tersebut dibarengi dengan selektivitas yang ketat, sehingga mampu menghadirkan karya sastra yang mutunya terjaga. Pada banyak komunitas sastra yang lain terjadi hal yang sebaliknya. Maklum, banyak sastrawan dalam komunitas sastra menerbitkan buku sastra hanya bermodalkan keberanian dan kenekatan. Mereka tidak menguasai kata. Padahal, kata jugalah yang mereka tekuni setiap hari. Sedikit dari mereka memang berbakat dan atau memiliki intelektualitas yang cukup. Selebihnya adalah tanpa bakat dan intelektualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pelbagai kegiatan sastra yang dilakukan komunitas-komunitas sastra itu bergerak dalam frekuensi yang berubah-ubah, turun-naik, dengan intensitas perubahan yang berbeda-beda antara satu jenis kegiatan dan kegiatan lain, sejak 1970-an hingga akhir 2000-an. Situasi politik dan ekonomi tentu dapat ditengarai sebagai penyebab utama.&lt;br /&gt;Di sisi lain, kesemarakan pertumbuhan komunitas sastra di Indonesia selama 30 tahun terakhir belum memperoleh kajian yang menyeluruh dan mendalam dari para peneliti, baik peneliti Indonesia maupun luar Indonesia. Will Derks, peneliti dari Belanda, memang pernah mengulas komunitas sastra yang hadir sebagai gerakan pada pertengahan 1990-an, yakni Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP), melalui tulisan bertajuk “Sastra Pedalaman: Pusat-Pusat Sastra Lokal dan Regional di Indonesia”, tapi RSP hanyalah salah satu riak penting dari dinamika komunitas sastra di Indonesia. Beberapa tahun belakangan ini, peneliti dari Jepang, Shiho Sawai, mencoba mengkaji fenomena komunitas sastra di Indonesia, tapi kajiannya lebih ke sisi pembiayaan (finansial)-nya. Bahkan, belakangan, perhatiannya lebih fokus ke sejumlah buruh migran di Hong Kong yang bergiat menuis karya sastra. Meski begitu, bila upaya-upaya awal yang lebih spesifik itu terus dilanjutkan, kita tetap akan memiliki gambaran yang lebih menyeluruh dan komprehensif tentang dinamika perkembangan komunitas sastra di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Versi yang kurang lebih sama dimuat di Harian Riau Pos (Pekanbaru), 31 Oktober dan 7 November 2010.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4128352596028496051-367970529958976704?l=esai-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esai-artikel.blogspot.com/feeds/367970529958976704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4128352596028496051&amp;postID=367970529958976704' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/367970529958976704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4128352596028496051/posts/default/367970529958976704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esai-artikel.blogspot.com/2010/11/komunitas-sastra-di-indonesia-tumbuh.html' title='&lt;center&gt;KOMUNITAS SASTRA DI INDONESIA: TUMBUH BAK CENDAWAN, SIRNA LAKSANA ASAP&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02268094638915127738</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/SflmrSI57-I/AAAAAAAABy8/I6qS1rkjB44/S220/Potret+Diri+9.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRnPy442rII/AAAAAAAACpo/MJ1YbclwCXY/s72-c/iwan%2Bgunadi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4128352596028496051.post-4486120722742736336</id><published>2010-11-04T22:52:00.000-07:00</published><updated>2011-02-24T22:31:21.771-08:00</updated><title type='text'>Menikmati Puisi Dunia Maya (bagian 9)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRlTv3tjBNI/AAAAAAAACpA/RG6lztgj9F0/s1600/Hamberan%2BSyahbana.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dgNcElyhNa0/TRlTv3tjBNI/AAAAAAAACpA/RG6lztgj9F0/s200/Hamberan%2BSyahbana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555563697212163282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Hamberan Syahbana&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       Pada waktu kita membaca judul essei ini pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benak kita adalah: (1) Apakah puisi bisa dinikmati? (2) Bagaimana mungkin kita bisa menikmati sebuah puisi? (3) Bukankah puisi itu karya sastra yang tersulit dipahami? (4) Mungkinkah kita bisa menikmati puisi, sementara informasi yang disajikan teramat sedikit? Jawaban untuk semua pertanyaan tsb adalah: Bisa! Mengapa tidak! Kita pasti bisa menikmati puisi. Tentu ada caranya.&lt;br /&gt;Kita bisa menikmati puisi dengan cara: (1) mendengar pembacaan sebuah puisi. (2) menghayati dan membaca sendiri sebuah puisi, (3) Menyaksikan pagelaran musikalisasi puisi, (4) menyaksikan dramtisasi puisi, (5) melalui analisis yang mengulas tentang kekuatan dan keindahan sebuah puisi. Untuk maksud no. 5 tsb itulah essei ini ditulis dengan maksud berbagi pengalaman dalam menikmati puisi dunia maya, khususnya puisi-puisi yang diposting melalui jejaring sosial facebook.&lt;br /&gt;Essei Menikmati Puisi Dunia Maya bagian 9 ini tampil beda dari biasanya. Karena di samping kita dapat nikmati pusi-puisi rekan-rekan fesbuker juga secara khusus kita dapat menikmati puisi karya Dimas Arika Mihardja. Tentu kita semua sudah sangat mengenal Dimas Arika Mihardja ilmuan, penyair dan akademisi yang banyak pengalaman malang melintang di dunia perpuisian Indonesia. Sejujurnya saya menyadari bahwa essay ini bukanlah forum yang tepat untuk mengulas puisi-puisinya. Bagaimana mungkin saya yang masih dalam pembelajaran menulis essei, kok berani-beraninya mengulas puisi Dimas Arika Mihardja? Tetapi atas permintaan beberapa teman fesbuker saya mencoba memberanikan diri mengulas puisinya Dimas Arika Mihardja. Essei ini semata-mata agar kita bisa berbagi menikmatinya lebih dalam lagi. Dan essei-essei yang akan datang kita juga akan berbagi dengan puisi-puisinya Hardho Sayoko Spb dan puisinya Kurnia Effendi dll. Sudah barang tentu essei ini juga belum bisa memuaskan berbagai pihak.&lt;br /&gt;Menikmati sebuah puisi berarti kita menikmati sebuah karya hasil imajinansi penyair yang mengungkapkan pikiran dan perasaannya melalui sebuah puisi. Puisi yang bisa kita nikmati tentunya puisi yang dapat menimbulkan rasa suka di hati kita. Rasa suka setiap orang itu sifatnya relatif. Diantara kita sudah pasti ada yang suka dengan untaian kata-kata yang indah. Ada juga yang suka dengan pengulangan bunyi dan pengulangan larik-lariknya. Sementara yang lain barangkali lebih menyukai tema dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Cilakanya, jujur saja kalau kita tidak suka, maka puisi itu tidak akan kita baca lagi dan langsung kita tutup. Bagaimana kita bisa menikmatinya, kalau belum apa-apa sudah kita tutup puisinya?&lt;br /&gt;Tentulah rasa suka itu adalah hal yang utama bagi kita sebagi pembaca. Di samping itu ada juga yang suka dengan puisi Romansa yang berisi luapan perasaan cinta kasih dan sayang. Atau puisi Elegi yang berisi ratapan duka jeritan nestapa bahkan tangisan kesedihan. Ada lagi yang suka puisi Satire yang berisi sindiran dan kritik social. Sedangkan yang lain barangkali ada yang suka dengan Balada kisah orang-orang perkasa, atau puisi Himne yang berisi pujian untuk Tuhan, tanah air dan p
